Journal Slamet Bambangan: Kisah Riuh Sahabat si Kaki Lambat (4-1)

Kalau aku dikatakan buta peta, bagaimana sebutan pas untuk sahabat Hammockers Indonesia dan teman media yang on the spot ya? Namanya juga tim, ya harus saling melengkapi bukan?
Ceritaku ini mengisahkan pendakian hari pertama pendaki kesiangan menuju Pos 1. Kisah polos, ngeteng dan gunung yang bercerita tentang 2 sweeper pertamaku.
Sambung cerita Slamet Bambangan lagi lah…
SKOY 😀

Before: pose di pintu pos, tim lengkap, 5 orang. (doc Guntur R)
Before: pose di pintu pos, tim lengkap, 5 orang.
(doc Guntur R)

***

Before:

live-journal-slamet-bambangan-cerita-tiket-ioh/

journal-slamet-bambangan-sudut-rindu-teruntuk-keluarga-gunung/

journal-slamet-bambangan-bonus-lumpur-baturaden-no/

***

Stasiun Kereta Api Purwokerto
25 September 2015

Manajemen Polos

Kami tiba di Purwokerto ketika matahari sudah memancarkan sinarnya. Udara pagi yang tadinya sejuk, berubah. Mulai terasa panas atau memang karena kami belum mandi ya? Keluar dari stasiun, kami segera mencari 1 personil, teman Ioh yang sudah tiba lebih dulu. Padahal dia berangkat pukul 23.00 WIB malam dengan Kereta Progo, sedangkan kami berangkat pukul 21.00 WIB dengan Kereta Serayu Malam. Kok lamaan kami yang sampai sih? Ioh nih beli tiket ngga lihat waktu lagi deh. Kita keliling ke selatan dulu keretanya. Mutar-mutar, huaaaaaaaaa……

“Ayok, Ejayy, kita cari gledek. Dimana sih dia? Katanya dekat minimarket depan sihh…” Ioh kebiasaan banget. Setiap pertanyaan yang dilontarkan, selalu dijawabnya sendiri. Ckckkkk

Baju hitam, buff hitam, celana panjang abu-abu dengan keril hitam disandang di punggungnya. Satria baja hitam? Weeii, bukaaaaann! Itu Guntur. Ohh.. pantas saja dari tadi Ioh selalu bilang gledek itu, ternyata Guntur. Aku baru ngeh dah arti lain dari gledek. Hahhaha… bisaan Ioh.

Setiap orang memang punya cara masing-masing ya meng-arrange suatu perjalanan. Dulu, kalau mau nanjak dengan keluarga gunung, aku yang buta peta selalu saja sampai di tempat dengan santai. Ngga pusing soal tanya ini atau itu. Cukup duduk manis, ngikut aja pembagian tugasnya, sampai deh di tempat. Semua sudah diobrolin dalam grup, tanpa aku tahu detil apa saja yang harus kupersiapkan untuk tim.

Biasanya mereka akan mengabarkan keberangkatan H- gitu, angkat telpon atau WA lalu, “Berangkat, Jie. Tenda aman. Bawa kebutuhan gunung yang melindungi Ejie dari cuaca dingin, air minum (tergantung gunung mana yang didaki), plus camilan Ejie yang ngga perlu nasi, ya!” tegas dan ditambahkan, “Ehh, pakai sepatu, Jie!”

Tuh, ringkas saja kan? Mereka sangat hapal kebiasaanku. Urusan menjaga di jalur mah, otomatis juga akan terlihat nantinya. Aku tak pernah mempermasalahkannya, karena keluarga gunung bukan tipe tim yang tidak mempedulikan teman. Aku pun sudah sangat hapal dengan mereka. Nyaman dalam tim, itu yang terpenting.

Perbedaan terjadi pada sahabat Hammockers Indonesia ini. Mereka yang spontan, tak ribet dan mungkin perlu sedikit rapi saja sih mengolah perjalanan. Disini, aku kudu “cerewet” urusan tanya-tanya. Tapi kalau soal sharing cost, ya kembali rembug bersama.

Persamaannya, peduli dan nyaman dalam tim tetap terjaga. Jadi ngga ada masalah khusus sih buatku dalam perjalanan ini. Semuanya asik dan seru. Dan yang sudah bisa dipastikan, tiada menit tanpa ngakak dah jalan sama mereka. Kocak sih mereka. Ada saja tuh ulah Ioh atau Uxzup yang bikin aku ngga bisa ikutan diam. Kasihan perut aku. Bukan lapar lho, tapi susah nahanin ngga sakit perut! NGAKAK terus!

***

Pilihan Ngeteng

Diskusi mengenai transportasi menuju ke basecamp Slamet Bambangan, diputuskan saat itu juga. Tuuhh.. manajemen polosnya masih berlangsung kan? Artinya ya no planning. Semuanya diputuskan di tempat dan saat itu juga.

Okeee.. aku punya pelajaran baru ini dari mereka. Walau nantinya, kami mungkin harus berbenah jika memang ngga mau puyeng kalau jalan bareng lagi. Setidaknya seperti orang-orang kekinian yang punya standar schedule. Hhh… kalian. Dalam hal begini saja, aku tetap harus ngikik pelan-pelan, menyembunyikan tawaku. Senyam-senyum ngga jelas kok berasa orang yang kejatuhan tjintah! Errr~
*jitakin satu-satu

Perjalanan dari stasiun, kami lanjutkan menuju ke Pasar Pagi Purwokerto yang berjarak sekitar 20 menit. Perlu kesana karena ada beberapa logistik yang belum masuk dalam list kami. Kami membayar angkot orange itu seharga 5K per orang. Sampai di pasar, aku ditemani Andi belanja, sementara Ioh, Uxzup dan Guntur sarapan.

Waktu sudah menunjukkan pukul 09.00 WIB dan kami bergegas menuju ke Terminal Purwokerto. Bus ¾ berpenumpang 15 orang itu kami naiki dan membayar 20K per orangnya. Mau tidur, tapi kata Andi nanggung. Perjalanannya ngga jauh untuk sampai ke Srayu, kaki Gunung Slamet Bambangan.

1,5 jam kemudian ~

Srayu!

Aku membeli air minum 1,5 liter sebanyak 2 botol untuk mencukupi kebutuhan air minumku yang banyak. Tak banyak kendaraan yang ada di kaki gunung itu untuk naik ke atas. Mungkin karena kami kesiangan datangnya. Dulu sewaktu kesana, aku lihat lumayan banyak angkot yang ngantri mencari penumpang pendaki yang akan ke basecamp. Tawar-menawar dan disepakati per orang membayar 30K untuk sampai di basecamp.

Pukul 11.30 kami tiba di basecamp Gunung Slamet Bambangan. Ehh, langsung lihat sahabat HammockersIndonesia/ yang juga sudah turun gunung, kakak Iramak dan patjal!
*peluk-peluk sayang biar ga digetok! 😀

This slideshow requires JavaScript.

Sebelum lanjut cerita panjang sama kakak Iramak, kami segera mendaftar simaksi. Saat itu yang menerima kami adalah mas Slamet. Hei, aku jadi teringat. Nama bapak supir yang mengantarkan kami dengan kendaraan dari bawah tadi adalah Pak Slamet. Lalu yang menerima pendaftaran kami pun bernama Pak Slamet. Dan kami akan naik Gunung Slamet? Woohoooo… rezeki bagus ini. Sepertinya akan sampai dengan selamat di puncak gunung tersebut dan turun dengan selamat. Amin YRA. Berniat baik dalam perjalanan itu WAJIB, kan? Kebiasaanku nih, biar pendakiannya lancar dan bahagia. Be Positive, right?

Hmm… sudah puas ketemu, cerita sama kakak Iramak, kami istirahat, makan siang, repacking dan mempersiapkan segala sesuatu untuk naik. Aku meninggalkan barang-barang yang tak kuperlukan diatas. Menitipkannya pada mas Slamet. Membawa seperlunya saja, supaya tidak mubazir bawaannya juga.

Pintu Pos Gunung Slamet Bambangan (doc Guntur R)
Pintu Pos Gunung Slamet Bambangan
(doc Guntur R)

Pukul 13.00 Wib teng, kami berdo’a keselamatan tim, berfoto di pintu pos Gunung Slamet Bambangan dan memulai pendakian.

***

Bola Gunung dan Andi Sweeper 1

Pukul 13.18 WIB

Andi yang mensweeper ku mulai dari gerbang pos Bambangan. (doc pribadi)
Andi yang mensweeper ku mulai dari gerbang pos Bambangan.
(doc pribadi)

Cuaca cukup terik ketika kaki mulai dilangkahkan. Tadinya kami berbarengan, tapi ya tetap kelihatan kok para dengkul racing itu dengan cepat melangkah dibalik hijaunya rerumputan yang kami lewati. Ioh, Uxzup dan Guntur, menghilang. Hhahaha.. ya ngga apa kok. Sudah biasa jalan di belakang. Untungnya Andi juga ada di belakang menemaniku.

Bukan waktu yang cepat buatku mengatur ritme langkah si kaki lambat. Aku perlu penyesuaian dan adaptasi dulu. Langkah-langkah kaki ini tak bisa dengan segera memaksa mengejar 3 orang di depan itu. Tokh aku takkan sanggup. Belajar menyadari langkah kaki yang sudah diwanti-wanti untuk tidak aneh-aneh jika masih ingin mendaki, membuat aku tunduk. Hahahh iya, pengalaman tektok 3S ke Gunung Sumbing, Sindoro dan berakhir dengan gagalnya aku ikut ke Slamet Bambangan, menjadi pelajaran agar tidak mengedepankan keinginan yang meledak-ledak. Cukup bagiku menghargai kaki lambat yang masih tetap bisa menyusuri dan melihat indahnya karunia Tuhan. Tak perlu aku terburu-buru, karena memang beginilah aku apa adanya.

Well, jalur lama yang disarankan oleh mas Slamet ini, lumayan membuatku harus pandai mengatur napas. Aku ingat pesan Abe, teman luar biasa sabar yang men-sweeperku di Gunung Ceremai-Linggarjati dan Gunung Parang Purwakarta.

“Jalan santai saja, Jie. Jangan terlalu banyak minum,” pesan singkatnya ketika aku mengajaknya ikut.

Kami melewati kebun penduduk, pepohonan, rerumputan yang hijau menguning, landai dan sedikit mendaki. Masih batas normal pendakian.

Andi bercerita sedikit mengenai pendakiannya dulu ke Slamet Bambangan. Lalu katanya, “Ejie, kalau main bola, bisa loh disini.”

Aku tak mengerti ucapannya. Di belakang kami berlari-an 2 anak dan 1 orang dewasa. Kupikir mereka adalah warga local yang mau bermain di sekitar jalur tempat kami jalan. Tak jauh dari situ, aku mendengar keriuhan. Seperti orang main sepak bola.

“Andi, kok ramai ya suara orang?” tanyaku.

“Kan tadi saya bilang, Ejie mau main bola ngga?” lalu ia berjalan di depanku dan menunjuk di kejauhan dimana tampak sebidang rumput luas dengan 2 gawang berhadapan. Sebuah kesebelasan berisi anak-anak bermain dengan hebohnya. Aku tertarik. Kusegerakan langkah karena ingin melihat dan mengambil gambarnya.

“Ahhh.. ketutupan rumput ni, Ndi…”

“Sana, Jie…… naik dikit,” ia menunjukkan posisi bagus memotret. Kuletakkan keril dan cekreek…

Keren ya? Main bola di gunung loh mereka ;) (doc pribadi)
Keren ya? Main bola di gunung loh mereka 😉
(doc pribadi)
Jalur yang sedikit menanjak. Tempat istirahat pertamaku dan berpindah botol air ke keril Andi. (doc pribadi)
Jalur yang sedikit menanjak. Tempat istirahat pertamaku dan berpindah botol air ke keril Andi.
(doc pribadi)

Ngegunung santai model begini aku suka. Bisa menikmati alam sekitar. Jadi ingat dulu kalau aku nanjak dan nyangkut karena moto, selalu saja ada yang memanggilku dari kejauhan. Ya ngga salah juga sih. Aku kan jalannya lambat dan teman-teman mungkin khawatir kalau aku terlalu jauh jaraknya dengan tim. Makanya ngga heran deh kalau tiap sebentar mereka selalu saja sibuk memanggil dan mengingatkanku agar tak jauh dari tim. Hhahha kangen kalian!

Kedua kali berhenti, ketika Andi melihat aku kesulitan membawa beban keril. Iya, sejak tabrakan itu, pundak kiriku tak kuat menahan beban banyak. Dulu bisa bawa 5 liter air dalam keril, sudah plus buat naik turun kalau ngegunung. Sekarang, pundak kiri suka nyeri walau aku tak pernah mengatakannya secara langsung. Mungkin Andi melihatku yang selalu membenarkan tali keril sebelah kiri.

“Ejie bawa air berapa, Jie? Kurangin sini titip ke Andi,” katanya.

“Ini di luar ada 2, Ndi. Tapi kan bawaan Andi juga berat,” jawabku.

“Sudah, pindahin sini biar jalannya enak, Jie..”

Bongkar, pindah dan tukaran air yang sisa setengah di Andi masuk dalam kerilku. Kami melanjutkan perjalanan.

***

Guntur, Solois Sweeper 2

Pukul 15.09 WIB

“Ejayy….” Behh.. itu Ioh.

Dari arah datangku, aku melihat Uxzup dan Ioh yang tertawa-tawa. Dasar itu pasangan kocak, ngga dimana-mana selalu saja foto dengan gaya yang sama pasti pake nyengir. Wkwkkk… Ehh, mereka nungguin? Ejie kira, mereka sudah sampai duluan di pos 1. Soalnya ngga kedengaran suaranya.

Nih, duo geret yang kocak. (doc pribadi)
Nih, duo geret yang kocak.
(doc pribadi)

“Ayo, Jieh.. kita istirahat di belokan atas. Guntur nunggu disana. Nanti bagi-bagi lagi bawaannya biar ngga berat,” ajak Uxzup. Dia ini ngerock, suka ngeledek, tapi pada dasarnya orangnya care. Pala Ejie dikucel suruh jalan duluan ke arah Guntur menunggu.

Aku melihat Guntur, melewati bapak yang tengah membersihkan kebun dan melihat potongan nanas dan semangka yang ada di keranjang rumput di dekatnya. Mungkin buahan itu dijualnya. Kepengin beli, tapi takut tenggorokan gatal. Apalagi Ioh sama Uxzup batuk. Nanti mereka ikutan makan, tambah gatal deh tenggorokannya. Ngga jadi beli deh.

Sampai. Ngga repacking, tapi berbagi bawaan saja. Botol air dibagi antara Uxzup, Ioh dan Guntur. Sementara mereka sibuk, aku mengistirahatkan kakiku sejenak. Belum ketemu pohon yang bisa dinaikin kakinya, jadi kesempatan deh buat naikin bentar.

Mereka masih bercanda, tapi isyarat badanku sudah meminta agar segera melanjutkan perjalanan. Iya, aku ngga bisa beristirahat terlalu lama karena dingin akan segera menyerangku.

“Mau jalan donk, dingin ini…” pintaku.

“Ya sudah, Ejayy jalan duluan,” Ioh memerintahku.

Guntur sigap, ia segera meleadku. Kami berjalan santai. Sedikit menanjak, namun masih terbilang landai dan melewati tumbangan pohon yang melintang di jalan. Harus sedikit merunduk agar bisa melewatinya. Tampak pohon cemara hijau di sekeliling, tanda vegetasi masih penuh dengan tumbuhan hijau. Hewan-hewan pun masih terlihat. Serangga, kupu-kupu,

Aku pikir, Guntur juga termasuk orang-orang dengan dengkul racing. Di saat tertentu, ia sudah pasti akan melejit menghilang jika partnernya memang sama sepertinya. Langkahnya anteng, tidak terburu-buru. Sepertinya ia menyesuaikan dengan kaki lambatku ini, walau sesekali ia menghilang.

Satu hal yang kusukai dalam sebuah pendakian adalah disamping gunung yang bercerita padaku, tanpa sadar, orang yang bersamaku pun akan bercerita. Aku ngga tahu ya gimana cara memulai percakapan, tapi selalu saja ada cara menyambungkan percakapan.

Ia juga sempat bercerita mengenai adik lelakinya, partner gunung yang biasa diajak ngegunung. Guntur tipe pendaki solois (atau kadang berdua) yang menurutku cukup bisa menenggelamkan egonya berjalan cepat. Terbukti ia juga sabar menungguku di belokan.

Kata Guntur, biasanya kalau gunung baru yang belum pernah didakinya, ia cenderung berangkat sendiri atau bersama adiknya. Karena rasa penasaran jauh lebih besar untuk mengeksplore sebuah gunung. Kalau sudah pernah mendaki gunung itu sendiri atau bersama adiknya, di lain waktu, Guntur bisa men-sweeper orang lain. Mungkin karena kadar penasarannya tidak sebesar pertama kali, dimana rasa menggebu dan semangat biasanya hadir. Di kunjungan berikutnya pada gunung yang sama, biasanya rasa sudah mulai bisa dinetralisir. Itu menurut pendapatku loh 😉

“Gue lebih bisa menikmati perjalanan dalam jumlah sedikit, Jie. Lebih nyaman. Tapi kalaupun dalam jumlah tertentu, ya juga ngga masalah,” jelasnya.

Guntur yan meleadku hingga ke Pos 1, Gardu Pandang, Bambangan. (doc pribadi)
Guntur yan meleadku hingga ke Pos 1, Gardu Pandang, Bambangan.
(doc pribadi)

Aku paham. Terkadang, kesendirian memberikan lebih banyak makna untuk meresapi. Tak jarang, aku juga kerap menikmati kesendirian jika partner ngegunungku berjalan di depan dan menunggu di satu titik. Ada kalanya kesendirian membuat kita lebih bisa melebarkan bola mata melihat sekitar. Lebih peduli dan memberikan kesempatan pada kita untuk mengenal tak hanya alam, tetapi juga teman-teman baru yang kita jumpai dalam jalur yang kita lalui. Proses, iya. Proses itu yang selalu bersamaku.

Dalam ingatanku yang baik akan sahabat Hammockers Indonesia yang menjadi teman pendakianku ini, mereka tak pernah meninggalkanku. Keempatnya berperan dengan porsi seutuhnya. Ya tidak selalu harus bersama kan untuk bisa melalui jalur-jalurnya? Terpenting adalah mereka ada di saat yang tepat tanpa aku merasa kehilangan.

Andi, Guntur, Uxzup juga Ioh berbagi serta bergantian menjagaku. Ahh… memang gunung tak pernah berkata bohong. Ia selalu saja bisa membuka karakter tiap manusia yang menjejaki tapaknya diatasnya. Selalu saja kutemukan orang-orang berkarakter disana. Melihat, memperhatikan, dan akhirnya, gunung akan bercerita padaku siapa partner gunung yang bersahabat, khususnya mengerti kondisi partner gunungnya.

Saling melengkapi, mungkin tidaklah gampang karena ada saja kekurangan dari salah satu pihak. Namun mencoba menyelaraskan, itu perlu dipelajari. Karena tak mudah memahami teman jika tak mencoba menjalaninya bersama.

Oiya, tak juga boleh egois, hanya kita yang ingin didampingi. Ada teman lain yang juga butuh partner kita itu. Seandainya mereka dibutuhkan, mandirilah tanpa perlu menjadi seorang jagoan. Sesekali berjalan sendiri seperti yang Guntur bilang pun, ada baiknya kok buat kita. Dan rasakan, partner takkan meninggalkanmu dalam kesendirian. Mungkin pada akhirnya, yang stamina bagus akan merasakan tanggungjawab lebih di saat lainnya sudah melakukannya di awal.

Selamat menikmati jalur pendakian, positif, kemudian bersabarlah dalam bertindak. Sayang kalian! (jie)

***

CATATAN

Aku tak menyangkal kalau kaki ini memang lambat. Siput gunung, kata keluarga gunungku. Sudah tidak bisa dipaksa untuk berjalan cepat, walau ingin. Ditambah pula dengan kejadian 2 tahun lalu (3S tektok), membuatku harus berhati-hati menjaga aset kaki agar bisa terus melangkah memenuhi ruang jiwaku.

Pilihan yang diberikan hanya 2 saja:

  1. Mengikuti saran jalan menikmati gunung
  2. Atau berhenti sama sekali mendaki gunung

Berat? Iya! Jadi kalau bertanya catatan waktu mendaki, jangan padaku ya? Karena aku punya takaran waktu sendiri 🙂

Perjalanan waktu si kaki lambat dari gerbang pos bercat hijau, Gunung Slamet Bambangan ke Pos 1 Gardu Pandang adalah 2 jam.

***

CONTACT PERSON

  • Sewa mobil dari Srayu ke basecamp                 : 0857.8628.7600 – Pak Slamet
  • Waka SAR basecamp Slamet Bambangan    : 0813.9132.9999 – Mas Slamet Ardiansyah

=====================================================================================

TOTAL SHARE COST LOGISTIK

  1. Sayur sop                          : 2.000,-
  2. Timun                               : 5.000,-
  3. Jamur                                     : 4.000,-
  4. Bumbu basah                     : 4.000,-
  5. Mangga                             : 24.000,-
  6. Telur dan teh kantung   : 12.000,-
  7. Ketupat                      : 6.000,-
  8. Kopi hitam                  : 19.500,-
  9. Susu dan biscuit                 : 13.000,-
  10. Air                                 : 9.000,-

Dibagi 5 orang.

***

TOTAL SHARE COST TRANSPORTASI

  1. Ongkos dari Sta. KA Purwokerto ke Pasar Pagi (angkot)                 :  5.000,-
  2. Ongkos dari Pasar Pagi ke Terminal Purwokerto (angkot)               :  4.000,-
  3. Ongkos dari Terminal Purwokerto ke Srayu (bus ¾)                      : 100.000,-
  4. Ongkos dari Srayu (kaki Gn. Slamet Bambangan) ke basecamp : 150.000,-

Dibagi 5 orang.

***

TOTAL SIMAKSI SLAMET BAMBANGAN

Pendaftaran       : 25.000,-

Dibagi 5 orang

====================================================================================

Advertisements

Published by

ejiebelula

I'm just an ordinary person who is always looking for friends, adventures and life stories to complete. it all started from any footsteps, traveling and recording with a cheerful heart notes and a spirit that always accompany my steps toward the so-called ideals of the school also hopes to live through the experience. I will dedicate my heart only for two, red and pink. # Waiting for the right moment for a heart the gift of God

2 thoughts on “Journal Slamet Bambangan: Kisah Riuh Sahabat si Kaki Lambat (4-1)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s