Patroli Hitchhike Pendek (Jakarta-Cikarang)

Mencoba menumpang bukan perkara semudah omongan yang keluar dari sebuah ucapan. Berdirilah di ujung sana, dan usahaķanlah kendaraan bagi diri.

Titik akhir hitchhiking saya di Polsek Cikarang Selatan. Doc pribadi.

Titik akhir hitchhiking saya di Polsek Cikarang Selatan.
Doc pribadi.

Hitchhiker yang Tertinggal

Melakukan hitchhiking panjang memang mempunyai poin tersendiri. Hal ini bisa saja berupa:

  1. Tantangan jauh berkaitan dengan mental dan fisik.
  2. Rasa penasaran, apakah akan bisa menyelesaikan perjalanan dengan hitchhike.
  3. Kemungkinan besar bisa menemukan tempat baru yang belum pernah dikunjungi orang. Atau sudah pernah dikunjungi, namun tidak terlalu terekspos.
  4. Memperoleh teman dan keluarga baru.
  5. Sebuah perjalanan biasanya akan membawa kisah dan membentuk karakter serta pemahaman dalam pada diri.

Banyak nilai tambah yang tentunya akan berimbas pada diri kita pada akhirnya.

Heemm… tak harus selalu melalui hitchhike dengan rentang waktu panjang atau lama juga. Terkadang melakukan sebuah perjalanan menumpang juga bisa dijalani dengan jarak pendek. Seperti yang pernah saya lakukan ketika itu.

Saat itu, tujuan akhir saya adalah Purwakarta.

Rencananya, saya dan @tektok_team akan mendaki Gunung Parang untuk kedua kalinya bersama. Sialnya, dalam dua kali main bersama tim tersebut, entah kenapa, saya selalu saja ketinggalan berangkat bareng.

Sebab, tak tahu kenapa pula, di saat bersamaan, saya selalu saja mempunyai janji cek gigi secara rutin. Memeriksakan kawat gigi (behel) di dokter gigi. Alhasil, saya sudah sangat hapal kosekuensi yang terjadi. Akan sukses terlambat berangkat bareng!
*kkccccckkckkk… payah Ejie mah -_-

Catatan lain, bus ke arah Purwakarta sudah tidak ada lagi jika waktu sudah menunjukkan lewat dari  pukul 21.00 wib. Sementara menunggu kereta pagi tidaklah mungkin. Karena tim tentu akan bergerak ke arah pendakian di pagi hari. Satu-satunya pilihan akhir saya, hanyalah hitchhike (HH) saja.

Ya, senjata akhir terbaik saya jika sudah daam keadaan terjepit, HH. Yuhuuuuuu…. senaaaaanngg 😉

Mencari beberapa informasi ke Purwakarta. Ehh, walaupun sudah pernah HH kesana, saya selalu lupa arah dan jalur. Kebiasaan jelek, ya kan?!?

Tanya punya tanya, ternyata di Cikarang ada teman yang juga akan berada di satu tim pendakian, Adit. Ia mengarahkan saya bertemu dengannya dan dari Cikarang berangkat bareng.

“Nanti berkabar aja, Kak Ejie. Kita naik motor,” ujar Adit dalam whatsapp nya.

Bermodalkan niat dan tekad harus tiba di Purwakarta sebelum pagi, saya mendadak melakukan hitchhike dari tol Cawang Jakarta ke pintu tol Bekasi Timur. Kendaraan pertama, saya naik mobil polisi yang mengira saya memang kesulitan mendapat kendaraan.

Mobil sedan berwarna merah tersebut, memang bermaksud pulang ke arah Bekasi Timur. Kebetulan, bapaknya pulang ke arah sama tujuan saya (Ugkhh, saya lupa nama bapaknya. Nanti di update lagi kalau sudah ingat).

Oia, untuk beberapa hal, ada saat dimana kita sebagai penumpang tidak bisa menshare obrolan dalam kendaraan. Menurut saya ya wajar saja. Kadang, pengemudi tidak ingin terlalu terekspos  latar belakangnya yang berkaitan dengan pekerjaan. Hampir rata-rata seperti itu. Jadi cukuplah hanya antara penumpang dan pengendara saja yaaaaaa…

Bijaklah memilah mana yang bisa di share untuk kepentingan umum, dan mana yang hanya boleh untuk dikonsumsi pribadi saja. Toh kita tidak merugikan siapapun dengan menyimpannya, bukan?

Pak Polisi yang mengantarkan saya sampai ke gerbang pintu tol Bekasi Timur. Doc pribadi.
Pak Polisi yang mengantarkan saya sampai ke gerbang pintu tol Bekasi Timur.
Doc pribadi.

Umm, untungnya, bapak ini memperbolehkan ia untuk difoto. Bahkan ia menawarkan, jika saya atau teman saya melakukan perjalanan dengan menumpang dan bila sedang berada di arah kami, si bapak akan memberikan tumpangan selama searah tujuan. Whoaaaa… asik kan? 😀

Ada cerita lucu ketika saya menumpang di kendaraan pertama. Meskipun sudah bercerita mengenai komunitas saya, tentang perjalanan HH yang sudah saya lakukan (baik berkelompok maupun sendiri), tetap saja beliau mengira saya nyasar dan ngga punya ongkos melanjutkan perjalanan. Padahal saya pasang tampang bahagia loh. Bercerita dengan semangat seperti adanya saya. Hhheheheee…

Ya begitulah yang kerap terjadi saat kita melakukan hitchhiking. Tanggapan dan pandangan orang sebagai pengendara yang memberikan tumpangan, bervariatif. Ingat ya? Berpikiran baiklah, agar kita bertemu dengan orang-orang baik pula.

***

Petugas Keamanan

Selanjutnya, mungkin saya berdiri sekitar 15 menit di Pintu Tol Bekasi Timur. Satu mobil berhenti dan menanyakan arah tujuan setelah melihat saya beriri dan memampangkan tulisan NUMPANG. Belum berjodoh karena pengendara tidak melewati jalur yang sama dengan tujuan saya.

Weeyy.. Sudah terbiasa dengan keadaan menerima kalimat tidak sejalur kan? Jadi jangan kendor mencari kembali 🙂

Tak lama, sebuah kendaraan avanza hitam, berhenti tepat di depan saya. Ia menanyakan arah tujuan saya dan cepat saya menjabarkannya. Obrolan chit-chat nyambung. Tanpa ragu, saya segera naik ke dalam kendaraannya.

Hal pertama yang saya ingat adalah sebuah alat komunikasi yang lain dari biasanya. Selanjutnya, dari hasil perbincangan saya dengan pengendara (bukan mengambil kesimpulan, tetapi semua berasal dari obrolan kami), sama seperti kendaraan pertama. Saya harus membatasi ruang pengetahuan publik tentang keharusan saya memposting kisah pengendara yang tengah saya tumpangi.

Sedikit bocoran:

  1. Saya naik kendaraan petugas keamanan yang…. hahahaadeuh, bagaimana saya mendeskripsikannya ya? Bingung!
  2. Kemudahannya, karena petugas keamanan negara, maka saya akan di drop pun di tempat aman ke arah Pos Polisi di Cikarang. Jadi, Aditlah yang akan mencari posisi saya nanti (demikian arahan si bapak itu).
  3. Tidak boleh mengambil gambar kendaraannya dari luar. Jadi informasi plat nomor kendaraan pun, saya tidak wajib mempublikasikannya.

Kalau sudah begini, bolehkah kita mengenyampingkan aturan tidak tertulis dalam berhithhiking? Aturan seperti apa? Memposting nama, plat nomor dan nomor handphone si pengendara? Boleh saja.

Meski saya hanya membaginya pada tim pantau perjalanan di belakang layar (dengan izin si pemilik data), semua kisah hari itu mempunyai nilai tersendiri.

Bahwa sebuah perjalanan dengan aura positif berpikir, akan selalu mengiringi tiap langkah dalam masanya. Jangan ragu dalam melangkah, karena akan berimbas pada jengkal yang kamu jalani. Semangatlah!

***

Dua Bukan Masalah

Singkat memang. Saya dengan cepat tiba di Cikarang dan bertemu Adit yang menjemput di Pos Polsek Cikarang Selatan.

Hanya menumpang dua kendaraan saja dari Jakarta. Hahhha… sah saja donk? Kalau biasanya saya selalu mendapat banyak kendaraan untuk tiap perjalanan Nol Rupiah, kali ini, dua pun sudah senang. Soalnya, tetap sesuai target dan keinginan kan, bisa sampai pada tujuan dimaksud? Jadi tetap dalam jalur saya seperti biasa. Bisa hitchhiking, yeaaaayyy! ❤

Tidak mengapa bukan? Sebuah perjalanan bukanlah melihat dari seberapa jauh kita mampu melakukannya. Ambillah inti dari perjalanan yang mencakup beberapa hal berkaitan dengan pelajaran di dalamnya.

Sebuah perjalanan bisa membantu mengolah cara berpikir maupun pandangan kita terhadap sesuatu. Menjadikannya sebagai catatan yang mendewasakan kita dalam mengambil sebuah keputusan. Lebih dalam sih, kita menjadi berkarakter. Heuuhheuuuuu

Terakhir, siapa bilang petugas keamanan tidak bersahabat dengan pejalan seperti saya ini? Tulisan ini, mungkin satu diantara sekian banyak orang yang pernah mengalami perjalanan seperti hari dimana saya terlambat berangkat bareng itu. Ya ngga sih?

So, tryin ur best lucky out of comfort zone. Its about how fun ur life .. (jie)

***

*semua catatan tentang pengendara, selalu saya bagi dalam grup tim pantau.
*segala informasi yang tidak harus dibagi, hanya kami saja yang tahu.
*sedikit curhat, sesungguhnya saya ngantuk parah memikirkan JUDUL AMBURADUL di atas, hhahhahahhhah….

SELAMAT PAGI, DUNIA  ^0^

Adit, teman @tektokteam yang menjemput saya dan bareng ke Purwakarta.  Doc pribadi.
Adit, teman @tektokteam yang menjemput saya dan bareng ke Purwakarta.
Doc pribadi.
Advertisements

Published by

ejiebelula

I'm just an ordinary person who is always looking for friends, adventures and life stories to complete. it all started from any footsteps, traveling and recording with a cheerful heart notes and a spirit that always accompany my steps toward the so-called ideals of the school also hopes to live through the experience. I will dedicate my heart only for two, red and pink. # Waiting for the right moment for a heart the gift of God

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s