Melukat di Tirta Empul Bali

Wisata Bali selalu bernuansa keagamaan. Hampir di tiap tempat yang dikunjungi, tidak lepas dari kisah legenda atau sejarah jaman dahulu dari tempat wisatanya. Wisata Pura Hindu memang mendominasi hampir di semua tempat wisata. Selain itu, kita pun wajib menggunakan kain saat berkunjung.

Ratu di depan pintu masuk Tirta Empul. (doc Ratu, taken by me)
Ratu di depan pintu masuk Tirta Empul.
(doc Ratu, taken by me)

Berlokasi di Kabupaten Gianyar, Bali, komplek Wisata Tampak Siring terdiri dari beberapa objek wisata seluas 42,63 kilometer persegi. Bersama teman-teman dari SMK Tehnik, Jakarta, kami mengitari bagian dalam komplek tersebut.

Saya dan Ratu, adik yang selalu bersamaku dari sekolah itu dan berada satu bus, menjelajahi Tirta Empul. Ratu sudah pernah ke pemandian itu, jadilah ia sedikit memandu saya, mengarahkan jalan yang kami lalui.

Pura pertama yang kami temui. (doc Ratu)
Pura pertama yang kami temui.
(doc Ratu)

Kami menemukan pura pertama yang tidak terlalu ramai. Hanya sedikit yang berkunjung disana. Ada pohon besar didalamnya dengan meja sesaji, lengkap dengan payung khas Bali. Kami melongokkan kepala dan melihatnya sejenak. Setelah berfoto, kami mengarah ke Tirta Empul.

Sebuah objek wisata yang sering dijadikan tempat plesiran adalah pemandian Tirta Empul di Tampak Siring. Air di pemandian ini dianggap suci oleh penduduk disana. Karena tempat tersebut dianggap suci, maka ada larangan bagi perempuan yang sedang dalam keadaan tidak bersih (haid), agar tidak masuk ke dalam inti wilayah Tirta Empul.

Disamping harus bersih bagi perempuan, bagi orang yang ingin berdoa, diwajibkan menggunakan kain yang diikat di pinggang. Berlaku juga bagi para lelaki yang datang. Kita akan memakainya sebelum masuk ke gerbang utama berhalaman luas.

Bukan hanya penduduk lokal saja yang datang untuk melukat (beribadah), namun wisatawan mancanegara pun akan mampir dan berdo’a disana. Disamping beribadah, tempat pemandian ini dipercaya juga sebagai tempat membersihkan diri, dan dipercaya air sucinya bisa menyembuhkan penyakit atau racun dan menyegarkan diri.

Terdapat tiga bagian penting dari pemandian ini. Bagian paling luar pura disebut dengan jabe sisi (Nista Mandala). Sedangkan bagian tengah disebut jabe tengah (Madya Mandala).

Pancuran air suci, letaknya ada di tengah. Terdiri dari 30 air mancur yang menghadap ke selatan. Bila diperhatikan, pancuran tersebut bentuknya seperti tempurung yang berlubang, mirip keong. Pada masing-masing pancuran, ada sesaji yang berisi bunga aneka warna dan dupa. Sesaji ini diletakkan diatasnya.

Bagian dalam, Jabe Tengah yang merupakan pusat pemandian dan beribadah. (credit to google)
Bagian dalam, Jabe Tengah yang merupakan pusat pemandian dan beribadah.
(credit to google)

Setelah melewati 30 pancuran, sampailah kita pada bagian akhir pura. Bagian akhir disebut dengan jeroan (Utama Mandala).

Dibelakang adalah tempat pemandian Tirta Empul. (doc Ratu)
Dibelakang adalah tempat pemandian Tirta Empul.
(doc Ratu)

Karena sedang berhalangan, kami hanya bisa melihat bagian dalam Tirta Empul dari balik pintu keluar yang tak sepi pengunjung ini. Agak susah mengambil gambarnya. Banyak wisatawan yang lalu-lalang 🙂 .

Tirta Empul ini diartikan sebagai (mata) air (suci) yang menyembur dari tanah. Berasal dari bahasa Bali, tampak artinya telapak, dan siring berarti miring.

Mbok Pipin, guide yang memadu 45 orang dari sebagian rombongan kami, menceritakan legenda Tirta Empul yang pernah terjadi di masa sebelumnya.

Dahulu, ada seorang raja bernama Mayadenawo yang memerintah di Desa Manukkaya, Tampak Siring. Kepemimpinannya tidak baik dan terdengar oleh Dewa Indra yang memiliki sisi kebaikan dan bermaksud menghentikan kejahatan raja itu.

Tanpa bisa dicegah, mereka bertarung. Karena sama-sama memiliki ilmu tinggi, tidak ada yang kalah dalam pertarungan itu. Hingga akhirnya Mayadenawo berbuat curang. Ia menyelinap masuk ke area perkemahan Dewa Indra dan meracuni pusat pemandian Tampak Siring.

Perbuatan Mayadenawo ini mengakibatkan seluruh pasukan Dewa Indra terkena racun dan penyakit gatal-gatal. Untungnya, Dewa Indra tidak terkena racun dari kolam pemandian di perkemahannya, Tampak Siring.

Mengetahui keadaan pasukannya yang terkena racun, Dewa Indra mengejar Mayadenawo,  memanah tanah dimana raja jahat itu berlari hingga mengeluarkan air dari dalam tanah bekas panahnya.

Kucuran air itu ternyata berkhasiat. Bisa digunakan untuk menyembuhkan dan menetralisir racun akibat ulah raja jahat. Air inilah kemudian dianggap suci dan disebut sebagai Tirta Empul. Tirta adalah air, dan empul berarti menyembur.

Tampak Siring Bali
Tampak Siring Bali
Bagian belakangnya adalah kolam tempat ikan-ikan yang juga dianggap suci. (doc Ratu)
Bagian belakangnya adalah kolam tempat ikan-ikan yang juga dianggap suci.
(doc Ratu)

Di depan Tirta Empul terdapat kolam ikan. Berbentuk persegi panjang dengan ikan-ikan besar di dalamnya. Jika kita mempunyai hati yang sabar dan tulus, kita bisa melihat ikan besar disana.

Disamping itu, objek wisata lainnya adalah Istana Kepresidenan yang dibangun secara bertahap oleh seorang arsitek, R.M. Soedarsono`

Tingginya 700 meter diatas permukaan laut dengan susunan tangga yang tinggi ke atasnya. Harus mendongak melihatnya. Ada dua bangunan wisma di istana itu. Luasnya 1.200 meter di Wisma Merdeka, dan Wisma Negara seluas 1.476 meter. Istana Kepresidenan ini dibangun pada tahun 1957-1960 dan selesai pada tahun 1963.

Masuk ke wisata ini, kita harus membayar retribusi sebesar 15 ribu dan bisa menelusuri komplek Tampak Siring. Parkirannya luas untuk berbagai jenis kendaraan.

Keluar dari komplek tersebut kita akan melalui jalan yang berbeda dari saat masuk. Petugas akan mengarahkan ke pasar souvenir. Agak membingungkan keluar dari labirin pasarnya, karena untuk beberapa saat, saya dan Ratu sempat tersesat disana. Hhahhaha…. Keder mau keluar karena sudah ditunggu bus rombongan. Dan akhirnya, kami ketinggalan! 😀 (jie)

Tangga menuju Istana Kepresidenan Tampak Siring. (doc Ratu, taken by me)
Tangga menuju Istana Kepresidenan Tampak Siring.
(doc Ratu, taken by me)
Advertisements

Published by

ejiebelula

I'm just an ordinary person who is always looking for friends, adventures and life stories to complete. it all started from any footsteps, traveling and recording with a cheerful heart notes and a spirit that always accompany my steps toward the so-called ideals of the school also hopes to live through the experience. I will dedicate my heart only for two, red and pink. # Waiting for the right moment for a heart the gift of God

2 thoughts on “Melukat di Tirta Empul Bali”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s