Gunung Rinjani-Sembalun: Terbang di Pos 3 Pada Balong

Gunung Rinjani dari Pos 3 (doc pribadi)
Gunung Rinjani dari Pos 3
(doc pribadi)

Banyak hal yang dapat dinikmati ketika mendaki. Mungkin tidak semua orang memanfaatkannya, karena beberapa orang memerlukan waktu yang sudah diatur melewati prosesnya. Sebagian menelusuri perjalanan dengan niat tersenyum pada alam, karena harus bersahabat dengan proses panjangnya.
Dan itu aku! 

***

Psstt..

Tulisan ini acak yaaaaaa.. Aku memulainya dengan perjalanan dari Pos 2 ke Pos 3 Gunung Rinjani. Tergantung bagaimana sama memori terbatasku nih. Susah deh. Soalnya sedang mengumpulkan ingatan yang terpendam ini, sambil nunggu transfer bantuan memori dari Erore yang ngebolang terus. Hiiiikksss… Eroreeeeee… pulaaaaannngg! -_-

***

Gunung Rinjani Jalur Sembalun
1D1N
02.20 PM


(Masih) Pendakian Hari Pertama

Perjalanan mendaki yang panjang di Gunung Rinjani. Jarak antara per pos lumayan jauh. Ini sih memang berdasarkan penilaianku selama pendakian. Boleh kan, tiap orang mempunyai pandangan berbeda di tiap tempat yang mungkin saja dikunjungi banyak orang, tetapi tidak sama dengan persepsiku? Untungnya cuaca tidaklah terlalu terik seperti yang diceritakan temanku ketika mereka kesana. Sebenarnya juga, mungkin teriknya sang mentari sudah melewati batas panasnya, sehingga aku tidak terlalu merasakannya.

Pendakian hore karena aku berjalan santai, bertemu dengan beberapa teman-teman baru yang kutemui di jalan. Pemandangan sabana, puncak yang tampak dari kejauhan, serta aroma rerumputan kuning yang tampak di sekitar, sayang bila terlewatkan begitu saja.

Perjalanan menuju ke Pos 3 Pada Balong ini lumayan mendaki juga. Awalnya memang treking biasa dan agak landai. Jalur tanah kering dengan batu kerikil, debu dimana-mana, rerumputan kering, dan pemandangan lukisan tiada tara. Kalau buat aku sih, jangan melewatkan momen mendaki panjang ini deh. Sayang lohh..

Tenaga yang sudah kusimpan ketika di pos 2 Tenggengean karena sempat tertidur ketika menunggu Ida yang main petak umpet di semak-semak (heheheh buang air kecil gitu maksudnya 😛 ), membuat tenagaku terkumpul kembali. Semangat dan senang deh trekingnya. Lumayan kan ketiduran ngga sengaja itu enak loh. Apalgi ada angin sepoi-sepoi yang lewat. Apalagi mencium aroma masakan tim yang banyak bulenya itu. Lapar sih, tapi kantuk mengalahkan segalanya. Bobok!

Hmm.. jalurnya mulai naik dan turun. Ketika akan melewati tanjakan berupa bebatuan, aku melihat pendaki wanita berjilbab kuning yang lari dari ketinggian menggondol daypack serta hanya menggunakan kaus kaki loreng tentara. What?!? Keren banget ini perempuan. Karena ia melambatkan larinya dan mulai berjalan, ketika berpapasan aku menyapanya.

“Mbak sudah mau turun?” sambil menelusuri pandangan ke arah kaus kakinya.

“Iya, mbak. Sudah kemping di atas dan mau pulang,” jawabnya ramah.

“Mbak dari atas lari-lari cuma pakai kaus kaki saja? Ngga sakit ya?” sedikit cengok, penasaran tepatnya.

Ia tersenyum, “Hhhehe.. jangan dilihatin donk mbak kakinya. Malu,” ia berjalan menepi sambil memegang dan berusaha menutupi kaus kakinya.

Ahahhhaha… lucu deh. Soalnya aku kepengin banget fotoin kaki canggihnya yang sanggup berlari hingga berhenti di dekatku. Ia pamit tanpa sempat kutanyakan namanya. Cekrek, cekreekk… dapat kan fotonya? Keren si mbak!

Tak lama berjalan, di kejauhan terlihat seseorang yang menggendong. Gesit dan berhati-hati. Di gendongannya, tampak seseorang yang kakinya dibalut oleh kain merah, terlihat menahan perih di kakinya, mungkin. Sesekali meringis. Ketika mendekat, aku pun bertanya.

“Kakinya kenapa, mas?”

“Terjatuh mbak di tanjakan batu atas sana,” katanya.

Dijelaskan bapak ojek gendong, bahwa korban turun tergesa-gesa dan kakinya masuk diantara celah batu yang ada. Setelah dicek, kakinya patah. Ngiluuuuuuu….

Eh, cerita tentang ojek gendong ini mengingatkan aku soal Gunung Sindoro. Hhahaha… aku juga pernah kok pakai jasa ojek gendong sewaktu jatuh mewek disana. Dan karena kakiku yang sudah parah, teman-teman juga memutuskan berlari ke bawah dan menyewa jasa ojek gendong buatku. Soalnya dulu itu ngotot ngga mau pakai jasanya karena masih bisa jalan. Kepala batu mah kata Ky Merah. Ihhh… jadi ketawa kan aku? Wahhaha

Saat aku masih terlongong mengingat kejadian Gunung Sindoro, bapak ojek gendong pamit sembari berpesan, “Mbak, nanti kalau di tanjakan batu itu, hati-hati ya. Melangkahnya dilihat. Jangan terburu-buru dan hati-hati dengan cekukan atau celah batunya.” Aku mengangguk mengiyakan serta mengucapkan terima kasih atas informasinya.

 

 

Setelah jalur landai ini, kita akan menemukan turunan dan jembatan. Ahhh.. aku agak lupa nih. Hhaha.. nanti tanya Erore lagi deh yaaa… Jadi ntar bisa diedit kan tulisannya ini.
*ketokin memori ini

Oia, perjalanan dari Pos 2 Tenggengean ke Pos 3 Pada Balong memakan waktu sekitar 2 jam untuk ukuran kaki lambatku.

***

Pada Balong

Sore itu, aku bersama tim akhirnya memutuskan menginap (hari pertama) di Pos 3, Pada Balong jalur Sembalun. Pos ini berada di ketinggian 1800 Mdpl. Menurut Erore dan Q-bo yang membawa tim kesana, di pos tersebut ada sumber mata air untuk kita bisa memasak dan lainnya.

Pos 3 Pada Balong. (doc pribadi)
Pos 3 Pada Balong.
(doc pribadi)

Kami sampai di pos 3 saat waktu menunjukkan pukul 15.48 wib. Sebenarnya lewat sedikitlah, lupa di menit keberapa, hhehe.. Begitu sampai, merebahkan diri adalah yang utama kulakuan. Melepaskan letih sejenak, mengendurkan otot kaki yang mengencang serta menikmati hembusan angin sore pos 3 yang sepoi-sepoi. Beberapa diantara kami, ada yang mendirikan tenda, bersih-bersih, beberes dan membagi tenda yang akan menjadi tempat bermalam kami.

Tika, Irma dan aku kebagian dalam 1 tenda, karena memang hanya kami bertiga perempuan dalam tim tersebut. Sementara Erore, Q-bo, Pepy, Kemal, Luther, Ryan berbagi di dua tenda lainnya. Sementara teman kami dari tim lain yang bertemu dan bergabung di pendakian (Eko, Ida, Dedes dan lupa 1 lagi 😀 ) pun mencari tempat berdekatan biar bisa cerita bareng.

Kami mengambil lahan pertama di dekat pondokan berupa pos terbuka. Menurut Erore, kalau pagi, bisa dapat sinar matahari biar sekalian bisa jemur baju lembab dan barang lainnya. Erore dan Q-bo entah sudah kunjungan yang berapa kali ke Rinjani. Mereka sudah hapal medan! Buzeeehh….

Beberapa dari kami mengambil air di turunan sebelah kiri, termasuk Tika yang penasaran dengan tempat air tersebut. Kalau dengar cerita Tika mah, bukan benar-benar aliran air atau berupa kali gitu deh. Soalnya, mereka harus menggali agar mendapatkan air. Dan Erore menunjukkan caranya. Jangan salah gali, biar ngga dapat jekpot batangan. Hiiisshhh….

***

Serangan Angin Pertama

Malam berlalu. Mau curhat ahhh….

Aku kan orang yang sangat tidak kuat akan udara dingin ya? Makanya segala perlengkapan tidur selalu kupersiapkan maksimal. Baju ganti, jaket, kaus kaki, sarung tangan, kupluk, SB, matras, dll. Pokoknya sudah lengkap mau perang deh 🙂

Kebutuhan seperti ini kerap kulakukan hampir di setiap gunung yang pernah kusinggahi. Entah kenapa, sangat sulit bersahabat dengan dingin. Soalnya keturunan dari si papaku nih… Dia kan walau hari panas, tidurnya tetap pakai selimut. Sama seperti aku. Zzzzzz…. aneh kan? Kalau kaki sudah dingin dan menjalar kemana-mana, aku bisa susah tidur deh. Ngga bakal nyaman. Dan terjadilah serangan itu!

Kenapa?

Ehh, kalau diingat-ingat, aku sering banget ya memberikan pertanyaan kenapa di tulisanku? Haahaha… ya soalnya memang begitu deh. Pertanyaan selalu saja muncul dalam otak si kaki lambat ini. Skip curhat ini, lanjut yang soal serangan ya? Hhhehe

Jadi di saat malam mulai sepi, teman-teman mulai tidur nyenyak karena letih dan kenyang dengan sajian makan malam, aku donk tiba-tiba jadi melek dan grasak-grusuk ngga bisa diam. Mulai nih berisik kedinginan. Kupluk ku padatkan menutupi telinga, syal kuperiksa, kaus kaki dan sarung tangan aman, SB kurapatkan. Baru membalikkan badan menghadap arah pintu tenda, tiba-tiba saja…. woooooosshhh…. Tenda aku berasa terbang!!

Aakk matek!
Hembusan angin di luar terdengar kencang di telingaku. OMG! Semilir angin sempat terasa di bawah tulang punggungku. Hiiiyy… dingin! Semakin merapatkan SB kesayangan yang lumayan membekap dingin. Kuintip kedua temanku yang tertidur pulas di sisi kiriku. Hhh.. kenapa sih orang bisa tidur nyenyak tanpa kedinginan begitu? Aku kan juga mau -_-

Baca do’a dan kupejamkan erat kedua mataku yang sempat membola diterpa hembusan angin.
Hhahha… takut? Iya, takut terbang! Err~ (jie)

***

Pintu masuk awal pendakian Rinjani. (doc pribadi, taken by Irma)
Pintu masuk awal pendakian Rinjani.
(doc pribadi, taken by Irma)
Advertisements

Published by

ejiebelula

I'm just an ordinary person who is always looking for friends, adventures and life stories to complete. it all started from any footsteps, traveling and recording with a cheerful heart notes and a spirit that always accompany my steps toward the so-called ideals of the school also hopes to live through the experience. I will dedicate my heart only for two, red and pink. # Waiting for the right moment for a heart the gift of God

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s