Trekking 3/4 Hutan Tropis Kawah Ratu

Treking sahabat Hammockers Indonesia (doc pribadi)
Treking sahabat Hammockers Indonesia
(doc pribadi)
Langkah kaki yang semakin ingin cepat melangkah, namun terhambat oleh penerangan yang minim. Ditambah dengan hujan yang tiada henti mengguyur sekitar kaki Gunung Salak serta malam yang menjemput. Aura berbeda kian bertambah di kala salah seorang trekker mengucapkan salam di area camping ground berkabut, gelap dan terdengar suara di kejauhan, “Tek, teeek, teeeeekkk.”
Assalamu’alaikum…..
***

Gunung Bunder, Bogor
Januari 24, 2016

Catatan Perjalanan Keluarga Upoh
Hammockers Indonesia

Kendala Perjalanan

Rencana bermain airΒ kami jalankan,Β olehΒ keinginan yang sedang gandrungnya eksplor curug. Ya baru dekat-dekat saja sih dan letaknya masih bisa dijangkau dengan kendaraan bermotor. Dari perbincangan di grup dan chit-chat panjang, akhirnya 3 motor dengan 5 orang berangkat ke lokasi pilihan, Gunung Bunder. Mereka adalah Ioh seblay, Pitray, Joe, Aday dan aku. Alasannya mudah saja. Karena di Gunung Bunder itu, banyak curug-curug yang bisa dieksplor.

Dari awal perjalanan, entah kenapa, bebebrapa kendala kami hadapi. Aku yang tak bisa tidur semalaman (meski telah diselingin dengan menulis blog biar mengantuk), kesiangan bangun. Tidur pukulΒ 004.00 Wib dinihari, terbangun jam 07.00 Wib.

Oalah, kulihat jam ditanganku dan mengambil telpon genggam yang berdering. Pitray!

“Nyak…” suara di ujung telpon.

“Kesiangaaaaannn! Huaa.. mandii.. iya, siap, sip,” aku langsung memotong menjawab Pitray yang membangunkanku.

“Aday jemput Kak Ejay ya,” ujarnya sebelum aku menutup telpon dan bergegas mandi dan bebersih. Untung sudah packing semalam. Huahh!

Kendala kedua adalah bangun yang kesiangan yang menyebabkan sarapan pun kesiangan. Waktu sudah menunjukkan pukul 08.30 Wib. Kami sarapan bersama di daerah rumah Pitray sambil membicarakan apa yang kita lakukan disana. Hhhahaha… akhirnya merambat jalan terlambat, mampir ke LIPI Bogor untuk mencoba mencari peta untuk rencana perjalanan kali ini yang akan diselingi dengan pelajaran navigasi darat yang didapat teman-teman secara teori dan ingin menerapkan di lapangan.

Kendala ketiga, aki motor Ioh yang tiba-tiba ngadat dan tidak bisa di starter sama sekali. Owmak! Apalagi ini? Kami mencari bengkel motor, dan terpaksa, Ioh membeli aki motor yang hanya hidup hingga mengantarkan kami tepat ke pintu Kawah Ratu, Gunung Bunder, Halimun Salak.

Kendala selanjutnya, ketiga lelaki itu berjibaku pada motor Ioh, si Otat (motor vespa kesayangan Ioh yang berwarna coklat) yang berkelana kemana-mana, pada akhirnya perlu perhatian khusus. Sementara mereka sibuk mengotak-atik si Otat, aku dan Pitray ya ngobrol, jajan di warung tempat kami berteduh dari hujan rintik yang terus menemani kami sepanjang perjalanan Jakarta-Jl. Raya Bogor-Ciampea-Gunung Bunder.

***

Trekking PintuΒ Gunung Bunder

Pukul 14.15 Wib

Turunan awal. Lewatin aliran air, atau ke jembatan bambu. (doc pribadi)
Turunan awal. Lewatin aliran air, atau ke jembatan bambu.
(doc pribadi)

Sudah mampir ke toilet di samping saung musholla dekat pintu masuk curug dan Kawah Ratu. Logistik tambahan berupa 2 bungkus nasi sudah dibeli. Kami memulai petualangan. Menyusuri jalan berupa pecahan batu yang disusun pada jalan menuju curug atau kawah? Entahlah, Ioh sebagai leader kami, tidak memberitahu secara pasti kemana kaki kami akan melangkah.

Aku cukup percaya dengan segala petualangan yang kerap kami lakukan bersama Seblay. Asal yang namanya trekking, hiking, berpetualang bareng Seblay mah lucu. Banyak ketawanya. Perjalanan akan terasa ringan karena tidak ada beban susah yang dipikirkan. Nikmati saja perjalanan ini, okeeee….

Lintasan curug pertama, aku jumpai di 10 menit perjalanan kami. Turunan yang dilalui oleh aliran curug dan sebelah kanan adalah jembatan bambu. Aday mengambil jalan di jembatan bambu supaya terhindar dari basah.

2 menit dari menyeberangi aliran air tersebut, aku melihat plang penunjuk arah yang bertuliskan Curug Buluh (kiri) dan Kawah Ratu (kanan). Ioh mengarahkan kami ke Kawah Ratu. Mulai dari plang tersebut, jalan yang kupijak sudah terbilang tanah merah/tanah liat. Karena malam sebelumnya hujan sudah membasahi kawasan Halimun, Gunung Salak ini, otamatis jalanan menjadi becek. Yah, siap-siap saja bermain lumpur, basah, tanah licin dan noda disana-sini yang akan menempel di pakaian. Hehhhehhe…

Plang jalur (doc pribadi)
Plang jalur
(doc pribadi)

Kalau tidak sedang musim hujan pun, aku rasa, kawasan ini juga termasuk daerah lembab. Mungkin karena dilewati oleh aliran air curug yang hampir ada di sepanjang jalur trekking. Air curug ini, berada di sebelah kiri jalan kami. Ioh yang suka mengeksplor, hampir setiap saat memasuki jalur-jalur kecil yang kami temui. Tepatnya penasaran dan ingin tahu tembus kemana jalan itu. Aku yang sadar diri sedang dalam keadaan ‘tidak bersih’ tentu saja tidak ingin mencoba-coba seperti yang dilakukan Ioh. Aku lebih banyak menunggu saja di luar, tempat aman bersama Joe, Pitray dan Aday. Sesekali, Pitray mengikuti Ioh masuk mengecek ke dalam.

***

Trekking Tanah Merah

Pukul 14.33 Wib

Vegetasi seputar daerah itu, sangat rapat. Hijau, pohon dan tumbuhan yang penuh, tanah lembab, aliran air yang kesemuanya termasuk dalam kategori hutan tropis.

Beberapa kali Aday (yang baru hitungan kedua kalinya ikut trekking dan hiking karena ajakan Ioh) agak kesulitan melewati jalan basah bertanah merah itu. Sedikit bebatuan yang ada. Batang pohon yang rubuh, atau akar tanaman yang ada di tengah jalan, terlihat di beberapa tempat. Lumayanlah buat kita berpegangan.

Oia, Pitray sempat berganti celana pendek agar tidak kotor terkena lumpur celana panjangnya. Kami berhenti di satu dataran yang bisa dijadikan tempat mendirikan tenda. Bisalah 2 tenda didirikan kalau kemalaman ya? Tapi sedikit ngeri sih, soalnya hutannya sunyi euy….

Pukul 14.55 Wib

Kami mulai memasuki wilayah yang lumayan lega, berupa jalanan berbatu. Pohon-pohon semakin jelas dengan tumbuhan pakis dan daun kunyit layaknya bumbu dapur yang sering kulihat disekitar. Aku juga melihat tumbuhan yang berbuah dengan ranting merah dan kuning, entah apa namanya. Eh, ada juga itu, biji-bijian yang sudah menghitam warnanya, banyak jatuhannya di tanah.

Semakin berjalan ke atas, aku semakin merasakan tumbuhan semakin lebat dan merunduk. Juntaian daun-daun yang ada sedikit menghalangi jalan. Kami mengenakan jas hujan untuk menghindari rintik hujan yang merapat, melindungi ransel-ransel yang menggelayut pada pundak-pundak kami.

Tak jauh dari sana, kami melalui genangan air yang cukup lumayan. Membuat kami harus hati-hati melangkah. Disamping licinnya tanah merah, ada batu-batuan kecil yang harus dijadikan tumpuan pijakan agar tidak jalur air ini tidak terlalu membasahi sepatu-sepatu. Masih sore dan perjalanan kan cukup jauh. Belum ada 1/2 nya kami menjejaki hutan tropis ini.

Genangan air panjang pertama (doc pribadi)
Genangan air panjang pertama
(doc pribadi)

Sejak jalur trekking bertanah merah tadi, di kiri jalan, selalu ada aliran kecil curug. Kadang tertutup rimbunnya tanaman yang ada, hanya terdengar suaranya saja. Tak jarang, juga melihat aliran curug yang terbuka. Airnya sejuk, enak buat berlama-lama sambil menunggu Ioh yang selalu saja mendapatkan celah melihat jalan kecil. Keinginan mencoba pelajaran navigasi daratnya belum terpenuhi. Padahal kami sudah sedia dengan protaktor, peta, dam kompas yang dipersiapkan sejak dari kemarin.

***

Camping Ground yang Sunyi

Pukul 15.10 Wib

Sebuah tanah lapang luas dengan kabut yang menghiasi. Pohon yang nampak samar tertutup kabut, becek dimana-mana dengan air yang menggenang. Sunyi? Iya! Ssstt.. jangan berisik! Aku menelan ludah ketika melewatinya.

Camping ground! Yeap, lapangan luas ini memadai digunakan tempat kemping. Yang penting mah tahan dengan beceknya saja. Kalau hujan, tanah merah disana sudah pasti akan menyapa kita dengan ramahnya. Selain itu, harus kuat juga dengan udara malam disekitarnya. Ummm… sebenarnya,Β udara dan aura di wilayah itu agak ‘beda’. Sudah ahh…. jangan dilanjutin. Jalan-jalan saja duluuuuuuuu…

Masih sore di camping ground (doc pribadi)
Masih sore di camping ground
(doc pribadi)

Kami (tanpa aku) sempat mengambil gambar disana. Ada papan peringatan yang mengatakan untuk tidak melanjutkan perjalanan jika air curug menggenang. Aku tidak terlalu melihat tulisannya. Tetapi seperti itulah kira-kira pesannya. Kata aku sih, karena jalur yang dilalui ini memang jalur air yang kalau curah hujan lumayan besar, cukup berbahaya jika perjalanan diteruskan.

***

Jalur Air Panjang

Pukul 16.00 Wib

Jalur-jalur disini bervariasi ya? Atau aku yang melewatkan rasa antara naik dan turunan. Ketika naik, aku tidak terlalu merasa naik yang curam, tetapi ketika turunan, aku merasakan langkah-langkah yang panjang, jauh dan begitu banyak jalur jeblosan yang membuat kaki, tepatnya lututku kiriku cukup merasakan sakit Β Sindoro baca:Β 3s-tektok-bonus-sunset-dan-ujian-sindoro-part-4/. Ehh, jalurnya beda!

Selain jalur air, jalur curug, tanah licin, akar-akar mulai tampak pada area lainnya. Dan tepat di pukul 16.00 Wib, kami melalui jalur air terpanjang. Jalur dengan pohon bambu kecil, tanaman berduri, dan tumbuhan rindang.

Agar aman, ambil jalan di kanan. Air yang tadinya hanya sebatas mata kaki jika berjalan mengambil kanan, melipir ke tumbuhan kanan, maka di kiri air akan sebatas lutut orang dewasa dengan pasir bercampur tanah sebagai pijakan. Pijaklah batu-batuan yang ada diantara air tersebut. Berjalan bergantian supaya tidak terjeblos ke air. Horeeee… aku lolos dari basah! πŸ˜€

Akhirnya setelah trekking 2,5 jam perjalanan, kami beroleh kesempatan untuk berisitirahat sejenak (16.15 Wib). Lumayan deh 2 menit. Aday akhirnya tertawa jugaΒ tuh. Soalnya dari tadi dia sudah bilang kalau lapar, tapi karena kami terus berjalan. Aku memberikan camilan padanya untuk mengganjal perutnya yang sudah kelaparan. Hhhahaha… salahin Ioh, tuh, Day….

Istirahat pertama setelah trekking lumayan jauh (doc pribadi)
Istirahat pertama setelah trekking lumayan jauh
(doc pribadi)

30 menit dari tempat beristirahat, kami memutuskan untuk benar-benar masak besar. Tempat itu, terlihat jelas dengan bebatuan besar dari arah datang kami. Di kanan jalan, alur air curug sangat jelas mengarah ke bawah dan mengaliri sisi lain curug. Sementara di kanan adalah jalur datang kami tadi, dimana aliran airnya tidaklah terlalu besar, namun cukup berbahaya juga jika dilalui dalam keadaan curah hujan yang lebat.

Untuk ke Kawah Ratu, kami harus menerobos curahan air pada curug di depan kiri kami. Tapi kami memutudkan berhenti, beristirahat, masak dan makan. Selain itu, hari juga sudah mendekati malam.

Perut yang lapar! Ya mau tidak mau, karena perut keroncongan, angin yang kencang, udara dingin, serta tempat strategis di cabang 3 itu, kami sudah tidak dapat menahan panggilan cacing-cacing di perut kami. Teriakan mereka lebih kencang dari suara deru curug yang berkejaran. Ayookk… masak!

This slideshow requires JavaScript.

***

Ungkapan Hati

Sebenarnya aku tak ingin menuliskan hal ini. Karena saat ini juga, disaat jemariku menari diatas keyboard lappy ini, seketika itu juga, bulu kudukku berdiri. Angin dingin berhembus di balik punggungku. Seakan tahu aku akan menuliskan apa yang teman-teman dan aku rasakan kemudian menceritakan di chit-chat grup pemburu curug.

Maaf ya kalian yang disana… Aku hanya ingin sharing saja.

Turunan di 3/4 trekking Kawah Ratu yang tak sampai itu, menyisakan cerita. Dimana awalnya adalah ketika kami berhenti untuk mengambil webbing di tas hammockku yang dibawa Joe. Kami berhenti di aliran deras itu karena tak ingin terjadi sesuatu dalam perjalanan pulang. Iya, mengingat hujan deras dan gerimis yang bergantian tak henti, serta aliran air yang kencang.

Malam semakin merenggut senja yang tak kunjung kelihatan. Kabut-kabut menenggelamkan rasa, menyimpan segala kecamuk aura yang ada. Jajaran 5 orang trekker yang sibuk mengatur langkah dan barisan. Bukan tak tahu ada apa, tapi kami semua mendiamkannya, tidak menyebutkan, tidak menginisialkan, ataupun tidak sekadar bercanda untuk hal yang dilarang demi menjaga hal-hal yang tak diinginkan. Hanya merasakan kehadiran lain disana.

Ketika Ioh mengatur barisan selanjutnya dengan posisi Pitray di depan, Ioh, aku, Joe dan Aday, lalu bertukar posisi karena Aday yang tak kuasa berada di belakang. Akhirnya posisi tetap hingga sampai dengan selamat di pintu masuk bawah Pasir Rengit, Gunung Bunder adalah Ioh, aku, Pitray, Aday dan Joe sebagai penyapu bersih bagian belakang. Kami berjalan rapat tanpa memberikan jeda pada baris-baris kosong.

Ketika penerangan lampu yang minim, kami menuruni trek becek yang hanya dihiasi dengan lumpur dan air saja. Ketika aku terpuruk sebentar lalu berpegangan pada drybag kuning Ioh karena merasakan sesuatu…

“Ejay, jangan dorong gueeeee….” Ioh bersuara.

Aku hanya bilang bahwa aku tidak mendorong, karena sesuatu yang ‘beda’ berada disana dan aku memutuskan untuk memegangnya erat dengan tangan kanan, dan erat dengan tangan kiri, dimana Pitray tetap menjaga di belakangku sembari memegang webbing.Β Aku sadar akan diri yang sedang tidak dalam kondisi ‘bersih’, dan memaklumi bahwa malam gelap berhujan itu juga berpeluang untuk hal di luar kuasa kita ‘ada disana’.

Alasan kedua, ketika kami tengah dalam canda, Pitray mengucapkan, “Dzikir, wey…”

Lalu aku yang sedariΒ memegang drybag Ioh sudah berdo’a, seketika bacaanku salah 3 kali. Mengulangnya, tetapi tetap saja salah. Uhhh! Jangan panik dan tetaplah tenang, Ejay…. cukup simpan segalanya dalam hati tanpa menyebutkan.

Alasan lain, Ioh yang selalu menyenter ke atas, Aday yang menyebutkan supaya Ioh jangan menyenter ke atas dan aku perjelas hingga akhirnya Ioh menyorotkan santernya ke bagian bawah saja. Perjalanan itu terkadang lucu karena banyolan-banyolan, terkadang pun ada saat dimana kami merasa harus diam karena sesuatu.

Camping ground yang sunyi, malam dimana mereka mulai merasakan bulu kuduk berdiri setelah aku mengucapkan salam. (doc pribadi)
Camping ground yang sunyi, malam dimana mereka mulai merasakan bulu kuduk berdiri setelah aku mengucapkan salam.
(doc pribadi)

Terakhir dan begitu terasa, ketika kamiΒ melewati arena camping groundAllahu Akbar, maaf… maaf… aku tidak menggangu, bulu kudukku berdiri tegas untuk kesekian kalinya ketika menuliskan— aku mengucapkan salam dan permisi.

“Assalamu’alaikum, permisi, numpang lewat. Jangan ganggu, yaaaa…..”

Bahwa sesungguhnya setiap makhluk yang ada di dunia ini, hidup saling berdampingan. Selama kita tidak saling menggangu, aku rasa tidak apa menuliskan dan berbagi. Wallahu’alam

***

CATATAN

  1. Selalu menggunakan sepatu untuk menghindari batu-batuan dan menjaga kaki kita dari kondisi alam yang ada (kondisional).
  2. Sediakanlah selalu jas hujan, meski saat itu mungkin cuaca bagus.
  3. Ingat dan lihatlah tiap patok yang tersedia pada jalur trekking yang dilewati. Biasanya berwarna hijau dengan tulisan berwarna putih atau kuning yang menandakan berapa jauh perjalanan kita.
  4. Bawalah perlengkapan standar seperti kompas, headleamp, batrai isi ulang.
  5. Selalu membawa perlengkapan logistik ringan untuk camilan.
  6. Sediakan tisu basah, tisu kering dan kantong plastik untuk tempat sampah.
  7. Jangan mencorat-coret alam sekitar karena tidak ada gunanya sama sekali.

Be a smart traveller. Terima kasih sudah menyayangi alam… πŸ˜‰Β (jie)

***

 

Advertisements

Published by

ejiebelula

I'm just an ordinary person who is always looking for friends, adventures and life stories to complete. it all started from any footsteps, traveling and recording with a cheerful heart notes and a spirit that always accompany my steps toward the so-called ideals of the school also hopes to live through the experience. I will dedicate my heart only for two, red and pink. # Waiting for the right moment for a heart the gift of God

4 thoughts on “Trekking 3/4 Hutan Tropis Kawah Ratu”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s