Surat Untuk Keluarga Upoh, Bahagia atau Sedih

Tak pernah mengingatnya. Tak pernah pula memberikan perhatian khusus padanya. Melupakannya bahkan hampir di 8 tahun belakangan ini. Kecuali ya orang-orang terdekat saja yang mengingatkannya. Tapi aku lupa satu hal, kalau aku mempunyai keluarga lainnya, Keluarga Upoh, bagian dari Hammockers Indonesia Regional DKI Jakarta yang beberapa bulan belakangan ini selalu bersama.
Ahh kalian…
Requested by Fitri Ayu Anggraeni. Makasi ya sweeper sahabat seblay bambangan sayangku... (Created by Rio Candra Kusuma)
Avatar Requested by Fitri Ayu Anggraeni.
Makasi ya sweeper sahabat seblay bambangan sayangku…
(Created by Rio Candra Kusuma)
***

Dearest Upoh Fams,

Langit gelap dan mendung. Sepertinya akan terus seperti ini langit di bulan Desember. Aku semakin merapatkan jaket biru hangat ini, memeluk sendiri tubuh yang tak kuat menahan udara sejuk yang berlebihan. Meringkuk sejadi-jadinya dalam sleeping bag dacron berwarna kalem yang kuperoleh pada lomba Backpacking Race, 3 tahun lalu. Dingin! Suasana mendukung untuk menarik kembali selimut dan tetap berada di dalam ayunan nyaman biru hijau dengan aroma pepohonan di sekelilingku.

Sejak pagi itu, wasap di gadget tak kunjung henti. Entah apa yang dibicarakan disana. Aku belum terlalu menggubrisnya. Pikiranku masih tertuju pada satu pesan masuk yang terbaca olehku. Ahh, sudah hari ke berapa ini? Masih belum tergerakkah mereka disana? Tidakkah mereka memikirkan kondisiku juga? Lesu!

Kuarahkan pandangan ke sisi lain. Segar. Hari yang cukup untukku menikmati kesendirian. Jauh dari hiruk-pikuk keramaian. Jauh dari apapun. Bolehlah sesekali berteman dengan kesendirian. Aku melakukan beberapa aktifitas hingga akhirnya tak tahan dengan dentingan di gadget tersebut.

Trang… triiingg.. truuuung!

Terakhir tadi, aku masih chat dengan kakak Iramaka dan mengatakan bahwa aku ditendang dari Upoh. Mungkin karena aku ada bikin salah. Tak apalah, aku bisa sedikit merasa nyaman dan menikmati kesendirian (ku kira πŸ˜› ). Kenyataannya?? Berbanding terbalik dari apa yang kuharapkan!Β Hhahhaha….

Sejumlah pesan jalur pribadi dengan kalimat sama, “Ejay” (panggilan kesayangan Upoh padaku, red), beberapa emoticon kebahagiaan, terompet, kue, nasi juga lilin dan lainnya mengalir disana. Omigosh! Ada apa ini?

Cepat kulihat satu grup yang selalu saja berganti nama. Benar! Mereka mempublishnya! Arrrgghh… tidak!!! Grup itu sudah berganti nama, “Ejay Day“. Sesuatu menyelusup masuk dalam relung bathinku. Ada kekhawatiran sama yang pernah kurasakan ketika hal ini terjadi, kemudian ‘memaksaku’ menghilang dalam kurun waktu yang tak menentu. Berbaur dengan kesunyian, entah sampai kapan.

Tak hanya itu. Efeknya yakni menjalarnya apa yang Upoh lakukan ke beberapa grup lainnya. Hampir kesemuanya menyatakan hal yang sama. Pesan di jalur pribadi pun semakin bertambah. Adeeuuhhh.. kenapa bisa begini?

Kalimat-kalimat penuh do’a dan harapan yang dialirkan padaku, memberikan aura besar pada rasaku. Memenuhi segenap ragaku. Aku membuka salah satunya dan terdiam. Kubuka grup lainnya, hal sama pun terjadi. Aku hanya merunutnya dari batas belum terbaca hingga ke bawah. Hampir di beberapa grup, namun tak satupun chat di grup Upoh kubuka.

Hahhah.. ini tak pernah kusuka. Membumbung air di pelupuk mataku. Membuatku tak bisa melihat jelas apa yang tertulis disana. Kabur dan berbayang. Ahhh… kalian membuatku tergugu dalam sepi. Menelantarkanku dalam kemarau di musim penghujan yang tak berkesudahan.

Sesungguhnya aku tidak menyukai hal-hal demikian. Terlalu ramai dan terpublish. Aku orang biasa yang kadang melewatkan hari itu tanpa mengingatnya. Cenderung lupa! Pun jika keluarga melupakannya, aku tak mengapa. Asal mereka tetap melihat dan mengingat bahwa ada aku diantara mereka, sudah lebih dari cukup. Aku tak mengharapkan apapun.

Mungkin orang akan berpikir, “Kamu ngga kepengin apa-apa, Jie?” Atau, “Tidakkah kamu ingin berada diantara tawa-canda yang biasa kamu lakukan bersama mereka atau siapapun dari teman-teman lainmu jika hari itu tidak ada?” Atau, “Ayok, Jie… ketemu, kumpul, makan, cerita yuk kitaaa…”

Dan bla, blaaa, blaaaa… bermacam alasan lainnya tentang hari itu.

Ahh, tidak, tidak, tidak. Aku bukan tipe seperti itu. Aku tak cukup kuat sekadar menghadapi hari yang hanya sekali hadir dalam kehidupan kita. Lebih baik bersama keluarga atau menjauh sekalian dari mana pun. Ada semacam ketakutan yang selalu kuhindari di hari itu. Kejadian tak mengenakkan yang pernah kualami ketika suatu masa, orang mengetahuinya. Sejak itu, aku berusaha menjauhi orang banyak jika hari itu tiba. Menyendiri mencari ketenangan. Melakukan yang kusuka dan lebih kepada me time.

Egois? Aku rasa ya tidak juga. Jika dalam 1 minggu kita bisa menghabiskan banyak waktu bersama teman-teman, lalu bangun pagi duduk bersama (terkadang jarang), mendekati keluarga sekadar menghabiskan 1 cangkir teh hangat yang seharusnya bisa dilakukan dalam 1 kali tenggak, namun aku tak berbuat hal itu. Memundurkan jam kerjaku agar bisa mendapatkan salam dari sebuah tangan gendut ketika aku masih berjibaku dalam selimut. Atau berlama-lama di kamar mandi karena sambil mencuci. Atau bisa jadi karena aku memang menyenangi air. Baru akan keluar kamar mandi kalau wanita yang sudah melewati lebih dari usia emasnya itu memanggil dan mengingatkan.

Jadi tidak salah kan bila aku ingin di hari itu pun, aku mengistimewakan diriku, menghilang tanpa jejak, menikmati kesendirian dan mengerjakan kesukaanku? Bolehkan? Atau salah?

Salah juga aku rasa…

Salah satunya yaitu aku mengendapkan rasa, menyimpan semua tanya dan jawab hanya untuk diriku. Mengenyampingkan semua kegelisahan dan berkutat sendiri tanpa memilih, harus bagaimana aku? Jawaban yang akan ada nanti, di tengah tahun 2016 mendatang. Apa itu? Sudahlah, jangan dipikirkan. Let time tell the answer.

Pasrah, aku hanya pasrah tanpa perlu orang tahu, kenapa aku melakukan dan menyetujuinya. Sebab tak perlu semua orang akan mengerti atas apa yang terjadi pada kehidupan seseorang, bukan?

Kata Ryan (Zanuzi), “Ejie punya hak untuk tidak memberikan alasan apapun…”

Memposisikan dan mengerti kelakuan menghilangku, Ryan membiarkanku. Bukan karena tak peduli, tetapi karena aku mengerti kenapa ia memperbolehkanku dalam kesendirian. Hehhe.. cukup kami saja yang tahu, ya kan, Yan? πŸ™‚

Hanya ia berpesan agar aku segera memberitahu keadaanku karena Upoh mencariku. Iya, mereka mencariku tak hanya ngebom di jalur pribadi dan grup saja, tetapi juga berkeliling. Aaaaakkk!

Salah lainnya adalah informasi dari kakak Izaners, Keluarga Upoh yang kuanggap bisa meredam dan menjadi kakak penenang bagi sebagian teman-teman lain. Kalian akan mengerti jika mengenal Upoh tidak hanya dari kulit luarnya saja.

Ia menyarankanku agar memberi kabar karena Upoh menungguku sejak pukul 00.00 WIB. Ia juga yang memberitahu bahwa Upoh membuat gambar untuk hari itu, mengatakan mengenai Pitray dan Ioh yang seharian mencariku.

Aaaakkk lagi?!? Batu? Iya, sedang membatu! Seperti kata Ky Merah ketika aku mengikutinya di Jalur Kartono Gunung Merapi beberapa tahun lalu.

Maafkan aku kakak, yang membantahmu lalu menolak tidak ingin berbicara langsung. Bukan, bukan tidak mau. Tetapi aku tidak sanggup membaca kalimat apapun hari itu. Tidak satupun.

Sabar, kakak Izanerz sabar menghadapiku yang mungkin…Β sounds like I’m being agitated.Β Buah kesabaran biasanya membuatku berpikir lebih jernih. Semua chat kakak kubaca ulang. Perhatian, bukan hanya pada satu pihak, tetapi kepada posisi kami yang berbeda. Posisiku yang menghilang kemudian posisi Pitray dan Ioh yang berkeliling.

Permintaan khusus Pitray pada Ioh. Dikerjakan tengah malam di hari H menjelang hari itu. Ahhh... kalian para UPOH :'( (Created by Ri Candra Kusuma)
Permintaan khusus Pitray pada Ioh. Dikerjakan tengah malam di hari H menjelang hari itu.
Ahhh… kalian para UPOH πŸ˜₯
(Created by Ri Candra Kusuma)

Salah selanjutnya yaitu membuka pesan-pesan Keluarga Upoh. Diantaranya Pitray, Ioh, Uxzup dan kakak Iramaka.Β Keberadaanku merupakan pertanyaan terbesar dari sebagian Keluarga Upoh yang membombardirku melalui pesan pribadi.

Pitray dengan chat-chat panjangnya, menanyakan kondisiku, meminta maaf atas keusilannya mengajak warga Upoh memberikan ucapan padaku. Ioh dengan chat lucu gelisahnya sambil menceritakan avatar pesanan Pitray yang dikerjakannya tengah malam hari itu. Aku membalasnya dan ia selalu saja bisa membuatku tertawa meski dalam sepi sertaΒ jauh dari Keluarga Upoh. Ioh memang sweeper sahabat seblay bambangan yang selalu menghibur dengan kelucuan tanpa ia sadari.

Uxzup, sweeper macan bambangan yang juga chat panjang namun tegas menanyakanku seperti biasa. Ia mengajakku bertemu dengan kakak kelas seperguruan, Dickay, dan menyatakan aman karena hanya berdua. Serta kakak Iramaka yang menyatakan chatnya tidak dibaca hingga diposting di salah satu sosial media.

Kalimat yang kakak Iramaka sampaikan, “Ejay kangen 😦 ” cukup membuatku buru-buru menghapus aliran di sudut mata letih ini.

“Kakak Iramaka sayang, aku bukan tidak membaca dan membuka pesanmu. Aku hafal tiap apa yang kamu ketik disana, walau memang aku tidak membukanya secara langsung. Aku hanya butuh waktu sebentar untuk bisa membukanya, kakak..”

Oia, bukan berarti lainnya tak peduli padaku. Justru aku tak mampu menyebutka kalian satu-persatu.

Bang Anday yang, Iwan Om Koplak Cireng Berbahagia, Unik yang galau, Penlay yang ketimpaan bullyan tapi tetap santai, Burik dan Nana Emesh pasangan kulkas dan ember, Luzik Zubir Mbeb yang mau kejuaraan Freedive, Ayung yang anteng, Renjer pink, Kakak Jagoa Guntuy, Prazetya yang disuruh patjalan tapi tetap ngumpul sama Upoh, Ayah Fadlan yang baik, Kuproy yang doyan ngebut 5 menit, Kipompong yang pen jalan-jalan tapi kudu kuliah, Nuy sweepernya Acay, Milikitay si penyuka pink, Depil yang sayang antar Kakak Iramaka, Aday yang di ospek Ioh di Gede…

Siapa lagi yaaakk?? Ejay lupa saking banyaknya Keluarga Upoh se-Jakarta tercinta iniiiiiii…. SEMUA yaaa πŸ˜‰

***

Pada akhirnya, hari itu tinggallah kenangan. Hingga waktu terakhir aku melihatnya, chat panjang di grup “Ejay Day” pun berganti dengan “Buronan Ejay Day” karena ketidakhadiranku di grup itu dan dicari oleh warga disana. Lucu kan mereka? Selalu ada saja tingkah polah yang membuatku bisa tertawa, pun di kala kesedihan πŸ™‚

Kami memang belum lama berteman, tetapi keberadaan mereka sudah selayaknya kebutuhan akan sebuah keluarga. Hitungan tengah tahun ini bertemu di Gathering Nasional Hammockers Indonesia, di Cikole, Lembang, Bandung. Itu pun tidak semua Keluarga Upoh ada disana. Beberapa bertemu justru setelah gathnas karena kerap bermain dan olahraga bersama di basecamp GBK Pintu 9, Masjid Al-Bina. Keinginan berjumpa, berkumpul dan berjalan bersama, berbagi kisah kelucuan, kegaringan, kadang kesal pada lainnya merupakan ikatan kuat diantara kami.

Kekuranglengkapan anggota keluarga dari masing-masing kami, mungkin adalah pemicunya. Tidak semua bercerita tentang masalah masing-masing dari yang kami hadapi dalam kehidupan. Menceritakannya dalam lingkup kecil, face to face karena rasa kepercayaan, mungkin bisa menjembatani diantara kami. Aku tak perlu bertanya langsung pada mereka, karena tiap kalimat dalam grup, aku bisa merasakan penekanan saat mereka menuliskannya tanpa harus bercerita.

Bukan sok tahu, mungkin karena aku secara tak sadar bisa menalarkannya pada rasa tak terbaca dan menyimpulkannya untukku sendiri. Makanya terkadang aku suka menuliskan cerpentol (kata Uxzup) atau KUHP (kata Ioh) atau Naskah Proklamasi (kata Jaka) dalam kalimat-kalimat panjangku kalau sedang benar berpikir, menanggapi obrolan di grup menyoal hidup.
*hahhah… ke-iya-an banget ejay πŸ˜›

Umm.. Kesamaan dalam hobi main ayunan dan bergantung di pohon pun bisa menjadikan kedekatan kami semua.

Tidak harus menjadi sempurna agar bisa mendapatkan teman yang sepaham.
Tidak harus menjadi yang terbaik agar bisa menemukan teman yang mengerti.
Dan tidak harus menjadi yang spesial agar bisa memperoleh teman yang menyayangi dan peduli pada kondisi kita.

Semua akan berjalan sebagaimana mestinya tanpa kita perlu bersusah payah mengorek setiap keingintahuan yang dalam. Bahwa dalam prosesnya, pertemanan akan jauh menjadi lebih indah jika melakukannya tanpa sadar, mengalir mengikuti alur yang ada.

Dan tentang hari itu, maafin Ejie ya, Upoh…

Tidak bermaksud menghilang tanpa kabar. Tidak berkeinginan menjauh dari kalian. Hanya saja, EjieΒ butuh waktu menyendiri kali ini. Untuk beberapa saat. Nanti sekembalinya kalian dari bermain akhir tahun, kita berkumpul kembali. Melakukan kegiatan-kegiatan rutin berolahraga lari dan renang, main bareng, menggantung lagi, lalu membuat wacana-wacana bahagia lainnya meskipun kadang tak berjalan πŸ˜€

Biarkan raga berada diantara sekian pepohonan rindang
Menyendiri dalam hening dengan lampu sederhana
Merasakan titik-titik hujan yang jatuh ke atap berwarna hijau daun
Membasahi rumput yang menghijau
Menenggelamkan keinginan terdalam hanya sebatas sukma tergores
Memandang kedua biru dalam genggaman yang menemani
Hingga batas waktu yang tidak menentu

Kemudian bahagia atau sedih merupakan pilihan pribadi. Tidak ada pemaksaan disana. Tidak ada intimidasi juga. Berpulang kepada bagaimana keadaan kita ketika itu. Bahwa aku memilih bahagia dan sedih di waktu bersamaan pun, karena aku tengah berada diantaranya. Pilihan yang aku buat untuk hari itu.

Β ***

Teringat satu kalimat dari Rockay, Keluarga Upoh lainnya, teman setia si angkringan budeh Jatiwaringin yang menuliskan, “Jangan menangis, Ejay…..” ketika aku berbicara mengenai keberhasilanku ke tanah kelahiran, Papua, dalam hitchhiking Nol Rupiah di acara Ngobrol Asik Bareng Traveler beberapa saaat lalu.

Saat ini, di tengah kabut putih yang melayang jatuh di pandangan mataku, aku teriakkanΒ dalam hati tak beraturan ini, huaaaaaaaaaaaaaaaa…. huaaaaa……. huaaa Β πŸ˜₯ Β πŸ˜₯ Β πŸ˜₯

Selamat senja, Keluarga Upoh tersayang..

Dari Ejay yang menyayangi kalian ^_^

***

Advertisements

Published by

ejiebelula

I'm just an ordinary person who is always looking for friends, adventures and life stories to complete. it all started from any footsteps, traveling and recording with a cheerful heart notes and a spirit that always accompany my steps toward the so-called ideals of the school also hopes to live through the experience. I will dedicate my heart only for two, red and pink. # Waiting for the right moment for a heart the gift of God

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s