Hitchhiking Tanjung Bira to Makassar

(doc pribadi)
(doc pribadi)

Ada banyak cara mencapai satu tempat tujuan yang dimaksud pada saat berkelana. Menggunakan kendaraan yang langsung menuju point, maupun dengan sambung-menyambung. Bisa berbayar, bisa pula gratis. Hoo? Gratis? Iya. Eits, tetap mengusung prinsip etika kesopanan lho, meskipun menumpang. Haaa? Numpang?? Iya! Hahahahh… keep reading, yes 😉

***

Tanjung Bira, Juli 2014

Kendaraan Air Pertama

Waktu kepulangan sesuai itinerary yang aku ajukan saat mengikuti #GetStranded seharusnya sebentar lagi. Usai aku dan travel mate bermain di Pantai Bara yang tersembunyi dan mendapatkan tempat tenang untuk menikmatinya sejenak, kami kembali kepada kenyataan. Segera pulang ke Makassar!

Perlengkapan carrier yang telah siap packing, kami angkut. Sembari mata kami sibuk mencari kendaraan yang akan membawa kami ke Makassar, hati kami lebih berkenan untuk menjalankan misi hitchhiking. Maklumlah, jiwa pengelana ini tetap ingin memecahkan “telor hitchhiking” di Sulawesi Selatan tersebut karena pada kenyataannya, aku memang belum pernah menumpang darijarak tertentu yang cukup jauh.

Menurut info yang kuperoleh dari gadis di homestay tempat kami menginap (Sallassa Guest House), kendaraan ke Makassar hanya ada hingga pukul 4 pm. Lewat dari itu, jangan harap ada kendaraan lain, terkecuali jika sudah keluar dari area Pantai Pasir Putih, kemungkinan ada kendaraan harapan akhir yang bisa didapatkan di jalan raya.

Kami tetap berjalan kaki. Mataku mencari-cari kendaraan. Jujur sih, aku malah berharap mendapatkan kendaraan yang bisa ditumpangi. Wwkwkkwk…

“Kaper (panggilanku pada Vera, sang travel mate), mmm… kepengin hitchhike. Yuk, kak,” berbinar-binar penuh harap bahwa dia mempunyai rasa yang sama.

“Ayuklah, santai aku mah, Jie…” ujarnya.

YES!! Dan sejak itulah perburuan dimulai. Kami berjalan kaki sambil sesekali menengok ke belakang sambil bercerita. Dan aku melihat mobil pick up yang tengah berhenti tak jauh dari tempat kami berjalan. Tampaknya kendaraan itu kutumpangi pagi tadi ketika pulang hunting sunrise di Pelabuhan Tanjung Bira.

“Itu pick up air pagi tadi, Kaper,” teriakku girang, “Kita numpang yuuuuukk……..” Kaper mengangguk dan kami berjalan ke arahnya.

Kebetulan, si pengemudi baru naik ke mobilnya dan melihatku dari balik jendela. Segera saja aku memperkenalkan diri dan menyatakan maksud kami menumpang. Dan hei, rezeki bersama kami karena rupanya kernet yang dibelakang mengenali kami ketika menumpang pagi tadi.

*wiiih… tulisan ini belum selesai, tapi kepencet PUBLISH, ishhhhhh 0_o

———————————————————————— lanjut

Kami tiba di ujung jalan sedikit menanjak di jalan keluar satu-satunya setelah gerbang Pantai Pasir Putih. Mengucapkan terima kasih pada pengendara yang kulupa (akhirnya ingat) namanya (Nisal), tetapi jelas kuingat, ia menggunakan topi dan ramah bercerita menerangkan pada kami jika ingin menumpang, berdiri di tempat yang terbuka dan segera mencari kendaraan. Karena jika hari semakin senja, maka kendaraan akan semakin berkurang dan jalanan akan sunyi. Kami mengucapkan terima kasih kepada mereka yang segera melanjutkan perjalanan.

***

Kendaraan Air Mineral Kedua

Sudah 2 kali duduk dan berdiri menanti serta memberikan tanda untuk memberhentikan kendaraan ala hitchhiker, tetapi sepertinya belum ada yang mau berhenti dan memberikan tumpangannya. Tak bosan, kami berfoto diantara papan penunjuk jalan juga tugu kapal phinisi yang kami temui disana. puas berfoto, kami kembali duduk menikmati sejuknya hembusan angin yang bertiup sepoi-sepoi menghilangkan keringat yang mengalir.

Dari arah berlawanan, sebuah rombongan dengan mobil-mobil mewah, menuruni jalanan yang kami lewati setelah singgah ke pembuatan kapal phinisi. Tampaknya sih, iringan mobil pengantin. Padahal mata kita mengharap, mobil-mobil mewah tersebut bersedia memberikan tumpangan pulang ke Makassar. Wahahahha… *ngarep.com 😛

Tak berapa lama, sebuah kendaraan pick up penuh dengan galon yang ditumpuk, berhenti di depan kami. Aku rasa, ia melihat acungan jempol yang kami arahkan padanya.

“Ejie, kejar!” perintah Kaper dan aku berlari menghampirinya.

“Sore, apakah kendaraan ini akan ke arah Makassar?” tanyaku.

“Ya,” singkat. Mungkin ia masih asing melihat 2 perempuan nekat bermaksud menumpang Kendaraannya.

Aku menerangkan maksud dan tujuan kami. Ehh, karena aku kesulitan menjelaskan arah (maklum, aku buta peta), jadilah Kaper kupanggil untuk melengkapi apa yang kumaksud.

Intinya, ia bersedia namun menambahkan, “Tapi saya harus mengantarkan air isi ulang ini ke beberapa tempat di daerah sekitar sebelum ke Makassar. Bagaimana?”

Aku dan mate saling menatap seolah berdiskusi dan hal tersebut tak masalah bagi kami. Setuju!

—– Pastikan bahwa menumpang yang hitchhiker maksudkan adalah benar-benar merupakan tumpangan dan bukan di tengah jalan akan dimintai bayaran. Bukannya tidak mau membayar karena kami akan kooperatif jika dari awal memang harus membayar. Terkadang ada pula yang berkedok baik di awal, tetapi ada maksud tersembunyi di belakang. Aku rasa DISIPLIN dan TEGAS pada “nego” di awal sangatlah menentukan langkah selanjutnya. —–

Daeng mengikat galon-galon kosong di bak belakang agar tidak terbang terbawa angin saat kendaaannya berbelok atau jatuh ketika tanjakan. Carrier kami pun diletakkan di belakang (walau sebenarnya, tas tidah boleh dilepaskan dari badan, aturan tak terikat dalam berhitchhiking), mengingat tempat duduk yang cukup minimalis untuk badan kami berdua. Yaaaa… Direlakanlah carrier-carrier itu di belakang. Barang penting lainnya ada didalam tas selempang kami.

Waktu menunjukkan pukul 5 pm ketika kendaraan yang kami tumpangi akhirnya melaju meninggalkan Tanjung Bira, kota pantai dengan banyak kisah dibenakku.

Hahahhahaadeuuuhh!!!

Aku ngantuk euy! Besok lagi ya dilanjut ceritanya. Otak sudah kusut ini, pandangan sudah melayang-layang ingat kasur empuk. Dan hoaaaaammm…. Beberapa kali aku meng-undo dan menghapus kalimat atau huruf yang kekurangan. Yuk, yuk… Tanda mata, ketikan, otak dan ide sudah tidak sinkron lagi niiiiihh 😂😂😂

Selamat dinihari teman-temaaaann… Besok sambung baca lanjutannya yaa 😍😘

Dadaaaaaahhh…. 💤💤 (jie)

***

 

Advertisements

Published by

ejiebelula

I'm just an ordinary person who is always looking for friends, adventures and life stories to complete. it all started from any footsteps, traveling and recording with a cheerful heart notes and a spirit that always accompany my steps toward the so-called ideals of the school also hopes to live through the experience. I will dedicate my heart only for two, red and pink. # Waiting for the right moment for a heart the gift of God

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s