Simpenan Karang Hitam Pantai Loji

 

(doc pribadi)
(doc pribadi)
Kata peribahasa, sekali mendayung, 2-3 pulau terlampaui. Kata kondisi waktu itu, cukup satu saja, lainnya menyusul. Hehehee… Kenapa harus begitu? Ya, karena berhenti di pantai tak berujung itu, kami paksakan demi bisa mengabadikan foto sejenak dan mengurangi rasa penasaran yang sudah menendang-nendang kalbuku. Mosok sih?
***

(doc pribadi)
(doc pribadi)

 

Dari pertama tiba dinihari Sabtu (14/03/2015) lalu, aku sudah melihat dan mendengar debur ombak di kejauhan alam bawah sadarku. Padahal waktu itu hujan tengah mengguyur Sukabumi, Kecamatan Simpenan tempat dimana komunitas Backpacker Society mengadakan kegiatan bakti sosial yang telah dijadwalkan. Selain itu, aku pun baru bangun dari tidur yang tidak bisa dikatakan lelap pengaruh jalan yang naik turun dengan tanjakan tajam berliku serta kondisi jalanan yang banyak melalui aspal jelek, jalan berlubang dan berbatu.

Untuk mencapai Pantai Loji, dibutuhkan waktu tempuh kurang lebih 5-6 jam dari Jakarta. Mendekati lokasi, jalan akan menyempit dan berlubang dengan rerumputan yang mulai meninggi di sisi kanan-kiri jalan. Pemandangan yang terlihat disekitar adalah petakan sawah yang hijau juga perbukitan.

Jalurnya adalah dari Jakarta kearah Ciawi-Cicurug-Parung Kuda-Cibadak Sukabumi-Surade Ujung Genteng-Pantai Loji. Ehh, kami juga melewati jembatan kayu yang berderit (bunyi). Hahahaaaa… lumayan ngeri juga sih jembatannya. Sedikit tidak meyakinkan.

Ketika ada waktu di saat jalan pulang, aku mengusulkan pada Ito yang mengendarai mobil dimana aku, Uwe, Riandika, Hilda dan Eka berada, agar menghentikan kendaraan. Ahh, itu ombak memanggil-manggil aku supaya turun dan memotretnya. Hahahaa… ternyata ngga hanya mobil kami saja yang berhenti. Mobil iringan lain pun ikut menepikan mobilnya.

***

(doc pribadi)
(doc pribadi)

Terletak di Kecamatan Simpenan, wisata pesisir pantai Jawa Barat ini, mungkin tidak terlalu banyak yang datang dan mengunjungi. Karang hitam dan batu-batuan disanalah yang menarik niatku untuk mampir. Pasirnya sedikit hitam, serta ombak besar yang menghantam karangnya mengingatkanku pada Pantai Batu Hiu yang juga pernah kusambangi.

Memang tidak begitu banyak wisatawan yang bermain kesana. Sekadar bermain di pantainya pun sepi. Jika ditilik dari keberadaan bebatuan pantai, aku rasa, Pantai Loji ini memiliki daya tarik pada karang-karangnya yang berwarna hitam. Entah mengapa karang di pantai ini gelap. Pun ketika aku menghampiri lebih dekat untuk memastikannya, karang besar yang kuinjak pun jelas terlihat berwarna hitam. Seperti gosong. Aku tidak mendapat sedikit cerita apapun yang melatarbelakangi kisah si karang hitam itu.

(ombak Pantai Loji (doc pribadi)
(ombak Pantai Loji
(doc pribadi)

Menurut hematku, pantai ini bukanlah terbilang pantai bersahabat untuk berenang. Mungkin sekadar berfoto dan bermain di pinggir pantainya saja masih bisa. Tetapi berenang, NO! Lihat saja debur ombak yang menghempas karang, sangat keras bunyinya. Ombaknya pun terbilang tinggi. Dan aku beberapa kali kecipratan ombak karena memang berdiri di dekat karang untuk mengambil beberapa gambar.

Jika kita naik di dataran yang lebih tinggi –seperti ketika komunitas Backpacker Society berkegiatan- di Pos OBS RVAS Bulan, maka akan tampak tiga tone warna pada air laut Pantai Loji. Warna coklat yang lebih mendekati daratan, merupakan campuran antara air laut dan pasirnya menandakan tidak terlalu dalam wilayah tersebut. Warna coklat ini sedikit didominasi oleh campuran warna hijau muda. Agak ke tengah, akan terlihat warna laut yang mulai biru.

Pantai Loji di pagi hari. Diambil pukul 09. 05 WIB, kondisi masih gerimis kecil. (doc pribadi)
Pantai Loji di pagi hari. Diambil pukul 09. 05 WIB, kondisi masih gerimis kecil.
(doc pribadi)
Langit Sukabumi sudah mulai cerah. Diambil pukul 09.14 WIB dari atas basecamp Backpacker Society melakukan kegiatan bakti sosial, Pos OBS RVAS Bulan. (doc pribadi)
Langit Sukabumi sudah mulai cerah. Diambil pukul 09.14 WIB dari atas basecamp Backpacker Society melakukan kegiatan bakti sosial, Pos OBS RVAS Bulan.
(doc pribadi)

Tidak hanya tone warna saja yang terlihat, melainkan akan tampak pula jajaran keramba ikan para nelayan yang tinggal di daerah tersebut. Keramba-keramba ikan itu terlihat hampir memenuhi perbatasan tone warna. Menurut salah seorang Kasepuhan yang kutemui di bakti sosial SDN Cibeas, Kecamatan Simpenan (yang juga bermukim di Jagakarsa), penduduk sekitar juga menggantungkan hidupnya pada kegiatan mencari ikan. Keramba-keramba tersebut dipergunakan untuk membudidayakan ikan-ikan hasil tangkapan nelayan dan hasilnya bisa dijual kemudian.

Pantai Loji juga dikelilingi oleh bukit dan hutan yang jika diperhatikan dengan seksama, ada beberapa bagian yang terlihat mirip jalur di Gunung Merbabu (Jawa Tengah). Aku tak sengaja memotretnya ketika berada di ketinggian tatkala memandangi Pantai Loji.

Oia, wisata di Kecamatan Simpenan yang berdekatan dengan pantainya ini, terdapat pula Vihara Dewi Kwan In atau Nam Hai Kwan Se Im Pu Sa, yang merupakan tempat beribadah agama Buddha. Menurut info yang aku baca di om google, untuk mencapai tingkatan paling atas bangunan vihara, harus mendaki sebanyak 500 anak tangga. Hehehee… sayang, waktu itu, aku sedang tertarik pada pantai (maklum kangen pantai dan laut), jadi sama sekali tidak memotret viharanya. Padahal aku sempat melihat-lihat juga dari depan pantainya loohh… 😀

Dari hasil pemberhentian yang hanya sekitar setengah jam itu, aku bisa sedikit menyimpulkan. Masih sangat menyayangkan sampah yang tetap saja ada di sekitar pinggir pantai. Meskipun jarang dikunjungi (mungkin), tapi kenapa sampah selalu saja ada ya? Apakah sampah-samapah itu terbawa ombak? Artinya korban sebelumnya adalah sampah yang berasal dari laut? Apakah bisa dikatakan orang membuang sampah di lautan?

Sangat disayangkan kalau memang demikian. Bukankah hak generasi penerus kita untuk bisa melihat alam yang “pernah” kita lihat sekarang? Bagaimana bisa mereka menikmati alam yang bersahabat jika kita tidak menjaga dari sekarang? Dimulai dari diri pribadi dengan tidak membuang sampah di sembarang tempat. Bisakah melatih diri sendiri dan belajar menghargai? (jie)

***

(doc pribadi)
(doc pribadi)

 

 

Advertisements

Published by

ejiebelula

I'm just an ordinary person who is always looking for friends, adventures and life stories to complete. it all started from any footsteps, traveling and recording with a cheerful heart notes and a spirit that always accompany my steps toward the so-called ideals of the school also hopes to live through the experience. I will dedicate my heart only for two, red and pink. # Waiting for the right moment for a heart the gift of God

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s