Kasus Tidur si Kaki Lambat

Tidur merupakan salah satu aktifitas yang paling disukai kan? Belum pernah rasanya orang mengeluhkan soal malas tidur. Kalau susah tidur, mungkin banyak. Termasuk saya kalau sudah keasikan menumpahkan kalimat yang terlalu banyak menumpuk di kepala. Hahahahaa.. Mau cerita tentang tidur nih.

Candid-an teman di tab ku, kemarin. (doc pribadi)
Candid-an teman di tab ku, kemarin.
(doc pribadi)

***

Mengistirahatkan tubuh sebagai bentuk kita menghargai raga yang telah beraktifitas seharian, aku rasa wajib. Dengan beristirahat, tubuh akan kembali segar untuk berkegiatan kembali esok hari. Istirahat maksimal adalah saat dimana kita benar-benar bisa merelakskan segala bentuk kehidupan nyata dan mengaburkannya sama sekali tanpa dihinggapi mimpi.

Menurut aku, dengan bermimpi pun, aku merasa bahwa tubuh kita pun belum akan merasa relaks. Justru jika tidak mendengar, tidak merasa dan tidak melakukan apapun, itulah yang dapat dikategorikan sebagai istirahat maksimal. Pernah ngga ya benar-benar merasa seperti itu?

Pernah?

Tidak??

Belum pernah?

Sudah Pernah?

Ahh.. ngga tahu lagi aku sudah ada di kategori mana saja rasa tidurku ini.

Aku mau cerita sedikit tentang tidur yang aku lakukan sejak 2010 lalu. Bukan berkaitan dengan nyenyak, maksimal maupun berkualitas ya, tidurku ini. Hanya saja, ketika itu aku pernah ikut sebuah tantangan aktifitas luar lapangan selama 12 jam dengan waktu istirahat hanya 5 menit setelah masa 6 jam kami melakukan tantangan. Permainan ini disebut Palm Challenge. Dimana sebenarnya pada saat melakukan challenge, kita tidak disarankan tidur, karena kemungkinannya akan gagal mengikuti challenge.

Dari hasil seleksi Jakarta ini, terpilihlah aku, satu-satunya perempuan yang lolos dan bisa mengikuti zona yang lebih besar lagi, tingkat ASIA. Namanya Face off. Ya, disana (Singapore), kontestan akan menghadapi tantangan lebih besar lagi. Bukan hanya secara fisik, tetapi mental. Kenapa mental? Karena untuk memperoleh hadiah, kita perlu bertahan paling tidak sekitar 2 atau 3 hari lebih dengan rekor waktu tertentu diantara 400 kontestan yang bertanding. Dan mental akan berperan dihari kedua hingga seterusnya kesanggupan kita bertahan. Mental jua lah yang akan menentukan batas normal kita dalam challenge seperti itu.

Singkat cerita, aku termasuk orang yang bisa bertahan (memanage kantuk) selama 53 jam 35 menit. Aku ada di urutan kedua (perempuan Indonesia) dari 10 kontestan Indonesia yang turut berpartisipasi dalam ajang tersebut. Kontestan Indonesia lainnya adalah laki-laki. Urutan pertama adalah Frendi, sahabat Palm Challenge ku yang sudah terasa sebagai keluarga. Dia juga mempercayakanku untuk ikut serta ketika tahun berganti karena ada pekerjaan yang harus dilakukannya dan tidak dapat bergabung.

Efek lain yang kuperoleh dari challenge tersebut adalah tidur sambil beraktifitas, aku bisa melakukannya. Sebut, dan aku bisa.

Catatanku:

  • Sambil berdiri.
  • Tidur diantara tumpukan pekerjaan tanpa sengaja.
  • Sambil mengetik tulisan yang sangat aku sukai pun, bisa.
  • Sambil duduk apalagi.
  • Mindik-mindik bobok ketje di toilet lantai berapa di gedung kantor ini juga bisa.
  • Sambil jongkok kalau sudah ngantuk, bisa.
  • Terakhir yang aku ingat adalah tidur sambil nunggu isi bensin!
  • Tidur tanpa sengaja lainnya yang aku lupa ๐Ÿ˜‰

Ehh, cerita isi bensin ini ada 2 loh…

Pertama setelah aku main bersama teman-teman Hammockers Indonesia dan kami (selalu) pulang kepagian. Waktu itu seingatku Ioh, sweeper seblay Slamet Bambanganku sedang isi bensin di pom. Aku mencari posisi bagus buat tidur. Dan tahukah apa yang terjadi? Aku terbangun ketika badanku oleng dan kepalaku terantuk-antuk hampir jatuh!

Ya aku bangunlah….

Parahnya, aku tinggal sendirian tanpa melihat dimana si seblay berada! Hehh.. kemana dia? Mosok ninggalin aku sendiri di pom bensin? Kasihan banget, kan aku?? Syediiihh ๐Ÿ˜ฅ Parno aku!

Satu-satunya cara, aku segera melihat percakapan di telpon genggamku dan segera saja mencari grup negara upoh yang super berisik itu. Ya ampuuuuunnn! Ioh ternyata tidur di toilet sambil nungguin aku yang juga terkantuk-kantuk. Bhhahahaa… Kami berdua ternyata sama-sama menahan kantuk dan mencari cara tidur sendiri. Ya tapi ngga ninggalin juga kali, yoooohhh… aku kan sereeeemmm sendirian. Kan tahu, kalau aku ini parno-an -_-
*getakin si seblay!

Tidur pom kedua adalah ketika aku mengikuti Jelajah Gunung Bandung di Ekspedisi 7 Puncak Gunung Bandung seminggu yang lalu (berlangsung sejak 17 Oktober 2015).

Kang Pepep yang ditugasin Kang Unu untuk ‘mengasuh’ aku ๐Ÿ˜€ mungkin sempat bingung ya dengan kasus tidurku yang terhitung kurang lazim untuk orang sesehat si akang. Bisa bangunin aku berkali-kali hanya karena aku tanpa sadar tiba-tiba sudah jatuh terlelap entah ke negeri mana. Maafin Ejie ya, Kang? ๐Ÿ™‚

Rasa ngantuk berlebihan ini ya ngga bisa kutahan kalau sudah datang masanya. Jika ada kesempatan, selalu saja si kantuk menyerbu masuk menerobos pintu-pintu pertahanan mata dan syarafku. Membelenggu ruang bawah sadarku untuk segera menghampiri kelambu di alam sana.

Kasus tidurย si kaki lambat ini, seringkali membuat Kang Pepep mungkin bingung ya melihat aku. Dalam kondisi bagaimana aku bisa dengan santainya tidur tanpa berpikir 2 kali mungkin. Beruntungnya, bahwa orang-orang yang bersamaku , barangkali (memaksa) mengerti kenapa aku bisa tiba-tiba tidur.

Buatku tidur ya ngga harus pakai alasan khusus, kan? Malah kalau bisa istirahat itu, akan semakin menambah baik kualitas tubuh kita, bukan?

***

Tentang si tidur ini, ada cerita yang membuatku jadi aku suka karena seseorang menyampaikan kekhawatirannya mengenai kasus tidurku. Khawatir karena tidurku yang mendadak. Khawatir karena otomatis, aku bisa tidur dimanapun dan dengan kondisi apapun. Dan ia menyampaikannya dalam sebuah pesan.

“Tapi sejak tau gitu malah jadi khawatir mengetahui Ejie gini. Gimana kalau di tempat lain? Sama orang berbeda? Apa suka tidur sambil berdiri juga??”

Aku menjawab pesannya dengan, “Ya tidur aja berdiri, duduk, terserah gimana aja pas ngantuk.”

Aku senyum dengan kekhawatiran itu. Ya mau bagaimanalagi ya? Kantuk kalau ditahan, kan bingung deh.

Yang membuat aku tersenyum lebih dalam adalah ketika ia menanyakan hal berikut, “Ya kalau tempat ngga apa, orang yang jadi masalah.”

Ge-eR? Mmmm… tepatnya ya senang. Soalnya lama banget ngga ada yang peduli pada hal-hal begitu ke saya. Biasanya orang yang mengenal aku, ngga lain selalu bilang aku ganteng. Padahal perempuan. Atau kalau ada yang mau ngegunung, main ajak, “Ejie berangkat,” atau nanti kalau ada teman baru yang kemayu, “Ejie ikut. Ada teman baru. Ejie kan gada manis-manisnya perempuan.”

Pasrah kan aku kalau sudah begitu teman-temannya? Mau ngga mau ya ikut, berangkat, packing, jalan. Demi mereka mah, apa sih yang ngga kujalanin? Lagian mereka mah ngga pernah ninggalin aku. Sudah sangat terbukti sebagai keluarga gunung solid!

Hhahahaa… cuma aku kok ya ga pernah manis sih menurut mereka? Kasihan kali lah akuuuu ๐Ÿ˜€ Padahal kalau makan ngga pernah nyusahin karena ngga makan nasi juga. Makan apapun yang tersaji kecuali nasi. Begitu juga kalau pas jalan nanjak. Ngga pernah ngeluh sedikitpun karena menurut mereka, aku mampu.

Naaahh… jadi ngga salah juga donk kalau ada yang merasa khawatir pada tidurku itu bukan? Yang membuat aku merasa, masih ada orang disana yang peduli, khawatir dan sayang sama kantukku yang tak bisa dibendung itu? Ahh, ngomong-ngomong sayang, aku jadi berasa tambah sepi euy.

Ahh sudahlahhh…

Bukannya sudah biasa sendiri? Hayuuu Ejieeee… kata yang khawatir itu, aku harus kembali setrong (strong is kuat, red). Katanya, “Kembali jadi Ejie kuat tukang main ke sana kemari seperti pertama kita ketemu. Ejie yang menebar senyum dan tawa ke setiap penjuru ruangan.”

Sweet ya?

Ahhh.. kasihan lagi kan akuuuuuu…
Tambah sedih, ada yang perhatiin tapi ngga boleh kan?
Tambah sepi, ada yang perhatian tapi aku harus bagaimana ya?
Tambah sendiri, ada yang begitu sabar tapi aku jangan… jangan.. jangan deh
*apa sih Ejie?

Ahh sudahlah..

Kemudian lara menggenang
Menghabisi setiap detik berharganya
Menabur setiap asa dalam relung jiwanya
Menghantam jiwa yang terendapkan oleh dukaย 

Sendiri bersama angan
Sendiri bersama rasa
Sendiri bersama nelangsa
Sendiri namun tak sendiri

Terima kasih, kamu (indah dalam langkah diam)

#7hariselamanyaย 

***

Wuaaaaaa…

Percayakah bahwa saat aku menuliskan ini, beberapa waktu sebelumnya, aku tertidur di meja kantor depan komputer? Aku janji ketemu teman sail dan lihat perkembangan teman hammockers karena mau bicara soal event November mendatang. Terbangun karena kaget dan terasa sakit di pundakku yang kemarin bermasalah.

Hahhahhaa… ampuuunn…

Sumpah ini mata benar-benar ngga bisa dikoordinasikan dengan baik. Asal tidur! Kalau sudah begini, aku jadi teringat pada satu masa, dimana akan ada seseorang yang dengan sabar membangunkan dan mengingatkan aku agar terjaga. Lebih berarti bahwa ia akan menjaga ketidaksadaranku dengan kesabaran dan sentuhan sabarnya.

Ahh.. sudahlaaaahhh….

Pulang, Ejie! (jie)

***

 

Advertisements

Published by

ejiebelula

I'm just an ordinary person who is always looking for friends, adventures and life stories to complete. it all started from any footsteps, traveling and recording with a cheerful heart notes and a spirit that always accompany my steps toward the so-called ideals of the school also hopes to live through the experience. I will dedicate my heart only for two, red and pink. # Waiting for the right moment for a heart the gift of God

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s