Surat Kedua: Dekaih Selalu di Hati

Aku bukanlah orang yang pandai berkata-kata dalam nyata.
Laut, gunung, atau kolam saja yang cukup sederhana adalah inginku kali ini.
Sudah beberapa hari ini aku merasa harus segera “kemana”. Dan ruang putih ini benar-benar menjagaku dari sebuah kegelisahan. Iya, aku merasa aman disini. Menyingkirkan segala gundah Desember yang selalu menghampiri.
Tapi Dekaih, kalian selalu saja membuatku berada dalam rasa merindu. Ahh… gimana ini?

Credit to M Akhbar Ardhani
Credit to M Akhbar Ardhani

***

Check:

https://ejiebelula.wordpress.com/2015/12/22/surat-untuk-keluarga-upoh-bahagia-atau-sedih/

***

The Day
12.10 PM

Dear Dekaih,

Sedikit cerita tentang hari yang selalu kulupa. Hari dimana kalian selalu mengingatnya. Hari dimana bukan hanya keluarga yang mengingat, tetapi kalian. Orang-orang yang selalu berada di dekatku sejak itu. Sejak kita selalu bersama.

Walau tak lagi dalam hitungan jalan bareng yang ramai, terkadang hanya lingkup kecil dengan personil yang bergantian, tetap saja Dekaih selalu bersama. Kelompok-kelompok kecil yang tercipta dari kedekatan, tetap saja akan menjadi besar dalam sebuah undangan tak terelakkan. Ada sebuah benang halus yang menghubunginya. KITA.

Satu cerita dimana aku akhirnya melihat biru yang tenang, langit bersahabat dan pagi dengan udara segar namun sedikit terasa terik. Kolam. Iya, ombak-ombak kecil di kolam itu mengalun tenang sisi bathinku yang bergejolak. Padahal ya, sebelumnya sudah diajakin ngelihat hijau, coklat, biru, putih dan abu diantara warna cerah di pagi buta. Dan aroma pinus diantara merah yang menjaga. Tetap saja aku membutuhkan tenang. Tenang yang menyesapkan.

Hari itu, dimana aku tengah berusaha bolak-balik berenang menenangkan diri pada keinginan terdalam, melihat laut. Benar, aku merasa ada sesuatu yang menghentak, tapi apa? Sejak kemarin, Senin sebenarnya, aku ingin sekadar menyudut dalam sepi, jauh dari mana pun. Cuma ngga punya ide. Ada sih… tapi ya gitu. Ada rasa enggan berpisah. Ahh, gimana? Bingung aku.

Lalu ketika dalam putaran terakhir renang, aku akhirnya merasakan berat di hempasan kaki dan lengan, aku menyerah. Tiba-tiba, bingkai lucu itu, yang sedari tadi, ehh tidak. Dari kemarin atau kemarin lagi ya? Yang selalu sibuk dengan gadgetnya menghampiri di pinggiran kolam.

Cekrek! Ihh, kenapa? Memotret muka pongok (pasti) karena aku tidak tahu kenapa ia tersenyum.

“……… baru buka grup. Baca. Dimana-mana penuh ucapan,” sembari mengulurkan tangan.

D-E-K-A-I-H...” bathinku.

Ugkhhh, jujur ya. Sedalamnya hati, sungguh, entah mengapa aku tidak ingin itu. Aku yang terbiasa melewatkan hari tanpa menspesialkannya, jadi risih. Kikuk. Karena memang hampir tidak pernah demikian. Jangankan hari spesial, hari biasa saja, aku hampir tidak pernah bisa mengingatnya kalau memang tidak terlalu perlu.

Ishh.. what i’ve to do know?

***

09.53 PM

Aku akhirnya melihat 4 ribu chat yang tercatat dalam sosmed berlogo gagang telpon dengan latar hijau itu. Bukan hanya di grup saja, tapi sejumlah japrian mengalir deras disana. Hampir semuanya adalah mereka yang dekat denganku.

Seperti halnya ketika itu, berbagai emoticon bahagia seperti terompet, kue, lilin, minuman, dan lainnya, menghiasi segala rupa ucapan dari setiap teman-teman. Bukan satu grup, tapi hampir semua. Pun dengan jalur pribadi yangg penuh dengan kalimat selamat. Deuuhh

Satu grup diskusi yang berisi obrolan dari duo pedas, mengalir juga disana. Gatal sih kepengen baca, tapi belom sanggup. Ngeri nanti ada yang meleleh dari sudut-sudut aliran yang tak sanggup kupendam.

Begitu pun satu pesan dari anak bangor yang sudah kupastikan bisa dengan tepat, seperti apa isi chatingannya. Selalu saja ia bisa menggambarkan dengan baik kondisi bagaimana aku.

Menyimpan sejuta pesan untukku dari kejauhan. Pesan sayang yang terselip dari tiap kalimat-kalimat panjangnya dalam obrolan kami. Pesan nasihat yang juga kadang ada darinya untukku. Pesan yang untukku, selalu membutuhkannya di saat aku sendiri.

Ahh bangor…. Terkadang ia jauh melebihi rasa sebagai saudara. Selalu bisa menangkap setiap garis gundahku. Selalu membaca apa yang tersirat dalam tiap jemari yang mengalir pada postinganku.

Kemudian kini, ada kacang merah yang kemanapun pergi, pasti demam. Alhasil, kita akan kedapatan dahsyat kegalakannya. Atau ia yang selalu saja ‘menculik’ kami -anak bangor dan aku- tiap Senin, menemaninya di rumah. Ehh, kadang juga bangor sih, kalau mau tugas luar kota, ya kita harus temanin dulu sehari sebelumnya. Huaaaa… kamuuuhh -_-

Kejadian belakang, ia pun dengan galaknya memantau aku agar meminum obat. Obat laknat yang membuat kadar tidurku menjadi parah. Hampir tiap saat bisa jatuh tertidur tanpa sadar. Ckckkkckkkk… sebegitukah?

Bang Anday. Pak Rete Dekaih yang kalem, tapi di saat genting, ia bisa dengan tegas memerintahkanku nurut pada apa yang dikatakannya. Aku yang tak bisa diam di satu tempat, mengajukan permintaan, tapi kata-kata ultimatumnya tak bisa kubantah. Belum pernah aku melihat Bang Anday sesaklek itu di Curug Layung, Bandung kemarin. Ehh, apa di rumah sakit ya? Lupa lah Ejie…. ZZzzzZZz

Dan ada satu lagi jajaran galak yang tercatat. Abbay. Entah kenapa ia pun rasanya seperti Dekaih yang tetiba jadi galak padaku. Nyuruhin makan jadi segitu galaknya. Ngadu ahh ngaduuuu… ke Pitray Rurih. Etapi sih percuma juga karena ternyata mereka malah berpihak padanya. Ishhh…

Dekaih, jauh. Tak dekat disisi, tapi selalu mampu mengalirkan rasa pada orang lain. Mendadak mentransfer sebagaimana Dekaih layaknya. Kenapa bisa begitu ya? Aku seringkali menjumpai hal-hal demikian, padahal jauh dari Dekaih. Apakah karena aku merindukan kalian ya?

***

Dekaih,

Requested by Fitri Ayu Anggraeni. Makasi ya sweeper sahabat seblay bambangan sayangku... (Created by Rio Candra Kusuma)
Requested by Fitri Ayu Anggraeni.
Makasi ya sweeper sahabat seblay bambangan sayangku…
(Created by Rio Candra Kusuma)

Tidak cukupkah surat pertama yang pernah dikirimkan tahun lalu? Akankah ada surat-surat lainnya yang terkirimkan entah darimana posisiku berada? Haruskah hari itu akan selalu menjadi pengingat bagi kalian disana?

Ucapan sekadar ucapan, mungkin begitu yang terekam dalam otakku. Bagiku, kehadiran kalian dimanapun meski tak harus berhadapan adalah hal nyata. Sudah canggih begini, kehadiran virtual bisa jadi sebagai satu penyemangat untukku.

Sekadar memanggil “Ejay” di grup pun, aku sudah merasa bahwa kalian akan selalu ada dimanapun aku. Selalu bisa merasakan bahwa Dekaih selalu memiliki tempat spesial di hati. Di ruang tertentu yang tak bisa dijabarkan peruntukan keberadaannya. Karena bentuk perhatian paling utama yakni sayang yang tak terungkap. Ya, itu KITA.

Aku bukanlah orang yang pandai berkata-kata. Tulisan, mungkin bisa mewakili isi hati meski tak juga pandai mengungkapkan segala rasa yang bergejolak. Sekadar polah tercipta dari seorang Ejie yang biasa, semoga saja bisa tetap menerima sayang dari kalian.

Terima kasih, Dekaih… selalu ada sebagai keluarga tak terhingga bagiku.

 

Salam dinihari, teruntuk Dekaih tersayang..

 

Dari Ejay
yang akan selalu menyayangi kalian, DEKAIH  ^,^

===============================================================

Next Day
00.30 AM

Dekaih memang bukan hanya berisi Jakarta saja, tetapi Indonesia. Jateng, DIY, Jatim, Jabar, Tasikmalaya, Bogor, Bone, Solo, Bekasi, apalagi? Lupa saya. Berbeda tapi lengkap. Dekaih adalah panggilan untuk teman-teman yang tergabung dalam komunitas Hammockers Indonesia. Biasanya, setelah berkegiatan dan bertemu muka, kita undang teman-teman untuk masuk dalam grup di salah satu chatting sosial media.

Dan untuk hari dimana aku kerap melupakannya, catatan ucapan dari grup, sosmed dan japrian teman-teman, tetap mengalir hingga tercatat di saat aku sedang menuliskan surat ini.

Kepada kalian disana, terima kasih banyak atas rasa sayangnya padaku 🙂
Jujur, aku tak pernah merasa sebegininya dalam hidup.

Hatur nuhun sadayana…..

***

 

 

 

Advertisements

Published by

ejiebelula

I'm just an ordinary person who is always looking for friends, adventures and life stories to complete. it all started from any footsteps, traveling and recording with a cheerful heart notes and a spirit that always accompany my steps toward the so-called ideals of the school also hopes to live through the experience. I will dedicate my heart only for two, red and pink. # Waiting for the right moment for a heart the gift of God

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s