Gantung Hammock dan Berendam Sejuk di Curug Lie’uk

Wihiiiiiwww…. Sudah lama menantikan main air di curug. Terserah sih mau ke curug mana, yang penting mah bisa basah-basahan yang ngga hanya di kolam saja. Dan main ke curug, tidak berarti juga harus menyelam, bukan? Cukup bermain diantara bebatuan juga aliran air dengan tawa renyah teman-teman yang seru, sudah bisa membuat hati tentram kan? Asiiiikkk…
Ayuklah cerita curug dan hujan 😉
(doc pribadi)
(doc pribadi)

***

Musim penghujan sudah mulai menyambangi. Bulan-bulan akhir tahun yang penuh dengan intensitas curah hujan pun akan menyapa. Debit air bertambah. Kalau sudah begini, saatnya main air yang seru ya ke air terjun, sungai, main tubing, rafting atau ke goa kali ya? HHheehe.. Keluarga Upohnya Hammockers Indonesia juga main air kesana weekend beberapa waktu lalu.

Jadi nih, sebetulnya bermula dari keinginan aku karena sangat ngebet rindu matahari terbenam dan tenggelam. Lalu bergeser kepada keinginan bermain air yang tak sekedar menyelam saja, tetapi juga kepengin nyemplung-nyemplung cantik. Biasa kan kalau di grup, kebanyakan wacana mau kemana saja. Dan seringnya akan tenggelam juga wacana-wacana tersebut. Lalu akhirnya ketika aku tengah sibuk dengan komunitasku yang lain, Backpacker Society, rencana main air pun akhirnya terlaksana. Hurey, senang!

***

Pukul 07.00 WIB

Terbangun dan mendengar sura-suara di teras depan rumah Pitray, tempat kami bermalam karena akan bermain di curug yang tidak jauh perjalanannya dari daerah Cilangkap, Cibinong. Sabtu sebelumnya (05/12), sepulang dari acara bakti sosial, aku meluncur di seperempat malam menjelang pukul 00 wib ke rumah Pitray. Disana telah menunggu teman-teman yang siap ngeliwet (semacam memasak nasi, red) dengan ayam bakar yang juga sedang dipanggang diatas bara api.

Eits, kembali ke Minggu pagi itu, aku bergegas bangun dari tidur berjama’ah tersebut. Beberapa orang masih tergolek indah di peraduan sederhana yang terbentang di ruang tengah. Beberapa sibuk bercerita di hammock yang bertengger di teras. Tahukah lama persiapan yang kami perlukan hingga akhirnya bisa berangkat? 2,5 jam! Tanpa banyak bacot, langsung wuuuusshh… kunci pintu rumah Pitray!

***

Pukul 10.00 WIB

 

Iringan 5 motor itu berisikan Uxzup dan Depil, Dickay dan Unik, Kakak Izaners dan kakak Iramaka, Pitray dan Penlay, serta Adin dan aku. Lucu deh, karena ngga hanya saat diam di satu titik saja kami berisik, di jalan pun kami tetap saja berisik dengan gaya lain. Hhahhaha… ingat itu makanan dan minuman yang kami bawa dan beli, sepertinya rezeki tanah. Minta terus (jatuh) tapi kami ambil kembali (terpaksa dipungut ulang 😛 ) buat persediaan bekal camilan yang banyak di curug nanti. Maklum main air, biar ngga lapar di atas.

Lama perjalanan ke curug yang kami maksud Leuwi Hejo, sekitar 1,5 jam. Dari papan plang, motor masih terus berjalan hingga ke parkiran motor terakhir. Mempersiapkan segala bawaan kami dan wakakakkkaaa… sungguh! Ngakak sejadi-jadinya. Lucu!

Kami membayar di pintu parkir masuk sebesar Rp 25.000,- per kendaraan beroda dua (ehh, aku lupa sih, berapa. Nanti ya tanya sama mereka saja 😉 ).

Weeyy!

Orang ya biasa traveling, biasa bawa keril, ehh… sekalinya main air ke curug, malah kresekan semua yang dibawa. Ngga tanggung-tanggung, full kresek! Bhhahahahhaha….

Setelah para kang porter dadakan yang diwakili Adin dan kakak Izanerz (sebenarnya ada Uxzup juga, tapi doskih ngga ke poto), juga teman-teman lainnya berganti kostum air, kami treking ke curug yang kami inginkan. Cukup lumayan juga naik turun.

Tanah merah lembab, harus hati-hati berjalan kalau tidak ingin terpeleset jatuh. Licin! Apalagi aku yang jelas-jelas salah menggunakan sandal dadakan milik abang Pitray, karena aku hanya memakai sepatu gunung yang kutinggalkan di rumah Pitray.

Perjalanan menuju curug, juga melewati beberapa pos yang berupa warung maupun bale-bale bambu yang bisa digunakan sebagai tempat beristirahat. Jarak diantaranya tak terlalu makan waktu yang berarti. Jajaran pepohonan yang sedikit menyerupai hutan pun kami lalui. Masih sangat alami dengan dibentuk tangga dari tanah sekitar. Hijau masih terasa disana. Di beberapa tempat, kadang tidak ada pegangan tangganya, lepas begitu saja. Aku juga masih melihat orang lokal yang menggantungkan hidupnya pada hijaunya alam di sekitar curug. Sekadar mengambil kayu atau rumput bagi ternak mereka.

Di tanjakan lainnya, pegangan tangga yang ada berupa potongan bambu pun tak mengubah rasa yang ada pada alam sekitar. Sejuk! Aku suka 🙂

Oia, untuk mencapai sisi atas curug, kami harus melintasi jalur air. Karena berada diantara turunan air, maka arus yang kami lewati cukup deras. Harus berhati-hati berjalan disana kalau tidak ingin terjatuh mengikuti arus. Cukup banyak juga loh yang berendam berphoto disana.

Iringan kami bergantian jalan. Adin yang membawa camilan, diikuti kakak dan Uxzup. Hahhhaha… kami tertawa geli melihat tingkah kocak mereka.

“Kayak orang Baduy!” teriak salah seorang diantara kami.

“Tahan weyyy… Photo dulu, gaya,” teriak lainnya menyaingi suara aliran deras jatuhan di belakang kami. Lalu beriringan melalui jalur air tersebut sambil tetap terkekeh.

Lihat kan pose lucu mereka? (doc Resty YZ)
Lihat kan pose lucu mereka?
(doc Resty YZ)

Nih saking licinnya ditanjakan naik yang lumayan tinggi dan berbelok, kakak Iramaka akhirnya melepas sepatu putih yang dikenakannya. Ditentengnya sepatu itu, kemudian ia berjalan naik melewati barisan orang yang bergantian turun karena jalan yang muat satu orang agar tidak terpeleset.

Aku candid kakinya! Ahahaaha (doc pribadi)
Aku candid kakinya! Ahahaaha
(doc pribadi)
Antrian naik menuju Curug Lieuk. (doc pribadi)
Antrian naik menuju Curug Lieuk.
(doc pribadi)

20151206_114948

Heran yaaa… jalan licin, tetap saja barisan depan yang ngebut bawaan gunung ngga pandang-pandang lagi jalannya. Adin, Depil, Uxzup, Kakak Izaners, Pitray. Barisan belakang ya ada Unik juga Penlay yang disweeperin Dickay.

Sementara aku?? Hhhehe… aku ya barisan lambat si penikmat proses. Aku selalu menyukai garis yang kubuat ini. Garis nyaman untuk wilayah kaki lambatku. Garis nyaman yang kubuat agar selalu menikamati apa yang disuguhkan alam padaku. Garis tenang yang kubuat supaya bisa menghirup udara segar yang kuinginkan. Menjeritkan beberapa luapan terpendam pada jiwa-jiwa terdalamku. Membiarkan sisi-sisi lainku bergerak sesuai arah yang diinginkannya tanpa perlu mendorongnya. Melepaskan satu letupan kisah untuk mendengarkan langkah tenang lainnya yang ada disana, disini dan di arah mataku tertuju. Ahhh… kacamata gunung itu….

Naik terus, melewati aliran curug di kiri jalan kami. Seperti biasa, obrolan tak pernah lepas dari mulut para penggila traveling yang suka menggantung ini. Ada saja tingkah lucu yang dibuat mereka. Jalan bareng mereka memang ngga akan pernah bosan! Akan penuh dengan ledakan tawa. Kalau saja sweeper seblay, Ioh, jadi ikut, pasti keseruan akan semakin bertambah.

Ioh lucu! Banyolan-banyolannya seringkali membuatku tak henti tertawa. Kalau dipasangin sama Uxzup, sudah pas banget, bikin sakit perut. Waakakakkaka

Kami berhenti di satu titik, sejenak beristirahat melepaskan penatnya kaki-kaki itu. Sekadar bercerita dan menertawakan satu sama lain.

4 lieuk

Tak jauh dari sana, kami tiba di pintu masuk Curug Lieuk yang dimaksud. Bukan lupa mengambil gambar di gerbang masuk dan posnya, seperti biasa, di saat dibutuhkan, selalu saja gadgetku lemot. Sedangkan kami sudah tak sabar mencari spot memasang hammock dan bermain air, berendam di sejuknya air yang memanggil.

Membayar tarif yang tertera sebesar Rp 5.000,- per orang, kami pun melanjutkan perjalanan. Menuruni kembali jalan licin si liat tanah merah sebelum akhirnya harus melewati arus air.

Sembari menunggu kakak Iramaka melepas sepatunya (lagi), Adin meminta tolong padaku agar memotretnya di batuan besar sisi kiri jalan. Tapi heiii… kenapa lama sekali si kakak Iramaka?

“Ngga ada. Mungkin lewat jalan tembus lain. Sepertinya sih di kanan jalan tadi ada tembusan ke arah curug di depan,” ujar Pitray yang melongok ke atas dan tak mendapatkan kedua kakak serta Uxzup, Dickay juga Depil yang menghilang.

Adin, Pitray, Unik, Penlay dan aku berjalan. Heeehh?? Itu mereka! Oalaaaahhh… sudah sampai ternyata. Tapi ahhhh… bohong!

Kakak Izanerz mengajak kami mencari spot lain yang bisa buat menggantungkan hammock. Jalan lagi. Kapan sampainya kalau jalan terus dah?? -_-

Tiba-tiba, ia menunjuk ke arah pohon yang lumayan bagus diatas batu depan mata kami memandang, “Disana saja.”

Dan taraaaaaa…..

Rebutan posisi hammock agar bisa segera bersantai berayun-ayun, makan kenyang persediaan logistik yang sudah kami bawa dengan menggondolnya dari bawah tadi.

Hammock warna-warni kami telah terpasang. Menjuntai dengan warna terangnya. 1,2 3… huaaahh! 6 pasang warna yang berkibar tertiup angin segar di sekitar curug. Cerah kan yah?? 😀
*ahh kepengin emoticon lope-lope di blog, gimana sih??

Etss…

Sudah, sudah, sudah. Puas bercerita, tertawa dan ngemil, sekarang kan saatnya permainan utama yang ditunggu-tunggu. Hayuuuukkk…. Selanjutnya adalah NYEBUR! Asiiiiikkk..

This slideshow requires JavaScript.

Bahwa kebahagiaan sejujurnya adalah bila kita berada diantara orang-orang yang disayang. Melakukan kegiatan tanpa paksaan, murni dan tertawa tanpa merasa diharuskan.

Horeeeeeee….

Cibang-cibung, yuuuukkk!! Senang! 😉 (jie)

 

***

Advertisements

Published by

ejiebelula

I'm just an ordinary person who is always looking for friends, adventures and life stories to complete. it all started from any footsteps, traveling and recording with a cheerful heart notes and a spirit that always accompany my steps toward the so-called ideals of the school also hopes to live through the experience. I will dedicate my heart only for two, red and pink. # Waiting for the right moment for a heart the gift of God

11 thoughts on “Gantung Hammock dan Berendam Sejuk di Curug Lie’uk”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s