Kalah Pada Sebuah Rindu

Sudah berapa waktu ini?
Sudah berusaha meminggirkannya, tetap saja rasa itu selalu menggangguku. Sudah mencoba meredamnya. Sudah berusaha mengalihkannya. Sudah berulangkali menyingkirkan, susah..

Gunung Lawu turunan Cemowo Sewu (2016) Credit to Yuriska FDU
Gunung Lawu turunan Cemowo Sewu (2016)
Credit to Yuriska FDU

***

Day in Getlost

Titik ini harusnya dijalani saat itu, ketika aku mengalirkan keinginan dalam sebuah panjat. Panjat padanya yang tak jauh berada disisi. Ingin mengucapkan tapi tak mampu karena sebuah ucap yang telah terlontar disana. Aku menahan, berdamai dengan ingin yang begitu kuat memaksa. Menenangkannya dalam sabar tak terhingga. Tapi?

Hari itu, kupacking beberapa barang. Sekadar ingin menghilang sejenak dari hadapan. Bukan, bukan karena membosankan. Bukan pula karena ia tidak mengambil peran banyak dalam kehidupan belakangan ini. Justru dengan hadirnya, aku merasa kalah dalam beberapa hal. Merasa luluh dalam beberapa laku yang tanpa sadar diperlihatkannya. Merasa tak mampu mengalihkan dari polah sederhananya.

Sederhana memang. Terbilang biasa, tetapi mengatupkan bibir hingga tak sanggup mengucapkannya. Memandangnya dalam pandang diam yang hanya aku (mungkin) yang paham. Berkata-kata dalam tiap sentuh yang terjadi. Berkalimat panjang dalam asa yang mengalir.

Hari itu dimana sebuah keinginan yang biasanya spontan kulakukan, bisa diredam, walau berkali-kali ia terus saja mengetukku kuat. Lalu, bagaimana dengan hari ini?

Hahhhaha… sedih, iya. Dalam aliran yang tiba-tiba saja tumpah tanpa bisa dicegah pada sudut anak mata, aku menyerah. Menyerah dalam diam. Menyerah dalam pasrah bahwa memang tidak semua keinginan bisa tercapai dengan instan.

Menyerah pada langkah yang biasanya gesit kujalani. Menyerah pada satu ruang yang tidak bisa kugambarkan, namun sangat dalam menghujam. Menyerah pada satu denting yang selalu kusuka, denting warna-warni. Menyerah pada satu sorot teduh yang tak dapat kupungkiri. Menyerah pada sebuah bingkai.

Ahh bingkai…

Sudah berapa lama berjalan? Sudah berapa banyak langkah kaki yang tercipta? Sudah berapa banyak jejak yang terpatri pada tiap jalan yang dilalui? Sudah berapa banyak kilometer yang terukir? Sudah berapa banyak tapak yang tertinggal? Sudah berapa banyak kisah yang tertulis? Tetap saja, aku kalah…

Bagaimana bisa satu momen tak sengaja menyebabkan akibat yang begitu dahsyat di lingkar sebuah hidup? Bagaimana bisa rutinitas beralih kepada kata menyerah? Dan bagaimana bisa sebuah bingkai mampu membuat sendi tak berdaya? Menggoyahkan keukeuh yang selama ini menjadi kekuatan bergerak?

Jangankan jawaban, untuk bertanya pun, aku merasa tak mampu mengutarakannya. Entahlah, tak mampu atau tak ingin bertanya.

Yang kutahu, bisakah di freeze semua memori yang ada? Bisakah tetap berada di tempatnya hingga tak lagi ada tempat bagi yang lain? Bisakah?

Kemudian keinginan menggunungku? Bagaimana? Aku masih saja menginginkannya. Masih saja berharap. Masih saja merindukannya. RINDU!

Iya, aku merindukan udaranya. Merindukan berbicara padanya. Merindukan menyentuh dedaunan di sekitar. Merindukan kabut tipis yang turun. Merindukan abu-abu yang kadang terlihat diantara pepohonan. Dan menangkap sebuah bingkai semangat pada langkah ringanku ketika di Cetho. Dia. Dia yang meringankan langkah ini. Menuntunku hingga mampu berjalan dalam sepi yang penuh senyum. Dia..

Merindukan langkah lambat disana. Merindukan bercerita pada tiap jalur yang ada. Dimana dengan bebas bisa kuutarakan tanpa perlu berucap. Berkata hanya dari tatapan. Berdiskusi hanya dari elusan tanpa sadar. Lalu reda dalam dawai sentuhnya.

Freeze the moment <3 Credit to Sepatu Hitam Penjaga
Freeze the moment ❤
Credit to Sepatu Hitam Penjaga

Merindu tetapi inginnya.
Merindu namun tak ingin kehilangannya.
Merindu padanya dan dengannya…
RINDU..

Aaaaarggghh kalian membuatku tak berkutik dalam daya. Semakin menghentak ingin terdalamku hingga melemahkannya… KALAH!

Jika saja bisa, aku akan memilih keduanya. Memilih mereka yang menenangkan. Memilihnya dengan pandangnya. Memilihnya dengan segala kesederhanaannya. Memilih pada gigi lucunya….

Dan denting itu melabuhkanku pada ketenangan sebuah kolam ketika bersama. TENANG.

Denganmu, tenang..
Tak terpikir dunia ini
Karnamu, tenang
Semua khayal, seakan kenyataan

Ahh… jika saja….. (jie)

***

Advertisements

Published by

ejiebelula

I'm just an ordinary person who is always looking for friends, adventures and life stories to complete. it all started from any footsteps, traveling and recording with a cheerful heart notes and a spirit that always accompany my steps toward the so-called ideals of the school also hopes to live through the experience. I will dedicate my heart only for two, red and pink. # Waiting for the right moment for a heart the gift of God

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s