(Belajar) Memandu Pendakian

Bersama teman dalam tim pendakian, Dana dan Septia. (Doc pribadi)
Bersama teman dalam tim pendakian, Dana dan Septia.
(Doc pribadi)

Mempelajari, mengenal dan mengetahui bahwa kemungkinan ada yang ‘lebih’ paham dari diri, bisa saja agak sedikit menolak. Apalagi jika orang tersebut dinilai biasa saja. Tetapi jika ia memberikan tambahan wawasan dan ilmu, tidak ada salahnya kan mengakui? Sedikit tambahan pelajaran kehidupan yang kupelajari dalam perjalanan pendakian.

***

Mendaki bukanlah hal mudah. Secara pribadi atau solo, bisa dilakukan oleh pendaki-pendaki profesional. Bukan tidak mungkin, awal mula pendaki solo juga dilakukan dengan tim atau berkelompok, karena dari pendakian kelompok itulah, banyak hal yang bisa kita pelajari.

Bagi orang-orang yang sangat menyukai alam, terutama mendaki, tentu saja harus banyak merasakan dan menikmati rasanya sabar. Kenapa? Karena berat, jauh dan terasa lama kah suatu pendakian? Ya, bisa dibilang seperti itu. Ngga gampang, loohh.. apalagi kalau harus mendampingi seseorang, beberapa orang bahkan hitungan orang dalam kelompok. Dalam hitungan beberapa orang saja (kelompok kecil) perlu waktu untuk menyelaraskan asa.

Dari yang biasanya ngetrip bersama (kelompok besar), lama kelamaan, biasanya akan tercipta sebuah kelompok kecil yang sudah saling mengerti satu sama lainnya. Untuk mencapai tim solid, tentu saja harus mencoba mendaki berkali-kali dan dengan orang yang terkadang berbeda.

***

Perlengkapan Mendaki

Menilai pendakian tidak bisa dilakukan dari berhasilnya kita menjelajah tinggi rendahnya sebuah gunung, sulit mudahnya perjalanan, berat entengnya melakukan hiking dan treking. Justru ketika itulah, kesabaran kita diuji. Terlebih adalah mental.

Bukan hanya mental yang dipersiapkan, tetapi juga perlengkapan dan peralatan mendaki. Kebutuhan tersebut akan sangat diperlukan dalam pendakian.

Peralatan dan perlengkapan tersebut adalah:

  • Perlengkapan pribadi. Lebih kepada kebutuhan si pendaki secara personal. Misalnya tas besar (keril) yang berisi segala kebutuhan pribadi dan tas cadangan(daypack), matras, sepatu hiking, senter, jaket, sleeping bag, kaus kaki, sarung tangan, kupluk/topi penghangat, treking pole, dll.
  • Perlengkapan kelompok. Mencakup tenda, kompor (bisa yg berbahan gas, spirtus), nesting (wajan, panci kecil yang dikhusukan bagi pendaki) dan kamera (bisa sebagai laporan perjalanan, dll)
  • P3K. Kebutuhan obat-obatan yang umum dipakai seperti betadine, minyak kayu putih, perban, obat pusing, oralit, tisu basah dan kering, etc.

***

Peranan Porter

Berjalan dalam sebuah tim yang bisa menjaga sekaligus memandu perjalanan, tentu akan berbeda jika posisi terbalik, kita yang berfungsi menjaga dan memandu. Tanggungjawab menjadi lebih besar, apalagi jika kelompok tersebut terbilang banyak anggotanya ikut.

Dalam pendakian berkelompok, bukan hanya perlengkapan saja yang yang diprioritaskan. Hal yang juga mempunyai peranan adalah keberadaan porter yang menjadi pendukung pendakian. Tidak bisa dikatakan mudah, tetapi merekasebaiknya dilibatkan dalam pendakian.

Porter sih menurut aku, bisa dibagi juga menjadi 3 bagian:

  • Porter sebagai tim aju. Artinya mereka dipersiapkan untuk tiba di tempat lebih dulu, pada camping ground atau titik yang sudah direncanakan. Mempersiapkan segala sesuatunya sesuai briefing dan pertemuan yang dilakukan sebelum kegiatan pendakian berlangsung. Tim aju ini ada apabila sudah ada kesepakatan antara si tamu dan owner pendakian terhadap target kemping sesuai waktu yang ditentukan.
  • Porter masak pendamping. Ditujukan sebagai pendamping tamu yang khusus ada saat pendakian. Fungsinya membawa dan menservis tamu di saat jam istirahat saat pendakian berlangsung. Misalnya porter yang bertugas memasak.
  • Porter pribadi. Hal ininterjadi antara tamu secara pribadi kepada porter yang disewanya untuk membawa barang-barang keperluannya.

Satu hal yang aku dapatkan buat aku pribadi yang turut dalam tim yakni, tidak ada pembedaan antara seseorang, orang lain, guide dan porter dalam hal berkomunikasi sebagai teman.

Benar, aku menyukainya karena ada hal-hal yang juga bisa kamu dapatkan dari mereka, para porter yang sedia dan gesit dalam langkah pendakian.

***

Pemandu Pendakian

Kalau ditilik, mungkin pemandu memiliki nilai paling besar. Mungkin karena eksistensinyakah? Entahlah. Aku hanya belajar memahami dan mendalami serta menalar sendiri berdasarkan apa yang aku lihat.

Nah, jika pendakian dengan banyak peserta, sebaiknya dipersiapkan pemandu menjadi 3 bagian pula.

Pemandu ini fungsinya yakni:

  • Posisi depan biasa disebΓΉt dengan runner. Menjaga tamu yang dipimpin di bagian depan dan berfungsi sebagai leader. Artinya ia menentukan posisi mana harus berhenti saat istirahat siang. Tak jarang, ia juga harus jeli melihat tamu yang berada di kelompok depan. Apakah si tamu butuh istirahat dengan waktunyang akan dikondisikan.
  • Posisi tengah (aku lupa πŸ˜€ ). Bertugas menjaga wilayah kelompok tengah dari suatu tim agar. Mengikuti leader dan tim yang berada di depan.
  • Posisi belakang atau sweeper. Berfungsi sebagai pemyisir jika ada tamu/anggota pendakian dari kelompok depan atau tengah yang yang mundur dan masuk pada kelompok yang dijaganya.

Ketiganya mempunyai peranan penting dan harus saling bekerjasama dengan tim pendukung lain termasuk porter (orang yang akan membawa barang-barang kelompok maupun pribadi). Peranan porter pun sangat penting di dalam sebuah pendakian.

Ketika mendaki gunung, aku kerap dijaga oleh beberapa teman yang mengerti kondisi kakiku saat mendaki. Di momen berbeda, aku merasakan apa yang ‘dialami dan terjadi’ pada mereka yang pernah menjagaku. Hehehh, aku berbalik harus menjaga beberapa orang dalam sebuah pendakian di Gunung Papandayan. Gunung yang ketika itu, beberapa kali aku tak dapat “melihat”nya, hanya menunduk, berjalan tanpa melihat arah depan dan tujuan. Waktu itu, Ricky Merah mengajarkanku 1 hal hingga akhirnya aku mengerti kemudian, bahwa cobaan itu harus dihadapi dengan positif.

Iya, banyak hal yang jika kita mengakuinya, setiap perjalanan merupakan pelajaran.Β Cepat belajar, beradaptasi dan mulai membiasakan berjalan tegap menatap mantap perjalanan, membawaku akhirnya melakukan pendakian dengan posisi menjaga dan memandu.

Untuk memandu, tidak cukup sekadar bisa melindungi atau menjaga saja. Diperlukan pengetahuan yang cukup agar (setidaknya) menguasai lapangan atau kegiatan yang tengah dijalani.

Menguasai lapangan, bisa dilakukan dengan mencaritahu informasi dengan bertanya pada yang sudah berpengalaman, membaca dan memfilter informasi, bahkan keberuntungan jika telah pernah mengalaminya sendiri. Akan sangat baik jika kita mengisinya sebagai bekal kita untuk memandu orang dalam mendaki. Hal ini bisa jadi nilai plus bagi orang (tamu) yang kita pandu.

Dalam mendaki secara berkelompok/tim, usahakan ada pemandu yang menguasai medan, mengetahui setidaknya kisah/cerita apa yang ada dibalik gunung yang kita daki. Fungsinya tidak lain karena biasanya tamu akan sangat tergelitik bertanya mengenai gunung yang dikunjunginya. Bukan hanya tentang mistiknya saja (kebanyakan Indonesia begitu), padahal banyak loh cerita lain akibat force of major yang terjadi. Dan cerita ini bisa jadi tambahan wawasan kan buat kita?

Beberapa pelajaran yang akhirnya kudapatkan dalam pendakian dengan memandu yakni:

1. Bekerjasamalah dalam tim.

2. Hilangkan ego dan keakuan.

3. Dibutuhkan kesabaran lebih dalam menghadapi orang (yang dijaga).

4. Perlu (sedikit) menyamakan persepsi agar menjadi 1 suara dan tidak terjadi perpecahan tim.

5. Berkoordinasi dalam tim antara satu dengan lainnya.

6. Komunikatif menyampaikan yang dimaksud serta meminimalisir kesalahan.

7. Mengenal, mendengarkan pendapat juga pandangan dengan orang sekitar yang didampingi, perlu agar setidaknya kita mengerti seperti apa ia.

8. Bertanggungjawab terhadap tim yang dipandu.

9. Pengendalian diri, mengutamakan kebersamaan.

10. Setia kawan. Berada setingkat jauh dari arti sekadar pertemanan maupun persahabatan.

***

Perlengkapan Tim

Singkatnya, dalam pendakian wajib membawa:

  • Handytalk (HT)
  • TOA
  • Perlengkapan Navigasi Darat, minimal kompas.

Kebutuhan lain-lainnya diusahakan wajib ada jika memang tim sudah merupakan orang-orang profesional. Bukankah proses membuat kita semakin banyak memperoleh ilmu seiring waktu berjalan?

Hehehhe… aku memang belum terlatih untuk memandu, apalagi menjaga. Tapi tidak ada salahnya kan belajar mengenal perihal lainnya?

Dulu, ada seorang teman yang berkata, “Mendaki untuk diri sendiri jauh lebih mudah mengatasinya karena kita berada dalam ruang lingkup sendiri. Berbeda dengan mendaki dalam tim dan memandu. Harus mengesampingkan keakuan pribadi dan mengatasnamakan kebersamaan demi kebaikan dan keselamatan pendakian.”

Hal pertama yang kurasakan benar setelah menjalaninya. Selanjutnya? Nanti aku berbagi lagi ya di tulisan memandu pendakian lainnya, jika ada kesempatan, hhehhehe… πŸ™‚

Bukankah setiap ilmu yang kita pelajari akan ada manfaatnya? Entah di kehidupan kinì atau mendatang. Pastinya yang kita pelajari akan memberikan pengetahuan lebih jika mau merundukkan kepala dan mengakui bahwa masih ada yang diatas kita.

So, be wise, guys.. πŸ˜‰ (jie)

***

Advertisements

Published by

ejiebelula

I'm just an ordinary person who is always looking for friends, adventures and life stories to complete. it all started from any footsteps, traveling and recording with a cheerful heart notes and a spirit that always accompany my steps toward the so-called ideals of the school also hopes to live through the experience. I will dedicate my heart only for two, red and pink. # Waiting for the right moment for a heart the gift of God

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s