Journey Notes: Plang Pengingat si Gunung Burangrang Jalur Legok Haji (JGB 5.2)

Ketinggian gunung menurut GPS yang dibawa tim JGB. (doc pribadi)
Ketinggian gunung menurut GPS yang dibawa tim JGB.
(doc pribadi)

Kisah gunung yang susah kujabarkan dalam tulisan. Sudah berapa lama tersendat? Tak juga memajukan otakku untuk menggerakkan jemari di atas keyboard. Beberapa paragraf dan aku tercenung. Tentang debu, akar dan plang yang membuatku terduduk!
Burangrang, tolong aku menuliskanmu dengan bantuan Yunita, yaa 🙂

***

Rumah Pak Erka, Desa Tugumukti. (doc pribadi)
Rumah Pak Erka, Desa Tugumukti.
(doc pribadi)

Desa Tugumukti

Pukul 08.30 WIB

Kami tiba di Desa Tugumukti, rumah Pak Erka. Tim bertemu dan kemudian berbicang mengenai kondisi gunung yang sebelumnya mengalami kebakaran (baca: /journey-notes-beku-seminggu-diuji-gunung-burangrang-jgb-5-1/ )

Singkat cerita, kami akhirnya bisa naik gunung tersebut dengan catatan sebagai relawan.

Menurut Kang Ading dan Teh Miliatri, jalur Legok Haji ini merupakan jalur tercepat untuk mencapai puncak Gunung Burangrang, meski ada 2 jalur lainnya seperti yang sudah aku ceritakan di edisi sebelumnya. Kenapa bisa cepat? Karena jalur ini ya nanjak terus deh. Lumayanlah buat ngegas nafas sedikit di awalnya itu.

Lumayan juga loh buat tanjakan-tanjakan akarnya yang akan ditemui mulai pos 2 ke atas. Ya harus siapin fisik juga. Buat aku, jalur-jalur di setiap gunung-gunung Bandung yang pernah ku daki, pedas-pedas sedap!

Oia, kata Yunita, salah seorang summiter, pernah diceritain Kang Pepep soal mistis di gunung ini. Ehh, untungnya mah, Yunita lupa sama cerita itu. Aku ngga suka hal-hal berbau mistis soalnya, parnoooooooo… hohho… Kalau tetap penasaran, searching saja ya di om google. Pasti banyak kalau cerita begitu. Aku sih emoh..

***

Pendakian awal, Burangrang di kejauhan. (doc Yunita, the sum miter)
Pendakian awal, Burangrang di kejauhan.
(doc Yunita, the sum miter)

Tanjakan Awal

Pukul 09.05 WIB

Jujur saja, gunung yang termasuk sisa Gunung Sunda Purba ini, dari mulai awal di plang depan bertuliskan peringatan, aku sudah melihat sepinya gunung ini. Mungkin karena habis menglamai kebakaran, dan jalur yang ditutup, maka, belum ada seorangpun pendaki yang singgah kemari. Paling hanya warga saja yang cukup berani naik kesini, itu pun aku hampir tidak melihatnya. Sepertinya memang, warga pun bisa dibilang nurut dan paham dengan apa yang terjadi. Ahhh.. kenapa aku tidak berbincang mengenai hal ini ya pada salah satu warga yang sempat kutemui ketika jalan pulang?  Err ini akibat pundakku itu…. Hhh

Lumayan rimbun kan ya? (doc Yunita, the summiter) (doc Yunita, the summiter)
Lumayan rimbun kan ya?
(doc Yunita, the summiter)
(doc Yunita, the summiter)

Kami melalui ladang dengan tanah lapang. Cukup lapang hingga aku bisa mengedarkan pandangan ke segala arah di kanan-kiriku. Hampir semua yang kulihat hanya coklat dan abu-abu. Tanah, rumput, batang, batu. Apalagi? Ya semua..

Jalurnya landai dengan lumayan nanjak. Lumayan nanjak? Wadeuw.. nyengir dulu. Jangan ditanya ya soal nafasku. Seperti apapun jalur trekking yang kuhadapi, di awal pasti akan selalu hu-hah! Aku harus pandai-pandai mengatur nafas agar tidak tersengal dan kaki lambatku. Ngga bisa diburu-buru karena akibatnya akan susah nanti.

Kami mulai memasuki jalur dimana pepohonan mulai rimbun. Panas! Lihat deh pohon-pohon itu, gatal kepengin hammockan laaahhh… 😀 Woops! Mulai adem, tapi… hheheh nanjak juga sudah mulai lho. Sedap! Gas pol!

Jalur pepohonan tidak berarti semua rimbun loh. Ada beberapa celah yang juga merupakan tempat terbuka. Selain itu, kadang pun harus melalui batang pohon tumbang dan hanya 1 jalur saja. Ya gantian deh jalannya.

The Miliatri berjalan di depanku. Lihat deh, tanah coklat berdebu dan kering. Kalau musim kering seperti ini, sebaiknya gunakan masker ya mendaki Gunung Burangrangnya. Begitu melangkah, wushhh… debu-debu beterbangan itu, setidaknya ada yang akan menyangkut di rongga dadamu, lengket disana. Kasihan kan tubuh kita?

“Jalurnya banyak debu, Jie dari bawah ke pos 1 itu,” kata Yunita ketika aku menanyakan pendapatnya soal jalur di gunung tersebut.

Meskipun rimbun dan tertolong dari sengatan mentari kala itu, tetap saja, warna coklat masih mendominasi diantaranya. Jalur gunung yang menanjak ini, sedikit berbelok-belok. Kita akan banyak menjumpai daun-daun kering berguguran disana.

***

Jalur Akar yang Sepi

Pukul 10.17 WIB

Pos 1 sudah tampak di depan mata. Seperti biasa, Kang Ading menyambut dengan banyolannya. Ahh, Kang Ading mah ngga usah ngomong deh. Lihat saja tuh muka lucunya, bisa ketawa panjang saya 😀

Atau Teh Miliatri yang juga sudah menunggu disana. Teteh sudah siap gaya, hapal aku. Soalnya kebanyakan di tiap pohon besar pada gunung yang kami sambangi sebelumnya pun, teteh selalu berphoto.

Ehh, hampir seluruh tim yang bergerak cepat sudah berada disana. Dari arah ke pos 1 ini, jalur sudah mulai banyak dihiasi oleh dedaunan kering yang menutupi. Dibaliknya mengiringi adalah akar-akar panjang yang saling bertautan. Akar-akar yang cukup besar dan bertautan, menandakan pohon yang sudah lama tumbuh dank arena tergerus hujan, lama-kelamaan akar itu pun terlihat di dataran tanah. Hhehehe… itu sih kalau papa saya bercerita, dia sering bilang begitu. Jadi saya mengambil sedikit ceritanya, ya…

Oow.. sudah berasa naik Gunung Cikuray? Hmm.. boleh dikatakan seperti itu sih. Coba dicek. Akar-akar yang tersembul itu, sudah membuatku menakar jalan turun. Iya, aku sadar kok, si kaki lambat, di pendakian kali ini agak diam dari biasanya. Kemungkinan sih, harus seperti kemarin lagi. Membayar naik yang lambat ini dengan sedikit wuuushh! Jangan lenyap! 😛

Bahwa turunan disini harus sangat berhati-hati dengan jalur yang ada. Sama seperti pendakian ke arah Lembah Kasih Mandalawangi, tempat bersemayamnya jiwa Soe Hok Gie.  Jalur disana pun sama, lompat-lompat diantara akar dan batang besar pun sangat kunikmati. Apalagi kalau hujan. Sukaaaaa…

Biasanya aku menyukai jalur akar seperti Gunung Cikuray. Membuat mataku melek karena banyak pegangan yang bisa kumanfaatkan. Hanya saja jalur di Gunung Cikuray itu, aku merasakan yang berbeda disini, di Gunung Burangrang! Ahh.. ada yang tersembunyi diantara dedaunan dan akar-akar kering itu. Aku tidak bisa membacanya! Akar-akar ini seolah menutup kisahnya. Dia menyimpannya erat dariku.

Heiii… kenapa kamu, Burangrang?”

Kami beristirahat sebentar di pos 1 (tim sudah sedari tadi sih) lalu melanjutkan. Ehh, seingatku, karena langkah sedang enak, aku ngga berhenti deh. Tapi permisi melanjutkan. Tokh nantinya juga akan dikejar oleh tim yang langkahnya pada ngebut itu, para dengkul racing!

Aku berjalan sendiri? E tidak! Ada Kang Ading dan Kang Pepep di belakangku. Sepertinya aku tidak begitu banyak menggunakan kamera poketku sejak pos 1 ke pos 2, karena tidak banyak yang dipotret. Aku hanya melihat kesepian saja di jalur yang kulalui itu. Kering!

Catatan waktu si kaki lambat dari awal pendakian ke pos 1 adalah 1 jam 15 menit.

***

Kang Ading yang lucu! Ahahahhaha... Kang.. kanggg... lucuuu mukanyaaa (doc pribadi)
Kang Ading yang lucu! Ahahahhaha… Kang.. kanggg… lucuuu mukanyaaa
(doc pribadi)

Pos 2 dan Batang Besar

Pukul 11.00 WIB

Aku berhenti sejenak di pos 2. Persediaan air minum di botol owl ku habis, jadi berhenti untuk mengisi air dari si botol 65 kg dari daypack biruku dan mengganti baterai kamera poket yang habis.

Pos 2 ke atas. Kang Pepep yang bertukar dengan Kang Ading. (doc pribadi)
Pos 2 ke atas. Kang Pepep yang bertukar dengan Kang Ading.
(doc pribadi)

Pos 2 ini, datar dan lumayan luas juga. Terdapat batang besar yang kelihatannya berasal dari pohon yang mungkin tumbang dan bisa dijadikan tempat duduk. Kang Ading nangkring disana dengan wajah lucunya. Aahahaha… aku selalu saja ingin tertawa deh kalau melihat Kang Ading. Sayang ngga ada Kang Ali disana. Mereka berdua ini kalau didampingin, bisa lama aku ngakaknya. Muka lucu dan muka flat. Yeap! Paduan pas buat gunung yang gundah 😉

Tidak sampai 5 menit, aku kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini hanya Kang Ading saja yang menemaniku. Kang Pepep sudah berjalan mendahului. Ya sebaiknya begitu, karena Kang Ading berjalan di belakang, bertukar posisi sebagai sapu bersih. Nyapu aku tepatnya 🙂

Mungkin karena hampir serupa, aku hanya memotret beberapa saja di jalur ini. Sudah lebih adem dari pos sebelumnya. Disini malah lebih sedikit ada bunganya. Sama seperti dedaunan kecoklatan yang berguguran, bunga-bunga disini juga berjatuhan.

Heii... jan sedih kamuh, yak ;) (doc pribadi)
Heii… jan sedih kamuh, yak 😉
(doc pribadi)

Oit! Kenapa pandangan mataku hanya mengarah pada warna kecoklatan saja? Ada apa dengan gunung ini? Beda? Ahhh.. tidak, tidak. Aku harus tetap berpikir positif. Itu yang biasa aku lakukan tiap kali pendakian berlangsung. Tapi ini bukan sekadar tentang gunungnya saja. Aku merasakan sesuatu terjadi, apa itu?

Hei, heiii… sejak pos 2 ke pos 3 ini, aku rasa, si akar mulai semakin aktif ya? Ia tidak bercerita padaku, tetapi memberikan clue-clue tajam pada setiap jalur yang kujejak. Tanjakan akarnya pun semakin terlihat. Weehh.. bersahabat kita ya??
*peluk Burangrang!

Soal gunung dan jalur ini, Yunita yang akrab kupanggil Ta berkata, “Jalur akar itu kalau naiknya enak, pijakannya banyak. Akar-akar semua. Tapi debunyaaaa… Ngga tahan! Nah, turunannya itu ngga enak. Nyangkut melulu di kaki, ngeri ngejumplang, nyeruduk (jatuh tersungkur, red) ke depan!”

Aku juga merasakan hal yang sama sih. Makanya tadi bilang, dibalik daun dan akar itu… ada yang tersembunyi!

Wuaaaaa… pos 2 ke 3 ini buat aku sudah mulai harus berhati-hati. Jalur berakarnya semakin padat dan semakin erat bertautan. Harus hati-hati melangkah juga donk, biar kakinya ngga keselip nyangkut diantara celah-celah akar tersebut. kalau nyangkut kan bisa keraaaaaammm.. atau keseleo dah. Tuuhh, ngga mau lagi keram!

Oia, mungkin kalau aku tidak selalu berbicara pada gunung-gunung yang kudaki, catatan perjalananku bisa diminimalisir ya? Terus juga tidak berhenti memotret apapun. Tapi bagaimana ya? Aku suka melakukannya. Bukan untuk pamer bahwa aku sudah mendaki gunung apa saja, tapi lebih kepada landscape dan alam di sekitar gunung itu. Kadang aku juga bisa bermain loh sama mereka. Seperti waktu aku ke Gunung Sunda. Disana aku banyak mainnya, soal sendiri. Ehh, kita akan ke Gunung Sunda setelah dari Burangrang ini. Tunggu saja ceritanya yaaaaa….

Catatan waktu si kaki lambat dari pos 1 ke pos 2 adalah 30 menit.

***

Jalur si Pita Merah Muda

Taraaaaa….

Pos 3 euy! Perjalanannya memakan waktu sekitar 35 menit (ahh.. aku kaget setelah tahu bahwa aku bisa jalan seperti waktu yang kulihat di kamera poketku. Perasaan lebih lambat deh jalannya). Sebenarnya tidak terlalu jauh juga kok jarak per posnya. Ahh, entahlah. Ada yang memaksaku untuk berjalan lebih lambat dari biasanya.

Kang Ading saja sampai berkali-kali bilang padaku, “Ejie, ayooo… itu puncak sebentar lagi kelihatan looohh.”

Aku hanya tersenyum saja dan menganggukkan kepalaku. Rasanya tanah dimana aku berpijak sedikit menyedot tenagaku. Pundak, iya. aku merasakan pundakku yang nyeri. Ada apa ini? Kami tidak berhenti di pos ini, tetapi terus melanjutkan perjalanan. Aku memotretnya sambil lalu karena keluhan pada pundak itu.

Pos 3 ini hanya berupa dataran yang sedikit saja luasnya. Cukup untuk sekadar berleyeh-leyeh saja. Udara disini sudah mulai sedikit dingin. Sedikit angin yang berhembus memang, tapi cukup menghiburku dan aku memang membutuhkannya. Pohon yang berada di sekitar sangat membantu mendinginkan suasana gerah hari itu.

Pos 3, sepi! (doc pribadi)
Pos 3, sepi!
(doc pribadi)

Hal berbeda yang tampak olehku, akar disini tidak untuk dipanjat dan berpegangan. Tetapi ia hanya penuh di jalur-jalur trekingnya saja. Ya ngga semua juga sih, karena mulai ke atas, jalur akan aman dengan sedikit bonus jalan rata dan landai.

Perlu diingat. Tanjakan akar memang tidak seberapa. Tapi lihat, lumayan tinggi deh itu dari akar satu ke lainnya. Akar-karanya pun membentuk guratan-guratan dengan celah yang setiap saat sih, kaki kita bisa kejeblos disana. Hati-hati biar ngga seperti yang Ta bilang tadi deh. Ngejumplang!

Hei, perjalanan sudah mendekati puncak. Kang Ading melead aku. Jalan mulai dipercepat, karena kami sudah melihat tanda-tanda puncak. Semakin ke atas, pepohonan sudah mulai jarang disisi kananku. Udara mulai terbuka dengan langit putih diatasnya. Panas.

Ada 1 plang merah di kananku membuatku menghampirinya, menyipitkan mata dan membacanya. Weiits, aku merasa tertohok, terlempar dalam kesendirian. Berhenti sejenak dan berpikir banyak mengenai kalimat itu. Aku terduduk, lemas pada batang pohon penyangga plang merah tersebut dengan pundak yang semakin mengiris, berteriak kesakitan. Auch.. auuuchh! Kenapa ini??

Ada yang lebih penting dari puncak yaitu KEBERSAMAAN
~ plang merah ~
Pesan jiwa dan aku tertohok! (doc pribadi)
Pesan jiwa dan aku tertohok!
(doc pribadi)

“Ejieee…” suara Kang Ading! Cepat kuhapus air yang mengalir di sudut mataku. Segera bangkit dan bergegas. Tak lupa, aku memotret pesan itu dan sekali lagi, hanya memandangnya sebelum akhirnya beranjak pergi. Aku mengerti. Terima kasih, kamu disana..

Aku berjalan melewati pita merah muda. Sepertinya, ini adalah punggungan. Pita itu merupakan penanda yang mengisyaratkan bahwa di kanan adalah jurang, agar kita berhati-hati saat berjalan. Untung warna pita cerah, jadi bisa membantu jika ada yang berjalan malam disana. Pita ini terkait pada kawat sepanjang jalan punggungan itu, dimaksudkan sebagai pembatas. Dibawahnya terdapat pohon dan tumbuhan hijau lainnya.

Catatan waktu si kaki lambat dari pos 2 ke pos 3 adalah 35 menit.

***

Puncak Gersang Burangrang

Lagi-lagi, Kang Ading adalah orang yang memanggil agar aku segera naik dan makan. Hhhehe.. makasi ya Kang Ading. Memang cocok berperan sebagai ayah angkatnya Ta nih. Aku saja, ditawarin makan terus. Kalau di rumah, ehh basecamp, Kang Ading juga sering suruh aku habiskan makanan yang bukan berbau nasi. Ahh.. tulisan nasi ya? Aku akan menuliskannya nanti untuk teteh dan tim. Maafin aku ya, yang tidak pernah bisa bergabung bersama kalian dan merasakan makan bersama di daun atau kertas panjang itu 😥 . SKIP, buat nanti!

Aku melangkahkan kaki lambat ini, menjejaki puncaknya. Kering dan gersang! Debu begitu banyak, sebab hanya ada tanah coklat sepanjang aku memandang. Tim duduk disisi rindang sebuah pohon. Ake melipir mendekati tugu putih abu-abu bertuliskan Puncak Gunung Burangrang dengan ketinggian 2.050 Mdpl..

Seperti biasa, aku selalu melakukannya. Bersimpuh membumikan diriku, berterima kasih padanya. Ky Merah, Anja, Erore, Kayun, Wendi, Kangmang Mbot, Berto, Carere, Irwansyah, Wandy, Qbo, Prime, Mpril, Adin, Ade, Kaso, Ryan, Kk Bros, Bismi, Ikhlas, Iwonk, Sulthon, Tides, Bangga, dan semua keluarga gunung yang pernah beberapa kali berjalan bersamaku, melintas dalam sujud syukurku. Pun dengan para sweepers sahabat Slamet Bambanganku, Ioh, Uxzup, Bang Anday dan Guntuy. Entah mengapa, mereka semua hadir disana. Seakan mengingatkanku akan semua kisah petualangan pendakian yang kulakukan. Aaaakkk…. Sediiiiihhh! Kangen mereka!

Aku selalu saja terngiang ucapan mereka yang mengingatkanku untuk bersyukur karena kerap melihatku melakukannya pada tiap pendakian. Bahwa dalam tiap pendakian, selalu ada yang menahanku. Walau bercerita dalam diam, ia kan memberitahukannya padaku kemudian. Seperti Burangrang ini yang berkisah padaku melalui akar dan plang merah itu. Yang membuatku terduduk dalam diam. Hanya aku dan ia. Cukup kami saja… (jie)

***

Catatan waktu:

  1. Si kaki lambat dari pos 3 ke puncak adalah 25 menit.
  2. Main, makan, istirahat di puncak lumayan lama, 1 jam.
  3. Turun dengan catatan waktu hingga ke rumah Pak Erka adalah 1,5 jam.

Semua catatan yang tertulis ini berdasarkan waktu di kamera dan jam tangan pribadiku saja. Pasti berbeda dengan catatan waktu para summiters lainnya.

Total waktu pendakian kami berkisar antara…..
Pusing, sakit kepala mau scroll. Coba cek saja dari catatan waktu yang kutulis diatas ya? Nanti kalau sudah baikan, Ejie update kembali deh tulisan ini 🙂

Maaf yaaa…

***

This slideshow requires JavaScript.

Advertisements

Published by

ejiebelula

I'm just an ordinary person who is always looking for friends, adventures and life stories to complete. it all started from any footsteps, traveling and recording with a cheerful heart notes and a spirit that always accompany my steps toward the so-called ideals of the school also hopes to live through the experience. I will dedicate my heart only for two, red and pink. # Waiting for the right moment for a heart the gift of God

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s