Bonus Lumba-lumba ke Pulau Papatheo

Belakangan, banyak sekali yang memposting mengenai foto-foto di pulau ini. Aku pun tak sengaja melihat foto Cici teman layarku yang sudah terlebih dahulu kesana. Bermodal menunggu cancelan peserta lainnya, aku memburu Nowo agar mencarikan slot kosong demi memenuhi hasrat melaut.
SUDAH KANGEN! ❤ ❤ ❤
***

Setelah adegan melompati ngga-sengaja-manjat/ dan atap kapal di Muara Angke agar tak ketinggalan kapal Garuda yang membawa kami ke Pulau Harapan, tempat transit sebelum ke Pulau Papatheo, aku akhirnya bisa duduk lega (tepatnya sampai dapat lesehan buat selonjoran kaki, TIDUR! 😀 ) di dalam badan kapal. Perjalanan dari Muara Angke ke Pulau Harapan memakan waktu sekitar 4 jam (tergantung kondisi laut). Bersama Delima teman baru di rombongan kami, juga Dila, temannya Nicky, kami terlelap hingga setengah jam mendekati pukul 12.00 waktu bagian kapal akan merapat di Pulau Harapan.

Antrian panjang memenuhi dermaga pulau tersebut. Begitu rombongan lengkap, segera saja Gery TS menyuruh kami menaiki kapal yang sudah disewa dengan nahkoda Pak Tamin serta asistennya Deni dan seorang lagi aku lupa tanya namanya. Makan siang berupa nasi kotak disebarkan pada peserta kemping ceria yang belum seluruhnya kukenal. Hanya beberapa wajah saja yang akrab seperti Nowo, Ka So, Bang Pay dan Gie. Lainnya teman baru. Mayan kan nambah lagi temannya… hhe

Pulau yang bernama Petodan Kecil ini, berdekatan dengan Pulau Petodan besar, Pulau Kelapa dan Pulau Kelor. Menuju ke Papatheo, kita akan disuguhi oleh pemandangan pulau-pulau yang ada di sepanjang perjalanan laut. Lama perjalanan kurang lebih setengah jam dari Pulau Harapan.

Begitu tiba di Pulau Papatheo, Gery mengarahkan kami agar mencari lapak mendirikan tenda. Masih sepi dan belum ada rombongan lain disana. Kami memilih dekat sebuah rumah (villa) dan pohon kelapa yang ada tali jemurannya. Depan tenda kami langsung pantai, bisa kan berenang cantik besok pagi disana? Hehehhh

Setelah selesai dan beberapa teman-teman mengganti pakaian renang, kami pun meluncur mencari spot snorkeling dan freedive yang asik.

***

Spot Snorkeling

Ahh kenapa ya aku selalu bermasalah dalam mengingat lokasi yang aku datangi? Aku ngga ingat saat itu kami bermain di sekitar pulau apa. Aku tanya sama Catur (www.backpangineer.com), dia juga lupa deh, wkwkkkk.. Ya sudahlah yaaaaa, nyelam saja.

Setelah lama ngga nyelam, beberapa bulan belakang, ini adalah kali pertama aku menceburkan diri ke laut. Sungguh, aku benar-benar kangen aroma airnya, percikan air kala menceburkan diri serta biota laut dan udaranya! Waaahh!

Di spot ini, aku menyelam di kedalaman. Mencari-cari biota laut. Untuk ikan-ikannya, lumayan juga sih. Masih ada yang berseliweran di dekat kita. Baik ikan kecil, maupun yang sebesar telapak tangan.

Spot snorkeling pertama yang karangnya putih. (doc by Catur backpanginer.com)
Spot snorkeling pertama yang karangnya putih.
(doc by Catur backpanginer.com)

Tapi, huuhuhu… Sedih! Terumbu karangnya banyak yang mati dan sudah putih. Ngga sehat. Disamping itu, kondisinya lumayan menyedihkan. Kalau ditelusuri lebih jauh di sekitarnya, ada juga sampah plastik yang menyangkut di karangnya. Sayang, kan?

Selain tertutup oleh pasir laut, karang yang ada disana juga hampir tidak berwarna sama sekali, alias pucat! Kalau begini, bagaimana kita bisa menikmati alam bawah laut kan? Sekadar snorkeling melihat dari atas saja, rasanya tidak membuat kita penasaran ingin menjelajahinya, apalagi kalau kita freediving dan melihatnya lebih dekat lagi? Ahhhh…. Aku sampai minta pindah spot snorkeling lho sama Gery TS dan Pak Tamim sang nakhoda. Hahahaaa… maaf yak, bawel kata Catur 😛

Selain itu, bulu babi juga banyak di spot ini. Maklumlah, di kedalaman yang sedang, memang banyak kumpulan bulu babi yang biasanya suka berkumpul. Mereka kerap bersembunyi di balik terumbu karang, atau bahkan ada diantara pasir laut. Biota laut bulat ini (kalau boleh dikatakan demikian), warnanya hitam dengan duri-duri tajam dan panjang serta mata seakan melihat ke arah kita. Jadi, kalau berenang atau snorkeling di daerah yang bisa disebut agak dangkal, sebaiknya tetap berhati-hati-ya teman. Jangan sampai kena duri si bulu babi itu. Bisa meriang!

Bulu babi di spot snorkeling pertama. (doc by Catur backpangineer.com)
Bulu babi di spot snorkeling pertama.
(doc by Catur backpangineer.com)

Spot kedua by request ini, kami menuju ke sebuah tempat yang sedikit karangnya. Tetapi, disini, justru kami menemukan anem, dan soft coral tempatnya bermain, tepat di bawah kapal kami! Ada si lionfish juga lho? Hahahh… seru kan ya?

Di sepanjang penyusuran bawah lautnya, sedikit sekali aku menemukan karang, yang terlihat hanya bentangan pasir lautnya saja. Jarak antara satu karang dengan lainnya sungguh jarang. Ehh, lumayan berwarna juga. Ada coklat, hitam, ungu, kuning, merah, bagus! Ikan-ikannya juga cukup berwarna.

Spot selanjutnya, sepertinya sudah hampir mendekati Pulau Perak. Kami melewati sebuah pulau gosong yang cukup ramai dikunjungi peminatnya dan perahu kami tidak berhenti untuk berfoto disana. Sudah ngga seru kan kalau ramai begitu? 😉

Di tempat ini, hanya air laut berwarna hijau yang kami temui. Hei, bukan hijau saja, namun, hampir keseluruhannya berisi pasir laut yang putih saja.

“Ejie, aku nyelem ke dasarnya, ringan banget deh. Asik. Cobain deh,” Nowo Ito yang sudah nyebur duluan memberi tanggapannya tentang spot ketiga ini.

Byuuuurrr… aku terjun, menyelam dan benar saja, ringan dan damai euy. Haaa.. betapa aku merindukan laut dan isinya.

Cek video yang dibuat oleh Narawangsa:

Puas bermain air, kami pun singgah untuk jajanan-pulau-perak-2/ untuk sekadar memuaskan perut yang sudah mulai kelaparan dan berfoto bersama.

***

Bonus Lumba-lumba

Ada yang menakjubkan lho, perjalanan pulang dari Pulau Perak ke Papatheo ini. Kami bertemu dengan sekelompok lumba-lumba yang tadinya hanya ada 2 saja. Chris yang pertama melihat dan berteriak hingga aku kaget dan terjatuh dari dudukku.

Setelahnya mucul lumba-lumba dalam jumlah yang lumayan banyak lalu berenang mendekati kapal kami. Kelompok lumba-lumba ini berenang tak jauh dari Pulau Papatheo. Kira-kira 15 menit sebelum tiba di pulau. Mereka berenang-renang mencicit di sebelah perahu kami. Tentu saja seisi perahu menjadi heboh dan senang. Kami ikut ikut sibuk mencicit (ramai) menyerupai lumba-lumba yang berenang disisi perahu mengiringi kami. Kalau ngga ingat perahu sedang berjalan, aku sudah lompat dari dari perahu barangkali. Tapi kan tetap saja safety dan rules nya ada untuk hal itu.

Sungguh pesona dan berkah luar biasa sekali di perjalanan laut kali ini. Senang!

Ini video amatir yang coba kubuat tapi ngga begitu ahli yaaaa….
Dan video lumba-lumba itu kudapatkan dari Indri yang mau mensharenya pada kami. Sedangkan senja cantik di dalamnya itu adalah video dari Delima. Thank’s ya teman-teman..

***

Kemping di Papatheo

Menghabiskan senja di Pulau Papatheo memang mengasikkan. Warna langitnya tidak diragukan lagi, orens sekaliiiiiii. Selain itu, pendaran warnanya juga bikin mata ngga bisa merem lho?!?

Nah, karena belum ada yang berniat mandi, jadilah kami berjalan-jalan menyusuri bibir pantai Pulau Papatheo ini mengikuti arah tenggelam matahari yang sangat indah di depan sana. Melalui satu camp yang dihuni oleh rombongan lainnya. Mereka memilih mendirikan tenda di dekat villa yang satu lagi berdekatan dengan anak tangga tempat teman-temanku bercerita.

Ketika aku, Nowo Ito dan Gie berjalan, aku pun menyempatkan bercerita pada teman baru di camp tersebut yang sedang membersihkan ikan yang dibelinya di Pulau Harapan sebelum ke Pulau Papatheo siang tadi. Supaya ikannya ngga bau, mereka menaruhnya di box yang diisi dengan es batu. Katanya sih buat ikan bakar nanti malam. Asik ya? 🙂

Malam mulai menjelang, kami pun  kembali ke tenda kami dan mulai sibuk bergantian mandi. Sebagian memasak untuk makan malam yang dibagi menjadi 2 kelompok masak. Lucu deh. Jadi main hell kitchen ala chef lho mereka. Selama aku kemping di gunung dan di laut, mungkin ini adalah kebersamaan lain yang memberikan kesan bagiku. Soalnya, walaupun kami juga diberikan makan malam layaknya share dengan menginap di perumahan penduduk, teman-teman baru ini juga memasak untuk bersama lho. Sepertinya stok logistik kami itu tidak ada habisnya.

Dan makan malam dengan hembusan angin laut yang lumayan kencang itu, penuh dengan lauk pauk yang enak banget! Oia, aku suka banget deh sama ayam bakarnya. Empuk dan sedap. Enak pakai guling-guling! Jarang-jarang kan di laut makan ayam bakar yang tiada tandingnya itu? Hha…

***

Fasilitas MCK

Satu hal yang perlu menjadi perhatian adalah fasilitas MCK (Mandi Cuci Kakus) di Pulau Papatheo. Jangan pernah berharap akan menemukan kamar mandi seperti di rumah ya?

Kamar mandinya hanyalah berupa petakan ruang yang tampaknya jarang terpakai. Banyak daun-daun berguguran, terletak beberapa kilo dari wilayah tenda kami didirikan. Aku ngga tahu kilonya, tapi jalur belok kanan kirinya, hapal.

Pintu kamar mandinya tidak ada. Airnya itu hanya di dalam sumur yang tidak terlalu dalam dengan timba sederhana dan ember. Minta saja kepada penjaga pulau yang ada di depan dermaga agar menyiapkan barang yang kita butuhkan untuk mandi. Oia, ngga ada kebutuhan tempat buang air kecil dan air besarnya di kamar mandi itu. Jadi, silahkan menggali lubang saja yaaaa…

Nah kalau lewat maghrib ke kamar mandinya, jangan pernah sendirian. Ajaklah beberapa teman disana. Seorang ibu yang sedang ke Pulau Papatheo dan mengantarkanku ke kamar mandi siang harinya mengatakan, jika sudah malam (lewat dari jam 8 malam), disarankan untuk tidak ke kamar mandi itu meskipun beramai-ramai. Ia menganjurkan mengisi penuh ember yang dipinjamkan penjaga pulau dan menaruhnya di dekat tenda kita bermalam saja bila ingin buang air kecil, atau menunggu pagi hari.

***

Hmm… kebersamaan di Pulau Papatheo ngga hanya tentang senjanya saja, bermalam yang dipenuhi dengan cerita keakraban, makan malam ceria, serta cerita-cerita lucu yang mengalir dari mulut teman-teman saat itu. Tetapi juga mengisahkan tentang mentari pagi hangat dan sarapan pagi sederhana serta makan sebelum pulang yang selalu saja seru.

Lagi-lagi, aku terperangah dengan logistik yang tiada habisnya di kantong makanan bawaan Gery TS itu. Benar-benar kantong doraemon spesialis makanan deh. Aahahhahahh…

Salutnya lagi, di rombongan ini, sampah juga terorganisir dengan baik lho? Soalnya, disediakan trashbag besar yang bisa menampung banyak sampah hasil bahan masakan kami selama kemping di Pulau Papatheo. Karena sebelum berangkat, Gery TS juga menyelipkan pesan agar mempersiapkan kantong plastik buat sampah. So, stay green wherever you go, guys… Semangat BERKELANA! (jie)

***

This slideshow requires JavaScript.

 

Advertisements

Published by

ejiebelula

I'm just an ordinary person who is always looking for friends, adventures and life stories to complete. it all started from any footsteps, traveling and recording with a cheerful heart notes and a spirit that always accompany my steps toward the so-called ideals of the school also hopes to live through the experience. I will dedicate my heart only for two, red and pink. # Waiting for the right moment for a heart the gift of God

2 thoughts on “Bonus Lumba-lumba ke Pulau Papatheo”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s