Sindoro Kecil di Gunung Batu Jonggol

Plang Puncak Batu (doc pribadi)
Plang Puncak Batu
(doc pribadi)
Perjalanan mendadak, selalu berlaku bagiku. Menyenangkan. Apalagi kalau belum pernah ke tempat yang dituju. Gunung sederhana, berkabut namun bersahabat. Trekking malam yang ceria, serta suasana khidmat ketika kami mendo’a kan teman di atas sana. Enjoyed night trekking 😀
***


Bogor
30 Desember 2105

ODT yang Gagal

Gunung Batu Jonggol? Pasti banyak yang bertanya, kenapa harus mendaki gunung itu sih, Jie? Hhhehee… ya aku tak memilih mau kemana. Mungkin karena gunung ini lumayan dekat dari tempat tinggalku, bisa kesana mengendarai motor, tak perlu membawa packingan besar dan menyenangkan karena jalan bersama teman-teman yang mengasikkan. Apakah perlu alasan lain lagi?

Baiklah. Begini, rencana awal hanya sweeper sahabat seblay Ioh bersama Alan_HI DKI Jakarta dan Fian, teman kecil seblay yang mau ke Gunung Batu di Desa Sukaharja, Kecamatan Sukamakmur ini. Lalu aku pun ikut mengajukan diri, mendadak. Rabu, di 2 hari menjelang tahun baru, kami memutuskan kesana, one day trip (odt) saja.

Hhahahaaa.. apa daya maksud ODT tinggal cerita. Berangkat dari Jakarta pukul 14.30 Wib dengan meeting point di masjid dekat SMP 6 Pondok Gede. Tiba di lokasi, kami kesorean. Hari menunjukkan pukul 16. 30 Wib. Hujan pun merupakan salah satu alasan mengapa bisa tiba terlambat tak sesuai planning. Padahal kami sudah di pintu gerbang Pos 2 Gunung Batu. Mungkin maksudnya, ke gunung tersebut, ada beberapa pintu yang bisa dilalui, salah satunya adalah pos 2 ini.

batu22
Pintu masuk Gunung Batu dari arah Jalan Raya Bogor. (doc pribadi)

Kami naik motor kesana. Karena Ioh yang paham jalannya, kami mengikuti saja. Berikut adalah jalur yang bisa ditempuh untuk ke Gunung Batu (Wikipedia):

  • Melalui Jonggol (Cibubur junction – alternatif cibubur – Cileungsi – Jonggol –Kampung Menger – Gunung Batu.
  • Melalui Citeruep (Cibinong – Citereup –Tajur – Sukamakmur – Gunung Batu.

Untuk sampai ke pelataran parkirnya, seharusnya dengan bermotor bisa cepat kan ya? Tetapi karena hujan, aku dan Fian turun dari motor dan berjalan kaki. Sementara Ioh dan Alan meneruskan laju kendaraan bermotornya dengan hati-hati. Jalanannya terdiri dari pecahan batu kali yang disusun untuk menutupi sebagian jalan tanah merahnya. Kalau hujan begini, jalan berbatu itu menjadi licin.

batu1
Jalur pertama masuk, masih cukup landai (doc pribadi)

Sekitar 15-20 menit kami berjalan dan sampai di parkiran dimana dua temanku sudah langsung memesan minuman hangat. Yaaahh.. aku juga deh, lapar 😀 Lumayan kan sembari menunggu hujan reda, kami makan dan bercerita pada pemilik warung tempat kami berteduh.

Naik ke gunung ini dikenakan biaya Rp 15.000,- sudah termasuk biaya parkir motor.

Di pelataran, banyak warung yang berjejer. Rasanya, kita tidak usah repot bawa banyak keperluan logistik ringan deh. Cuma, kalau sudah sore seperti itu, untuk pengkonsumsi makanan pokok seperti nasi, hampir tidak ada yang berjualan nasi dan makanan lainnya. Ahh, lagi-lagi aku harus berurusan dengan mie instan. Bosan aku. Tapi karena lapar, aku pesan juga mie pakai telor dan sayur yang banyak.

Kami bersiap setelah beristirahat dan makan yang cukup, naik disaat hari menjelang malam. Pemilik warung dan orang lokal mengatakan, agar kami menyiapkan headlamp atau senter, karena selain malam, kabut juga bisa menjadi hambatan berjalan kami.

***

Jalur Kepleset

Tanjakan yang masih bersahabat. (doc Alan)
Tanjakan yang masih bersahabat.
(doc Alan)

Masih lumayan terang dan cukup banyak juga pengunjung yang turun. Kenapa aku mengatakan pengunjung? Soalnya yang turun dari tadi, kulihat rata-rata bersepatu kets, sandal hingga yang nyeker (melepaskan sepatu, red) karena turunan yang licin. Ya mungkin disebabkan gunung ini lebih kepada fun trekking, jadi tidak terlalu dihitung sebagai gunung yang harus menggunakan kelengkapan mendaki khusus. Entahlah. Persepsi masing-masing orang kan berbeda ya untuk sebuah tempat (gunung) yang didatanginya. Aku tidak ingin berasumsi negatif. Cukup menikmati perjalanan kemalamam ini saja bersama teman-temanku. Kalau ingin aman, ya gunakanlah perlengkapan sesuai tempat mana yang didatangi.

Mulanya aku berjalan di belakang. Tanah disana merah dan pepohonan berbatang kurus di kanan kiri. Kalau tidak sedang musim hujan, jika berjalan, kurasa akan banyak debu mengepul di udara. Harus pakai masker, melindungi pernapasan supaya tidak menghisap debu.

Di musim penghujan, tanah merah ini pun mempunyai cerita tersendiri. Udara jauh lebih segar dan bersih. Jalan menjadi licin akibat curah hujan, harus pandai melangkah kalau tidak ingin tergelincir jatuh seperti seblay dan aku. Yaaaahh… padahal, tadinya mau foto jalur deh. Gara-gara aku tergelincir di tanjakan dekat pohon sebelah kiri, kameraku penuh tanah merah. Akhirnya kumasukkan dalam tas, tak jadi melanjutkan memotret. Hal serupa ternyata kejadian juga dengan seblay Ioh. Jadi di jalur selanjutnya, kami akhirnya menikmati night trekking dengan panggilan-panggilan atau candaan.

batu9
Plang Tetap FOKUS (doc pribadi)

Jalur dimana aku terjatuh itu, ada sebuah plang di pohon, pertengahan jalan bertuliskan “Tetap FOKUS”. Yeap, mungkin itu peringatan karena jalur sudah mulai serius nanjak dan mengingatkan bahwa tanjakan licin (di musim hujan). Selama jalur pendakian ini, kanan-kirinya penuh dengan tumbuhan hijau. Rumput yang lumayan tinggi dengan bunga-bunga orange nya, pohon, serta tanaman lain masih terjaga dengan baik.

Tak jauh, kita akan bertemu dengan area camping ground yang cukup luas. Bisa muat 10 tenda berdekatan membentuk lingkaran deh. Ada pohon juga. Bisa donk kalau mau gantung hammock disana. Hhhehe… sayang aku ngga punya dokumentasinya. Huaaaaaa 😥

Sekali lagi, maksud hati ingin melihat #sunset indah dari atas gunung, ternyata kabut masih menyelimuti. Senja berganti malam dan kami tetap menjejak.

Jalur tanah merah yang lumayan membuat kami tergelincir, tak mengecilkan niat kami untuk mencapai puncak bersama. Senangnya kalau bersama Keluarga Upoh Hammockers Indonesia ini, aku selalu saja tertawa. Walau hanya berempat, tak mengurangi rasa kebersamaan yang ada.

Kata orang lokal dan seblay yang sudah pernah naik gunung ini, naik ke atas hanya sekitar 1 jam saja. Wiih.. aku belum pernah ya ngga pahamlah. Apalagi tanjakan licin begitu. Sadar diri laaaaahh….

***

batu4
Pemandangan gunung sebelum gelap. (doc pribadi)

Jalur Webbing

Di beberapa titik, kami harus menggunakan webbing, bantuan naik keatas, mengingat jalur yang cukup membuat kami harus berjalan miring mengikuti arah tanjakan.

Webbing pertama, tidak terlalu terlihat, karena bercampur dengan tanah. Kami lebih memilih untuk berjalan pelan, tanpa memegang webbing tersebut.

Webbing kedua, aku mulai menggunakannya. Lumayan daripada lumanyun jatuh kan? Hhheeheh

Webbing ketiga, tanjaan mulai panjang, dan bantuan webbing ini sepertinya tali apa ya namanya? Merah sih tangan kalau tidak memakai sarung tangan. Maka, Alan meminjamkan sarung tangan (bagusnya) untukku. Huaaaaa…. sayang banget deh pakai sarung tangan itu. Aku lupa menaruh sarung tangan pink ku.

batu11
Lupa ini di jalur yang mana deh… Sepertinya jalur-jalur webbing yang srosroooottt.. (doc pribadi)

Disini hari sudah semakin malam. Aku sudah tidak terlalu memerhatikan pos berapa, atau sudah dimana ketika itu. Yang aku ingat adalah, tanjakan berwebbing di sebelah kiri dan rumput serta pohon-pohon rimbun di kiriku ini, cukup diikuti saja alurnya. Kami naik bergantian. Karena yang memakai headlamp hanya Alan dan Fian, jadilah kami berpasangan agar tetap mendapat sinar.

Oia, aku jujur saja agak seram ketika di tanjakan ini. Iya sih, sudah tidak ada lagi yang turun, hanya kami berempat saja yang berada disana, dan aku menempati urutan pertama naik.

“Alan, naik. Jangan jauh-jauh. Takut,” aku bersuara tanpa menjelaskan seperti apa takut itu. Kekuatan berpikiran positif selalu kuterapkan dalam setiap pendakian tanpa melihat tinggi rendahnya sebuah gunung. Alan mengiyakan dan ia mendaki mengikuti tak jauh di belakangku. Webbing tidak bisa langsung jalan berdekatan, karena akan berpengaruh pada posisi orang yang berada di depannya. Maka dari itu, kami saling memberi jarak.

Setelah sampai dibatas aman, Ioh dan Fian menyusul. Selanjutnya kami masih harus menggunakan jalur webbing kembali di tanjakan yang hampir serupa.

***

Webbing Batu

Hmm.. sesuai saja gunung disebut Gunung Batu. Pandangan di depanku kini adalah tanjakan yang dipenuhi oleh bebatuan. Aku jadi teringat jalur batu di Gunung Merapi, Jawa Tengah yang selalu membuat mataku melek tak berkedip. Atau jalur batu di Gunung Parang, Purwakarta. Ahhh, aku selalu saja menyukai jalur-jalur memanjat seperti ini.

IMG-20160109-WA0016
Jalur setapak yang hanya muat satu orang saja. Diambil siang hari, di kesempatan berbeda ketika IOh nanjak siang hari. Model, Ioh. (doc pribadi)

Eh tapi, karena sekarang nanjaknya malam, dan sisi kanan-kiri kami adalah jurang, ditambah aku yang tak bisa memakai kacamataku jika naik gunung, jadilah aku si kaki lambat yang balik kepada kebiasaanku. Merambat? Iya. Hhhahahaaa…. Ya ngga apa donk. Wong Alan, Ioh, dan Fian juga santai.

***

Sindoro?

Menurutku, Gunung Batu, Jonggol dengan ketinggian 875 Mdpl ini, terlihat seperti Sindoro kecil. Bukit berlipat dimana 3 kali aku mengira telah sampai di puncak. Kok bisa?

Jadi setelah melewati tanjakan webbing batu pertama dan melihat di belakangku, tampak seperti puncak, jelas aku senang.

“Kita sampai, Alan? Itu puncak?” tanyaku pada Alan yang sedang mengarahkan Ioh dan Fian menyusul kami.

“Belum tahu, Jay. Kan Ioh yang sudah pernah kesini?” jawabnya tanpa melepaskan pandangan mata pada kedua temanku di bawah.

Ioh sampai dan langsung saja aku mengulang pertanyaanku tadi, “Kita sampai, Yoh? Itu puncak bukan?”

“Belum, Ejay…. Puncaknya bukan disitu,” Ioh yakin dan tak perlu melihat untuk meyakinkan dirinya.

Tuuuhh kan?? Bukit berlipat. Melihat puncak, ketika dihampiri, ternyata masih ada bukit lainnya yang kalau aku bilang, itu puncakkah? >_<

Kami melanjutkan ke bukit tanjakan berikutnya. Sama, jalur kecil dengan tanjakan berbatu.

Ehm… seperti biasa, aku naik duluan diikuti Alan. Ketika itu aku mencarii posisi aman untuk dudukku. Alan sudah bilang kalau aku jangan duduk menjauh. Tapi aku bermaksud memberikan ruang luas bagi Alan agar bergerak bebas saat menolong memberi arahan pada Ioh dan Fian.

Belum 1 menit duduk dan meletakkan tangan di belakang, badan, tiba-tiba aku berteriak. Kencang dan segera pindah duduk dekat Alan.

“Kenapa, Ejay?”

“Ada itu, Lan….” aku bercerita padanya dan ia langsung menyuruhku duduk tidak jauh-jauh darinya. Jera dan nurut pada akhirnya adalah pilihan buatku. Sejak itu, aku nurut dan tidak jauh dari Alan, Ioh dan Fian.
*berdo’a dalam hati

Tanjakan bukit webbing kedua yang membuatku semakin yakin, bahwa gunung ini kalau malam, memang terlihat seperti Sindoro kecil. Sindoro, ohh.. Sindoro….Ehh, itu kata aku sih…. hhehehe

***

Puncak yang Beda

Malam berkabut, dengan harapan bisa melihat citylight kuyakinkan.

“Yaaah.. kabut, Ejay. Ngga bisa liat lampu kota nih kita!” seru Ioh.

“Tenang, Yoh…. nanti pasti dibuka kok langitnya. Kita dikasih cerah sama Allah kalau sudah sampai diatas,” aku menyemangati Ioh.

Kata Ioh, puncak sesungguhnya yang ada bendera, artinya tinggal tanjakan terakhir saja. Kami melewati dataran kecil yang dipakai oleh pendaki lain untuk kemping ketika kami berada di puncak. Cukup 2 tenda saja, walau sebenarnya wilayah itu adalah jalanan sempit.

Huah!

Dan begitu tiba di puncak sesungguhnya, Subhanallah… IA memberikan kami langit bersahabat, cerah dengan pemandangan lampu kota gemerlap dibawah sana. Tampak lampu kendaraan yang lalu-lalang dibawah, kecil berwarna-warni.

IMG-20160109-WA0014 (1)
Puncak Utama Gunung Batu siang hari. (doc Rio Candra Kusuma_HI DKI Jkt)

Pucuk, pucuk, pucuk. Kami tiba di puncak berbendera seperti yang dikatakan Ioh.

“Ejay disitu bersyukurnya. Tempat datar, Ejay….” Ioh mengarahkanku. Sedikit demi sedikit, beberapa orang sahabat mengerti dengan kebiasaanku ini. Bersyukur atas pencapaian yang sudah kuraih. Sama saja dengan berjuang hidup? Iya! Ummm… pemahaman akan gunung yang sukar kujabarkan dalam bentuk kalimat. Hanya rasa yang dapat menguraikannya.

Di puncak Gunung Batu ini, ada sebuah papan nama dari teman yang mendapat musibah disana. Hal yang sangat berbeda dari pendakian lainnya yang membuatku tersentuh dengan ketiga teman pendakiku ini. Hal yang tidak pernah aku lakukan sebelumnya di gunung manapun. Kami mendo’a kannya. Menekurkan kepala, menyampaikan do’a dan membacakan Al-Fatihah. Sungguh, terasa berbeda…

Tempat dimana kami berpijak ini, tidaklah terlalu luas. Hanya ada patok bendera di dekat bibir puncaknya, patok bendera Merah Putih disisi lain, plang puncak, dan sebuah papan nama. Cukup bagi kami untuk bisa menikmati malam yang indah ditemani langit cerah, suasana do’a yang tenang, serta dinner dan tawa di puncak. Makanan sederhana yang membuat perut kenyang. Alhamdulillah..

Terima kasih Yang Maha Menciptakan Alam ini.. (jie)

***

batu25ejie
Alhamdulillah (doc Alfian, taken by Alan)

This slideshow requires JavaScript.

 

Advertisements

Published by

ejiebelula

I'm just an ordinary person who is always looking for friends, adventures and life stories to complete. it all started from any footsteps, traveling and recording with a cheerful heart notes and a spirit that always accompany my steps toward the so-called ideals of the school also hopes to live through the experience. I will dedicate my heart only for two, red and pink. # Waiting for the right moment for a heart the gift of God

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s