Hujan Perosotan ke Puncak Batu Tumpuk Gunung Bongkok

 

Done! (doc Aditya Dede)
Done!
(doc Aditya Dede)
Ketika semua berlomba mendaki ketinggian tertentu, aku cukup bersabar dengan salah satu gunung yang ada di Purwakarta ini. Bukan ketinggian yang dicari, tetapi kebersamaan jauh melampaui segalanya. Senyum sabar untuk semua jalur perosotan bertanah merah di gunung ini, juga hujan yang menjadikannya lebih berwarna 🙂
***

Purwakarta
Desember 2015

Tektok Gunung Kedua

Setelah mendaki Gunung Parang kesukaan, aku dan teman-teman Tektok Team, melanjutkan ke Gunung Bongkok. Pendakian 3 gunung ini termasuk dalam itinerary tektok Gunung Parang, Bongkok dan Lembu yang digelontorkan dalam grup WA Tektok Team. Jadi kami sudah tidak kaget lagi.

Kendaraan kolbak kami berhenti pada sebuah bale-bale dan warung disana dan tidak bisa lanjut hingga ke pintu masuk registrasi. Kami beristirahat, makan, dan bergegas mempersiapkan keperluan mendaki. Dari 14 orang yang ada, hanya 12 orang yang melakukan pendakian kedua ini.

Tim berjalan menyusuri pagar putih sebuah sekolah disisi kiri jalan. Kami menuju pos registrasi, dimana Retno, TL handal Purwakarta, membantu administrasi pendakian. Sembari menunggu, beberapa teman bertanya pada ibu di warung tentang kondisi gunung. Ibu menyarankan agar:

  1. Mempersiapkan jas hujan karena beberapa hari, daerah tersebut siang menjelang sore turun hujan.
  2. Memakai lotion nyamuk, mengingat hutan-hutannya yang masih dipenuhi pepohonan dan tanaman bambu yang hampir ada disana.

Akhirnya lotion yang kubawa, bergantian mengalir dari satu tangan ke tangan lainnya. Ahahhahah… mereka itu teringat saat nanjak di Gunung Parang yang diserbu gigitan nyamuk. Makanya sebelum nanjak, bersiap mengoles lotion di badan.

Gunung berketinggian 975 Mdpl yang berlokasi di Kampung Cikandang, Desa Sukamulya, Kecamatan Tegalwaru Kabupaten Purwakarta ini, cukup menarik. Mengapa? Menurutku, pos 1 di gunung ini adalah Pos Perijinan akan ditemui setelah pintu masuk. Dari arah datang, terdapat musholla, kamar mandi yang bersih di sebelah kiri. Maju sedikit, ada warung dan pos 1 dengan bale-bale dan tempat duduk terbuat dari bambu. Disini, pohon bambu rindang banyak sekali. Bergerombol.

Kebanyakan dari gunung-gunung yang ada di Purwakarta, hampir semuanya terdapat batu-batuan. Batu disini jauh lebih besar dengan pepohonan yang lebih rapat. Vegetasi bagus, karena perpaduan aroma tanah, batu serta tumbuhan hijau yang ada disana membawaku bernapas lega. Jarak tempuh normal mendaki gunung ini, menurut ibu warung, sekitar 1- 1,5 jam. Wiiiihh… canggih ya? Aku sih belum pernah naik, jadi ya kita lihat saja nanti. Seberapa kuat kaki melangkah dengan kecepatan tertentu. Oia, ikut cuaca juga deh.

***

IMG-20160113-WA0046
Jalan naik arah saung dan jalur selanjutnya. (doc Faiz BPJ)

Tanah Datar di Pos Munclu

Kami memulai treking pukul 13.00 Wib. Sudah ditargetkan TL, bahwa kami harus tiba di pos bale-bale bawah pukul 17.00 Wib, atau sebelum maghrib. Kanan kiri hanyalah tumbuhan saja dengan rerumputan serta pohon-pohon rindang. Tanahnya masih terbilang kering dengan sedikit becek di daerah berpagar. Banyak dedaunan kering di tanah merah tersebut.

Sebuah plang hijau bertuliskan “Jalur pendakian” terlihat jelas. Jalur terbilang landai. Ehh, ada jalur mendaki yang mengarah menjadi 2, ambillah ke kiri yang agak terbuka. Susuri saja mengikuti jalan dan tak lama, akan terlihat plang hijau kembali bertuliskan “Pos 2 Munclu”.

Di pos 2 dengan undakan ini, ada lucu sih. Sekawanan 4 kerbau besar dengan 1 anaknya lucu, menunggu kami berjalan. Tadinya sih aku biasa saja. Tapi entah kenapa, mereka seperti melihatku dengan tatapan menyelidik (perasaanku sih 🙂 ) Jelas keder, aku langsung menguntit di belakang Wahyu dan bersembunyi di baliknya sambil terus berjalan. Adit dan Wiwit sudah menunggu di pos kanan jalan mengarah ke atas.

(doc Faiz BPJ)

Daerah itu cukup luas dan datar. Ada saung yang bisa dibuat tempat menginap. Hmm… aku tidak tahu kalau di pos tersebut katanya ada rumah pohon dimana kita bisa melihat keindahan city light Purwakarta malam hari. Hhhahhaa… sepertinya sih harus kembali lagi. Dan di pos 2 ini, ada tempat duduk dimana kita bisa menanti sunset cantik. Nanti ya kita lihat, apakah kami bisa mendapatkan warna cantik saat matahari tenggelam dalam pendakian ini?

Perjalanan dari pos 1 ke pos 2 sekitar 20 menit. Ya tergantung kaki saja sih kecepatannya. Mungkin karena habis mendaki Gunung Parang, kualitas melangkah masih dalam kondisi bagus, jadi terhitung aman.

***

Batu-batu Besar

Kami melanjutkan perjalanan. Sepertinya sih menuju pos selanjutnya ini, treking mulai bervariasi. Tidak lagi banyak bonus seperti pos-pos sebelumnya. Aku mulai menghadapi tanjakan-tanjakan dan terlihat batu-batu yang kata Retno “besar”.

Kami melewati batu besar pertama, dimana berjalan melewati kiri batu dengan jalan setapak. Batu besarnya lumayan berlumut, menandakan intensitas kelembababan di gunung tersebut mungkin cukup baik ya. Atau karena sedang memasuki musim penghujan, makanya berlumut. Entah kalau musim kering.

Kami berjalan di sebelah kanan batu, dimana jalannya tidak terlalu lebar, tetap pohon dengan langit putih di ujungnya. Pohon bambu, banyak di gunung ini.

Batu besar kedua yang aku ingat adalah batu yang disangga oleh kayu-kayu. Jadi ingat film kartun Krishna yang menyangga batu lempeng besar dengan tangannya, lalu dialihkan dengan batangan kayu. Kok bisa ya? Apa maksudnya, aku lupa bertanya di pos bawah.

Batu besar ketiga, terletak di sebelah kanan yang menempel seperti dinding. Aku ingat, karena disini ketika turunan, kami main perosotan dan pakai webbing dengan pondasi badan Adit yang tinggi besar.

Jujur ya, aku lupa deh jalur dari Pos 2 Munclu hingga ke jalur webbing pertama. Yang kuingat hanyalah batu-batu besar saja. Letak posisi, terletak disebelah mana, aku ingat dengan mudah meskipun tak sedikitpun aku mengambil gambar disebabkan cuaca yang tidak memungkinkan. Jadi mungkin aku skip ya daerah tersebut hingga aku kembali kesana untuk mengulangnya. Kenapa bisa begitu?

***

Teriakan di 1/2 Jalur Licin

Barisan belakang yang terdiri dari Albert, Rangga, Halim, Rey, Wahyu dan aku, beristirahat di dudukan batu yang lumayan bisa dijadikan tumpuan istirahat. Wahyu berjalan perlahan, karena rombongan lainnya ada di depan. Aku pun hanya berhenti sebentar dan melanjutkan perjalanan yang mulai mendaki. Mungkin baru 7 langkah, hujan rintik mulai terasa. 5 langkah kemudian, hujan mengguyur dengan cepatnya. Kami bergegas mengeluarkan jas hujan, melindungi tas dan perlengkapan kami.

“Lanjut atau berhenti, Kak Ejie?” seseorang bertanya padaku. Tak terlalu melihat karena kucuran hujan menuruni wajahku kala mendongak memastikan suara itu.

“Lanjut deh, jalan pelan saja,” ujarku tanpa berhasil melihat jelas siapa itu. Aku hanya ingat Wahyu di depanku tadi. Iringan kami melanjutkan perjalanan.

Aku mengikuti barisan depan. Wiwit dan Dillah sudah terlebih dahulu naik di depanku, memegangi webbing. Dan ketika aku tengah berada di 1/2 jalur licin, tiba-tiba sebuah suara mengagetkan kami. Teriakan! Kami saling bertukar pandang.

“Seperti ada yang teriak minta tolong….” memastikan setelah kedua kalinya kami mendengar teriakan.

Gesit, hampir kesemua teman melewatiku, terutama para lelaki. Albert yang tadinya di belakang pun, segera memacu langkahnya dengan membawa webbing tambahan yang diberikan Rangga dalam tasnya. Aku, Rey, Halim, Rangga masih berada di jalur licin, memegang webbing. Perlahan kami berjalan.

Rangga yang tadinya juga mau menyusul untuk membantu orang berteriak tadi, aku tahan. Bukan apa-apa sih. Tinggal Rey dan aku saja. Halim karena sebelumnya nyasar dan terpisah sendiri ketika turunan Gunung Parang, membuatku kurang yakin jika hanya bertiga saja.

“Bukan Wiwit yang teriak tadi, ya?” Rangga bertanya. Khawatir tampaknya.

“Wiwit tadi depan Ejie, Ngga. Sama Dillah kok di depan, diikuti sama yang lain,” aku meyakinkan.

Kami menanjak hingga ke jalur aman. Jalur batu besar selanjutnya (batu besar keempat yang kuingat dan ada foto yang kuminta dari Faiz_BPJ), membentuk dinding yang bisa dijadikan sebagai latihan wall climbing. Dinding batu besar ini memiliki cekungan tempat berpijak dan memegang, persis papan panjat yang kerap kulihat di wall climbing. Wahyu mencobanya ketika kami turun dari puncak. Barisan belakang beristirahat di sebuah dataran sebelum tanjakan. Teman-teman yang sebagian mengejar terlihat diatas kami. Mereka sudah berhenti mengejar teriakan atau berhenti?

Rangga memberikan aba-aba agar yang lain berhenti dan tidak meneruskan perjalanan. Iya, hujan seperti itu, cukup riskan dengan jalur tanah merah yang kami tempuh. Mungkin terlihat biasa, tetapi keamanan bersama tetap diperhitungkan oleh orang-orang yang paham kondisi gunung.

“Yang teriak tadi, gimana kondisinya?” setengah berteriak pada mereka di jalur atas.

“Zonk, Kak Ejie…” suara Alief.

“Iya, ngga ada apa-apa. Hanya orang tergelincir saja, kok,” ucap lainnya.

Tak lama, aku tahu dan mengapa tadi ada yang berteriak minta tolong di atas sana. Rombongan anak gaul dengan sepatu kets santai, wedges, dandanan layaknya shoping. Hmm.. wajar saja jika suara tadi berasal dari mereka ini. 9 orang dengan 3 lelaki, 6 perempuan.

Teteh wedges dengan dandanan oke, bercerita kalau mereka memang baru pertama kali ke Gunung Bongkok, tidak ada persiapan apapun karena tidak tahu medan. Ia bahkan setengah merengek tidak ingin ke tempat seperti itu lagi. Yang membuat kami terkejut adalah ia berkata bahwa hanya membawa air minum 1,5 liter 2 botol dibagi 9 orang. Itu pun air habis di tengah perjalanan mendaki. Jadi mereka belum minum sama sekali. Ccckckkckkk….

Rangga mengeluarkan air minum 1,5 liter dari tasnya dan diberikan kepada teteh tersebut. Kami mengeluarkan sedikit camilan dan memberikan kepada mereka. Sedikit menolak, tetapi akhirnya diterima juga uluran tangan kami itu. Setelah lengkap, kesembilan anak-anak gaul tersebut, turun ditemani oleh ranger Gunung Bongkok yang kebetulan juga naik dan mendengar cerita kami serta si teteh tadi.

Rangga memberikan sisa webbing yang ada ke ranger gunung untuk membantu turun rombongan tadi. Nanti juga bisa untuk bantuan turun kami karena memang licin disana dan tidak ada webbing tambahan yang terpasang seperti sisi lainnya.

Pelajaran kan ya pengakuan teteh tadi? Bahwa kita tidak bisa mengukur tinggi rendahnya suatu gunung. Tidak bisa menganggap enteng sebuah gunung. Pun jika kita telah mendaki beberapa gunung tinggi di daerah manapun. Karena alam tak akan bisa ditebak.

***

Tanjakan Licin Terakhir

IMG-20151221-WA0027
Jalur prosotan menjelang puncak. (doc Aditya Dede)

Batu wall climbing adalah batu besar terakhir yang kujumpai. Jalur selanjutnya adalah perosotan penuh lumpur. Jika Tektok Team lainnya melesat cepat setelah hujan mereda dan aba-aba boleh jalan didengungkan, hal berbeda terjadi pada Rey dan aku di barisan belakang. Untung Albert di depanku dan Rangga di belakang Rey menemani.

Setelah jalur teteh tadi, tanjakan mulai sedikit bersahabat. Bonus sedikit? Ya lumayan. Ada batang yang harus aku langkahi. Ehh, jalannya becek dan rawan jatuh. Untung ada treking pole Retno. Aku mengulurkan dan Albert membantuku dan berpegangan pada akar menggantung yang ada di dinding batu beraliran air hujan.

Melewati batu itu adalah tanjakan akhir dimana aku mengambil napas panjang. Hhhahahahaaa…. Bongkok ini jalur PR banget dah buatku. Betapa tidak. Sudah lama tidak merasakan lumpur-lumpur serta hujan seperti ini lagi sejak akhir 2012 dan 2013 lalu mendaki gunung-gunung bersama keluarga gunungku. Mereka yang dulu selalu saja mengajak di h-3 keberangkatan, kemanapun nanjak. Dan selalu kuiyakan selama tidak berkereta. Ahh… kangen mereka!

Hei, satu tangkapan tangan dan sedikit usaha lagi, aku sudah melihat dataran hijau diatas sana. Albert menyongsongkan treking pole dan aku kembali menyambutnya. Hopla! Akhirnya bisa berdiri seimbang juga setelah bermain lumpur-lumpur licin dibawah sana.

***

IMG-20160113-WA0047

Puncak Batu Tumpuk

Ada 2 puncak yang tertera di plang penunjuk arah. Puncak Batu Tumpuk ke kiri dan Puncak Batu Datar ke kanan. Rangga mengarahkan kami ke Puncak Batu Tumpuk, karena suara-suara memang terdengar dari arah kiri. Kalau dilihat, area tersebut tidaklah terlalu luas. Cukup untuk 4 tenda sih kalau ingin kemping disana dan menyaksikan matahari terbit di pagi hari.

Vegetasinya masih bagus. Hijau dan aroma gunungnya terasa. Aroma kesukaan! Segar! Iya doonnkk… soalnya ngga perlu naik mring-miring lagi meraih webbing atau tongkat dari Albert. Hhhahahaa… aku menertawai diriku sendiri mengingat jalan yang kulalui semenjak mendaki Gunung Bongkok dari bawah tadi.

Oia, arah ke puncaknya hampir serupa dengan Gunung Parang. Jalan ke arah kiri, penuh tumbuhan hijau dan pepohonan dan sedikit naik. Ada akar dan oowww… tangga buatan dari kayu yang masih baru. Kenapa aku jadi teringat Raja Ampat yang kulihat di foto salah seorang teman sailing yang pernah kesana ya? Ya semoga ini Gunung Bongkok nantinya juga dikenal luas seperti Raja Ampat dan tempat wisata lainnya ya? Amin..

IMG-20160113-WA0042
Tangga kayu menuju Puncak Batu Tumpuk. (doc by Faiz_BPJ)
IMG-20151222-WA0020
Pintu masuk Puncak Batu Tumpuk. (doc Aditya Dede)

Kami menaiki tangga dan suara teman-teman Tektok Team sudah terdengar. Ruang terbuka! Aku melihatnya dari langit luas di depan sana. Dan begitu kepalaku mendongak, satu cengiran segar dan Adit memotretnya dari atas tempat ia berdiri.

Puncak!

Aku duduk dan mencari-cari sebuah tempat untuk melakukan rutinitas gunungku. Dimana ya? Semuanya batu besar yang bertumpuk-tumpuk. Aku bingung karena tidak menemukan tempat datar.

Pantas saja dinamakan Batu Tumpuk, karena memang batu-batu besar bertumpuk disana hingga dipaling atasnya. Agak ngeri aku naik kesana. Anginnya kencang meskipun sejuk setelah diguyur hujan sebelumnya. Aku tidak berniat naik ke atasnya sih kali itu. Ingin segera bersyukur.

Hmm… disitu juga aada jejak kaki Jonggrang atau siapa ya, aku pernah membaca di salah satu blog. Ahh, nanti deh aku cari lagi yaaaaa…… lupa! Dan aku melihat tapak kaki itu ada diantara sujudku dan sepatu Wiwit di depannya. Coba nanti aku zoom deh. Aku juga belum terlalu memperhatikannya.

Dari puncak ini pun, kita bisa melihat Waduk Jatiluhur serta kota Purwakarta di bawah sana. Kalau malam, mungkin pemandangan city lightnya akan indah ya? Apalagi kalau langit cerah dihiasi bintang-bintang, pasti seru deh. Mungkin nanti ada saatnya bisa kemping ceria menikmati indahnya malam berbintang di Gunung Bongkok ini. Waktu itu, Retno memang pernah bilang, kalau disana bisa kemping dan menikmati malam, sunset dan sunrise yang indah. Whoaaaaaa……. keren euy 😀
*lope-lope daaaaahh

Ummm.. mataku masih mencari-cari wilayah datar. Dimana ya?? Sudah dua kali aku bertanya hal itu dalam hati ketika akhirnya…..

“Disana Kak Ejie, di kanan. Di balik batu besar ini, ada tempat datar buat Kak Ejie sujud syukur,” salah seorang dari mereka menyeletuk. Aku menoleh, tapi lupa siapa yang bersuara. Lho, ini baru pendakian kedua kalinya aku bersama tim ini, tetapi mereka langsung hapal apa yang ingin kulakukan?? Waaah…… aku langsung sayang mereka nih 🙂

Mengitari jalan yang diarahkan dan aku segera bersujud, berterimakasih Kepada Yang Memberi Kesempatan pada langkah si kaki lambat ini. Berterimakasih karena aku bisa tiba di gunung ini, lengkap bersama teman-teman baruku. Berterimakasih karena pendakian untukku adalah pelajaran kehidupan.

Alhamdulillah.... Terima Kasih Yang Maha Pemberi Kesempatan.  (doc Aditya Dede)
Alhamdulillah…. Terima Kasih Yang Maha Pemberi Kesempatan. Itu benarkah tapak kakinya diantara sepatuku yang tengah bersujud dan sepatu Wiwit?
(doc Aditya Dede)

 

Ahh… pengertian yang mungkin berbeda pada tiap orang yang telah mencapai ketinggian. Pemahaman yang mungkin takkan sama dalam pribadi masing-masing. Aku hanya melihat, berjalan dan berdo’a dalam syukurku hari itu. Syukur yang akan terus kupanjatkan, tak hanya ketika kita berada di suatu tempat, namun bisa dimanapun.

Terima kasih teman-teman Tektok Team..
Terima kasih kaki lambatku yang setia dan sabar membawaku kemana pun..
Terima kasih gunung yang menerima kami…
Terima kasih kepada Yang Memberi Kesehatan, Amin Ya Rabbal Alamin….

IMG-20151221-WA0009
(doc Alief Ridwan)

Bahwa sesungguhnya mendaki itu penuh dengan rundukan kepala. Dan ketika telah berada diatas, puncaknya, lihatlah, betapa kuasa Maha Pencipta itu sungguh tiada terkira. Bahwa bila memandang dari atas ketinggian, kita hanyalah kecil di hadapan-Nya. (jie)

***

Catatan pribadi: 

  1. Registrasi                           : Rp 10.000,-
  2. Jajan                                    : Rp 5.000,-
  3. Makan telur 1/2 matang  : Rp 3.000,-
  4. Jajan es batu                       : _gratis_

 

Advertisements

Published by

ejiebelula

I'm just an ordinary person who is always looking for friends, adventures and life stories to complete. it all started from any footsteps, traveling and recording with a cheerful heart notes and a spirit that always accompany my steps toward the so-called ideals of the school also hopes to live through the experience. I will dedicate my heart only for two, red and pink. # Waiting for the right moment for a heart the gift of God

2 thoughts on “Hujan Perosotan ke Puncak Batu Tumpuk Gunung Bongkok”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s