Journal Slamet-Bambangan: Bonus Lumpur Baturaden? No!

Maksud hati kepengin mandi bahagia seru. Badan yang pegal setelah naik turun gunung, kaki-kaki letih setelah summit tenda, pendaki kocak berbagi logistik yang personilnya tetap sahabat Hammockers Indonesia. Mau senang, yang ada malah dumelan sepanjang jalan menuju terminal pulang ke Jakarta. Ada apa sih dengan mereka?

Biang lumpur (doc pribadi)
Biang lumpur
(doc pribadi)

***

Wisata Baturaden
27 September 2015

Mendadak Ngidam Air Panas

*Lompat cerita berdasarkan kesukaanku bercerita yaaak ๐Ÿ˜›

Berawal dari tak ada air di basecamp Slamet Bambangan yang sudah mengalami masa sulit air sejak setelah Idul Fitri lalu, kami pun berencana mandi air panas untuk menormalkan kondisi badan. Karena kurang informasi, jadilah cari informasi ke om google.

Hasil pencarian jatuh pada daerah Wisata Baturaden dimana terdapat pemandian air panas Pancuran Pitu (7). Pemandian tersebut berada dibawah kaki Gunung Slamet.

Akses menuju kesana terbilang sulit jika tidak langsung mengambil sewaan mobil atau naik motor. Kembali mencari informasi kendaraan dan didapatlah 1 kendaraan dengan tambahan 2 teman baru yang juga akan pulang ke Jakarta.

Untuk kendaraan, harus pintar keukeuh nego harga. Soalnya harga yang ditawarkan melejit jauh banget dari harga sebenarnya. Atau jika mau keluar basecampย Slamet Bambangan, ya cari massa buat cukupin satu kendaraan. Biar patungannya murah, bisa kuliner puas atau jajan camilan lain. Hhehehe..

Nah ya, kendaraan disepakati seharga 350K sudah dapat jalan-jalan ke Baturaden dan diantar langsung ke Terminal Bus Bulu Pitu, Purwokerto. Okeehh… brangcut!

***

Senam Kepala Ioh

Kami memasuki Wisata Baturaden dan langsung menuju ke pemandian air panas yang berjarak sekitar 14 km dari pintu masuk. Dikenakan tarif masuk per orang sebesar 5K plus kendaraan yang digunakan (mobil atau motor).

Pada pintu utama terpampang tulisan tiket masuk menuju 3 tempat wisata yakni Wana Wisata Baturaden, Pancuran Pitu (7) dan Telaga Sunyi. Jika kita mengambil tiket terusan, hanya akan membayar 20K dan dapat menikmati alam di 3 tempat tersebut. Hanya berlaku tiket masuknya saja, karena untuk biaya lainnya, ada tambahan lagi di masing-masing wisatanya.

Kami memasuki lokasi yang dipenuhi oleh pepohonan tinggi yang menjadi perhatian para penggila gelantungan. Ioh mengambil beberapa gambar pohon di sekitar. Andi sibuk mengobrol dengan pak supir, Uxzup seperti biasa, ngebanyol. Guntur teman media asik dengan strawberrynya, sedangkan 2 orang teman baru kami, Wiky dan Lina pun mulai bisa ikut membaur dengan obrolan sahabat HammockersIndonesia.

14 km? Kira-kira perjalanan memakan waktu hampir 1 jam. Menyusuri jalanan aspal dengan pemandangan hijau pepohonan, akhirnya menumbangkan sebagian dari kami, tidur!

Seingatku ya, aku deh yang tertidur duluan karena sudah ngantuk dan bangun pagi banget kan? Ehh, ternyata, Uxzup si usil dan selalu dapat momen buat ngerjain Ioh, dapat aja tuh candid rekamin doskih pakai hp nya. Wakaakakaaa… bangun tidur, kita disuguhi dengan keusilan Uxzup dah tuh. Sakit perut pertama dimulai!

***

Kaki-kaki Slamet

Well, well, kami tiba di pintu masuk. Pas di pintu utama tadi,ย ngga bayar di awal dan bebas uang masuk kendaraan karena si pak supir kenal sama orang disana, jadi gratis. Nah, di pelataran parkirnya, kita dikenakan bayar parkir mobil sebesar 8K. Begitu di pintu Pancuran Pitu, masing-masing membayar sebesar 10K.

PR tangga (doc pribadi)
PR tangga
(doc pribadi)

Masuk dan wow! Tangga PR ini sepertinya.

“Mamaaaakk! Kakikuuuu…. Arrgghh… Jempol kakiku sakiiitt.. Edyan!” ngakak dalam hati.

Ioh juga teriak, “Ejaayy… zama! Jempol gue kan juga zakit!” ngakak bareng dah.

Uxzup aja udah misuh-misuh loh. Soalnya lutut kirinya kan sakit kalau turunan. “Lutut gue, Ejiek bijik!”

“Sini, sini, Uxzuuupp… geretin Ejie lagi donk kek waktu turunan Slamet tiktok ๐Ÿ˜› ” ledekku. Hhahhaa… puas ahh ngeledekin mereka.

E ternyata Guntur juga ikut-ikut senam lutut. Sama semua rupanya pada sakit kaki. Andi, Lina Wiky mah nyengir-nyengir puas kali lihat penderitaan kita, Zzzzz…

Lagi seru ketawa-ketawa apa yak, kaki Ejie masuk deh tuh ke cekukan anak tangga yang bolong.

“Aaaakk…” tuuhh kan? Jatuh, duduk, diam dah. Mmm… sebenarnya semuanya tiba-tiba noleh dan nganga ya lihat Ejie jatuh. Setelahnya ya tetap aja ketawa. Dazar kalian! E tapi mah, Uxzup tolongin Ejie donk.

“Makanya kalau jalan hati-hati, Ejiek bijik!” asal tapi nasihat karena aku memang ngga lihat jalan sih.

“Kan Ejie ngga lihat, Uxzuuuuppp… Orang jalannya bolong gitu kok,” ngeyel.

***

Lumpur Penggoda

Sudah niat mau mandi air panas sih, jadi begitu sampai di anak tangga terbawah dari pemandian air panas Pancuran Pitu ini, aku segera mencari tempat berendam dan toilet. Ioh, Uxzup, Andi dan Guntur mengarah ke pancuran yang belum menarik minatku berjalan-jalan. Aku kebelet buang air kecil.

“Uxzuuupp… Ejie misah yak?” sambil bisik-bisik bilang mau pepsi dari jauh. Oon Ejieeee… mana dengar mah Uxzup bisik begitu. Biarin dah. Ziiiinngg… aku melesat mencari toilet seharga 2K. Hei, toiletnya ada di belakang melewati tempatย berendam air panas. Kulirik sepintas, 5K, okeeee… cukup kok uang di kantong. Termasuk murah ini mah berendamnya. 15 menit pula. Kalau ngga lupa waktu sih. Hhahah soalnya dulu waktu hitchhiking ke Sragen dan lupa-waktu-di-air-panas, aku sampai diketok pintu sama temanku Genji, karena main air panasnya kelamaan.

Usai urusan toilet, aku bermaksud masuk berendam. Ehh, ada Andi dan aku menanyakan dimana teman-teman. Aku mengikuti arah telunjuknya. Disana, ada Ioh, Uxzup, dan Guntur yang sedang urut-urut asik. Aku ya belum sampai, tapi ย Ioh dari j auh sudah teriak-teriak panggil Ejie. Ya gitu deh, kalau 1 sudah rusuh, yang lain kan jadi nular kepengin ikutan. FIX, Ioh menular! ๐Ÿ˜›

Lumputr Ioh (doc pribadi)
Lumpur Ioh
(doc pribadi)

“Ejaayy.. sini Ejayy. Urut kakinya biar enak….” suara Ioh.

“Ejiek, sini dekat Uxzup, urut,” dia mah anteng, ngga kek Ioh noohh yang selalu buru-buruin Ejie. Cckckkk..

Tahu ngga sih? Itu gara-gara Ioh sama Uxzup panggil Ejie, ehh.. si om-om tukang urut jadi ikut-ikut latah manggil Ejayy, Ejie, Ejiek juga. Parah kan, kan, Ioh?

“Sini, Jie, Ro, Lu, Pat… urut kaki saja. Atau beli lulurnya deh,” si om-om urut ngerayu. Laaahh.. dikata Ejie angka buat ngitung kali ya? Waahahaha..

Aku keukeuh menggelengkan kepalaku. Buatku, lebih seru menyaksikan kekonyolan sahabat Hammockers Indonesia saja. Memotret mereka yang telanjang dada, pakai celana pendek dan semua kaki, badan, tangan, punggung juga wajahnya menjadi kuning karena di lulur dengan belerang yang tersedia dalam ember cat di samping om-om itu.

Alat yang mereka gunakan berupa sikat gigi untuk membersihkan daerah kaki dan tangan selain pijatan tangan. Bahan lulur ya si belerang yang berguna untuk menghilangkan pegal, mengatasi gatal, dan merelaksasikan urat-rat pegal sih kata si om-om urut. Belerang ini sudah berbentuk bubuk dan dikemas dalam kantong-kantong kecil yang di klip.

Berulang kali mereka menawarkanku agar diurut kakinya, tapi aku tetap tidak minat. Alasannya ya karena aku perempuan, dan malas diurut laki-laki. Meskipun tadi juga ada ibu-ibu yang menawarkan jasa urut belerangnya padaku, aku ngga mau. Soalnya selain tempat terbuka, aku juga ngga merasa perlu urut kaki sih. Kan mau berendam air panas, dan itu kurasa cukup untuk menghilangkan dan meresapi air panas tersebut membasahi tubuhku. Kalau sudah diniatkan mau apa, ya aku hanya ingin yang kuniatkan saja. Jarang larak-lirik yang lain. Nah, ini berkaitan juga loh sama pembelajaran. Menurutku looohh…

Puas bercerita dan cekakak-cekikik melihat ketiga sahabatku itu, aku segera menuju ke tempat berendam air panas. Menikmati waktu kesendirianku dan membersihkan debu-debu Gunung Slamet Bambangan yang lekat menempel di badanku. Apalagi di basecamp tak ada air, jadilah kami berlima kepet (belum mandi) dari turun gunung tanggal 26/09 malam itu.

***

Omelan Lumpur Panjang

Segar!

Mataku mencari-cari dimana keberadaan sahabat konyolku itu. Kulihat si om urut yang tadi dan kutanyakan teman-temanku.

“Disana mbak, warung belakang. Yang pakai sepatu gunung, kan?” katanya.

Ia mengarahkanku ke belakang. Oohh.. mereka ada di tempat aku menitipkan sepatuku. Aku senyum lihat mereka. Tapi kenapa wajah mereka ya? Belum bertanya, aku sudah mendapat jawabannya karena tanpa ditanya pun, ocehan panjang mengalir dari mulut mereka.

“Ternyata urutnya mahal, Jie. Bukan 20K seperti yang pertama si bapak bilang. Mosok minta tambah lagi….” hampir semuanya bersuara. Aku masih memperhatikan dan mendengar.

“Nanti deh cerita, jangan disini,” Guntur menambahkan.

Si om-om urut datang dan menangih kekurangan pembayaran.

“Lain kali bilang pak harga yang benarnya berapa. Jangan asal bilang 20K saja tanpa kita tahu. Tiba-tiba nambah bayarannya kan, ngga enak,” Guntur menjawab.

“Semoga sehat, sukses, bla… blaaa… blaaaa,” ucapan si om urut tak digubris Guntur dan lainnya.

Umm.. aku diam. Sesungghunya, aku mengerti apa yang dirasakan sahabat-sahabatku itu. Kami sebagai pendatang ke suatu tempat wisata, jika ingin sesuatu, kadang tidak dijelaskan secara rinci mengenai fasilitas apa yang di dapat.

Misalnya urut. Seharusnya diawal, dijelaskan 20K itu hanya urut bagian kaki dan tangan saja. Bila ingin seluruh badan, harganya 50K. Terkadang, mereka penduduk lokal suka menganggap enteng pendatang tanpa mau tahu bagaimana kondisi kita. Main oles sana-sini saja, kasih lulur seluruh badan yang disangka pendatang, itu seharga 20K.

Kalau diobrolin dari awal kan, testimoni sahabat-sahabat aku ngga akan begitu. Ngedumel, ngerasa ke cekik, ditipu, dibohongin, terjebak, dan ngga tahu deh apalagi. Dan tahukah kalian? Omelan panjang ini terus berlangsung hingga perjalanan menuju ke Terminal Bulu Pitu, Purwokerto.

“Angcaaaatttt……ย lumpur laknat!”

“Dazar, brengceeeekk… pendustah… Sialaaaaannn….”

“Lihat deh, besok kang urut bakal sepi orderan. Masuk S****** I******** pagi. Alasan ngga masuk akal!”

“Ngga mau do’a nya kalau dibohongin!”

Wkwkkkkwk… Rasanya aku tak perlu menyebutkan siapa saja yang terus mengomel seperti itu. Obrolan seru seputar lumpur sialan, lumpur laknat, kang urut sialan, pendusta, tukang bohong, dll sudah cukup membuat aku, Lina dan Wiky jadi tertawa terbahak-bahak.

Bukan karena kalimat-kalimat mereka, tetapi karena di kondisi seperti itu, mereka tetap saja mengomel dalam riang yang membawa keceriaan pada kami. Ahh kalian, aku sudah kangen lagi jalan bareng. KAPAN KITA KEMANA? (jie)

===================================================================================

TOTAL SHARE COST PANCURAN PITU

  1. Sewa kendaraan ย  ย  ย  ย  ย  ย  ย  ย  ย  ย  ย  ย  ย : 350.000,-
  2. Tarif masuk gerbang utama : GRATIS (seharusnya 5.000,- per orang)
  3. Parkir kendaraan (mobil) ย  ย  ย  : 8.000,-
  4. Tiket masuk Pancuran Pitu ย  : 10.000,- per orang

Dibagi 5 orang saja walau kenyataannya ada 2 orang teman baru yang ikut.

***

PENGELUARAN PRIBADI

  1. Toilet ย  ย  ย  ย  ย  ย  ย  ย  ย  ย  ย  ย  ย  ย  ย  ย  ย  ย  : 2.000,-
  2. Berendam air panas ย  ย  ย : 5.000,-
  3. Urut lumpur ๐Ÿ˜€ ย  ย  ย  ย  ย  ย  ย  : 50.000,-
  4. Jajan air aren ย  ย  ย  ย  ย  ย  ย  ย  ย  ย  : 3.000,- per gelas
  5. Camilan ย  ย  ย  ย  ย  ย  ย  ย  ย  ย  ย  ย  ย  ย  ย  ย  : 20.000,- (aku lupa tanya mereka)

===================================================================================

Advertisements

Published by

ejiebelula

I'm just an ordinary person who is always looking for friends, adventures and life stories to complete. it all started from any footsteps, traveling and recording with a cheerful heart notes and a spirit that always accompany my steps toward the so-called ideals of the school also hopes to live through the experience. I will dedicate my heart only for two, red and pink. # Waiting for the right moment for a heart the gift of God

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s