Bukit Keraton, Bukan Sekadar Tebing Narsis

(doc pribadi)
(doc pribadi)
Sudah lama ingin ke bukit ini. Maunya hitchhike, biar pecah telur edisi perjalanan hitchhiking. Setelah tahu medan dan jauhnya lokasi, serta kecil kemungkinan menyesuaikan antara waktu berkunjung dan pas nya tiba di lokasi, aku sarankan, lebih baik share cost saja kalau ingin ke Bukit Keraton yaaaaa… Ayuklah dibaca 😊

***

Tahura, Bandung
28 Maret 2015

Tebing Fenomenal

Siapa tak kenal Bukit Keraton yang kerap disebut sebagai Bukit Instagram ini? Fenomena ini dikarenakan begitu seringnya postingan bukit dengan orang berfoto di ketinggian tebing itu berada, muncul di media sosial tersebut. Foto-foto orang yang berdiri di ketinggian ujung tebingnya itu, mampu menarik siapapun pecinta adventure untuk mencoba bergaya disana. Sekadar berfoto lalu mengunggahnya di media sosial, mungkin merupakan satu pertanda bahwa orang dalam gambar, sudah pernah ke destinasi tersebut. Tetapi tidak semua orang lho berpikiran serupa.

Seperti Wawan, teman komunitasku yang sangat detil dalam bertindak. Tidak seperti kebanyakan orang yang saling berlomba duduk di batu favorit Bukit Keraton, mau mengambil resiko berfoto di tebing fenomenal itu.

“Aku ngga deh foto disana. Ngga sebanding dengan keselamatan kalau terjadi sesuatu ketika sedang berfoto,” tangkasnya.

Lain lagi dengan mbak Na, temanku yang memang hobby memotret (kebanyakan hasil fotonya adalah teman-teman seperjalanan). Ia memang tudak ingin turun dan mengambil gambar disana dengan alasan, “Dingin, Jie. Mana habis hujan pula. Tanahnya kelihatan agak basah dan licin.”

Suasana di sekitar Bukit Keraton terbilang dingin. Tepatnya sejuk setelah semalam hujan kecil membasahi wilayah sekitar Taman Hutan Raya, termasuk bukit yang kami sambangi. Sisa-sisa basahannya tampak pada tanahnya yang menjadi lembab. Untuk turun ke tebing favorit, kurasa juga sedikit riskan, meski tidak begitu dengan pandangan orang-orang yang datang dari berbagai tempat dengan tujuan mematenkan dirinya berfoto di tebing tersebut.

Hampir rata-rata semua pengunjung mengambil momen berfoto-ria disana. Ujung berpagar yang mengarah ke tebing itu, bukanlah suatu alasan untuk tidak memenuhi sisinya. Penuh! Agak sedikit sulit bagi yang ingin berfoto walau hanya di kisaran pagarnya saja. Harus antri! Hebatnya pesona tebing itu ya?

Ehh, tapi ngga demikian dengan teman satu kantor mbak Na yang asik berfoto diantara tebing-tebing yang ada. Bahkan ada yang turun hingga ke bawah. Entah ada apa di bawah sana. Mungkin bagi mereka yang suka mendaki dan kegiatan adventure, hiking dan climbing seperti itu mempunyai tantangan tersendiri dengan kenyamanan tertentu. Hahahhh.. Maklumlah, aku sudah lama dan harus menyimpan keinginan mendaki untuk beberapa waktu yang tidak menentu karena sedang pemulihan.

Entah berapa banyak penggemar tebing yang rela antri bergantian berfoto di tebing itu. Sampai ada sejumlah orang yang mengomel karena mereka terlalu lama berada disana tanpa ingat untuk bergantian.

Sekilas aku mendengar seseorang berkata, “What they’re looking for taking picture over there? Too risk, i think.”

Aku membalikkan badan dan hohooo… Segerombolan wisatawan (Asia tampaknya) juga ikut menikmati pemandangan di Bukit Keraton ini sembari melongokkan kepalanya melihat orang yang asik mengambil gambar di tebing yang tidak kelihatan dasarnya kecuali hutan.

***

Keraton Sisi Berbeda

Jika orang berbondong-bondong datang ke Bukit Keraton untuk mengambil resiko berfoto di tebing yang lumayan curam, aku cukup memperhatikan saja meski ingin juga rasanya mencoba. Hahahahhha

Tapi, pandanganku sudah tersapu pada beberapa sudut pandang yang menarik perhatianku sejak trekking dari rumah Kang Asep tempat kami bermalam.

Pandangan awal yang membuatku selalu berada di barisan paling akhir dari rombongan, bahkan cenderung tertinggal dan dipanggil Wawan juga mbak Na.

“Ejie, Ejieeeeee…….” aku diam meski telingaku mendengar. Soalnya aku menahan napas saat mengambil gambar sunrise cantik dari berbagai sisi, dan mereka memanggilku! Hihiii maaf ya teman-teman… Kan biar ngga goyang fotonya.

Tuuuhh… Foto-foto sunrise cantiknya aku dapat, kan? 😍😍😍

(doc pribadi)
(doc pribadi)
(doc pribadi)
(doc pribadi)
Sunrise kece (doc pribadi)
Sunrise kece
(doc pribadi)

Selain sunrise cantik yang berpendar dengan warna indahnya, mataku juga menangkap barisan petakan sawah di bawah sana. Karena masih di selimuti oleh kabut, jadi ada biru diantara petakan hijaunya. Ku zoom kamera agar menangkap jelas seperti apa petakan sawah tersebut.

Pengambilan petakan sawah dengan tema art dari kameraku. (doc pribadi)
Pengambilan petakan sawah dengan tema art dari kameraku.
(doc pribadi)

Tahukah? Aku jadi ingat gambar yang diambil oleh om Duta (traveler asal Lombok) yang pernah memposting aneka warna petakan sawah. Petakan sawah yang berada jauh di bawah Bukit Pergasingan Lombok yang difotonya. Cantik!

Ahhh, rupanya untuk bisa kembali ke Lombok, aku harus menyaksikan petakan sawah kecil terlebih dahulu ya? Senangnya jika alam tetap lestari terjaga indah dan bersih kan?

It's green fields rice (doc pribadi)
It’s green fields rice
(doc pribadi)

***

Kabut Syahdu Keraton

Nah, selain kondisi langit cerah yang mendukung, petakan sawah berwarna yang disuguhkan di bawah Bukit Keraton, aku pun melihat sisi cantik lain. Bagian mana lagi?Β Tiada lain yakni, kabut atau awan lembut yang menggantung diantara jajaran gunung di depan Bukit Keraton dan city view Kota Bandung yang jelas terlihat.

Awesome! (doc pribadi)
Awesome!
(doc pribadi)

Iya, selimut kabut yang menaungi kota, tampak begitu dramatis jika mata kita tak lepas menyaksikan arakan awan yang menggantung. Sedikit demi sedikit, awan itu akan semakin bergeser seiring mentari pagi yang kian meninggi, menyapa mata-mata ceria menyambut hari yang cerah di Bukit Keraton hari itu.. πŸ’ŸπŸ’Ÿ

Kabut menggantung antara gunug di depan Bukit Keraton dan city view. (doc pribadi)
Kabut menggantung antara gunung di depan Bukit Keraton dan city view.
(doc pribadi)

Saranku jika ingin melihat semua keindahan mata memandang selama disana, bangun pagi! Setelah subuh, segeralah berjalan ke arah bukit.

Cukuplah dinikmati sembari bersyukur atas karunia indah yang diberikan Sang Pencipta padamu. Ingatlah selalu agar membuang sampah yang kau bawa pada tempatnya. Jangan mengotori apalagi bermaksud dengan sengaja merusak keindahan alam yang ada. Keep greenie, fellas…… πŸŒ·πŸ€ (jie)

***

(doc pribadi)
(doc pribadi)

This slideshow requires JavaScript.

Advertisements

Published by

ejiebelula

I'm just an ordinary person who is always looking for friends, adventures and life stories to complete. it all started from any footsteps, traveling and recording with a cheerful heart notes and a spirit that always accompany my steps toward the so-called ideals of the school also hopes to live through the experience. I will dedicate my heart only for two, red and pink. # Waiting for the right moment for a heart the gift of God

3 thoughts on “Bukit Keraton, Bukan Sekadar Tebing Narsis”

  1. Aku penasaran banget sama tempat ini. Dulu temen janjiin ngajak kesini tapi apa daya waktu shubuh kami sama2 tertidur. Dan hilanglah wacana itu.

    Foto2 yg ada di artikel ini diambil pakai kamera Nikon AW100 kah?

    1. Lah, knp ngga bilang kl mau kesana, tur?
      Kalau tau kan bisa diajakin juga deh πŸ˜€

      Pake Casio ZR1500, tur. Banyak theme yang bisa dieksplore di kamera itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s