Edisi Papatheo: Jajanan Pulau Perak [2]

Edisi cowok-cowok aja? Tapi aku kan nyempiiiiilll.... (doc Wongso, taken by Gie)
Edisi cowok-cowok aja?
Tapi aku kan nyempiiiiilll….
(doc Wongso, taken by Gie)
Kami yang kelaparan setelah puas bersnorkeling diantara pulau-pulau kecil dekat Pulau Papatheo, yakni Pulau Sepa dan Pulau Perak, kapal mulai merapat ke dermaga Pulau Perak. Kata Pak Tamin, nahkoda kapal yang kami sewa, disana bisa makan. Isi perut dengan camilan ringan dan pesan minuman hangat. Mau ke toilet ala kadar juga bisa kok. Yuuukk.. merapat, lapar!
***

Maret 21st, 2015

Camilan Pulau

Hanya berkisar 10 menit perjalanan dari lokasi snorkeling, sampailah kami di Pulau Perak. Tampak dari atas kapal, aku melihat penggemar laut yang lumayan banyak berkumpul di pulau tersebut melepaskan dahaga dan rasa laparnya. Kapal kami perlu mencari slot yang agak lega untuk bersandar karena lumayan banyak yang mampir. Mungkin sekitar 5-6 kapal sepenglihatanku.

Gaya! (doc Wongso, taken by Gie)
Gaya!
(doc Wongso, taken by Gie)

Pulau seluas 3,06 ha ini, masih termasuk dalam Kelurahan Pulau Harapan dan kecamatan Kepulauan Seribu Utara. Menurut keterangan Arman Dolan temanku di blognya sih (http://www.doyanjalan.com/2014/03/pulau-perak-kepulauan-seribu-jakarta.html), pulau ini belum ada penginapannya. Baru bisa kemping saja. Waktu aku kesana (21/03/2015), memang tidak menjelajah keseluruhan pulaunya sih karena niatnya hanya mampir makan dan bermain sebentar di pasir putihnya.

Rombongan kami yang terdiri dari 21 orang, mencari meja kosong agar bisa makan bersama. Sebagian sudah memesan makanannya. Makanan yang tersedia di warung-warung sekitar dermaga adalah gorengan dan mie instan siap saji. Model pelayanannya adalah self service.

Model bakwan dan mie instan. Piiiiiiisss Gery, Fitri ;) (doc Delima Yoga)
Model bakwan dan mie instan. Piiiiiiisss Gery, Fitri 😉
(doc Delima Yoga)

Mie sudah tersedia air panasnya, tinggal pilih mau rasa apa dan seduh sendiri. Harus cepat sih ngambilnya biar ngga kehabisan. Soalnya semua orang yang kesana, bisa antri menunggu atau mengambil mie nya. Aku saja yang sudah ikutan antrian mie, kehabisan. Jadi aku mengantri gorengan saja sesuai pesanan Nowo dan Gie untuk dimakan bersama. Oia, harga mie instan seduhan ini Rp 10.000,- per 1 rasa. Lumayan cengok ngga? Aku sih, IYA! Hahahahh… apa boleh buat lah, aku lapaaaaaaarrrrr….. belum makan maupun ngemil sejak dinihari berangkat dari rumah buat ngelaut hari itu 😀 Beruntung perutku ngga keram saat nyelam.

Nahh, hal menarik juga terjadi pada saat aku  mengantri gorengan yang ku pesan di warung belakang penjual mie. Aku dan temanku yang juga memesan gorengan, kelibas terus sama orang-orang yang menyalip ambil gorengan yang sudah masak. Aihhh… otak lapar aku serta Nowo-Gie-Wongso yang bertanya berkal-kali padaku tentang gorengannya, membuat aku mendekati area bapak yang sedang menggoreng sembari meminta kertas pembungkus gorengan.

“Pak, aku pesan 20 ribu gorengannya. Nanti kalau sudah selesai masak, taruh di pembungkus ini pak biar ngga diambil terus. Kan saya nunggu dari tadi, pak,” keukeuh laparku tak bisa menahan untuk tidak mengeluarkan isi otak ini. Wkwkwkkk..

“Iya mbak, ini aku masakin,” ujar si bapak. Mungkin dia ngga enak melihat aku yang beberapa kali kesalip pesananku diambil orang.

Mereka penjual sekaligus menggoreng juga. Boleh dibilang penghasilan mereka lebih dari cukup kalau melihat orang yang menunggu gorengan pesanannya. Harga gorengannya Rp 2.000,- per piece.

Selain gorengan, di warung ibu mie instan dan bapak gorengan yang ternyata adalah pasangan suami istri itu, juga menjual minuman. Harganya varian. Kopi dan minuman dingin seharga Rp 5.000,- per sachet. Sedangkan minuman botol berkisar antara Rp 8.000,- hingga Rp 10.000,- per satuannya. Macam-macam sih. Ada teh, minuman jeruk dan bersoda. Bisa pilih sesuai kesukaan dan harganya.

Rebutan gorengan Perak. (doc Delima Yoga)
Rebutan gorengan Perak.
(doc Delima Yoga)

Wuiiiwww… hasil pengamatan dan antrianku lumayan juga deh sampai bisa nulis begini. Hhahah… ya kali kan, teman-teman lain yang kesana jadinya tahu harga makanan ringan dan minuman di Pulau Perak. Biar bisa siapin isi dompetnya buat jajan atau mungkin malah berpikiran buat bawa perlengkapan memasak gorengan sendiri ^_^

Tambah info, selain jajanan yang sudah aku sebutkan, ada juga loh kelapa muda. Kata Delima yang memberikan bantuan fotonya, harganya Rp 10.000,- per buah. Tuuuhh… banyak kan jajanan Pulau Perak?

Yang gratis di Pulau Perak ini rasanya hanya duduk memenuhi meja tempat kami beraksi rebutan gorengan dan main ayunan saja deh. Untuk sandar kapalnya di dermaga saja, aku sempat membaca woro-woro yang tertempel di sebuah pohon pada plang bertuliskan tarifnya seharga Rp 25.000,- Wohoooo… canggih pisan ni pulau. Sayangnya, aku lupa foto karena diajakin main pasir pantainya.

Bukankah berbagi cerita itu indah, ya?
*goyone kowe, Jieeee

***

Pasir Lembut Perak

Bercerita Pulau Perak, tidak hanya ada mengenai jajanan di warung-warungnya saja yang menarik. Usai mengisi perut, rombongan kami berjalan ke arah pasir lembut putihnya di sisi lain dimana tidak terlalu banyak kapal yang bersandar. Beberapa orang dari rombongan lain terlihat sedang berfoto bersama. Ada juga yang tetap bermain air laut, berenang-renang cantik atau melihat ikan-ikan kecil yang berseliweran di sekitar bibir pantai.

This slideshow requires JavaScript.

Pasirnya ini, halus dan cenderung basah. Bersih seperti ketika aku berada di Pantai Pasir Putih Tanjung Bira edisi #GetStranded #Celebes (klik tanjung-bira-tentang-senja-pantai-pasir-putih-yang-memukau/) tahun lalu. Ahhh.. memang benar-benar kangen pantai aku ini. Tak peduli sih dengan pasir lembutnya yang menempel di baju renang itu, aku lempar dry bag dan lompat duduk ketika Gie sibuk mengarahkan kamera ingin memotret landscape. Badung? Iseng? Ya maafkan euuuuyyy… aku sangat, sangat, sangat kangen sama laut dan teman-temannya. Aku juga ngga mikir lagi ketika sudah berdiri di sisi pantai, kakiku otomatis melangkah ke air laut hijau bening itu.

“Ejieeeeee…. Siniiii foto,” aku mendengar temanku memanggil. Entah siapa. Yang aku tahu pasti mereka yang mengenal kesukaanku akan laut, karena kalimat selanjutnya adalah, “Main air terus si Ejie. Nanti kan bisa main lagi di Pulau Papatheo.” Sependengaranku, itu suara Kak So (Wongso), si sweaper sabar itu. Aiihh, lupa aku.

Aku nyengir dan berlari ke rombongan teman-teman baru yang seru itu. Ya sama juga donk. Kita foto-foto seru di pasir lembut itu. Ehh, aku usil sih kepengin tanam Nowo pakai pasir Pulau Perak. Ternyata, teman-teman juga ikut bantuin tanam Nowo deh. Dan Indri si tongsis kuning dengan go pro nya mengambil gambar kami. Makasih ya Indri sayaaaaanngg…

Heii, aku sudah kangen mereka lagi! Selalu begitu ya kalau kita jalan-jalan dan bertemu teman lain dalam sebuah perjalanan. Ohhh tidak, tidak… aku menyebut mereka keluarga. Keluarga Lapar tepatnya, karena petualangan pulau kami dipenuhi dengan masak-memasak dan makan-makan terus. Sedap kan yahhh… ❤

***

WC Mengecewakan

Ketidaksempurnaan itu memang selalu ada lhoo?! Ketika sampai di dermaga Pulau Perak, aku bertanya pada Pak Tamin mengenai WC umum atau sumur untuk bilas badan, apakah ada? Menurutnya ada agak di tengah. Tidak jauh dari warung-warung jajanan itu.

Deni anaknya Pak Tamin, mengantarkan Gery TS, Chris, siapa ya yang kemarin itu pakai jilbab? Ipit sepertinya. Terus Echa, Mita, Nowo, Anggi, Andrew dan Catur si hand sign. Nama-nama ini, aku dibantuin Gery TS buat mengingatnya. Maklumlah, aku pelupa parah. Ahahahhh..

Menuju ke kamar mandi atau WC Pulau Perak, kami melewati jalan setapak berpasir pantai agak gelap dengan tumbuhan di sisi kanan-kirinya, kami menuju WC ala kadar. Sebuah tanah lumayan lapang kami temui. Ada kotak ruang serupa toilet sederhana tertutup dan seseorang keluar dari dalamnya.

“Itu kamar mandi ya mbak? Ada airnya ngga?” aku membuka pembicaraan.

“Iya, tapi bau dan ngga bersih. Ada jebakan betmen (kotoran). Kalau air, bisa ambil di sumur itu,” tunjuknya pada sebuah bak di depan toilet yang berwarna kecoklatan dan berlumut. Aku mengucapkan terima kasih padanya.

Kami mendekat dan aroma tak segar langsung menyengat penciumanku. OIK…. pengin huek sih sama baunya, tapi ku tahan saja. Mendadak malas basuh badan. Melihat air sumurnya juga begitu, kurang bersih. Kuurungkan saja niatku. Teman-teman juga pada ngga jadi ke toiletnya. Ragu.

Sayang saja. Menurutku, Pulau Perak itu keindahan laut dengan airnya yang gradasi hijau, pasir pantai yang lembut dan putih, tempat jajanan yang terbilang cukup lengkap untuk mengisi kekosongan sementara dalam perut, sudah bagus. Tetapi sayang, dengan toilet sederhana dan bisa dibilang ala kadarnya dengan sumur itu, kau katakana bahwa wilayah tersebut kurang diperhatikan kebersihannya. Padahal WC kan termasuk public service. Kalau memang disediakan dengan maksud bisa digunakan, kenapa juga tidak ada yang  mau memperhatikan kebersihannya? Kalau memang harus membayar biaya toilet layaknya yang ada di terminal-terminal kendaraan harus berbayar, aku rasa sih ngga salah asal benar-benar dijaga. Agar tidak tanggung juga sudah indah melihat pulaunya, begitu ingin ke public service yang ada, namun mengecewakan. Kenapa ngga sekalian saja dibuat tulisan dilarang membuang hajat di pulau itu?

Eia, tapi ngga bisa disalahkan juga deh pengelolanya jika ada. Terkadang nih, pelakunya adalah orang-orang yang berkunjung ke pulau tersebut juga. Setelah buang hajat, malah ngga mau membersihkan. Atau malas mengambil air sumur yang harus ditimba lebih dulu. Kalau sudah begini, kan sama-sama rugi. Bukan hanya pengelola saja, tetapi pengguna area public service juga ngga bertanggungjawab deh.

Saranku sih tetap sama melihat hal seperti ini. Jika menggunakan sarana kepentingan publik, coba deh dengan mendisiplinkan diri kita untuk tidak mengotori atau merugikan tempat dimana kita berada. Tidak hanya dalam wilayah wisata saja, dimanapun kita melangkahkan kaki, niatkan untuk selalu menjaga lingkungan dan kebersihan alamnya ya teman-teman…

Mengenai WC ini, aku ngga jujur ngga punya fotonya juga deh. Ngga niat juga motoinnya. Maaf yaaaaa..

Okaaaayy….. hari ini sekian lagi deh cerita cerewet aku. Perutku sudah berteriak lapar dari tadi. Cacingnya sudah memanggil-manggil minta makan nih. Karena seperti saat ngelaut kemarin, hari ini pun, aku lupa makan dari berangkat pagi tadi. Jadi aku makan ya teman-teman sayaaaaanngg…….. dadaaaaahhh (jie)

***

Foto keluarga di Pulau Perak. (doc Indri)
Foto keluarga di Pulau Perak.
(doc Indri)

 

Advertisements

Published by

ejiebelula

I'm just an ordinary person who is always looking for friends, adventures and life stories to complete. it all started from any footsteps, traveling and recording with a cheerful heart notes and a spirit that always accompany my steps toward the so-called ideals of the school also hopes to live through the experience. I will dedicate my heart only for two, red and pink. # Waiting for the right moment for a heart the gift of God

2 thoughts on “Edisi Papatheo: Jajanan Pulau Perak [2]”

    1. Wkwkkk…
      Namanya jg usaha nulis, pak engineer. Boleh donk apa yg kita lihat disalurkan, biar ga penasaran! 😀😁

      Btw, tengs yak udah hand sign dimarih. Jangan bosen blogwalking yak, tuuuuurrr…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s