Hitchhike Bulukumba to Malengkeri (end)

(doc pribadi)
(doc pribadi)

Bila kaki sudah melangkah, hati telah memilih dan jempolΒ memutuskan, mantaplah berkelana. Artinya petualangan akan berlanjut ke tahap berikutnya. Yuk, acungkan ibu jari lagiiiiii…. πŸ™‚

***

Tanjung Bira, Juli 2014

Keliling Kampung

Kami masih di kendaraan isi ulang air galon milik Daeng Angga. Tujuan kami adalah mengantarkan air kepada orang-orang yang telah menjadi langganannya mengisi ulang. Dari kampung ke kampung di dalam jalanan kecil. Mulanya aku agak sedikit khawatir karena ia membawa kami ke daerah kecil dan lumayan jauh dari jalan utama.

Terkadang dalam keadaan begini, aku bersyukur bahwa ada mate yang menemaniku dalam berhitchhiking. Haa? Sounds like she’s not Ejie as usual? What are you afraid of? Yaaaa… boleh kan sesekali khawatir itu ada untuk tetap mensiagakan rasa? Atau aku sudah terlalu lama tidak melakukan hitchhiking seorang diri? Bukan juga sih.

Aku lebih merasa, mungkin daerah Indonesia bagian Barat dan bagian Tengah atau Timur, agak berbeda. Terutama dalam intonasi berbicara. Cara orang-orang Makassar berbicara, hampirΒ sama seperti daerah di Sumatera Barat dan Batak, tegas! Tapi yang lebih membuatku kurang paham adalah bahasa juga pengucapan atau lafal dalam mengungkapkan sesuatu. Hal ini agak membuatku terhambat dalam mencerna dan menangkap maksud dari perkataannya. Jika mereka berbicara dalam kadar lebih lambat, mungkin aku paham. Ehh, bisa jadi juga, karena aku belum terbiasa hitchhiking di Indonesia bagian Timur. Ini pembelajaran bagiku. Bukankah Indonesia itu terdiri dari beberapa suku dan bahasa? So, face it, Ejie! πŸ˜‰

——— Adaptasi lingkungan. Mungkin itu yang harus kita lakukan ketika mengambil keputusan berhitchhiking. Lakukan pembicaraan dalam perjalanan untuk mulai mempelajari seperti: bahasa (sedikit demi sedikit), intonasi bicara, kuasai arah pembicaraan juga akan menenangkan tetapi jangan lupa kontrol agar tidak larut dan lupa bahwa kita sedang menumpang.———-

***

Phinisi Tana Beru

Salah satu keuntungan melakukan percakapan selama pèrjalanan jika menumpang adalah kita akan memperoleh informasi yang tanpa sengaja memang kita butuhkan. Demikian pun aku.

Mobil pick up yang dikendarai oleh Daeng Angga, melewati daerah Tana Beru. Aku jadi ingat akan pembuatan kapal phinisi yang menurut orang di guest house, tempat tersebut juga sangat terkenal selain yang telah kusambangi sebelumnya.

Menurut daeng, Tana Beru merupakan produsen perahu phinisi. Pembuatannya kurang lebih sama dengan yang kusaksikan ketika di Tanjung Bira, cek mengintip-phinisi-di-panrang-luhu/.

“Kalau masih terang, saya bisa antar kesana. Tapi ini sudah gelap, mi (ucapan akhir dalam bahasa Makassar, red). Nanti kita terlalu malam sampai di Bulukumba,” ujar Daeng Angga.Β Kami memaklumi dan mengucapkan terima kasih atas kesediaannya itu.

Kekhawatiranku agak berkurang ketika ia meminta izin untuk berhenti karena akan melaksanakan shalat. Setelahnya, kami mengantarkan air isi ulang ke sebuah keluarga yang juga langganannya yang tengah mengadakan aqiqah anaknya yang baru lahir. Keluarga tersebut pun mengajak kami bergabung dan dipersilahkan mencicipi hidangan yang tersaji. Berhubung aku tidak bisa makan, jadilah Kaper mewakili. Etapi, ia mengambilkan mie goreng dan segelas air kemasan. Hahahhh.. ribet yeee urusan makan nasi ini Kaper πŸ˜€

(doc pribadi)
(doc pribadi)

***

Kami mulai memasuki perkotaan dan mobil berjalan perlahan.

“Saya sudah sampai, mbak. Depan supermarket itu saya belok kanan. Maaf saya hanya bisa mengantarkan sampai disini saja, ” ucap daeng.

“Ohh, iya. Tak apa daeng. Sampai di Bulukumba saja kami sudah berterimakasih. Selanjutnya bisa kami usahakan kok perjalanan ke Malengkeri,” jawabku.

“Disini tidak ada angkot kalau sudah malam. Kalau taksi dengan kendaraan pribadi banyak. Coba saja, mbak,” tambahnya.

“Iya daeng.”

Depan sebuah supermarket besar, kami turun dan mengucapkan salam.

***

Target Malengkeri, Makassar

Kami memasuki supermarket yang ditunjukkan daeng Angga. Membeli minuman dingin melepaskan dahaga, merupakan salah satu alasanku untuk numpang ke toilet. Hahahahh…. maklum, perjalanan lumayan jauh dari Tanjung Bira ke Bulukukumba tadi. Selain itu kan juga persiapan hitchhike Bulukumba-Malengkeri juga biar ngga repot di jalan nanti. Alasan kedua, supermarket, artinya aku bisa donk persiapan buat menulis tujuan selanjutnya. Soalnya mataku sudah melihat banyak kardus bekas yang ada di depan supermarket. Nah, tinggal izin minta kardusnya saja kan? πŸ˜‰

Aku membayar minuman sari kacang dan air putih kemasan yang kubeli, lalu, “Mbak, saya boleh minta kardus? Sedikit saja buat nulis.”

“Banyak mbak di depan. Boleh diambil kok, gratis,” katanya.

“Mmm.. saya boleh pinjam gunting sekalian, mbak?” tanyaku. Ia memberikannya. Aku keluar supermarket dan mencari posisi duduk untuk memulai persiapan hitchhiking dan aku pun mulai menuliskan NUMPANG, sementara Kaper menulis MAKASSAR.

Beberapa pasang mata memperhatikan aktifitas kami yang duduk asik menulis di lantai supermarket. Bahkan ada yang mendekat dan berbisik-bisik. Beberapa kalimat yang terdengar, sebagian menyatakan kami pelancong karena melihat tas gede yang kami gendong. Beberapa lagi menyarankan agar kami naik taksi yang kerap lewat walaupun agak jarang. Bahkan ada yang menawari mengantarkan kami dengan sepeda motor. Kami tersenyum dan mengucapkan terima kasih atas kebaikan mereka.

Tulisan sudah oke, kami bersiap memajangkan tulisan tadi. 1, 2 kendaraan lewat. Rata-rata taksi di Bulukumba ini berupa mobil pribadi yang memang dijadikan angkutan umum. Tarif yang mereka berikan, tidak seperti argo taksi sebenarnya, melainkan berdasarkan jauh dekatnya jarak tempuh. Sekitar 30 ribu ke atas.

Kaper berdiri di kananku, ketika sebuah mobil berhenti tidak jauh dariku. Seperti biasa aku mengejar dan bertanya arah jalan kendaraan tersebut. Menegokannya (diskusi arah dan menjelaskan tujuan menumpang, red) akhirnya memperbolehkan kami ikut kendaraannya.

“Ayok, Kaper,” ia terlihat lelah karena setengah jam kemudian, ia pun terlelap.

Aku tetap menjaga mataku agar tetap segar dengan bercerita. Kalau mata mulai mengerjab tanda mengantuk, kubuka jendela mobil dan membiarkan mata terkena angin malam yang gelap di luar. Mereka bertanya asal ketika melihat kami menggendong carrier. Aku bercerita pada pengendara dan temannya (aku lupa nih namanya) yang aku tahu, mereka dalam perjalanan pulang ke Malengkeri juga dan mencari seseran (uang masuk, red) sebagai tambahan uang bensin selain mencari teman jalan.

Untuk menjaga agar dalam perjalanan aman, biasanya aku juga menghubungi teman yang menanti kedatangan di tujuan selanjutnya. Dan jika pertanyaan sudah mulai terasa agak menyerempet ke jalur yang tidak semestinya, aku akan berbicara di telpon dengan temanku seperti saat itu.

“Wendi, aku dan Kaper sudah di kendaraan (kusebutkan plat kendaraan yang telah kuingat dan kufoto sebelumnya) arah Malengkeri. Nanti kalau sudah dekat, aku telpon lagi ya?” suaraku agak dikeraskan.

——— Kontak teman. Biasakan menyimpan salah satu nomor kontak teman yang akan dituju jika sedang berhitchhiking. Hubungi nomor teman jika dalam pembicaraan di kendaraan mulai merasa tidak enak. Potong pembicaraan dengan mengucapkan maaf serta berikan alasan teman menunggu dihubungi. Berbicaralah dengan lantang dan jangan menunjukkan keraguan agar orang yang ditumpangi pun tidak merasa aneh dengan gelagat kita. Hal ini aku sarankan bagi perempuan yang melakukan hitchhiking baik sendiri (walau tidak disarankan) maupun ketika berdua, apalagi jika mate juga perempuan.———-

Tindakan ini biasanya kulakukan jika aku agak merasa kurang nyaman dalam kendaraan. Alasanku waktu itu adalah, aku memang berdua, tetapi Kaper mungkin letih, jadi ia tertidur lelap dan aku merasa harus menjaga kami berdua, mengingat kami adalah perempuan. Meskipun pengendara baik, namun dalamnya laut, siapa yang tahu kan? Sebisa mungkin aku berbincang santai ketika lontaran pertanyaan diajukan. Memang tidak seperti interview sih, tapi boleh kan aku memasang “pagar” demi keamanan kami berdua? Mana tak lama ada 2 orang pula yang ikut dalam kendaraan tersebut. Untungnya yang seorang adalah perempuan dan ia turun tak jauh dari tempat kami berhenti.

Perjalanan panjang selesai dan kuucapkan terima kasih atas tumpangan yang diberikan kepada kami. Seingatku antara 3-4 jam aku menahan kantuk dan menjaga Kaper yang sudah terbatuk-batuk, mungkin terkena angin malam juga.

Hahh… Pegalnya badan dan mata selama perjalanan dan terus berhubungan dengan Wendi melalui media telpon maupun sosial media yang tersedia, terbayar sudah. Kami tiba di masjid awal keberangkan kami. Aku janjian di pom bensin Malengkeri yang dekat dengan masjid karena disitulah yang tetap ramai dan terang.

Alhamdulillah……

1 perjalanan hitchhiking Indonesia bagian Timur kembali terpecahkan. Bukan karena berhasrat, tetapi lebih kepada hitchhiking ini mengajarkan bahwa sebagai pribadi, sebuah kesabaran adalah pangkal dan awal yang bisa kita dapatkan dari usaha yang kita lakukan. Tidak ada sesuatu hal pun yang bisa dengan mudah diperoleh dalam sekejab. Bukan seperti membalikkan telapak tangan. Bahwa segala hal itu, haruslah diraih dengan tidak hanya mengandalkan perasaan, melainkan logika pun harus turut berperan. Bekerjasama dalam meraihnyanya akan menghasilkan yang kita harapkan. Paling tidak, mendekati keinginan.

Membuat sebuah keputusan mungkin terkadang akan merasa sulit. Namun kesulitan itu akan lebih terasa disesalkan bila kita tidak pernah berniat untuk MENCOBANYA. So, make your choice, right??! (jie)

***

Advertisements

Published by

ejiebelula

I'm just an ordinary person who is always looking for friends, adventures and life stories to complete. it all started from any footsteps, traveling and recording with a cheerful heart notes and a spirit that always accompany my steps toward the so-called ideals of the school also hopes to live through the experience. I will dedicate my heart only for two, red and pink. # Waiting for the right moment for a heart the gift of God

2 thoughts on “Hitchhike Bulukumba to Malengkeri (end)”

    1. Hai Inaaa…

      Banyak kok. Ada beberapa yang ejie tulis kulinernya. Silahkan cek disini:

      getstranded-celebes-ayo-makan-pallu/
      getstranded-celebes-sop-saudara-batas-kota-maros/
      getstranded-celebes-kue-maros-yang-asing/

      Lainnya searching aja di kategori simple CULLINARY ya Ina…..

      Happy blogwalking πŸ˜‰

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s