Hammock Ber-obat Tidur di Puncak Bintang dan Taman Lansia

Bermain di Puncak Bintang bukan berarti bisa bebas kumpul bersama Keluarga Upoh yang lucu dan selalu membuatku tertawa lepas. Bukan, bukan karena tak ada waktu, tetapi karena aku sayang mereka, maka berkorban waktu demi mereka yang ceria, ya aku rela. Ngga bisa hammockan puas pun, aku ikhlas deh…. Ihh, NGANTUK!

4

***

Taman Lansia, Bandung
Nov 09th, 2015

GODAAN HUJAN

Tanpa dinyana, tetes air hujan rintik dingin itu jatuh tepat di mataku yang hangat. Iya, hangat karena sebelumnya aku masih merasakan mentari pagi yang menyapa manset hitamku. Terbungkus dalam hammock ceria berwarna hijau pucuk daun pisang dan biru langit, membuatku lupa akan waktu.

Kaget karena ingat ucapan Mahesa, kakak guru freedive ku kalau di Bandung beberapa hari belakangan terhitung pukul 12 siang, sering turun hujan.

Aku memang sengaja tidak membawa flysheet agar tetap merasakan udara segar Kota Bandung ini sebelum kembali ke Jakarta, kota padat merayap yang tetap kurindukan dengan segala kemacetannya. Kan sekalian bisa melihat aktifitas sekitar juga, hhe..

Sigap, aku loncat dari hammock ceria ini. Melepaskan tali yang terikat pada pohon, menggulung hammock, kemudian memasukkannya dalam kantung bawaanku. Segera bergegas merapikan segala barang yang kubawa, daypack berikut tas selempangku, lalu berjalan santai ke arah nasi timbel, tempat Kang Gelar menitipkanku disana sebelum ia mengajar pagi itu.

Kok santai? Kan hujan, Ejieeeee…..

Ehh, nda apa, nda apaaa…. Aku suka hujan kok. Suka dengan rintiknya. Rintiknya yang mengingatkan langkah diamnya yang menenangkan. Ahh, sudahlah…

***

Taman Lansia di arah sebaliknya. (doc pribadi)
Taman Lansia di arah sebaliknya.
(doc pribadi)

TAMAN LANSIA

Event keluarga Hammockers Indonesia Regional DKI Jakarta dan Regional Bandung di Puncak Bintang, Bukit Moko (7-8/11/2015) selesai. Aku masih berniat main dan beristirahat menenangkan otakku yang full.

Singkatnya aku tinggal karena ingin membayar hutang atas hammock yang belum sepenuhnya kunikmati di Kota Bandung ini. Udara segar yang memenuhi paru-paruku belumlah cukup. Perlu beberapa tarikan nafas lagi untuk melengkapinya.

Tersebutlah, pagi itu, Kang Gelar harus mengajar di tempat kerjanya. Aku memintanya untuk mengantarkanku ke tempat dimana aku bisa bergelantungan bebas sembari menuangkan hasrat keinginan menulisku yang sudah di ujung ubun-ubun. Aku sudah tak sabar!

Kang Gelar mengantarkanku ke Taman Lansia di Jl. Diponegoro yang berjarak sekitar 10 menit dari Jl. Gagak, rumahnya. Disana ada Gedung Sate, ada pula Museum Kantor Pos Indonesia dan Museum Geologi. Tadinya mau main ke museum-museum itu sekalian bisa buat laporan ke kantor, tapi ajakan pohon yang menarikku agar bergelantung, tak kuasa kutampik. Disamping mataku yang sudah tidak bisa ditolerir juga sih. Ngantuk berat! Hahhhaa..

Sebenarnya sih karena rasaku pada keinginan ber-hammock yang lebih dominan membuat aku berpikir, nanti saja ke museumnya. Hhehe.. maaf ya museum. Aku sedang ingin menikmati rasaku sendiri saat ini.

Aku dititipkan Kang Gelar pada saudaranya yang memiliki warung nasi timbel. Mungkin karena aku memang sangat buta peta ya, makanya dititipkan. Tapi ya lumayan, kalau lapar atau haus, aku bisa beli minuman disitu. Soalnya tadi mataku sudah melihat buah dan tulisan jus disana. Amaan…

Aku berjalan mengelilingi Taman Lansia tersebut. Berbentuk memanjang dengan garis tengahnya adalah kawasan air. Taman ini buka 24 jam. Terdapat toilet umum yang bersih disana dijaga oleh pasangan suami istri yang mungkin berdomisili tak jauh dari taman tersebut. Fasilitas lainnya adalah tersedianya wi-fi gratis disana. Menurut Kang Gelar, untuk bisa mengakses data internet dan bisa menggunakan wi-fi secara gratis, kita cukup membeli paketnya di Kantor Telkom terdekat yang berada di kawasan tersebut. Selain itu juga ada kolam dan taman bermain bagi anak-anak.

Taman di kota Bandung, lumayan banyak. Masing-masing taman memiliki tema tersendiri. Berada diantara jalan Cisangkuy dan Cilaki karena memang terletak di pertigaan jalan. Tepatnya Jl. Cisangkuy, Bandung Wetan, Kota Bandung, Jawa Barat 40123. Ada tempat duduk yang terbuat dari besi, semen yang dibentuk, juga dari bangku kayu biasa. Taman Lansia ini bersih dengan jalan yang rapi. Banyak orang berolahraga disini.

Hammock dan sekitar Taman Lansia. (doc pribadi)
Hammock dan sekitar Taman Lansia.
(doc pribadi)

Yang menjadi pandangan mataku adalah pohon-pohon yang ada disana. Kata Kang Gelar mah, gelantungan disana bebas, ngga perlu khawatir bakal digusur.

“Soalnya taman itu memang sering banyak komunitas juga yang beraksi. Pushing Panda juga kalau latihan disini. Antara Jum’at hingga Minggu. Hari lain mah, mereka off,” jelas Kang Gelar.

Di Taman Lansia ini terdapat 2 buah danau buatan yang berfungsi sebagai salah satu pengendali banjir. Jadi pada saat hujan besar, danau buatan ini bisa menampung kadar air berlebihan dari curah hujan. Sekarang pun sudah memasuki musim penghujan. Aku tidak terlalu banyak memotret fasilitasnya, karena fokus mataku adalah pohon. Hahhhaha… Ejie ngantuk ya??
*takut tiba-tiba tidur sambil berdiri, euyyy 😀

***

TERLELAP DI HAMMOCK BINTANG

Jari-jariku sibuk berkutat dengan tablet yang selalu bersamaku. Merangkai tiap kalimat, mengemas setiap rasa yang melintas dalam otak luberku. Sesekali aku mengalihkan perhatian pada pesan-pesan masuk di beberapa sosial media. Atau memposting aliran otakku yang kadang tak terbendung. Gatal kepengin membuat postingan singkat.

Hmm… mengingat belum puasnya aku bermain maupun tidur di hammock ketika di Puncak Bintang, Bukit Moko kemarin, tentu saja aku memanfaatkan segala inginku untuk mencicipi hammock yang baru saja kuterima dari sweeper sahabat Bambanganku, Uxzup.

Puncak Bintang ini, tempat wisata dengan banyak pepohonan pinus di dalam kawasan yang berdekatan dengan Bukit Moko. Masuk kesana bila berkunjung saja, akan dikenakan tiket sebesar 10 K. Sedangkan bila kemping, akan dikenakan tiket 15 K. Terletak di Dago Utara (Bandung), kawasan ini sangat terkenal dengan city lightnya jika malam hari. Lampu kota akan tampak dari Puncak Bintang tersebut.

Dari Puncak Bintang ini pula, jika cuaca baik dan tidak berkabut, maka kita bisa melihat sunrise cantik disana. Banyak juga yang mengambil moment ketika itu. Maka tidaklah heran jika menanti sunrise adalah saat yang paling ditunggu jika bermalam disana.

Oiya di malam sebelumnya ketika di Puncak Bintang, saat semua orang sudah terlelap terbang ke alam mimpinya, aku baru beres-beres naik ke peraduan homy hammock. Aku harus mencoba tidur di commoc hammock ini. Warna cerah yang membuatku bersemangat dan selalu tersenyum ini, bikin aku ngga sabar tidur!

Haa?? mau tidur? Sudah jam berapa memangnya? Kulirik jam di tangan kiriku. Pukul 03 dinihari!

O my gosh…. Mata sudah sangat mengantuk, badan pun terasa letih, namun otakku tetap saja berjalan mempersiapkan apa yang harus kulakukan 2 jam ke depan. Ya ampun, ya ampuuunn… Aku harus segera tidur ini, menutup mataku yang tak juga beristirahat. Dan disela-sela aku yang melayang, Mardi memanggilku 2 kali menanyakan apakah aku sudah tidur? Hahhaha… iki piye? Aku mau tiduuuuuurrr… Mardiii :’)

Ehh, ternyata aku tak kunjung bisa tidur karena hanya berlapiskan matras alumunium, jaket biru kesayangan bersama si pink yang pakai dua lapis, serta sol, thermal bivy milik Ioh, sweeper sahabat seblay bambanganku juga. Lah, sleeping bag (SB) nya mana? Ya mungkin penyebabnya adalah SB, aku jadi tak kurang bisa nyenyak tidur.

Pluuung!

Apa itu? Sesuatu jatuh di pangkuanku.

“Pakai ini, nyak!” suara Mardi, “Sarung,” tambahnya lagi. Wkkkkw… aku ya nyengir dah.

Pertama ingat sebutan nyak yang terinspirasi dari seringnya ia membaca tulisan-tulisan dalam blog yang menceritakan tentang adik gunung yang menganggapku sebagai penglihatan ibunya yang telah tiada. Cengiran kedua adalah tentang sarung yang dilemparkan Mardi, ternyata adalah SB. Bhahhahaaaa…. dasar Mardi. Memang usil sedari berangkat sudah ngerjain Ejie terus!
*jitak nih… jitaaaaaakkkk ^_^

Ehh, sudah ahh.. kan mau tidur. Mosok celotehnya ngga berhenti sih? Kan mau bobok cantik di hammock?

Tahukah? Setelah adzan Subuh berkumandang dan aku harus turun lagi, setelahnya, barulah aku terlelap hingga aku merasa ada yang mengayun-ayunkan si blue green ini.

“Heiiii! Kalian usiiiilll!! Masih mau nyenyak iniiiii…. ” teriak bathinku yang tetap tidak bisa marah atas segala keisengan para pasukan rusuh di keluarga upoh Hammockers Indonesia Regional DKI Jakarta itu. Hhhhhh… merekaaa.. aku sayang!

***

Kakak Iramak yang tertidur di hammock aku tatkala hujan berseru di Puncak Bintang. - diambil setelah bangun tidur - (doc Irma Kusuma Dewi)
Kakak Iramak yang tertidur di hammock aku tatkala hujan berseru di Puncak Bintang.
– diambil setelah bangun tidur –
(doc Irma Kusuma Dewi)

IRAMAK dan TIDUR KEDUAKU

Kembali aku mengetikkan sejumlah kalimat. Pagi itu cuaca bersahabat dan udara cerah dengan langit birunya. Sinar mentari pagi menghangatkan tubuhku. Aku masih saja duduk menulis sembari memperhatikan orang yang berlalu-lalang berolahraga di depan tempat bergantunganku. Sejumlah orang melihat aktifitasku, lainnya cuek saja, tetap berolahraga.

Warga yang sedang berolahraga di sekitar taman. (doc pribadi)
Warga yang sedang berolahraga di sekitar taman.
(doc pribadi)

Di seberang, kulihat kedai saudara Kang Gelar mulai terlihat aktifitasnya. Beberapa orang duduk dan memesan makanan, nasi timbel yang kelihatnnya sangat menggoda selera makan itu. Dihidangkan dengan teh tawar hangat yang diantarkan kepada para pembeli. Aku asih memperhatikan ketika tiba-tiba saja, badanku melorot hingga sebagian commoc hammock ini menutupiku.

Masih mengetik dan tersenyum-senyum melihat chat yang ada di grup upoh, keluarga super berisik itu yang selalu saja menyuruku pulang jika aku berpisah sejenak dari mereka. Mereka itu memang ngangenin yak? Benar deh lagu RAN itu. Jauh di mata namun dekat di hati. Begitukah?? Hhehehehee…

Aku masih mengetik dan voila!

Aku tak ingat apapun selain tiba-tiba rintik hujan menjatuhkan pilihannya pada mata hangatku tadi. Seakan memberi kode agar aku segera bangun dan bergegas membereskan hammock ber-obat tidur yang melelapkanku beberapa jam ke belakang.

Waaaaaaa….

Hammock ber-obat tidur?!?!!

Iya. Kata kakak Iramak sih begitu. Dia juga tidur lama di dalam hammockku. Terlelap hingga 3 kali aku menghampirinya, iatak kunjung bangun. Pertama untuk melihat keadaannya yang aku khawatirkan karena ia kelelahan akibat tronton goyang. Kedua ketika aku menghampirinya dan memberikan minuman kacang, namun ia tak juga bangun dan meminumnya. Ketiga ketika aku menyelimuti dan menutupinya denga hammock lebarku itu tanpa ia merasa terganggu sedikitpun.

Huaaaa….. kakak Iramak pulas!

Lahh, kalau ia saja bisa pulas tidur di hammock ceriaku, apakabar denganku yang menikmati kesendirian di Taman Lansia dan tertidur hingga dibangunkan oleh si rintik hujan?

Aku suka… aku sukaaaaaaa………

Kapan bobok di hammock lagi? Sudah kangen bergelantungan dan jalan-jalan lagi 😉 (jie)

***

Advertisements

Published by

ejiebelula

I'm just an ordinary person who is always looking for friends, adventures and life stories to complete. it all started from any footsteps, traveling and recording with a cheerful heart notes and a spirit that always accompany my steps toward the so-called ideals of the school also hopes to live through the experience. I will dedicate my heart only for two, red and pink. # Waiting for the right moment for a heart the gift of God

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s