Kue Broncong

Pertama kali melihat tampilannya, aku teringat pada kue pukis. Sama persis tanpa beda. Perut yang kelaparan pagi setelah hunting sunrise di Pelabuhan Bulukumba, Tanjung Bira, membuatku tak tahan untuk tidak mencicipi seperti apa rasanya. Mungkin saja berbeda, kan?
Seperti kue pukis (doc pribadi)
Seperti kue pukis
(doc pribadi)
***

Tanjung Bira
20 Juni 2014

Aku melirik, masih tetap berjalan. Sementara orang yang berjualan kue tersebut tetap membolak-balikkan kue diatas panggangannya, memastikan apakah kue itu sudah matang. Kembali kulirik dan melihat teman seperjalananku. Sedari tadi, sejak di Pelabuhan Bulukumba, Tanjung Bira, kami berdua sudah membahas rencana perjalanan hari itu untuk snorkeling. Tentu saja pembahasan ditambah dengan sarapan, cemilan dan makan. Hahahahhh… lapar melanda? Iya!

Aku tak tahan dan membuka obrolan.

“Kaper, aku lapar dan mau coba kue itu,” tunjukku mengarah pada gerobak bersepeda motor di dekat alun-alun Pantai Pasir Putih Tanjung Bira.

“Itu kan kue yang banyak di SD, Jie…kue Pukis,” katanya.

“Yuk, beli. Barangkali rasanya beda, Kaper dengan Jakarta,” cengirku.

Kami mendekati penjual kue. Tertera di gerobaknya tulisan “Broncong”. Hmm.. jadi itu ya namanya? Melihat si abang jualan yang masih tetap membolak-balikkan kuenya. Sederhana saja gerobaknya itu. Terdapat 1 buah kompor dengan panggangan kue diatasnya dan tabung gas 3 kg yang tergantung. Sebuah laci diatas tempat menyimpan peralatan dan bahan lainnya juga 2 buah bak sampah di sisi lainnya. Penasaran, aku bertanya tentang kue -yang kutahu adalah pukis- dihadapanku kepada penjualnya.

Menurut si abang penjual kue Broncong, kue ini memang mirip kue Pukis, karenaΒ adonan kuenya pun sama. Terdiri dari bahan tepung terigu, telur, parutan kelapa dan gula pasir yang diaduk dalam 1 adonan, lalu dipanggang di wadah tertentu. Supaya lebih gurih, bisa ditambahkan dengan santan.

Memanggangnya tidak membutuhkan waktu lama. Cukup dilihat dari warna kulit pinggirannya yang sudah berwarna coklat serta sedikit kering, maka kue Broncong ini sudah matang. Bisa disantap dengan gula yang ditaburi diatas kuenya.

Kue kami sudah matang. Kaper segera membayar seharga Rp 5.000,- dan mendapat 8 potong kue. Aku mencuilnya sedikit, karena sudah kelaparan. Upps, panas! Tak jadi segera melahapnya. Kaper mendinginkannya dengan membelah-belah kue tersebut agar cepat dingin.

Begitu angin telah membantu setengah mendinginkan kue, kami tak sabar meraih kue itu. Hoplaaaaahhh…. kue tergelincir dari dalam plastik genggaman Kaper dan sebagian dari beberapa potong kue kami jatuh. Owww noo… Hahahahaaa… yo wes lah Kaper, sisa kuenya, kita bagi dua saja ya, mate? #santap habis! (jie)

***

(Doc pribadi)
(Doc pribadi)

Kata Karie, teman travelingku yang langsung mengomentari tulisanku tentang kue broncong ini sesaat setelah di publish. Soalnya Karie juga hobi kuliner. Boleh kan menambahkannya di tulisan ini?

“Bukan pukis kak.. pukis ngga pake kelapa.. itu kue pancong betawi, πŸ˜€ beda ma pukis. πŸ˜€ ”

Beda pendapat ya tak apa. Mungkin ada benarnya juga tentang parutan kelapa dalam adonan kue broncong yang sama dengan adonan kue pancong seperti kata Karie.

Rasa yang sama, nama kue yang berbeda, lokasi menemukan makanan pun berbeda, serta pendapat yang berbeda pula. Aku tak masalah. Bukankah perbedaan itu ada untuk menciptakan keberagaman hidup? Dari perbedaanlah, maka timbul penasaran dan wawasan lainnya.

Terima kasih Karie yang sudah menambah beberapa paragraf dalam tulisan yang sederhana ini..

Oleh-oleh Korea jangan lupa ya Karie… Hhahaha… (Doski masih disana apa ya? Sempat-sempatnya baca tulisan ini πŸ™‚ )

***

Advertisements

Published by

ejiebelula

I'm just an ordinary person who is always looking for friends, adventures and life stories to complete. it all started from any footsteps, traveling and recording with a cheerful heart notes and a spirit that always accompany my steps toward the so-called ideals of the school also hopes to live through the experience. I will dedicate my heart only for two, red and pink. # Waiting for the right moment for a heart the gift of God

20 thoughts on “Kue Broncong”

      1. Kayaknya sih sama tampilannya…cuma ga tau broncong itu apa sama dengan kue rangi nya betawi (manis / pake taburan gula pasir), soalnya kalo bandros asin gurih.

        Btw kalo ke sulsel lagi cobain barongko deh -atau barangkali sudah- kalau ramadhan buat berbuka itu istimewa banget, sama jalangkote yang asinnya πŸ˜„

      2. Mungkin kl ke bandung lagi, ejie kudu nyobain kue rangi dan bandros yg Disma sebutin ya? Biar ngga penasaran gitu πŸ˜€
        Ya ngga, Disma?

        Mmmm… kl soal makanan Sulsel lainnya, Disma bisa searching tulisan ejie di kategori simple cullinary, Rp 0,- atau hitchhiker indonesia. Itu catatan ejie ttg seluruh makanan sih. Beberapa belom sempat ejie nulisnya. Entah sibuk apa lagi ngga mood nulis deh, wkkkwkkwww

      3. Kalo rangi mah di jabodetabek mungkin banyak, kalo bandros di bandung aja saya udah lama ga nemu.
        Hahaha ya ya.. nulis saya juga angot angotan.. sip nanti baca lagi, blom bosen kok blog walking nya.

        *curhat* Kadang kangen sih sama Makassar, tapi kalau kebayang harus merantau lagi di sana, duh berat rasanya, kecuali cuma main, jalanjalan, dan jajan. *end of curhat*

      4. Awal 2011-2014 pertengahan tinggal di Makassar sana, ceritanya berawal dari materai 6ribu diatas surat yg isinya lebih kurang bersedia ditempatkan di mana saja πŸ˜€ sekarang sih sedang menjajah dan dijajah kota Bandung dulu.

        Btw senangnya ejie hobi makan tapi ga gemuk, anugerah banget πŸ˜€ hahaha

      5. Hoo??

        Ejie hobi makan dan sekarang sedang terkena dampak gemuknya, Dismaaaaaa…
        Tapi aku mah enjoy aja, yang penting hepi πŸ˜‰

        Eia, Disma Bandung dimananya euy…

      6. Kosan di cigadung..kampus di sekeloa bandung. Banyak bgt jajanan nih kalau sekitaran kampus mah

      7. 😦 blom setahun di bandung timbangan udah naik 10kg…huft..hindari obrolan timbangan deh hahahahaa

      8. Karena materai 6 ribu… πŸ˜€ *semoga bingung*

        Awal 2011 – 2014 pertengahan tinggal di Makassar sana, sekarang sih sedang menjajah dan terjajah Kota Bandung dulu

        Baydewey enak banget tuh ejie hobi makan tapi ga menggemuk wah anugerah ituh

      9. Disma..
        SUkses banget yak? Ejie bingung dengan materai 6 rb itu ada cerita apakah?
        Jadi sekarang tinggal di Bandung? Ahh.. minggu lalu Ejie dari sana, Disma. Tau gitu kan bisa meet up πŸ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s