Hitchhiker Santai ke TravelNBlog [2]

(doc pribadi)
(doc pribadi)

OMG! Waktu sudah menunjukkan pukul 03.20 WIB. Segera mandi dan beresin segala sesuatu yang menyangkut ransel dan keperluan hitchhike. 2 hari saja untuk Workshop #TravelNBlog2 di Bandung. Lalu ada apa dengan jam itu? Hitchhikenya jadi ngga? Baca dooooonnkk… *ngarep

***

Kaget

Mamamia!

Ow gosh.. It’s too late! Aku terlambat bangun! Setengah 4? Kesiangan! Bagaimana mau hadir workshop jam 8 sudah di Jalan Dipatiukur, Bandung kalau berangkat dari Jakarta jam segini? Pasti gara-gara hujan semalam yang melelapkan tidurku. Plus obat pereda sakit kepala yang kuminum itu? Ya ampuuuuuunn….Β Kusingkirkan selimut hangatku dan bergegas mandi.

Satu hal yang kurasa merupakan kebiasaan baik yang menjaga setiap langkah perjalananku adalah, senang hati mengerjakan shalat malam tanpa paksaan dan berdo’a demi perjalanan (sendiri) ku. Kan biar dijaga Allah dan dijauhi dari hal-hal yang tidak kita inginkan… 😍

Aku berangkat setelah Shubuh dan pamit pada orangtuaku. Izin? Sudah kukantongi sejak lama walau mereka agak khawatir dengan caraku mencapai suatu tempat. Ayo bergegas sebelum pertanyaan semakin banyak dikeluarkan papaku. Hehhhehe…

***

Truk Mangga

Otakku sudah terbiasa memilah tempat tercepat mencari lokasi hitchhike jika berada dalam keadaan terdesak. Plan kedua, jika terlambat hitchhike adalah pasar. Disini, banyak kendaraan yang sudah pasti tujuannya. Tinggal duduk manis dan perhatikan plat kendaraan saja. Nego* tujuan pada pengendara.

Targetku, sebelum pukul 05 teng, aku sudah harus berada di kendaraan pertama, dan aku dapat. Yeay!

(doc pribadi)
(doc pribadi)

Seorang pengusaha Mangga Indramayu, bersedia memberikan tumpangan padaku. Abah Isa namanya. Ia bersama pekerjanya, Pak Darno.

Aku bukanlah tipe orang pemilih kendaraan, apalagi karena mengejar waktu workshop. Jelas, aku akan sangat terlambat menghadirinya. Apa mau dikata, nikmati saja perjalanannya.

Mengobrol selama perjalanan, sedikit mengurangi gelisahku akan waktu yang terus berdetak. Diantara kantuknya, Abah Isa (70), bercerita. Ia biasa membawa Mangga Indramayu hasil kebunnya sendiri ke Jakarta, tepatnya ke Pasar Induk Kramatjati. Jum’at pagi (05/12), truk berplat D 8929 YP miliknya, membawa mangga-mangga manis yang telah panen dan ditaruh ke agen mangga langganannya.

“Nanti kalau ke tempat abah, kabari saja biar dijemput. Cicipin mangga kebun abah,” ujarnya. Terkadang, hal-hal seperti ini dimana percakapan antara pemilik kendaraan dan penumpang gratis seperti aku, bisa menciptakan persaudaraan. Bukan sedikit dalam event Hitchhiker Indonesia, kami memperoleh kemudahan atau bahkan sponsor pada event selanjutnya. Percakapan tanpa mengharap balas jasa, yang terjadi begitu saja. Tak jarang bahkan ada pula yang menawarkan jika ada teman yang mau menumpang, mereka berbaik hati menawarkan memberi tumpangan jika jadwalnya pas. Tentunya, keberuntungan itu bisa terjadi dalam sebuah perjalanan meskipun gratis, kan? Heehhe…

***

Pindah Kendaraan

Abah Isa dan Pak Darno tidak langsung ke tujuan awal, tetapi mau mampir ke Subang. Karena hal tersebut, jadilah aku turun di jalan yang aku belum pernah melewatinya walau sudah sering hitchhike ke Bandung. Aku lewat jalur lain, lupa namanya! Untuk hal ini, jangan ditiru ya? Soalnya aku buta peta. Jeleknya, sudah mencatat, tapi selalu saja catatannya hilang. Waah… Parah! 😱

“Mbak naik mobil air mineral mau, ngga? Biar sejalur dan ngga kelamaan sampai Bandungnya,” Pak Darno angkat bicara.

Aku bermaksud turun dan mencari kendaraan sendiri agar tidak merepotkan, tetapi ia melarangku. Kendaraan dipinggirkan. Sigap, ia menyetop truk air mineral yang dimaksud. Berbicara sebentar, lalu memberiku kode bahwa aku bisa melanjutkan perjalanan.

“Mbak, jangan lupa ya? Nama daerahnya, Sadang. Itu jalur dimana kendaraan hanya akan mengarah ke Bandung. Jadi mbak ngga bingung. Lihat platnya dan tanyakan arah seperti saat naik truk kami ya, mbak..” Pak Darno mengingatkanku.Β Hehh, kisah hitchhike kali ini tampaknya akan terasa santai. Aku mengucapkan terima kasih pada Abah Isa dan Pak Darno, kemudian melambaikan tangan sebelum kendaraannya menghilang dan mengambil arah yang berbeda.

Di kendaraan kedua, yakni truk air mineral, aku tidak lama. Mungkin hanya sekitar 20 menit perjalanan. Truk Pak Jeni (34), asal Kaso, Malang, berhenti di sebuah pom bensin. Ternyata truknya mengalami sedikit kerusakan, jadilah aku kembali turun dari kendaraan tersebut.

(doc pribadi)
(doc pribadi)
(doc pribadi)
(doc pribadi)

***

Boleh Hitchhike Motor?

Sungguh ya, ketika aku tengah berdiri menunggu kendaraan hitchhike berikutnya di pom bensin itu, rupanya Pak Jeni meminta tolong pada adiknya untuk memberikan tumpangan padaku. Sebuah motor yang dikendarai oleh Pak Dedi (30), akan mengarah ke pertigaan Taman Cagak. Entah dimana ini keberadaanku, tetapi aku tetap sadar arah perjalananku ini. Karena sedari tadi aku memperhatikan papan plang hijau penunjuk jalan.

“Arah yang benar,” bathinku.

Perjalanan melewati perumahan dan persimpangan. Lalu sedikit mendaki ke atas, melewati persawahan. Hhh… Udara segar yang kusuka.

Oia, jika perjalanan dilakukan secara tim, aku tidak akan menerima permintaan naik kendaraan roda dua. Kenapa? Karena tidak diperbolehkan pecah tim, artinya tim yang beranggotakan 2 atau 3 orang akan terpisah. Maksudnya jalan bisa saja terpencar karena motor bisa menyalip kendaraan lainnya. Kecepatan atau tertinggal di belakang, motor tidak direkomendasikan jika menyebabkan terpisahnya teman dalam tim.

Lain halnya kalau melakukan solo hitchhiking. Keputusan sepenuhnya berada pada diri pribadi. Tinggal hati yang menentukan, apakah kendaraan yang kita tumpangi itu baik atau tidak bagi kita yang hithhiking sendiri.

(doc pribadi)
(doc pribadi)

Aku tiba di pertigaan Taman Cagak yang dimaksud. Perjalanan memakan waktu sekitar 25 menit dari pom bensin terakhir dimana aku berdiri. Sekali lagi, keberuntungan menjadi milikku. Pak Dedi menyuruhku menunggu dan menanyakan sebuah kendaraan pribadi yang tengah berhenti agar dapat memberikan tumpangan padaku. Alhamdulillah… Aku bertemu orang-orang baik hari itu.

(doc pribadi)
(doc pribadi)

“Mbak, mobilnya mogok. Kehabisan bensin. Mbak kalau mau nunggu dekat mobilnya saja, saya mau antar bapaknya beli bensin. Sekiranya lama, mbak cari kendaraan lain saja. Takut si mbak terlambat ke acaranya,” Pak Dedi lengkap benar berbicaranya.

“Iya, Pak. Saya langsung mencari kendaraan lain saja. Terima kasih Pak Dedi,” kataku. Kami berpisah dan Pak Dedi mengantarkan bapak bermobil putih tersebut mencari pom bensin.

***

Kendaraan Super Nyaman

Adeuuuhhh… Terus terang saja, agak tidak nyaman bagiku berhitchhike di hari terang. Bukan malu, tapi entah kenapa, aku merasa agak kesulitan jika hari terang. Ingat perjalananku hitchhike-jakarta-cirebon-rekor-terlama-hitching-3/Β 2 tahun silam, dimana aku memerlukan waktu hingga 6 jam baru memperoleh kendaraan hitchhiking pertama. Ckckkkc… Perjuangan banget deh ituuuuu πŸ˜‚

Mungkin orang sedikit aneh melihat perempuan sepertiku berdiri di pinggir jalan, memegang sebuah kertas bertuliskan “Numpang”.

2 orang anak berbisik-bisik berjalan dari arah depanku, sedangkan 3 orang pemuda pengendara motor di ujung jalan sana, dekat Taman Cagak, menghentikan motornya. Berulangkali kepalanya diarahkan padaku. Aku terkekeh di balik tamengku. Belum pandangan orang yang berada di dalam mobil. Cukup lumayan yang melongokkan kepalanya penasaran memastikan tulisan menumpangku. Belum lagi, orang yang berada di balik jendela yang memutarkan badannya melihatku berdiri atau melihat tulisan “Numpang”. Buatku mah, pandangan yang sudah biasa kusaksikan. Santai sajaaaaaa.. Aku hanya memerlukan sebuah kendaraan yang mau “mengangkutku” saja.

Kulirik arloji, sudah 10 menit. Kuangkat kepala dan sebuah mobil putih dengan 2 orang didalamnya melihatku.

“Sepertinya rezeki kendaraan akan nyaman,” hatiku yang berbicara.

Benar saja, ketika kutolehkan ke arah kiri, mobil putih tadi memberhentikan kendaraannya dan mundur! Olala, hatiku benar! Yuk, hampiri mobilnya, siapa tahu rezeki.

“Mau kemana, mbak?” tanya orang dibalik kemudi.

“Dipatiukur, Pak,” jawabku.

“Kami mau ke arah Setia Budi, tidak jauh dari tujuan mbak. Mau ikut?” tanyanya kembali.

Jujur, aku tidak hafal daerah maupun nama jalan di Bandung. Tapi mengambil keputusan cepat dengan perhitungan yang penting sampai, kerap terjadi padaku. Demikian pula ketika itu. Yang penting aku sudah tiba di Bandung. Urusan selanjutnya, tinggal rezeki dan kebiasaan bertanya yang harus dipanjangkan.

(doc pribadi)
(doc pribadi)

Aku naik kendaraan pribadi, D 1144 A, Mang Alam dan Mang Wawan temannya. Tadinya aku menyebut mereka dengan pak, tetapi Mang Alam bilang, cukup dipanggil dengan sebutan mang. Menurutnya panggilan Sunda untuk laki-laki tersebut, terbilang ramah dan tidak membuat kaku.

Kutanyakan alasan Mang Alam memberikan tumpangan padaku.

“Alasannya jangan karena saya perempuan ya, mang?” timpalku disambut dengan tawa keduanya. Jawabannya sangat sederhana.

“Kita ini harus merasa beruntung hidup di daerah dimana budaya menolong masih sangat dihargai. Iya benar, mbak Ejie itu perempuan. Tapi alasan dan cara penyampaian kalimat yang mbak katakan di awal, buat saya, sopan. Lalu, mbak juga cerita tentang komunitas yang mbak ikuti. Ya, sekalian saya juga ke jalan yang searah,” jelasnya.

Kata Mang Alam, dulu dia juga pernah menumpang, tapi ya ala jaman dulu.

“Mbak Ejie mah, sopan. Berdiri di pinggir, ngomong yang baik menerangkan tujuan, blaa.. Blaa..” katanya panjang.

Dan obrolan kami semakin panjang hingga melewati beberapa tempat yang diterangkan Mang Alam sebagai Wisata Pemandian Air Panas Ciater, Wisata Gunung Tangkuban Perahu, kebun teh di sepanjang perjalanan daaann…. Heheheheee cukup membuatku gigit jari saja karena tidak bisa berhenti dan bermain di tempat yang dijelaskan oleh mamang yang mengerti kesukaanku traveling. Hmmm.. Pasti si mamang juga senang traveling nih. Terlihat sih dari caranya berbicara dan menjelaskan setiap tempat yang kami lalui.

Akhirnya, aku tidak lagi terlalu khawatir dengan arloji ku itu. Memang sudah terlambat, kenapa harus dipusingkan? Tokh tujuan akhirku juga ke workshop. Perjalanan ini entah kapan bisa kunikmati kembali. Sesantai dan bersama orang baik yang mau berkisah tentang alam? Jarang sekali bukan?

Alam, diperuntukkan bagimu yang mengaguminya. Jaga dan peliharalah mereka sehingga bisa dinikmati bukan hanya di kita saja, tetapi juga hingga ke generasi penerus selanjutnya 😘 …

Sekali-kali kesiangan hitchhiking itu tak salah kok. Bukan hanya nafsu yang dituruti, tetapi juga akal. Jadi, sebaiknya siapkan kondisimu bagi hal yang akan kamu lakukan agar rencana yang telah dipersiapkan, bisa terlaksana lancar.

Oia, jaga kesehatan juga looooohhh.. Penting! Sama pentingnya dan membuatku sumringah tatkala sampai di tujuan, Jalan Dipatiukur Nomor 5, Co n Co Space, tempat workshop #TravelNBlog2 dilaksanakan. Ketika aku menginjakkan kaki di tangga teratas, celingak-celinguk kemudian melihat Firsta, sahabatku yang tengah sibuk serta menghampiri meja resepsionis, seseorang berambut pendek berbaju abu-abu menyapaku, “Pasti Ejie yang hitchhiking, ya?”

Hahahahahaaa…. Dan aku cengok berusaha mengingat, dari mana ia -orang yang aku tahu akhirnya bernamaΒ @ibupenyu– mengetahui perihal hitchhikingku ini. Enjoy the workshop, Ejieeeee…. πŸ’ƒπŸ“ (jie)

***

Advertisements

Published by

ejiebelula

I'm just an ordinary person who is always looking for friends, adventures and life stories to complete. it all started from any footsteps, traveling and recording with a cheerful heart notes and a spirit that always accompany my steps toward the so-called ideals of the school also hopes to live through the experience. I will dedicate my heart only for two, red and pink. # Waiting for the right moment for a heart the gift of God

2 thoughts on “Hitchhiker Santai ke TravelNBlog [2]”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s