Tes Adrenalin di Pemandian Air Panas Segara Anak

Pemandian air panas (doc pribadi)
Pemandian air panas (doc pribadi)
Melepaskan lelah dengan berendam di air panas setelah 2 hari 1 malam serta melalui perjalanan panjang mendaki Gunung Rinjani, tentu adalah hal yang dinantikan oleh 9 orang pendaki ini. Riang-riang bersemangat berjalan menuju ke pemandian yang tak jauh dari lokasi Danau Segara Anak yang terbentang luas itu. Saatnya bermain air kah? Yuuukk!
***

Hari Ke-3
Danau Segara Anak

Pukul 09.00 WITA
Hari sudah benderang meninggalkan sisa dinginnya kabut pagi di sekitar camping site, Danau Segara Anak kala itu. Bunyi gemerincing sendok beradu dengan alat masak yang tersedia di dapur kecil samping tenda yang kami dirikan.

Kegiatan pagi yang pastinya selalu digunakan untuk menenangkan cacing-cacing yang berteriak dalam perut kami. Masak? Yeap. Kewajiban yang harus dipenuhi agar tenaga selalu ada, juga kesehatan terjaga.

Melahap habis hidangan pagi itu dan mulai mempersiapkan baju ganti kami untuk ikut bermain di air panas. Asyiiiiikkk…. Akhirnya bakalan mandi juga deh. Basuh badan, sikat gigi, berendam, dan loncat-loncat di air terjun!

Loncat?? Tepatnya sih lompat dari ketinggian 5-7 meter diatas permukaan air yang ada di pemandian itu. Aahhh… aku lupa nama air terjunnya. Apa ini yang namanya Aik Kalak Pengkereman Jembangan?Tempat yang disebut sebagai pemandian benda-benda bertuah? Tapi aku kurang terlalu tahu sih karena lupa bertanya pada porter-porter asli Lombok yang banyak berada di sekitar camping site Segara Anak. Maklumlah, karena sudah 2 hari ngga mandi, yang ada di otakku cukup mendengar kata β€œair” saja, sudah berasa mandi! Hehehehh..

“Ayo, segera bereskan pakaian dan alat mandinya sebelum tertinggal jauh di belakang para pejalan cepat itu, Jie….”

Β ***

Pemandangan dalam perjalan ke air terjun. (doc pribadi)
Pemandangan dalam perjalanan ke air terjun.
(doc pribadi)

Langit sangat cerah, udara segar dan pemandangan indah selama perjalanan kami menuju pemandian air panas. Lokasinya yang berada dibawah Danau Segara Anak, mengharuskan kami sedikit olahraga pagi, trekking ringan riang-riang.

Sejauh mata memandang, tampak hutan hijau yang ditumbuhi pepohonan dengan turunan-turunan yang berupa bukit di bawah sana. Alurnya jelas. Gunung yang cantik dengan jalur-jalur menantang, cukup membuatku bersyukur bisa menginjakkan kaki dan melewati kejutan-kejutan diantara trekking yang telah dilakukan 2 hari yang lalu.

Bayangan pohon-pohon diantara awan, sinar mentari pagi yang menyambut perjalanan kami ke air terjun, membuat siluet indah diantaranya. Aku cukup berdiri diam sejenak menikmati pemandangan pagi itu. Cukup banyak juga orang yang lalu-lalang kearah pemandian air panas. Sekitar 20 menit berjalan, sampailah di sebuah turunan.

β€œDisana ada tempat ambil air minum juga, Jie. Mau mampir ngga?” tanya Q-bo, teman Jarank Pulang-ku.

β€œNgga usah deh, sudah kepengin nyebur di air nih,” ujarku sembari berlari untuk mengambil foto mereka yang berjalan beriringan.

Kami tiba di tanah yang sedikit lapang, penuh dengan rerumputan kering yang berwarna coklat berdampingan dengan rumput hijau. Suara jatuhan air terdengar dari posisiku berdiri. Air terjun disisi kanan pun tampak putih, berlomba mencapai genangan air yang ada dibawahnya. Beberapa orang yang sudah berada disana membersihkan badannya.

(doc pribadi)
(doc pribadi)

Kami memperlambat jalan ketika kaki sudah digenangi air panas. Ya harus berhati-hati juga kalau tidak ingin tergelincir di batu-batu kali yang lumayan besar itu. Sebagian batunya juga berlumut dan licin jika dipijak.

Belajar selfie yang gagal terus >_< (doc pribadi)
Belajar selfie yang gagal terus >_<
(doc pribadi)

Aku mencari batu yang agak lebar dan datar untuk meletakkan perlengkapan mandi dan baju gantiku. Tak lupa ponco, jas hujan yang tadi kuselipkan dalam tas mandiku. Ponco?

β€œNgapain bawa ponco, Jie?” salah seorang temanku bertanya.

Kuedarkan pandanganku dan menjawab ringan, β€œDisini tempatnya kan terbuka, kalau ada ponco, bisa ganti baju didalamnya tuh. Sambilan pakai kain sarung biar aman.”
#ngga perlu mikir, tokh? =)

Β ***

Air terjun ini tidak terlalu luas tempatnya. Ada dua tempat yang dipisahkan oleh batu besar disana. Satu sisi kecil dan tidak ada seorangpun yang sekedar berbasah-basahan, mungkin karena tempatnya yang hanya selebar 2 meter dan terlihat sempit untuk bersenda-gurau. Disisi lainnya yang dialiri oleh air terjun panaslah yang tampak ramai orang berenang, membersihkan badannya, bermain atau sekadar menggosokkan kakinya dari debu dan daki badan selama trekking, seperti yang dilakukan Tika dan Irma.

Irma dan Tika yang tidak ikut nyebur dan hanya membasuh kaki dan membersihkan badannya saja. (doc pribadi)
Irma dan Tika yang tidak ikut nyebur dan hanya membasuh kaki dan membersihkan badannya saja.
(doc pribadi)

Jika dilihat, air terjunnya tidaklah tegak lurus dari ketinggian diatasnya dengan dinding batu menjadi pondasi turunnya air. Sebagian batu yang tertutupi oleh air berlumut, berwarna kuning terang, menandakan telah lama air terjun itu bersahabat dengan batu. Sedangkan lumut hijau, tumbuh di kanan-kirinya.

Di sebelah kanan air tejun, ada sebuah cerukan mirip gua menganga dan kelihatan gelap. Kalau kita berenang mendekati gua itu, aku sih merasa sedikit ngga enak, jadi ngga mau berenang dekat gua itu. Intinya ya harus berniat baik saja di setiap kesempatan kita melakukan perjalanan agar dilindungi-NYA, πŸ™‚

***

Segar! (doc Tika)
Segar!
(doc Tika)

Aku menikmati udara segar dengan langit biru diatasku. Kuhirup dalam-dalam sebelum menceburkan diriku ke dalam air panas berwarna kuning kehijauan tersebut dan haaap! Tubuhku sudah tenggelam di dalam air panas itu dan menyembul beberapa menit kemudian.

Ahhh… segarnya!

Kalau saja selama perjalanan dari jalur Sembalun kemarin bisa membawa air buat mandi, enak kali ya?!? Aku nyengir. Kalau bisa ditambah sampai turunan nanti hingga ke jalur Senaru, mungkin akan lebih seru. Waks?! Hahahaaha… #ngayal

Kecerian teman-temanku tak hanya sampai disitu. Beberapa dari kami, bahkan aku, ikut melompat dari ketinggian air terjun dari arah kami datang tadi. Penasaran sih…. Tapi agak geli-geli nyeri begitu di dada ketika akan melompat dari ketinggian tersebut. Ada yang menggelitik sih kalau ngga mencoba ikut loncat dari atas sana. Berani tes adrenalin ngga?

 

Kenapa? Takut lompat? Bukan!

Sedikit khawatir karena pijakan kaki yang pas dan kokoh sebagai tumpuan sebelum lompat itulah yang agak sulit dicari. Cekukan pijakannya hanya muat untuk bagian tumit kaki saja. Sementara bagian tapak kaki lainnya, menggantung di udara. Dan di posisi tersebut, kita sudah harus siap mengambil ancang-ancang untuk langsung melompat tanpa ragu. Karena jika terpeleset, cukup riskan juga bila terbentur ujung batunya.

Melompat pun harus sembari mendorong beban tubuh kita agar jatuhnya tubuh di air, tepat berada di tengah dan tidak terlalu ke pinggir mendekati bebatuan besar. Ohya, kalau melompat begitu, cara yang baik adalah badan tetap tegak lurus ketika jatuhan, dengan posisi seperti berdiri agar tidak menyebabkan lebam, memar biru di badan, terutama daerah paha maupun bagian bawah belakang badan.

Alasan lain tidak meloncat dengan posisi kepala dibawah adalah, menjaga kepala agar tidak terbentur batu atau lainnya yang ada di dasar air tejun yang kedalamannya tidak diketahui. Dengan catatan, melompat seperti posisi berdiri lhoooo…. hha

Jangan khawatir untuk kedalaman di pemandian air panas itu, karena sewaktu kucoba untuk freedive di dalamnya yang gelap, aku tak juga mencapai dasar dari air teruju itu. Mungkin dalamnya berkisar antara 3 meter ke bawah.

Jadi masih minat untuk mencoba loncat di air terjun ini ngga? Kalau ragu-ragu ya jangan ikutan deh. Tetapi kalau memang penasaran, ngga ada salahnya mencoba dan tes adrenalinmu dengan cara melompat diatas bukan? Atau kalian punya trik tersendiri saat sudah mencoba melompat 2 atau 3 kali dari atas sana, seperti saya.
#whoops… Ketagihan! wkwkwkkk

***

Air terjun ini tidak hanya berhenti di tempat kami berada saja, tetapi terus hingga ke bawah, entah berujung dimana. Karena dibalik batu besar tempat kami bermain, masih terdapat air tejun yang berasal dari aliran yang sama. Dan disana, banyak bule (wisatawan asing) yang juga berendam menikmati segarnya air panas.

Hmm… jadi bagaimana? Masih mau berendam dan bermain air panas, atau mau bawa air panasnya buat turunan jalur Senaru nanti? Ahahahahhha… Apapun itu, dimana pun kita berada saat traveling, jangan lupa untuk tidak membuang sampah di sembarang tempat ya, teman? Keep greeny, guys πŸ˜‰ (jie)

Β ***

Usai berenang (doc Tika)
Usai berenang
(doc Tika)
Advertisements

Published by

ejiebelula

I'm just an ordinary person who is always looking for friends, adventures and life stories to complete. it all started from any footsteps, traveling and recording with a cheerful heart notes and a spirit that always accompany my steps toward the so-called ideals of the school also hopes to live through the experience. I will dedicate my heart only for two, red and pink. # Waiting for the right moment for a heart the gift of God

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s