Journey Notes: Menit yang Raib di Burangrang (JGB 5.3)

Apa istimewanya menuliskan turunan sebuah gunung? Apalagi naik dan turunnya melalui jalur yang sama kan? Biasa saja? Ya mangga.. Tapi aku selalu mencatat jengkal perjalananku per moment atau informasi yang kuperoleh. Kembali Yunita dan Kang Ading, the summiter adalah mata keduaku dalam turunan ini.
Jadi ya jangan ngintip judul saja.
Iqro, bacalah, biar ngga penasaran 🙂
Kisah akar (doc pribadi)
Kisah akar
(doc Yunita, the sumitter)
***

Puncak Burangrang

12.45 WIB

Tabungan Sampah

Kelebatan burung-burung yang terlihat di puncak Gunung Burangrang Jalur Legok Haji siang itu, menemani tim Jelajah Gunung Bandung. Tim tengah bersiap untuk turun. Segala barang dan makanan yang masih ada, dirapikan. Ransel, tas selempang, kamera dan lainnya mulai beraktifitas. Sampah-sampah pun tak luput dari pandangan mata tim yang selalu saja siap dan tetap membawa kantung palstik sendiri agar membawa pulang sampah (mungkin akibat kami makan dan beristirahat).

Aku ya, salut deh dengan aktifitas ini. Coba hitung, sudah berapa gunung yang aku naiki bersama tim 7 Puncak Gunung Bandung ini? (Lupa, ini gunungnya urutan ke berapa deh?) Pokoknya ya, mulai ikut di gunung ke-3 yakni Gunung Mandalawangi.

Nahh, sejak dari sana, aktifitas memungut sampah ini menjadi hal rutin yang kami lakukan. Kadang tanpa sadar, tangan otomatis langsung menyentuh sampah yang terlihat dan memasukkannya ke tabungan sampah (aku menyebutnya demikian) yang tergantung di ransel kiri depan Kang Ading.

E itu ya, Kang Ading juga. Aku cuma ingat kalau tabungan sampah adanya di Kang Ading. Kenapa? Kalau turunan, ngga tahu kenapa, urutannya tanpa sadar, ada Teteh, Ta, Kang Ading dan aku. Terdekat ya Kang Ading donk tabungannya. Lagian tabungan Kang Mbok jauh pisan sih di belakang sana.

***

The Summiters (doc pribadi)
The Summiters
(doc pribadi)

Kehilangan Momen dan Cerita Ayah Pendakian

Selesai beberes, tim bersiap turun. Kang Ali sudah bersiap jalan duluan ngelead. Ehh, sepertinya Kang Pepep langsung mengambil perintah ya mengingat aku di gunung sebelumnya, keenakan wuuushhh…. lari-larian senang rebutan kamar mandi ke basecamp Pak Edi, sang RW.

“Ali tunggu. Kak Ejie jangan di depan. Biar teteh dulu yang turun,” itu perintah pak guru yang kudengar. Hhehehh… aku langsung mundur menunggu teteh jalan dulu dan mengikutinya. Ta di belakangku, diikuti Kang Ading dan lainnya.

Ada satu hal yang membuatku melewatkannya. Ini berdasarkan cerita Ta dalam wasapnya padaku. Katanya, kejadian tersebut berlangsung sesaat sebelum kita turun semua. Tim sempat terlihat asap di sisi Puncak Jalur Komando dimana Situ Lembang terlihat jelas. Kang Pepep, Kang Ali dan Kang Mbok bergegas menuju sumber asap tersebut. Mereka berlarian.

Sungguh ya, benar-benar aku sampai saat menuliskan ini, ngga ingat sama sekali ada kejadian seperti itu. Dan aku cukup ngeblank meskipun berkali-kali menguras ingatanku, berusaha merunut ulang kejadian turunan, tetap saja aku tak bisa. Adakah potongan Gunung Burangrang yang tertinggal tanpa kuingat??
*memori ohh memori terbatasku yang tiba-tiba hadir 😦

“Itu ada apinya, Ta? Dari kamera Ta ya? Sepertinya Ejie belum datang itu, ” aku bersikukuh.

“Ejie sudah di puncak. Kita sudah photo-photo session. Sudah siap-siap mau turun,” jawabnya.

“Kejadiannya jam berapa, Ta?” tanyaku lagi.

“Sekitar 12.49-12.50 Wib, Jie. Asap yang tib-tiba muncul,” Ta menerangkan.

Hanya hitungan 1 menit saja dan kemana ingatanku itu?? Benar-benar tidak bisa mengembalikan ingatan 1 menit itu. Aku tidak terlalu tahu pasti apa yang terjadi disana. Karena jujur, aku melewatkannya. Atau aku sudah berjalan turun mengikuti teteh yang di depan? Hhhhh… aku yang sudah turun, tak tahu, atau rasa nyeri di pundakku ya, sehingga tidak terlalu memperhatikan apa yang tengah terjadi sesaat sebelum kami turun? Ahhh… entahlah. Aku lupa.

Untungnya Ta memberikan photo hasil jepretannya yang sedikit di zoom. Tampak dari gambar, ketiga akang-akang mengibaskan sesuatu dan debu bertebaran di sekitarnya. Aku belum mendapat informasi tambahan mengenai hal tersebut. Nanti setelah ada tambahan, akan ku update tulisan ini (jangan lupa, Jie!).

—-foto menyusul—-

Kemudian~

Aku disarankan Ta agar bertanya pada ayah pendakiannya, Kang Ading.  Dziiiingg! Meluncur ke wasap Kang Ading dengan segera dan MASYAALLAH…. begitu banyak hal yang hilang dari memori saat menjelang turunan gunung ini. Yak ampun, yak ampuuuunn.. Kang Ading bercerita semuanya padaku. Aku menuliskan sesuai di wasap saja yaaaaa…

Aku memulai pertanyaan sederhana pada Kang Ading, beruntun!

“Akang tahu ngga soal asap yang kata Nita, ada pas kita mau turun? Kok Ejie ngga bisa ingat hal itu yak, Kang? Benar-benar ngga bisa ingat kapan itu?”

“Pas masih di puncaknya. Karena ada bara atau apinya,” jawabnya.

“Kok bisa ada bara, Kang?” Timbul darimana bara itu?” penasaran.

Akang menjelaskannya panjang, “Kan sebelum kesana ada kebakaran. Bara itu berasal dari akar rumput yang jadi sekam. Kalau kena angin, asapnya keluar. Malah mungkin bisa timbul api lagi. Makanya kita naik juga sebagai relawan untuk bantu memadamkan kebakaran, bukan?

Hmm.. jadi sewaktu-waktu, sebenarnya bisa saja kebakaran itu terjadi saat tim berada di atas gunung tersebut, kan? Beruntung masih dijaga-Nya, Amin..

Aku masih penasaran, “Kang, akar rumput yang jadi sekam itu kek apa?”

“Kenapa atuh kemarin ngga turun? Jadi bisa lihat sekam itu bagaimana,” ia bertanya balik.

“Nah itu Kang, Ejie benar-benar kehilangan ingatan di 1 menit yang kata Ta tadi ada asap. Sumfah dah Kang, Ejie benaran ngga ingat. Sudah coba merunut kejadian, tetap ngga nemuin dimana ingatan asap itu?” 😦

Dijelaskannya, rumput sekam itu, akarnya banyak dan kalau terjadi kebakaran, akan terlihat seperti arang. Awalnya ya berupa rumput biasa.

“Terus, Ejie doangan yang ngga tahu asap itu?” tetap penasaran. Karena ketika aku menyebutkan masing-masing tim, semuanya ngeh tahu dengan kejadian saat itu.

“Semua tahu. Ejie kan lagi tidur,” si akang nyengir dalam jawaban santai.

Huaaaa… berarti jawabannya simpel ya? Ejie tidur!!

“1000 buat Ejie,” bahahhhahaaaa… sedih amat ya? 1000 itu artinya parah pisan tidur Ejie. Sampai ngga tahu kalau ada asap, sampai ngga mendengar bunyi berisik apapun saat itu. Entah suara mereka yang kemungkinan melihat asap, ngobrol atau apapun? Separah itukah aku??

Aku sampai berkali-kali berkata maaf dalam chit-chat itu. Adeuuhh.. Kang Pepep ketibanan sial ya dititipin Ejie? Maaf ya, Kang…. ngga maksud si sayaaaaa.. huaaaa pusing!
*bandel emang Ejie. Ketokin, ketokiiiiiiinnnn -_-

***

Segar setelah hanya coklat dan kekeringan. (doc pribadi)
Segar setelah hanya coklat dan kekeringan.
(doc pribadi)

Umm..

Menurut aku mengenai asap yang tampak itu begini. Ingat ngga sewaktu kita naik Gunung Burangrang yang kondisinya berstatus pasca kebakaran? Ingat ngga, bahwa dalam izin, briefing yang Kang Pepep pandu dan do’a sebelum melakukan pendakian, kita membelokkan niat dari yang tadinya mendaki karena alasan 7 Puncak Gunung Bandung, kita menundukkan dan mengiyakan bahwa kita adalah relawan gunung tersebut?

Ingatkah bahwa kita mengucapkannya?

Mungkin tanpa kita pernah menyadari, hati kita saat itu, merunduk dalam do’a dan benar meniatkannya dalam hati bahwa kehadiran kita adalah sebagai relawan? Aku pun mengucapkannya, meski belum tahu akan bagaimana ketika melakukan pendakian. Tetapi akar-akar yang memendam kisah, plang pengingat yang mendudukkanku dan tidak terlalu banyaknya aku berbicara, setidaknya sudah merupakan rasa yang kupunya, ahhh… bukan rasa. Intuisi?? Seperti itulah.

Bahwa gunung ini mencoba mengenali kita yang benar-benar hanya bertujuh saja kala itu. Dan ia melakukannya di 1 menit dimana aku kehilangan ingatan dan momen itu. Memberikannya pada akang-akang bertiga yang sigap ke arah sumber yang aku bilang, jaraknya cukup lumayan dari tempat kami beristirahat. Menanyakan bentuk kepedulian kami yang mengajukan diri sebagai relawan ketika mendakinya.

Bukan itu saja, gunung ini juga memberikan kesempatan pada 4 orang lainnya dengan berbeda rasa dan Kang Ading yang bertugas menjaga kami, tiga perempuan yang berjalan di depan.

Cukupkah ini dikatakan sebagai gunung ‘peduli’ kami dengan caranya? Aku tidak bisa menjabarkan secara rinci, namun bisa merasakannya. Karena mengumbarnya terlalu banyak, tidak akan adalagi kisah yang bersisa untuk sudut jiwa dan rasaku.

***

Teteh yang melead di turunan. (doc pribadi)
Teteh yang melead di turunan.
(doc pribadi)

Teteh dan Nita

Teh Miliatri itu jalannya santai, tapi kenapa aku melihatnya ia turun dengan cepat ya? Perlu gigih berjalan di belakangnya saat turunan. Teteh ini ibarat penetral langkahku. Dengan ia berada di depan, langkahku lebih terkontrol dengan baik. Tidak semrawut seperti kemarin 😀 penasaran sama turunan lari di Gunung Bukit Tunggul. Hhhee…

Oia, Gunung Burangrang ini, seperti kata Ta, naikannya memang enak. Akar sebagai tumpuan kaki naik. Tetapi kalau turunan, harus hati-hati. Salah sedikit ya lumayan deh bisa keselo. Soalnya kalau turunan, akarnya bikin gemes! Lagi enak turunan rata dan jalan lancar, ehh… di belokan harus rem deh. Ada akar-akar rumit yang menunggu, siap menjemput kita terperosok jatuh. Ta saja, hampir beberapa kali jatuh. Kakinya yang panjang, membuat ia kesulitan melangkah bila turunan diantara akar.

“Aku tuh ngga suka kalau turunan, Jie. Apalagi akar-akar begini. Riweuh. Belum nyangkut yang di kepala kalau ada ranting atau daun yang menjuntai turun,” kata Ta suatu ketika.

Ya bahasanya ngga begitu, tapi aku menuliskannya dalam pengartianku sebagai pendengar. Ahahhah… maklumlah, Ta ini orangnya tinggi langsing. Jadi kalau turunan, dia agak kesulitan dengan hal-hal seperti itu. Sabar ya, Ta… kita menunggu kok Ta nunduk-nunduk.

Tiap turunan gunung yang kami lakukan, aku selalu merasakan keceriaan dalam tim. Teteh yang bernyanyi, Ta yang tertawa, Kang Ading yang ngebanyol, dan ketiga pasukan penikmat yang tak bersuara dan menjaga kami di belakang sana. Mungkin mereka berbicara dengan caranya, aku kurang tahu. Biasanya kalau berhenti dan kumpul semua, baru deh ketahuan tu. Yang doyan ngunyah, cerita, tiduran, diskusi, atau siap tebas-tebas… hhahahah 😀 Kangen suasana itu!!

Puntung rokok yang kami temukan (doc pribadi)
Puntung rokok yang kami temukan
(doc pribadi)

Ohh.. waktu turunan ini, sempat terlihat oleh Teh Miliatri dan aku, sepuntung rokok yang masih agak utuh. Aku memotretnya.

“Begini ni, Jie… yang memicu kebakaran. Buang puntung sembarangan..,” Teteh tidak melanjutkan kalimatnya. Menggantungnya saja, tapi aku paham maksudnya dan juga tidak akan meneruskan yang dimaksud teteh.

***

Pundak yang Melemah

Speechless! (doc pribadi)
Speechless!
(doc Yunita, the summiter)

Jalur turunan sudah mulai lebar. Aku tetap melihat jalinan akar dari atas sini. Teteh pun masih berjalan gesit di depanku. Sesekali ia berhenti dan menunggu kami yang tersendat. Turunan ini kenapa panjang sekali? Aku semakin merasakan nyeri di pundak kiri atas. Kenapa ini? Lenganku pun mulai lemas, aku memaksa terus berjalan mengikuti langkah teteh.

Hingga di satu titik, aku tidak merasakan apapun pada lengan kiri. Semakin banyak lompatan dan turunan, semakin melemahkan tangan kiriku. Treking pole yang biasanya kugunakan, kali ini hanya mengikutiku, terseret sepanjang turunan. Aku tidak bisa meletakkannya di tangan kanan, karena aku harus bertumpu dan sesekali memegang pohon untuk menahan badanku saat turunan. Aku juga tidak ingin merepotkan siapapun dalam tim. Jadi aku hanya mendiamkannya saja dan terus melangkahkan kakiku. Kepala yang pusing dan mata yang sedikit berkunang. Aaaakkk! Ada apa ini?

Hampir pos 2 atau 1 kah? Ohh.. Kata Kang Ading, itu antara pos 3 dan pos 2, pertengahan berarti dan aku sudah tidak kuat lagi. Berhenti sejenak dan menunggu Ta serta Kang Ading yang rajin menemani Ta.

Begitu mereka mendekat, segera saja kuserahkan treking pole biru yang selalu menemaniku dan berkata, “Kang, Ejie titip ya, treking pole nya. Sudah ngga kuat Ejie. Lengan lemas, ngga ada rasa. Mau turun cepat saja ini, pusing.”

“Ejie ngga apa, ngga pakai ini?” Kang Ading bertanya dan aku hanya menggangguk. Kulihat pasukan senyap ngga ada. Masih di belakang kali ya? Atau sembari melihat kondisi sekitar karena asap yang timbul tadi. Adeuhh, aku pusing! Segera pamit dan aku berlari mengejar Teh Miliatri di depan.

Tidak, tidak! Aku harus bertahan hingga basecamp dan tidak boleh menyusahkan tim jika di gunung. Pelajaran dan pengalaman memberikanku kekuatan. Aku masih bisa menahannya meski tiap turunan itu seperti manarik turun pundak kiriku dan menyedot tenagaku hingga lengan kiri benar-benar lemas. Aaaakkk!

Aku kadang menyangganya dengan tangan kananku. Atau kumasukkan dalam saku kiriku agar mengurangi beban. Tiap lompatan akar yang kulakukan, selalu terasa nyeri di pundak itu. Mau segera sampaaaaiiiiiiii…. Lama, lama, lama.

Terus kuiringi langkah Teteh tanpa sedikitpun bercerita padanya. Mendengarkan cerita Teteh, bertanya jalur yang pernah dilaluinya, bercerita tentang apa yang terjadi di Jalur Wanayasa, kisah lembahan diantara jalur, dll. Teteh banyak berkisah padaku. Aku suka, karena mengurangi sedikit kesakitan turunan yang semakin mendesakku. Membuatku sedikit lupa pada pundak yang semakin lunglai. Hingga akhirnya, perjalanan panjang itu berakhir, dan aku menemukan hijau cerah di kebun sayur yang kutangkap dalam jepretanku. Ahhh.. lega.

This slideshow requires JavaScript.

Burangrang…
Terima kasih sudah membawa kami naik dan turun dengan selamat.
Terima kasih memberikanku kisah pada akar-akar tersembunyimu.
Terima kasih atas plang pengingatmu yang membuatku terduduk dan meredam.
Terima kasih ketika aku lupa atas apa yang terjadi dalam 1 menit momen asap.
Terima kasih karena aku diberikan waktu beristirahat tanpa tahu kejadian asap.
Terima kasih untuk kau memberikanku kesempatan turun meski pundak menyiksa.
Terima kasih atas Teteh yang menceritakanmu dalam versinya.
Juga terima kasih untuk langit putihmu yang terus mengiringi langkah si kaki lambat ini..

Aku tetap saja tidak memikirkan yang negatif tentangmu. Tentang hal yang terjadi padaku. Baik ketika naik, maupun saat turunan. Bagiku, apapun yang kudapatkan ketika berada disana, pelajaranlah yang kuterima. Bahwa tiap gunung yang kusambangi, memberikan kisah dalam langkah lambatku. Mengajarkan sejumlah proses yang tak instan dengan jawaban-jawaban mudah. Bahwa gunung menceritakannya padaku dengan caranya yang kupahami kemudian, pada tanda yang ia berikan.

Orang mungkin akan tidak mengerti dengan apa yang terjadi padaku, padanya, serta padamu gunung. Tetapi semua ini tidaklah akan berarti jika tanpa pengertian dan pemahaman sendiri. Menalar dan menelaah setiap proses perkembangan yang terjadi. Hingga akhirnya bersahabat dengannya.

Sudah ngantuk, harus tidur. Nanti ada yang hitung mundur saya. Selamat tidur yang disana. Beristirahatlah. Alam dan langit menantikanmu kembali untuk menyapanya.. (jie)

***

Kebun sayur. LAPAR sayur! (doc pribadi)
Kebun sayur. LAPAR sayur!
(doc pribadi)
Advertisements

Published by

ejiebelula

I'm just an ordinary person who is always looking for friends, adventures and life stories to complete. it all started from any footsteps, traveling and recording with a cheerful heart notes and a spirit that always accompany my steps toward the so-called ideals of the school also hopes to live through the experience. I will dedicate my heart only for two, red and pink. # Waiting for the right moment for a heart the gift of God

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s