Gunung Ceremai: Keputusan Linggarjati

Salah satu puncak perjuangan yang harus kulewati diantara gunung lainnya yaitu Gunung CEREMAI .

Perjuangan si kaki lambat. (Doc pribadi, taken by Ky Merah)
Perjuangan si kaki lambat.
(Doc pribadi, taken by Ky Merah)

***

Jalur Gunung

Gunung yang berlokasi di 3 kabupaten, Cirebon, Kuningan dan Majalengka daerah Propinsi JawaBarat ini,  memiliki ketinggian 3.078 mdpl. Terdapat kawah ganda di Timur dan Barat gunung ini. Sedangkan daerah Selatannya terdapat Goa Walet pada ketinggian 2.900 mdpl nya. Gunung ini merupakan yang tertinggi di Jawa Barat.

Mendaki gunung tersebut, bisa dilakukan melalui jalur yang akrab di telinga para pendaki, yakni:

1. Desa Palutungan (Kabupaten Kuningan)

2. Desa Linggarjati (Kabupaten Kuningan)

3. Desa Apuy (Kabupaten Majalengka)

Jalur lainnya yang jarang dilalui adalah Desa Padabeunghar yang berada diantara perbatasan Kuningan dan Majalengka.

Cukup lama aku baru bisa menyambangi Gunung Ceremai ini. Sekitar 1 tahun mempersiapkan mental dan diri, untuk kemudian menyatakan “IYA” menyusuri jalurnya yang ternyata membuat ketagihan dan senang. Pertanyaannya, kenapa selama itu?

Hhahhahhaa… Untuk beberapa orang, mendaki gunung tinggi mungkin bukanlah masalah. Sementara aku? Banyak pertimbangan yang harus kumengerti sebelumnya. Selain karena kaki lambatku ini dalam memdaki gunung, alasan lainnya adalah teman-temanku ini tidak memperbolehkanku mendaki di jalur lain seperti Desa Palutungan maupun Desa Apuy. Bahkan melintas pun tidak diperkenankan. Mereka mau mengajakku ke gunung itu jika aku setuju melalui jalur Desa Linggarjati!

Aneh? Ya ngga juga sih. Aku paham dengan alasan kenapa mereka selalu mengajariku mendaki gunung-gunung sulit buat langkahku. Mereka hanya tidak ingin (mungkin) nantinya, aku jadi mengira bahwa jalur hiking itu hanya landai, tidak sulit dan eheeemm.. mudah. Ya ibarat kehidupan donk, mendaki pun demikian lika-likunya. Kadang mudah, kadang sulit. Jika jalur sulit sudah bisa ditempuh, seakan jalur yang dianggap mudah akan terasa sebagai bonus mendaki.

Aku tidak menyalahkan atau mengeluh jika teman-teman selalu mengajakku mendaki gunung-gunung dengan jalur yang menurutku sulit dan banyak tantangannya. Justru disitulah banyak pelajaran yang aku dapatkan dari mereka. Ya, mereka tanpa sadar juga telah mentransfer pengetahuan mendakinya padaku.

Ketika kita mendaki sebuah gunung dan melakukan perjalanan ditemani oleh orang-orang yang mau berbagi, maka di saat itulah kita akan merasa, kita merupakan bagian dari mereka. Bagian dari tim. Bukan hanya mengedepankan ego saja, tetapi belajar untuk memahami teman seperjalanan, mendapatkan cerita, mendengarkan dan belajar sabar! Yaaaa…. tergantung juga sih bagaimana kita menanggapi tiap perjalanan pendakian bersama itu.

***

Cerita Perjalanan

Banyak kisah diantara perjalanan pendakian yang dishare teman-teman, termasuk Abe, tim belakang yang mengiringi si kaki lambat ini. Cerita apa saja sih yang bisa membuat perjalanan itu semakin berkesan?

Waaaahhh, karena aku di tim belakang, pastinya kisah yang aku dapatkan bervariasi. Ehh, di belakang buakan berarti kami ditinggalkan begitu saja oleh ketiga teman lainnya yang sudah berjalan terlebih dahulu.

Karena sudah sering jalan bersama, mereka paham langkah kakiku. Agar tidak tertinggal jauh, tim depan memberi jeda waktu berpisah antara tim depan dan tim belakang. Sebelum terpisah karena kaki lambatku, biasanya mereka sering mematok harus bertemu di pos mana dan di jam berapa. Terkadang pun jarak diantara kami tidak terlalu jauh karena masih mendengar suara dan panggilan tim depan. Hal ini perlu dilakukan agar kebersamaan dan kekompakan tim tetap ada.

Nah, selama di pendakian jalur Linggarjati, aku punya beberapa kisah loh. Apa saja?

  1. Cerita per pos nya
  2. Cerita teh di Bapa Tere
  3. Cerita puma/kucing hutan hitam yang sempat terlihat ketiga temanku.
  4. Cerita Kuburan Kuda
  5. Cerita sunset Sangga Buana
  6. Cerita milky way yang terlihat begitu dekat dari istirahatku tatkala memandang langit di Pangasinan.
  7. Begitu pula dengan cerita rappeling akar saat turunan.

Banyak kan? Lalu mana ceritanya? Hhehehhhe… nanti donk. Sabar yaaaa 😉

***

Kabut Puncak

Kami bermalam di Pos Pangasinan, berbagi cerita perjalanan, masak dan makan bersama. Tidak ada tenda lainnya, karena biasanya memang begitulah. Tergantung tiap tim ingin bermalam di pos mana saja. Kalau ikut dengan teman-temanku ini, biasanya sudah ditetapkan harus tiba jam berapa di pos yang ditentukan untuk bermalam.

Bersama Ky Merah, Erore, Dodik, dan sweeper Abe, alhamdulillah, keesokan harinyasampai juga ke puncak Gunung Ceremai meski sempat terkena badai kabut cukup lama.

Kami sempat bertahan 1 jam menunggu badai dengan keputusan akan turun jika tidak memungkinkan untuk tetap berada di ketinggian tersebut.

Memang benar ya, bukan ego, tetapi keselamatan bersama yang diutamakan. Ahhh… mereka memang top!

Penasaran kan kepengin tahu kelanjutan dari cerita-cerita yang kusebutkan tadi? Aku memang belum selesai menuliskannya. Sabar menanti kisah-kisah dari pendakian aku ya, teman-teman 😉

Kesabaran akan berbuah sepantasnya perjuangan dan usaha yang kita lakukan, bukan? Jadi bersemangatlah untuk pencapaian segala hal. (jie)

***

Advertisements

Published by

ejiebelula

I'm just an ordinary person who is always looking for friends, adventures and life stories to complete. it all started from any footsteps, traveling and recording with a cheerful heart notes and a spirit that always accompany my steps toward the so-called ideals of the school also hopes to live through the experience. I will dedicate my heart only for two, red and pink. # Waiting for the right moment for a heart the gift of God

4 thoughts on “Gunung Ceremai: Keputusan Linggarjati”

    1. Jarang Pulank itu komunitas pendaki. Coba cari aja di facebook kl mw gabung, bukanrastaman…

      Bilang aja ke q-bo atau mat erore 🙂

      Ngga berani jual logo komunitas yang bukan milik soalnya 🙂

  1. mba mna lgi cerita nya nih,waduhh seru” nih pendakian ke gn.ceremai ya,bikin penasaran..

    insya allah saya pngen kesana,lg nyari” info trek ya nih,maklum saya juga sama kya mba,si kaki lambat,hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s