Kemping Dolphin dan Snorkeling Seribu

hammock

Banyak yang berbeda di petualangan laut kali ini. Hampir semua kegiatan kulakukan sendiri. Senang deh. Termasuk, ngga tidur dalam tenda, karena memang ngga punya. Hhehehh ini petualangan laut yang berkesan, maaaakk!

***

Postingan Sosial Media

Bermula dari postingan di salah satu sosial media, Niken, teman lautku, sang TS yang mengajak share cost nenda ke Pulau Semak Daun. Jujur saja, Kepulauan Seribu, belum semuanya kujelajahi. Begitu baca postingannya, tentu saja aku langsung menyatakan kesediaanku bergabung.

Tak lama kemudian, Niken membuat grup untuk mendiskusikan perihal camping di pulau. Camping yang dimaksudkan Niken adalah self service. Semuanya dilakukan sendiri. Seperti bawa tenda sendiri, masak sendiri, dan melakukan kegiatan sendiri tanpa ada trip organizer yang mengurus segala keperluan. Aku sih ngga masalah, karena terbiasa melakukan keseharian pun sendiri.

Baru sadar ketika tiap kali aku membaca komen di grup, rupanya hampir keseluruhan teman-teman yang akan melaut, saling kenal atau membawa teman-teman seperjalanannya biar ngga garing. Nampaknya aku seorang yang benar-benar belum mengenal mereka. Ya sudahlah… Untung aku bukan tipe orang yang gentar maju meski tak ada yang aku kenal di grup. Pikirku, tokh akan semakin banyak teman yang aku dapatkan jika berpetualang dengan teman baru πŸ˜„

***

The Day
11 April 2015

Pagi itu, papa kembali mengantarku ke depan komplek perumahan dengan sepeda balap lamanya. Karena ini adalah pengalaman keduaku berangkat dinihari tanpa motor, jadi ketika sudah sampai di depan jalan besar, kuputuskan menyalami papa dan berkata, “Kami (panggilan diriku bila di rumah) jalan kaki saja, pa. Biar ngga lama nunggu angkot dan papa ngga terlambat subuh.”

Papa mengangguk dan tetap menunggu di posisi berdirinya sembari melihatku berjalan di kejauhan. Ia berlalu setelah 5 menit kemudian melihatku naik sebuah angkot. Terima kasih ya pa… πŸ‘‹

***

Angke-Harapan-Dolphin

Transjakarta yang membawaku tiba di halte busway Penjaringan. Aku keluar halte dan langsung naik angkot merah 01 yang berjajar di seberang jalan. Angkot ini langsung mengarah ke Muara Angke.

Tepat pukul 06 aku tiba di jembatan Muara Angke dan memutuskan berjalan kaki melalui jalan pintas ke meeting point di ATM SPBU. Aku memberitahu Niken bahwa paket internetku belum dipasang, jadi aku berkomunikasi hanya dengan telpon dan sms. Setelah bertemu dan semua teman lengkap berjumlah 16 orang (5 orang cancel di waktu yang susah mencari pengggantinya), kami segera menuju kapal Harapan Angke yang akan membawa kami transit disana sebelum menuju pulau selanjutnya.

Lepas dari dermaga Pulau Harapan, perahu kami melaju mengarah ke Pulau Dolphin. (doc pribadi)
Lepas dari dermaga Pulau Harapan, perahu kami melaju mengarah ke Pulau Dolphin.
(doc pribadi)

Perjalanan ke Pulau Harapan kali itu terbilang cepat. Sekitar 3 jam, alhamdulillah tanpa hambatan. Kami mencari gazebo di Pulau Harapan sebagai tempat berkumpul. Beberapa mencari toilet untuk mengganti baju. Sedangkan Niken dan suaminya, Dian Brew, mempersiapkan segala sesuatu keperluan selama di pulau dengan orang kapal langganannya yang akhirnya tidak bisa menemani kami nantinya selama di pulau. Saat itu kami dititipkan pada Pak Mul yang masih terbilang kerabat Pak Mina, bapak angkat Niken di yang tinggal di Pulau Perak. Dengan Pak Mul lah kami mengarungi perjalanan laut keΒ pulau-dolphin-pulau-pribadi-pelancong/

(doc Niken)
(doc Niken)

Kurang dari 1 jam, kami tiba di Pulau Dolphin. Melalui pulau-pulau yang berjajar di sepanjang perjalanan laut, kembali aku melalui beberapa pulau yang sama ketika aku ke pulau Papatheo beberapa saat yang lalu.

Oia, pak Mul ini membawa kedua orang anaknya untuk membantunya mengoperasikan perahu. Artinya ketika membuang danΒ melepas jangkar, Β menyandarkan perahu, meletakkan tangga naik perahu maupun ikut bergabung berenang dan snorkeling bersama kami.

(doc pribadi)
(doc pribadi)

Perahu belum disandarkan, tetapi mata kami sudah melihat ramainya beberapa tenda yang sudah berdiri disana. Kami turun dari perahu dan survey tempat dimana akan mendirikan 6 tenda yang rombongan kami bawa, sedangkan aku mulai melihat pohon mana yang bisa kujadikan pondasi untuk hammockku. Hmm, aku kan ngga punya tenda, jadi hammock lah teman malamku nanti. Hohhoho

Ehh ia, sementara teman-teman lain mulai berjalan ke arah lokasi tenda, Niken, Brew, Gia, istri Gia, Nando dan aku mencoba melihat Pulau Melinjo yang menjadi opsi kedua seandainya masih ada tempat kosong disana untuk tenda-tenda kami. Tetapi baru setengah jalan, perahu kami berbelok, dan memutuskan untuk memutar arah ke Pulau Dolphin kembali. Soalnya angin terbilang kencang dan menjatuhkan live vest kami terbang ke laut, serta gelombang air laut yang mulai meninggi, memaksa kami berputar arah.

Β ***

(doc Siska)
(doc Siska)

Poor Coral

Usai mendirikan tenda, kami memutuskan untuk snorkeling hingga sore. Saat itu sudah pukul 02 PM, angin laut lumayan kencang, membuat perahu kami mengikuti pergerakan gelombang laut.

(doc Siska)
(doc Siska)

Aku lupa spot-spot snorkeling kami itu dimana saja. Yang aku ingat, kondisi spot di bawah lautnya karena aku menelusuri terumbu karang dan menyapa ikan-ikan lucu, melihat isi di dalamnya.

Spot pertama kami, underwaternya masih banyak variasi ikan-ikannya. Warna-warni dan banyak sekali macamnya. Ada yang kuning, biru, hitam, pelangi, hijau, banyak deh. Aku ngga hapal nama-nama ikannya. Eh iya, disini banyak banget schooling fishnya, tapi kecil-kecil dan bergerombol. Lucu! Terumbu karangnya juga masih bagus. Merah, ungu, orange, coklat.

Aku masih melihat soft coral yang bergerak, berwarna kuning menari-nari mengikuti gelombang air. Demikian pula dengan soft coral yang kerap bersembunyi si lucu nemo. Aneh, kenapa nemo nya ngga kelihatan ya? Biasanya dia selalu ada disana, bermain-main diantara tumbuhan hidup tersebut. Aku tunggu setengah menit, tapi ngga ada.

Aku mencoba berenang agak menjauh dari coral dan perahu, lalu sedikit menepi ke daerah yang mulai dangkal. Pertanyaanku, kenapa ya di daerah yang cenderung dangkal air lautnya, seringkali kulihat kondisi karang yang hampir kebanyakan rusak? Kususuri perlahan di sekitarannya, cukup banyak karang rusak. Sayang, kan? Terutama sih karang yang seperti tumbuhan bercabang gitu. Banyak yang patah.

Apakah karena kalau agak dangkal, kebanyakan para pelancong, maksudku teman-teman yang snorkeling (maaf), kebanyakan berdiri di karang-karang itu? Padahal kan untuk tumbuhnya sebuah terumbu karang itu, dibutuhkan waktu yang tidak sebentar? Kita ke laut kan mau melihat indahnya suasana bawah laut yang berwarna-warni, kalau rusak begitu, bagaimana mau menikmatinya? πŸ˜–

Sayang banget, di perjalanan kami ini, tidak ada satu pun teman laut yang membawa kamera underwater, termasuk aku. Jadi aku juga tidak bisa memperlihatkan seperti apa kondisi terumbu karangnya. Jadilah kami menikmati bawah lautnya dengan merekam pada kacamata hati kami masing-masing. Hhehhe

Spot kedua dan tetap lupa ada di dekat pulau mana. Seingatku ada pemancar (mungkin) di tengah-tengah tempat kami snorkeling. Disana, kedalamannya mungkin sekitar 2-5 meter. Karena pasirnya terlihat agak jauh kedalam. Karena aku ngga punya buddy, jadi mainnya ngga dalam. Menyusuri yang dekat saja. Spot kedua ini agak kosong terumbunya. Kebanyakan pasir laut. Jarak antara satu terumbu karang dengan lainnya agak jauh.

Masih bagus spot pertama yang lebih banyak varian terumbu karang dan ikannya. Karena sepi terumbu karang, aku mengusulkan pindah spot pada Niken.

Oiya, di spot kedua ini, aku agak gatal-gatal. Sepertinya sih melihat anak ubur-ubur gitu. Putih, kecil. Lewat dan menyentuh kulit pipiku. Jarang, tapi melihat beberapa. Hingga tiba di pulau tempat kami bermalam pun, aku tetap merasa gatal, meski telah kupolesi dengan bedak gatal.Β 

Spot ketiga lumayan bagus karangnya, tetapi begitu aku kembali menyusuri keadaan bawahnya, lagi-lagi aku menjumpai banyak karang rusak. O my god! Poor you, coral 😩

Entah ada apa dengan (yang katanya) para penyuka laut. Bisakah hanya melihat dan menikmatinya saja? Bukankah snorkeling cukup melihat setiap kehidupan bawah laut hanya dari atas saja dengan bantuan masker, snorkel, fin, juga live vest buat bantu kita mengambang? Tak perlu menyentuh, apalagi hingga mengganggu bahkan merusak kehidupan ekosistem bawah lautnya. Bukan merasa pintar, namun tidakkah kita ingin tetap bisa melihatnya dalam kurun waktu 5 atau 15 tahun lagi? Jika sekarang saja banyak yang rusak, bagaimana nanti? Please, think about it, guys.. πŸ˜‰

Nah, spot keempat kami lakukan keesokan harinya (12/04/2015) di Pulau Genteng, masih Kepulauan Seribu. Disana masih terhitung pulau pribadi. Jadi kami hanya berenang di pinggir dan tidak terlalu dekat dengan pulaunya.Candid doc by Siska

Candid doc by Siska

***

Menjenguk Pak Mina

Puas bermain air, kami berkunjung keΒ pulau-perak/Β dengan maksud bertemu Pak Mina, bapak angkat Niken yang telah lama tak disambanginya.

Sementara yang lain asik jajan memenuhi perutnya kelaparan, Niken menemui Pak Mina yang tengah asik melayani pengunjung yang memesan air kelapa muda. Satu buahnya dihargai Rp 10.000,- sedangkan aku, kembali mendatangi warung gorengan kesukaanku. Aku mencari bakwan jagung dengan bumbu kacang pedas. Karena si bapak ingat padaku, jika biasanya ia menjual bakwan seharga Rp 2.000,- per buah, kali ini aku diberi diskon, beli 3 bakwan seharga Rp 5.000,- ahhaahhahha…. Alhamdulillah, lumayan kan?

Tak lama, kami pun pulang. Berlayar kembali ke tenda di Pulau Dolphin untuk bebersih, memasak dan menunggu ikan bakar besar serta cumi yang dimasak Pak Mina, sebagai menu makan malam kami.

Malam berbintang, perut kenyang melahap ikan bakar tanpa sambal kecap namun nikmat, main kartu hingga berisik, memetik gitar sumbang pinjam dengan tetangga sebelah sungguh terasa mengesankan. Hei! Ketika mata mulai kuyu dan tubuh-tubuh letih mengistirahatkan raga, sebagian dari kami pun tidur di luar tenda karena suasana malam yang panas. Hhihhiiih untungnya aku tidur di hammock ditemani headlamp yang kubiarkan tetap menyala, jadi sejuk berayun-ayun sembari menunggu mata terlelap letih menatap kerlip bintang nun jauh disana.

Notes:

Kenapa aku merasa tulisan ini garing yak? Otak aku lagi jalan-jalan deh keknya. Ckckkk… (jie)

Sinar matahari terbitnya masih sedikit. (doc pribadi)
Sinar matahari terbitnya masih sedikit di Pulau Dolphin, Kepulauan Seribu.
(doc pribadi)
Advertisements

Published by

ejiebelula

I'm just an ordinary person who is always looking for friends, adventures and life stories to complete. it all started from any footsteps, traveling and recording with a cheerful heart notes and a spirit that always accompany my steps toward the so-called ideals of the school also hopes to live through the experience. I will dedicate my heart only for two, red and pink. # Waiting for the right moment for a heart the gift of God

2 thoughts on “Kemping Dolphin dan Snorkeling Seribu”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s