Journey Notes: Zig-zag Gunung Masigit Jalur Cibisoro

Perjalanan bukan untuk sekadar jalur yang dilalui begitu saja. Namun menikmati prosesnya adalah titik tolak dari segala hal yang berkaitan dengan kesenangan dari perjalanan itu sendiri. Bukan itu saja, tim 7 Puncak dimana aku bergabung pun turut menentukan kisah perjalanan ini. Cerita gunung yuuukk…

Tim 7 Puncak bergabung (Doc pribadi)
Tim 7 Puncak bergabung
(Doc pribadi)

***

Kampung Bojong, Cicalengka

18 September 2015

 

Kisah Awal

Pukul 09.10 wib

Tim 7 Puncak Gunung Bandung merapat ke rumah singgah Kang Ferly. Aku sudah tiba di rrumah tersebut sejak pukul 07.30 pagi tadi. Bertemu tim yang sudah lebih dulu mendaki 2 gunung sebelumnya, yakni Gunung Masigit via Ciwidey dan Gunung Malabar, membuat aku memperhatikan wajahnya satu-persatu. Kang Unu sudah memperlihatkan foto-foto tim, siapa saja yang ikut. Jadi aku bisa mereka-reka nama-tim. Untungnya, aku bukanlah orang yang sulit bergaul. Jadi mengenal tim yang baru turun 2 gunung ini cepat saja aku lengket. Hheheh

Sembari aku meng-update info di grup Jelajah Gunung Bandung (JGB), obrolan yang sebagian besar berbahasa Sunda kental itu kusimak. Sedikit demi sedikit aku mengerti walau tak semua kupaham.

Intinya pendakian ketiga bagi tim dan pertama bagiku dalam tim 7 Puncak ini akan dilakukan tektok. Naik turun tanpa kemping. Kali ini jumlah tim terdiri dari Kang Ading, Kang Pepep, Teh Mila, Kang mbok, Kang Ali, Yunita, Kang Ferli dan aku. Tambah 2 orang kan? Iya deh…

Pukul 11. 00 wib

Kami berangkat dari rumah singgah menuju ke Desa Cikolomberan dan menitipkan kendaraan bermotor kami di sebuah rumah penduduk yang menerima kami.

“Di Sunda begitu, Jie. Kalau kita ramah dan sopan pada penduduk, ngga repot kok menitipkan kendaraan,” kata Kang Pepep ketika aku bertanya soal penitipan kendaraan di rumah bapak yang kukira sebelumnya tim sudah pernah datang dan kenal.

Hmm.. adat Sunda lain yang mungkin harus kukenal selanjutnya. Catat di memoriku.

***

 

TANJAKAN 45 DERAJAT

Pukul 11.30 wib

Streching kecil dan berdo’a keselamatan tim kami lakukan sebelum memulai pendakian. Pamit pada pemilik rumah, lalu berjalan ke jalur.

5 menit di awal, belok kanan dan kami memasuki jalur ladang di kanan kiri jalan. Sejauh mata memandang, hijau di dominasi oleh dedaunan kering karena musim kemarau. Menurut ibu Kang Ferly, sudah beberapa bulan, hujan tak kunjung membasahi Desa Bojong ini. Jadi wajar saja jika panas dan sinar mentari terasa menyengat kulitku. Uwooohh… nanas!

Jalur ladang ini jalannya kecil. Hanya jalan setapak. Mungkin untuk penduduk yang akan berladang di atas sana. Ladang-ladang itu kering menguning. Sedikit pepohonan dan kerimbunan. Dan weeeiiii… jalur treknya seperti laiknya pegunungan Bandung, PEDAAAASSS! Aku ya huhah doonkkk…. 2 kali aku perlu berhenti untuk menenggak air putih di botol owl ku.

Oww mak! Panas, terik dan pedas! Wellcome to Bandung mountain, guys…… sudah lama ngga kepedasan ini πŸ˜€

Tak sampai 5 menit dari ladang, aku kembali dhadapkan pada jalur pedas kedua. HAA?? Again?

Yap, dan kali ini ini cukup sekali saja mendongakkan kepala karena tanjakan berundak jelas itu terbilang 45 derajat keatas! Wooowww wooow… salto gunung deh aku! Tanjakan-tanjakan seperti itu selalu membuatku kelaparan! Paraaahh…. hhhahahha

Tanjakan 45 derajat ini sekitar 20 menit perjalanan dan memasuki hutan dengan vegetasi lumayan.

Saranku sebaiknya:

  1. Gunakan sepatu gunung
  2. Pakailah kaus lengan panjang untuk menghindari tanaman berduri yang ada
  3. Pakailah celana panjang, gaiter atau masukkan celana ke dalam kaus kaki guna menghindari besetan ranting yang tanpa sengaja terkena tubuh kita, ataupun benda kecil yang menyelusup masuk di sekitar daerah kaki.

***

Hutan Merunduk

Pukul 11.53 wib

Memasuki hutan, jalur mulai dipenuhi dengan merunduk dan tetap tanjakan-tanjakan lumayan tajam. Di beberapa tempat, kami saling membantu naik dengan bantuan kayu atau treking pole.

Sementara yang sudah biasa, malah santai saja nanjak di jalur tanjakan tajam. Hhehheh aku sadar kaki mah dan ngga mau ngepush juga. Ini kan pendakian awalku ikut kelanjutan 7 puncak. Masih awal dan masih ada beberapa gunung lagi yang harus didaki. Jadi aku harus rajin elus-elus si kaki lambat ini.

Kami terus naik ke dataran yang lumayan luas agar dapat mengistirahatkan kaki sejenak dan melepaskan peluh yang mengalir cukup deras. Tetesan keringat membasahi pakaian dan penutup kepalaku pun, membuat aku harus melepas kaacamata minusku yang selalu kebasahan aliran keringat.

***

Istirahat Miring

Pukul 11.56 wib

Wkkkwkkk.. ngga bisa dikatakan dataran karena kemiringannya cukup membuatku harus bersandar pada pohon yang ada disana. Ngeri merosot euy… πŸ™‚

Ehh, disana sudah agak terasa angin sepoi-sepoinya loohh.. Pepohonannya sedikit jarang, tetapi rindang. Dedaunan hijau dan bunga-bunga pink diatasnya membuat rimbun daerah sekitar kami beristirahat. Harus bergegas jalan kalau ngga mau dibilang malas gerak alias mager. Kang Pepep memberi waktu istirahat pada kami selama 15 menit untuk ngemil.

Tak jauh dari sana, kita akan melewati punggungan gunung dengan pemandangan kota di bawah. Tampak barisan sawah berjajar di bawah sana. Selain itu, dari posisi ini juga terdengar suara mesin pemotong. Entah pemotong apa.

Pukul 12.47 wib

Jalur selanjutnya akan terlihat warna-warni bunga dan daun yang mirip antara bunga putri malu atau daun petai cina. Aku kurang tahu sihh.. soalnya aku lihat gantungan petai cina yang sudah kering ketika aku berjalan melewatinya.

Pukul 13.11 wib

Memasuki jalur petani sadap pinus, kita dihadapkan pada pepohonan berdaun lebar berwarna hijau. Cukup banyak kayu-kayuan kering yang ada di jalur.

Pukul 13.27 wib

Aku kebelet buang air kecil, jadi tim berjalan di muka. Teh Mila menungguku di depan. Setelahnya kami melanjutkan perjalanan dan beristirahat kembali di tempat yang cukup luas.

Di tempat ini, jauh lebih hijau dari sebelumnya. Semilir angin pun mulai bersahabat. Ahhh.. suka!

Pohon, pohon, pohon. Mataku hanya memandang pepohonan yang ada dan cukup menyimpannya di hati. Nanti, tunggu keluarga Hammockers Indonesia, biar bisa ngegantung santai bareng disana. Kalaumlihat pohon, aku selalu kangen mereka. Heeiiii… kalian! Masih berisikmyak di grup upoh?!?? Aku simpan rindu iniiiiii πŸ˜€

***

Kebun Bunga

Pukulm13.35 wib

Wiii wuu wiiiiii wuuu….

Holaaa!! Aku suka berada disini. Kebun bunga kecoklatan emas yang membuatku tersenyum dalam kesendirian.

Hhhaahahahh… deretan bunga-bunga itu begitu cantik di pandangan mataku. Aku memotretnya beberapa kali dalam kamera poketku. Lucu! Ditambah jatuhnya sinar matahari sore yang menelusup memenuhi kebun bunga itu.

Hei, weeyy.. jadi ingat kebun bunga bapa tere di Ciremai Linggarjati euyy πŸ™‚ Apakabar bunga-bunga disana?

***

Puncak Bayangan?

Pukul 13.41 wib

5 menit lagi? Iya donk… Dari kebun bunga tadi, kita akan tiba di puncak bayangan. Dataran cukup luas. Bisa buat nenda disana.

Tampak wilayah itu sudah pernah dikunjungi. Terlihat dari kayu yang sebagian sudah menjadi arang serta ….

Yaaahhh sayang deh. Kenapamya orang malas banget buang sampah? Sebungkus plastik bekas bumbu mie instan tergeletak disana, diantara dedaunan. Kasian kan? Kapan bisa terurai kalau plastik seperti itu dibiarkan nyampah disana?? Dan akhirnya tim JGB juga yang memilih, mengambil dan memungut sampah-sampah plastik yang ada di sekitar. Lalu memasukkannya dalam daypack agar dibawa turun.

Mungkin cukup lama kami berada di puncak bayangan tersebut.

Kang Pepep mencari jalur selanjutnya dengan GPS di tangannya. Tampaknya sinyal melemah dan kami terpaksa menunggu beberapa saat karena tim harus memastikan jalur yang ditempuh.

***

Keputusan Chief

Pukul 15.00 wib

Tak lama, pendakian dilanjutkan. Kami mengambil jalur ke atas. Tetapi di satu titik, kami berhenti dan Kang Mbok serta Yunita yang mengikutinya mencoba mencari jalur ke gunung seharusnya, Mandalawangi.

Jalur itu mengarah ke bawah. Kami berpikir dua kali untuk meneruskan perjalanan mengingat waktu dan perbekalan yang kami bawa.

Kang Ading sebagai Chief of Field menyuruh kami putar arah. Kembali ke puncak bayangan tadi. Pilihan selanjutnya adalah istirahat di oersimpangan bawah atau makan di puncak bayangan tersebut. Karena sudah pada lapar, tim memutuskan untuk charge energi. Kami beristirahat dan makan siang sembari membahas jalur pendakian yang tak tembus ke Gunung Mandalawangi tersebut.

Dan lagi-lagi, aku random dengan bahasa Sunda yang diketengahkan. Hhahhaaha…. akang-akang, aku nda ngerti euy pembucaraannya. Cuma paham kalau kita harus kembali lagi esok hari dengan kondisi fit dan persiapan matang agar gol puncak yang kita tuju, Mandalawangi.

Kang Ading memutuskan kalau kami harus kembali ke rumah sebelum gelap. Teh Mila pun berpendapat sama.

Perjalanan turun gunung kami penuhi dengan tawa karena main perosotan di jalur tanah yang hehheh… aku sih seneng ya main thin sand boarding. Turunannya enak dibuat lari sih.. tapi aku nda berani. Takut meluncur deras turun ke bawah tanpa kendali dan jatuh!

“Pegang batang-batang daun kering ini, Jieee….” Kang Pepep dan Kang Ading menunjukkannya.

“Batang daunnya pehape, Kaaaangg… ngga mau dipegang buat sejenak Ejie ngerem pas turun. Β Serodotan mulu maahh Ejieee.. Enyak, enyak, enyak,” hoohohohho.

Dan tim pun ketularan bahasa itu! Enyak, enyak, enyaaakk… Zerius inihh zeriuuusss…. hhahahaha (jie)

***

Rangkuman

Naik gunung pukul 11.30 wib

Turun gunung:

  • Pukul 15.39 wib dar puncak bayangan turun gunung
  • Pukul 16.20 wib tiba di tempat penitipan motor

***

 

Advertisements

Published by

ejiebelula

I'm just an ordinary person who is always looking for friends, adventures and life stories to complete. it all started from any footsteps, traveling and recording with a cheerful heart notes and a spirit that always accompany my steps toward the so-called ideals of the school also hopes to live through the experience. I will dedicate my heart only for two, red and pink. # Waiting for the right moment for a heart the gift of God

4 thoughts on “Journey Notes: Zig-zag Gunung Masigit Jalur Cibisoro”

    1. waktu itu saya nulisnya setelah turun gunung euy… krn besoknya masih harus naik lagi, jd yg diutamakan nulisnya saja, foto menyusul.

      nanti ya dicari. lupa saya dah, masih ada atau ngga itu foto2. hehheeh makasih sudah blogwalking ya jurnal empat tempat…

  1. Kpn ke mandalawangi lagi bang..??
    Klo mau ke mandalawangi coba jalur dr kampung cinarusa desa mandalawangi bang ,enak ada kebon teh ya klo lwat situ… (Satu2 ya kebun teh di daerah bandung timur) dr kebun teh jalan keatas sekitar 1 atau 2 jam sampe ke puncak mandalawangi (puncak tugu kujang)..hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s