Rencana Gaspol Hitchhiking Jakarta-Yogya (1)

By Erick Samuel
By Erick Samuel
 Hitchhiking bukan sekadar perjalanan riang-riang saja. Dokumentasi perjalanan yang biasa terlihat di album foto pada sosial media, belum tentu menceritakan keseluruhan hal yang terjadi di balik proses perjalanannya. Apalagi dengan cara yang tidak biasa, menumpang. Bukan hanya mental dikedepankan, tetapi fisik merupakan bagian penting yang harus diperhitungkan.
Tim HH Jakarta-Yogya (doc pribadi)
Tim HH Jakarta-Yogya
(doc pribadi)

 

Hitchhiking (menumpang, red) dengan tujuan sama pernah kulakukan di 2012 lalu. Jakarta ke Yogyakarta, seorang diri. Mempersiapkan segala sesuatu yang tak kuketahui.

Buta peta, seperti itulah kenyataan akan kekurangan diriku yang agak sulit mengingat sejumlah lokasi. Padahal peta yang sekarang ini jelas-jelas sangat mudah bagi sebagian orang untuk membacanya. Semakin dimudahkan dengan adanya google maps di gadget. Hehhhe… sayang, aku bukanlah orang canggih yang updet seperti kebanyakan orang yang termasuk di dalamnya.

Meskipun buta peta, aku berusaha mempersiapkan ‘bekal’ untuk diriku. Mencari tahu jalur dengan meminta bantuan dari sahabat hitchhikingku. Biasanya aku bertanya pribadi, langsung kepada orangnya.

Tidak semua juga mau memberikan informasi. Terkadang aku pun hanya diberikan clue saja dan harus lanjut mencarinya sendiri. Susah? Tidak juga, karena semakin menguatkan rasa penasaranku untuk mengulik jalur tujuan lebih dalam. Tantangan? Yes! Hmm.. Iya juga, soalnya jalan malam sih.

Aku yang sebelumnya terbiasa melakukan hitchhiking bersama teman-teman dalam sebuah tim, ketika itu berniat dan melakukan hitchhiking by my self. Perjalanan menumpang dan sendiri yang akhirnya menjadi titik tolak dari beberapa hitchhiking yang akhirnya kujalankan.

Kali ini aku pun akan berpetualang ke Jakarta-Yogya-Sleman, karena akan menghadiri family gathering setelah melihat postingan Suci Tembang (Traveler Kaskus). Demi perjalanan tersebut dan melihat satu tempat baru yang belum masuk dalam daftar hitchhike, kuputuskan menuliskan kembali list Sleman dalam otak juga hati hitchhikingku.

Aku teringat Pitray (Fitri Ayu, panggilan sayang dalam grup Hammockers Indonesia, grup lain dimana aku bergabung), adik tangguh yang patut kuperhitungkan soal hitchhike ini.

Minggu sebelumnya, aku sempat mengajaknya ke Bandung dengan cara yang sama. Karena sesuatu dan lain hal, aku tak jadi ke Bandung dan otomatis gagal hitchhike juga berlaku padanya. Kecewa? Bisa dipastikan Pitray pasti kecewa karena aku menggagalkan perjalanan penasaran yang mungkin telah ditunggunya agar bisa merasakan sensasi hitchhike.

Jika hitchhike merupakan kesabaran, Pitray tentu akan menerima dan harus belajar kenapa gagal itu ada. Lebih dalam menurutku, hitchhike pun berkisah mengenai kehidupan yang bila kita berkenalan dan berteman dengannya, maka akan semakin mengerti apa yang kita hadapi.

Ahh.. sulit ini. Konsen cari camilan dah biar enak nulis hitchhiking Jakarta-Yogya nya 😀

***

Ajakan Hitchhiking

Postingan ajakan dengan sengaja kudendangkan. Tentu saja langsung memberikan tawaran pada Pitray yang kutahu ia sudah siap lahir bathin. Tinggal mengetahui sejauh mana kondisi fisik dan mentalnya kemudian dalam perjalanan.

Travelmate, aku akan mengetahui karakternya nanti sepanjang perjalanan. Sama seperti buddy di lautan, pun partner dalam mendaki gunung. Perbedaan hanya terletak pada tempat, sebutan pada dasarnya adalah sama. Hanya penempatannya saja mungkin yang memberikan arti lainnya.

Dalam masa perencanaan dan ajakan itu, kemudian muncullah nama kedua yang juga mengajukan diri ingin ikut mencoba hitchhiking. Retno Wulandari, teman tektok yang sudah menjabani beberapa gunung-gunung Indonesia bersama teman-teman dari Tektok Team.

Ketangguhan seseorang pada medan yang berbeda, akan terlihat nanti, pada saat hitchhiking dimulai. Kenapa aku mengatakan demikan? Nanti donk sabar yaaa… baca terus biar penasarannya ngga buremin muka! Aahahahhah

***

(doc pribadi)
(doc pribadi)

Persiapan

Dalam kenyataannnya, hitchhiking memang tidak pernah ada teorinya. Pun ketika aku pertama kali mengikuti kegiatan yang dilakukan oleh komunitas Hitchhiker Indonesia tahun 2012 lalu. Tidak ada penjelasannya sedikit pun. Hanya tahu bahwa hitchhiking adalah menumpang.

Demikian dengan Pitray dan Retno. Aku hanya memberitahukan mereka untuk tidak kelayaban dua hari menjelang keberangkatan. Istirahat yang cukup, persiapkan packingan yang nyaman pada saat dibawa, dan mencoba belajar pemetaan.

Aku memberi pilihan pada mereka, apakah mau terus lanjut atau ingin ada pemberhentian. Aku lakukan, karena berada dalam tim. Bukan mengedepankan egois sendiri. Pertimbangan dari tim pasti aku saring, biar sama rasa dan ngga ada kalimat, “Iya, kamu senior..”

Langkah, tips dan saran, kubagi dengan mereka. Aku rasa, mereka berdua, telah siap untuk mencoba memulai perjalanan dengan cara menumpang.

Yeap, saya akan memulai perjalanan ngegas pol perdana dengan 2 perempuan tangguh yang berbeda karakter. Hmm.. lets see them at the road 🙂 (jie)

 

Bersambung yaaaaakkk….

HH at night (doc pribadi)
HH at night
(doc pribadi)
Advertisements

Published by

ejiebelula

I'm just an ordinary person who is always looking for friends, adventures and life stories to complete. it all started from any footsteps, traveling and recording with a cheerful heart notes and a spirit that always accompany my steps toward the so-called ideals of the school also hopes to live through the experience. I will dedicate my heart only for two, red and pink. # Waiting for the right moment for a heart the gift of God

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s