Journal Slamet-Bambangan: Sudut Rindu Teruntuk Keluarga Gunung

Ingat 3S yang pernah kujalani bersama keluarga gunung solid. 3 orang beda karakter yang entah bagaimana awalnya, yakin mengajakku menjalani pendakian ke 3 gunung di Jawa Tengah. Gunung Sumbing, Gunung Sindoro secara tektok dan berniat kemping di Gunung Slamet jalur Bambangan. Diantara ketiganya, S3 yakni Gunung Slamet jalur Bambangan yang aku sebut belum lulus. Sedikit surat sayang yang kulayangkan pada kalian, Ky Merah, Erore dan Anja yang kukangenin kebersamaannya.

Miss u so, mountain fams! (Doc pribad)
Miss u so, mountain fams!
(Doc pribad)

***

Basecamp Slamet Bambangan
Warung Bu Kuat
27 September 2015

SahabatΒ Konyol
(Tentang MEREKA)

Pagi kemarin lusa (27/09), saat 3 sahabat konyol HammockersIndonesia/Β dan 1 sahabat media tengah tertidur pulas, aku terbangun. Suara-suara kebutan dari sisa keletihan seakan berlomba mengeluhkan tubuhnya yang menginginkan istirahat lebih. Aku kepengin tertawa ngakak bila bersama mereka. Bagaimana tidak? Mereka selalu saja membuat aku tertawa sakit perut dan pipi tanpa henti. Dari awal perjalanan, naik dan turun gunung bersama, ngga ada habisnya bercanda.

Suara balapan itu, ya berasal dari nyanyian riang mereka sih kalau aku bilang πŸ˜€ Soalnya dari dalam tenda kuning yang bermuatan hanya 2 dan bisa 3 orang deh dicukupkan, namun dipaksakan menjadi berlima. Haa? 5 orang dalam 1 tenda kecil menumpuk menjadi 1? Yuhuuuu….. Hahahaha.. orang-orang konyol, emang..

Aku sudah tak heran mendengar suara-suara nyaring itu. Hahhhaaha… Ngorok? Iya! Itu suara tidurnya Ioh dan Andi yang sedang balapan. Uxzup anteng, sedangkan Guntur grasak-grusuk. Mungkin dingin karena ia tak menggunakan sleeping bagΒ (SB) nya. Aku bangkit dan memakaikan SB ku menyelimutinya.

Masih pagi, namun aktifitas di luar warung Bu Kuat ini sudah tampak. Para pendaki yang beristirahat, mereka lalu-lalang menunggu warung buka. Sudah lapar tampaknya. Hhaha.. aku jadi ingat, bagaimana sahabat Hammockkers Indonesia yang selalu mengunyah bila berada disana. Lapar tiada henti!

***

Kelebatan 3S Tektok
(Tentang KALIAN)

Dear Keluarga Gunung,

Aku keluar dari rumah hangat itu. Menyapa ibu pemilik warung atau para penjaga warungnya yang entah berapa banyak, para pendaki yang kutemui, dan tersenyum sebagai sapaan awal pada mereka. Hmm.. sedikit bercerita bila ditanya. Kemudian mataku mengarah pada tulisan pintu pos yang tetap bercat sama seperti tahun 2013 lalu, hijau.

Aku mendekat dan kulihat kabut menutupi permukaan Gunung Slamet jalur Bambangan. Sudut rindu berkelebat di memoriku. Gunung yang dulu tak sempat aku naiki bersama kalian, keluarga gunungku karena kondisi fisik yang tidak memungkinkan melanjutkan pendakian. Bukan karena aku tak mau, tetapi karena kejadian di 2 gunung sebelumnya, Sumbing dan Sindoro yang dijalani dengan tektok dan aku terjatuh ketika turunan.

Menyelesaikan S1 dan lulus di Gunung Sumbing yang berkabut. Bertahan di bawah flysheet merah dengan badai kabut di sekitar kawah dan gunung yang hampir menutupi jarak pandang mata. Berfoto di dalam flysheet. Mengucapkan selamat lahir pada salah satu keluarga gunung yang ulang tahun tepat di hari kami tiba di puncak Gunung Sumbing. Sujud syukur dan shalat dibawah rintik hujan yang mengiringi perjalanan kita hingga kepuncaknya.

Aku ingat!

Salah satu tujuan 3S tektok kita ini adalah Ky Merah yang ingin ulang tahun di gunung. Boleh donk punya keinginan? Dan dia ingin mencoba 3S tektok ini sebagai proyeknya. Kalau aku sih, waktu itu jadi ajang latihan karena akan mengikuti tanding Subaru Palm Challenge di Singapore. Jadi mendaki ini menjadi bagian dari latihan fisikku. Sedangkan Anja dan Erore, mereka melakukannya karena memang menyukai alam dan kebetulan memang kitaΒ sering jalan bareng.

Berjalan, tertawa dan makan bersama meskipun aku harus menjauh karena bermasalah dengan nasi. Akrab dan ceria. Diatas semua itu, aku menyatakan bahwa pelajaran telah banyak kudapatkan dari kalian. Sayangnya, hingga sekarang, tulisan Gunung Sumbing ini, aku belum juga menuliskannya dalam blog ini. Aku punya masalah ingatan per pos di gunung. Biasanya Ky dan Erore yang suka bantuin aku mengingatnya. Hhahhaa.. maaf yaah?

Selanjutnya S2, Gunung Sindoro yang kita selesaikan dan kembali lulus mendakinya sertaΒ turun dengan selamat. Meski malam di saat turunan aku sempat ngambek dan berusaha mogok jalan karena kaki lambatku kembali melambatkan langkah kalian yang akan melanjutkan proyek S ke 3 kita.

Kaki lambat yang terjatuh di turunan ketika mengucap letih tak ingin lanjut ke Gunung Slamet Bambangan. Spontan, kalimat itu didengar-Nya, dan seketika aku jatuh terduduk diantara batu besar yang mengapit kiri-kanan jalan dan tergelincir di jalur pasir berkerikil itu. Posisi kaki kanan di depan, sementara kaki kiri mengarah ke belakang (baca: 3s-tektok-bonus-sunset-dan-ujian-sindoro-part-4/)

Ketika itu yang kurasakan hanya urat di dengkul kiri seakan ditarik keluar dari tempurungnya. Tidak bisa lain, aku menangis. Sejarah menangis untuk pertama kalinya di gunung.

Iya, satu-satunya gunung yang pernah membuatku menangis hanyalah Gunung Sindoro. Menangis bukan karena sedih, tetapi karena aku akhirnya merasa (kembali) aku menyebabkan mereka tak bisa cepat beristirahat untuk besok mendaki Gunung Slamet, proyek terakhir dari perjalanan tektok kami.

Menangis karena lebih kepada arti dari sebuah persahabatan panjang yang telah sekian lama dijalani dalam pendakian.

Persahabatan yang terjadi melalui proses. Seperti proses mencapai tujuan kebersamaan. Persahabatan dengan pelajaran memahami dan menghargai. Persahabatan yang menciptakan tawa, canda, susah dan senang. Bukan sekadar kebahagiaan, tapi juga berbagi kesedihan dalam keceriaan.

Ahh, ingatkah kalian? Betapa aku merindukan kebersamaan dengan kalian? Padahal kita baru berpisah semalam saja di Sindoro, ketika aku langsung didudukkan pada jok motor setelah keputusan kalian memaksa memanggil ojek gendong tanpa sepengetahuanku yang tengah tertatih-tatih menuruni gunung itu sekuat tenagaku? Si kepala batu yang tak mau ditolong oleh kalian meski diajukan untuk kalian gendong? Aku sedih ketika si kepala batu itu bersemayam disana. Menyakiti hati, tak ingin berbagi sedih, dan menyimpannya dalam diam jugaΒ kegelapan malam.

Baru semalam berpisah dan Ky Merah menginterogasiku habis-habisan hingga tak bersisa air mata di rumah ibu mas Radi yang mengurut lutut kakiku setelah kejadian jatuh itu. Interogasi yang membuatku lega, karena itulah maksud Ky, tidak memendam apapun di gunung yang sudah disinggahi, tetapi keceriaan dan persahabatan.

Ngga boleh manja!

Kata Ky, aku harus melatih kaki dan lututku. Jadi menuju ke basecamp Sindoro dimana kalian berada, walau sakit dan tertatih, aku ikhlas jalan jauh dan ngga boleh naik motor seperti yang ditawarkan mas Radi waktu ingin mengantar kami.

“Ngga apa, Kyyyy… asal Ejie bertemu merekaΒ yang menunggu disana!” tegas hatiku.

“Jie, itu basecampnya. Mereka di dalam,” Ky seakan tahu kerinduanku.

Lalu, lalu, lalu tanpa sadar, aku berlari ke dalam basecamp, melupakan kakiku yang sakitΒ dan langsung memeluk kalian disana.

“Kangen kaliaaaaaaannn…” mewek. Hahahhah dasar Ejie cengeng!

***

Aku Lulus S3
(Tentang KALIAN dan MEREKA)

S3 dulu yang tak sempat kuselesaikan. (Doc pribadi, taken by Erore)
S3 dulu yang tak sempat kuselesaikan.
(Doc pribadi, taken by Erore)

Keluarga Gunung,

Pendakian kali ini, aku mengulang ujian Bambangan yang belum terselesaikan. Menjelajahi setiap jalurnya dengan kaki-kaki lambatku. Menghirup aroma hutan seperti biasa, pelan dan pasti. Menelusuri tiap lorong ranting yang kutemui. Menjejaki tanah dan pasirnya dengan langkah siputku. Kunikmati setiap pos yang kulewati. Mengingat kalian yang tak bisa bersamaku. Aku membawa kalian dalam ingatan.

Hari itu, aku berdiri di tulisan yang sama. Bersama sahabat yang mengajakku, mereka menemaniku. Meski berbeda tim, tapi per karakter yang kutemui, kalian ada disini.

Aku juga ngga ngerti bagaimana bisa, tapi kelebatan-kelebatan itu semua berhubungan. Ketika berada di jalur, dalam perjalanan, ketika berjalan sendiri lalu kalian muncul. Atau jika salah satu dari kalian berjalan menjagaku secara bergantian. Pun ketika langkah-langkah si kaki lambat ini berusaha meraih atap tertinggi gunung tersebut. Kalian ada!

Aku hanya ingin menyampaikan bahwa ujian S3 sudah kulalui dengan sehat dan selamat. Aku sampai disana, Ky, Erore, Anja. Dan seperti biasa, melakukan rutinitas yang kalian sangat hapal. Sujud syukur! Menyebutkan kalian dalam do’a ku. Menyebut mereka juga dalam do’a ku. Kalian dan mereka, punya khas masing-masing dan gunung yang menceritakannya padaku. Aku simpan, untuk jiwaku πŸ™‚

Lambat, selalu itu yang menjadi kendala mungkin bagi orang-orangΒ yang baru mengenalku dalam pendakian. Biasanya alam menyeleksi, siapa menjadi partner siapa. Alam akan memilah dengan sendirinya, tanpa kutahu siapa yang akan menjagaku.

Menjaga ya? Kadang kesendirian juga diperlukan kok. Demikian pun aku. Tak selalu berjalan dalam keramaian dan pertemanan. Seperti lorong-lorong Gunung Slamet yang beberapa kulalui dan kunikmati dalam kesendirian hingga satu diantara mereka, seperti kalain, menunggu di satu sisi yang tak kusangka. Selayaknya hidup yang harus kita perjuangkan, karena sesungguhnya hidup dan “tidur” adalah milik pribadi. Pertolongan akan ada, jika benih yang kita tabur baik. Lalu akan tersemai seiring waktu.

Amazing, hah? Yeaap.. Aku akan menjabarkannya nanti. Melihat kalian, keluarga gunungku dalam diri mereka, keluarga Hammockers Indonesia. Untuk yang menjadi bagian dari perjalanan panjang pendakianku, KALIAN, MEREKA, AKU SAYANG! (jie)

***

 

 

Advertisements

Published by

ejiebelula

I'm just an ordinary person who is always looking for friends, adventures and life stories to complete. it all started from any footsteps, traveling and recording with a cheerful heart notes and a spirit that always accompany my steps toward the so-called ideals of the school also hopes to live through the experience. I will dedicate my heart only for two, red and pink. # Waiting for the right moment for a heart the gift of God

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s