Journey Notes: Beku Seminggu Diuji Gunung Burangrang (JGB 5.1)

Gunung yang kering!
Pandangan pertama aku tentangnya. Bukan saja masker yang harus selalu kugunakan setiap saat, tetapi merasakan yang berbeda pada gunung ini saat mendaki. Kesepian? Sepertinya, ya! Dan itu berdampak padaku ketika naik. Menahannya dan tidak tertahankan ketika turunan. Ada apa?
Ceritanya aku pecah saja ya karena aku bisa menulis hanya diawal saja. Selanjutnya mandeg dan aku benar-benar butuh bantuan penyegar ingatan 😀
Tulisan puncak pada tugu Gunung Burangrang. (doc pribadi)
Tulisan puncak pada tugu Gunung Burangrang.
(doc pribadi)
 ***

Before:
/journey-notes-mendadak-5-puncak/
/journey-notes-zig-zag-gunung-masigit-jalur-cibisoro/
/journey-notes-tanjakan-penuh-gunung-mandalawangi-jgb-3/
/journey-notes-gunung-sahabat-bukittunggul-jgb-4-1/
/2015/10/29/journey-notes-lampu-hijau-di-turunan-gunung-bukittunggul-jgb-4-2/

***

PROLOG

Dari kesemua gunung yang sudah aku kunjungi di Ekspedisi 7 Puncak Gunung Bandung ini, hanya pada Gunung Burangrang inilah aku mengalami yang namanya mandeg menulis. Mandeg apanya? Otak aku beku!! Arrrgghhhh..

Aku sudah menuliskannya sejak Jum’at lalu (30/10/2015). Tengah malam adalah saat biasanya otakku dengan lancar akan mengalir deras menumpahkan segala keinginan menulisku yang kadang tak terbendung. Menumpahkan apa yang aku lihat hanya dengan memperhatikan foto hasil jepretanku tentang jalur dan segala hal yang kulihat dalam pendakian. Segala hal yang kudengar dalam prosesnya. Segala hal yang menjadikanku bisa dengan mudah menuangkan dan menjabarkannya menjadi bentuk cerita ala si kaki lambat.

Alasan lainnya adalah ketika aku juga tersendat dengan beberapa foto yang tampaknya corrupt karena sesuatu hal. Untuk ini, aku meminta tolong pada teman mendakiku, Yunita Risdiyanti membantuku dalam menambah foto pendukung sebagai pengingat memoriku. Dan ia baru teringat hari ini  (04/11/2015) juga sih dan segera mengirimkannya padaku. Hheheehe…

Lama kan ya? Seminggu ternyata prosesku menulis Burangrang dan belum bisa selesai secara keselurahan.
*sabar ya, Jieee….

Kemudian, karena aku juga tak bisa maju menulis dan masih harus merecheck tulisan, aku bercerita pada Yunita yang kupanggi, Ta.

“Ta, ini Burangrang susah banget Ejie nulisnya. Paling susah diantara lainnya. Ini gunung berasa beda buatku. Mandalawangi susah jalurnya, tapi menuliskannya bisa lancar. Berbeda dengan Gunung Burangrang ini. Susah, sampai nyangkut-nyangkut otak Ejie,” tulisku pada jalur pribadi dengan Ta.

“Kan sedikit personil yang naik, cuma bertujuh,” katanya.

“Iya, sepi ya, tapi enak dan sedih! Wkwkkk… susah gambarinnya,” ujarku.

Ta menjawab, anteng, “Hmm… mulai pertanyaan pertama dalam otak Ejie, apaan?”

Dan aku menyebutkannya:

  1. Gunungnya kering?
  2. Gunungnya sepi?
  3. Gunungnya sedih?

Seketika itu jari-jariku lancar mengetik pada keyboard hitam di depanku. Alur cerita dan gambaran mulai kudapat. Aku terus bertanya dan meminta ia bercerita sembari aku menuangkan otakku dan bantuan memorinya dan ia membantuku dengan tetap bercerita. Menambahkan kisahku yang sesekali kupunya dari hasil bercerita dengan Kang Ading, Teh Miliatri dan Kang Pepep ketika dalam pendakian, turunan, maupun saat aku memerlukan jawaban melalui jalur pribadi. Ta membantuku mengingat dan berbagi beberapa cerita yang diketahuinya.

Dan kini aku mulai berkisah… Melanjutkan tulisanku yang tersendat si otak beku! 😉

***

KISAH MOTOR MUKA FLAT

Basecamp Pak RW Pasir Angling
Pukul 16.25 WIB


Kami berkendara dari basecamp Gunung Bukittunggul ke rumah dinas Kang Unu di wilayah Lembang, sehari sebelum pendakian ke Gunung Burangrang. Perjalanan dan pendakian inilah yang kami jalani hampir seperti rutinitas tiap harinya. Aku mulai terbiasa dengan kondisi perjalanan ini, walau kadang harus berusaha mengurangi keinginan parah kantuk yang tak bisa kutahan.
*weeyy.. penidur asal, bangun! 😛

Dalam perjalanan ke tempat selanjutnya ke kaki bukit Gunung Burangrang, banyak juga loh kejadian yang kadang bisa menjadi cerita pengantar. Seperti ketika itu, karena Kang Pepep terbiasa menjaga, urutan kendaraan kami selalu menjadi yang terakhir. Kebiasaan yang baik, karena intuisi seperti itu biasanya alami terjadi.

Beruntung juga karena akhirnya kami sempat melihat Kang mMbok yang berhenti dan meninggalkan Kang Ali sendiri. Ternyata ban motor Kang Ali bocor, tertusuk paku. Kang Mbok bukan ninggalin, tetapi ia mencari tempat terdekat buat nambal ban motor Kang Ali. Setelah dapat, kami menemani Kang Ali yang mendorong motornya itu.

Aku ya, kebiasaan banget ngga bisa lihat hal-hal yang tanpa sengaja terjadi. Otomatis aku langsung bilang pada Kang Pepep yang selalu sigap bertindak.

“Kang, foto kang. Dokumentasiin itu Kang Ali yang dorong dan Kang Mbok yang ngiringin,” pintaku.

Aku gimana ya? Bukannya mau ketawa, tapi jujur, ini kita sudah lelah mungkin, ehh, ditambah ada musibah begini. Tapi sewaktu aku lihat rekaman video Kang Pepep, jelas aku ngga bisa menahan ketawa. Dan itu diulang Kang Pepep sambil aku melihat Kang Ali dan muka flatnya itu. Kang Ali lucu mahhh ngga usah pakai komentar jugaaaa… Ahaahhahha..

E sayangnya, aku ngga punya dokumentasi foto atau videonya. Semua ada di Kang Pepep sih. Lupa terus Ejie mau minta dikirimin dah.

Karena terbiasa laporan, langsung saja aku mengabarkan kondisi ini pada Kang Unu. Supaya tahu saja posisi kami dan kenapa kami terpisah dari rombongan lainnya. Soalnya Kang Ading dan Teh Miliatri sudah jalan di depan dan ngga tahu menunggu kami dimana.

Sewaktu sedang nambal ban, aku tanya Kang Pepep untuk mengabarkan ke Kang Ading dan Teh Miliatri juga soal motor ini.

***

Info pada papan penunjuk ke gunung. (doc pribadi)
Info pada papan penunjuk ke gunung.
(doc pribadi)

Jalur Burangrang Ditutup

Desa Tugumukti
(Lupa tanggal nanjak)

Hari selanjutnya ~

Iringan kendaraan motor kami memasuki wilayah Desa Tugumukti. Aku masih belum bisa mengingat jelas arahnya. Yang aku ingat, kami melewati satu daerah yang juga bisa dilewati, yakni jalur komando. Perjalanan dari basecamp termakmur kami, yakni rumah dinas Kang Unu ke basecamp rumah Pak RW Desa Tugumukti berjarak kurang lebih 30 menit.

Sesampainya disana, Kang Pepep membuka pembicaraan awal dengan Pak RW disana. Ehh, maaf, aku lupa namanya dan belum ada konfirmasi dari Kang Pepep soal ini. Tanya Kang Ading, rupanya doski lupa juga, ngga tau namanya. Malah disuruh nanya ke Kang Pepep -_-  . Ehh, Kang Pepep juga ngga tahu denk nama bapaknya. Alhasil, aku posting saja pertanyaan di grup Jelajah Gunung Bandung dah 😀

Heeiii… dapat!

Postingan aku akhirnya dijawab oleh Kang Adis. Nama Pak RW adalah Pak Erka dan aku juga dikasih nomor telpon Pak Erka loohh.. Ya siapa tahu ada yang mau naik kesana dan butuh informasi kondisi gunungnya apakah aman untuk didaki. Ini nomor telpon Pak Erka, 0858-6141-9330.

Dari hasil pembicaraan (lagi-lagi) Bahasa Internasional Sunda yang tak kupahami, jalur yang akan kami daki ini ternyata habis terjadi kebakaran sebelum kami kesana.

“Intinya semua pendakian ke Burangrang ditutup sementara, tanpa terkecuali. Kecuali para relawan yang mau membantu memadamkan kebakaran. Karena sebelumnya kita sudah pernah kesana dan jadi relawan, makanya kita dikasih izin buat naik,” jelas Kang Ading dalam pesan jalur pribadinya.

Kita terdiri dari Kang Ading dan Kang Pepep yang sempat menjadi relawan beberapa bulan lalu.

Bukan maksud kami untuk ngeyel (bandel, red) bersikukuh tetap naik gunung dengan kondisi gunung seperti itu. Tetapi meluruskannya dengan mengubah niat dengan maksud membantu cek lapangan boleh, kan? Dan itu kami lakukan. Karena dicerita selanjutnya, aku akan bercerita atas dasar pandangan mata Yunita, the summiter.

Sesungguhnya niat baik akan direstui gunung dengan bantuan-NYA. Seperti niat kami yang turun gunung juga sambil operasi bersih hampir di tiap turunan, kan? Bahwa gunung akan menjaga jejak langkah kami nantinya..

Makanya pas berdo’a sebelum naik, Kang Pepep menyelipkan kalimat yang mengatakan bahwa tujuan kali ini selain melengkapi Ekspedisi 7 Puncak Gunung Bandung, alasan utamanya diganti membumi dengan ikhlas menjadi relawan untuk cek dan membantu memadamkan jika melihat apapun yang berkaitan dengan asap dan kebakaran. Dan ini adalah awal dari rasa pendakian gunung kering, sepi dan sedihnya Gunung Burangrang bagiku si kaki lambat.

***

Jalur Komando

Gunung Burangrang ini  merupakan perbatasan antara Purwakarta dan Bandung Barat. Gunung ini juga masih satu rangkaian dengan Gunung Tangkuban Parahu dan Gunung Bukittunggul, termasuk dalam jajaran Gunung-gunung Sunda.

Hasil letusan dari Gunung Sunda Purba ratusan tahun lalu ini, diperkirakan diatas ketinggian diatas 3.500 Mdpl. Tak hanya itu, Gunung Burangrang, Gunung Manglayang dan Gunung Tangkuban Parahu pun sama, terbentuk dari letusan gunung tersebut.

Penunjuk batas 2 kabupaten. (doc Yunita R, the summiter)
Penunjuk batas 2 kabupaten.
(doc Yunita R, the summiter)

Kang Ading dan Teh Miliatri sempat bercerita padaku. Kang Ading bercerita ketika mendaki, sedangkan teteh bercerita padaku saat aku tengah menahan sakit di turunan gunung tersebut.

Menurut Kang Ading, jalur komando adalah jalur yang hampir lumayan sering dipakai untuk mendaki. Treknya memang lebih panjang dan lumayan landai. Kebanyakan orang lewat jalur tersebut. Ditambahkan Kang Ading, Gunung Burangrang ini juga kerap digunakan sebagai gunung latihannya para militer. Hoo? Jadi teringat cerita Kang Dede di Kampung Cihuni, Purwakarta soal Gunung Parang yang climbing dan gunungnya juga sering digunakan untuk latihan militer deh.

Dari jalur komando itu, kita akan mencapai ke puncak (bayangan mungkin). Disana ada tugu juga. Bisa berfoto dan melihat pemandangan Situ Lembang dari sana.

Ketika naik, aku tidak berjalan kearah tugu dimana kita bisa melihat Situ Lembang. Hanya Yunita, Kang Mbok dan Teh Miliatri yang berjalan kesana. Padahal ngga sampai 10 menit mungkin kearah puncak tersebut kalau dari Puncak Burangrang sebenarnya. Entah mengapa aku merasa kering melihat puncak Burangrang waktu itu.

Turunan kearah puncak bayangan pun, enak. Bonus jalan santai lah. Hanya terlihat kering saja dengan tanah coklat yang berdebu itu. Daun-daun kering di kanan-kirinya semakin menambah jelas, bahwa gunung itu memang habis mengalami musibah kebakaran, beberapa hari sebelum kedatangan kami kesana.

Jalur Komando ini cenderung seimbang, ada naik dan turunnya serta banyak pos peristirahatan.

“Disana ada yang namanya Tanjakan Baeud,” kata Kang Ading.

Aku jelas menangkap itu Bahasa Sunda, “Kenapa dengan tanjakan itu, kang?”

Dijelaskan Kang Ading, Baeud artinya cemberut, karena jalurnya itu ibarat dengkul bertemu dengan hidung. Waaaa… rapat ya seperti Gunung Cikuray, kah? Enyak, enyak, enyaaakk… jalur ujian deh yaaa?? Harus coba nanti lain waktu 😉

Di Jalur Komando, terdapat sekitar 5-6 pos. Bukan pos juga, hanya berupa berupa dataran yang bisa digunakan sebagai tempat beristirahat setelah tanjakan. Dan menurut Kang Ading, ngga ada plang penanda pos atau jalur disana. Seperti jalur Legok Haji yang kami lalui saat itu, dimana pemasangan plang pos nya pun masih baru.

***

Jalur Wanayasa (Purwakarta)

Sementara Teh Miliatri menceritakan mengenai jalur di sisi sebelahnya, di kiri kalau kita mulai mendaki. Jalur kiri itu lumayan teduh juga, dan banyak pohon. Hanya agak tipis dan berupa jalan setapak. Ngga bisa jalan beriringan katanya.

Di jalur itu, bila kita berjalan hingga ke puncaknya, maka akan menemukan plakat pendaki yang beberapa saat lalu pernah meninggal. Cek beritanya di om gugel yak? 🙂

Oia, informasi dari Kang Ading, melewati jalur ini, kita bisa mendatangi dan mensinggahi 4 puncak lagi dari puncak utama yang berada di Jalur Legok Haji. Keren ya? Mau donk Ejie nanti kapan gitu diajakin lagi kesana dengan jalur berbeda. Wanayasa atau cicipin tanjakan baeud di Jalur Komando ya?
*sssttt… fokus, jie! Nanti lupa lagi looohh nulisnya 😛

Informasi mengenai jalur Wanayasa (Purwakarta) ini baru sedikit kudapatkan. Hanya bercerita sekilas saja dan kebanyakan kurang menjelaskan seperti apa jalur atau kondisinya disana. Kalau cerita gunungnya secara global mah banyak. Atau tentang waduknya. Malah menurutku, informasi sedikit namun jelas ya kuperoleh dari akang-akang dan teteh-teteh juga si kangteh (ehh..) di Jelajah Gunung Bandung. Hmm… memang ngga salah pilih kan ya?

Sudah-sudah…

Penggalan kisahnya Ejie tutup sampai disini dulu yaaa.. Ejie ngantuk dan ini sudah lewat dari jam malam Ejie nulis. Belum packing buat ke gunung selanjutnya ini. Nanti pak guru keluar dan saya bakal bingung mengerjakan tulisan ini berikut lampirkan foto pendukung tulisannya.
*ngigau

Nanti kita bercerita kembali deh. Oke, sip, DEAL!

Selamat bobok ikan, Ejie!
*iya, Ejie kangen kedalaman lautan niiiihh…. ^_^

 

***

Rasa Ejie

Dan awal dari kisah gunung yang kering, sejak awal di rumah Pak RW, menjadi pengiring langkah selanjutnya. Mulanya memang tidak terasa. Tetapi semakin ke atasa berjalan, melihat selama di pendakian. Berkisah pada akar dan tanah keringnya, semua kisah dimulai.

Rasa menempatkan pada ruang jejaknya
Rasa menentukan pada tiap langkahnya
Rasa menjemput kisah yang terendap
Rasa menari pada kaki ke tujuh

Dan aku mendengarkan…..

Selamat dinihariiiiii… (jie)

***

Selfie yang menjadi kebiasaan? Hahhahaaa.. LUCU! (doc Yunita R, the summiter)
Selfie di puncak yang menjadi kebiasaan? Hahhahaaa.. LUCU!
(doc Yunita R, the summiter)

 

Advertisements

Published by

ejiebelula

I'm just an ordinary person who is always looking for friends, adventures and life stories to complete. it all started from any footsteps, traveling and recording with a cheerful heart notes and a spirit that always accompany my steps toward the so-called ideals of the school also hopes to live through the experience. I will dedicate my heart only for two, red and pink. # Waiting for the right moment for a heart the gift of God

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s