Gunung Salak 2: Mencari Jalur Tertunda (1)

9th of us at the peak of 2nd Salak Mountain (doc Doni Tianto)
9th of us at the peak of 2nd Salak Mountain
(doc Doni Tianto)

Langit yang ceria, aroma hutan nan menggoda, serta gigitan nyamuk yang mampir di kulit para hiker. Pencarian warung merah dan salah jalan, mungkin bukanlah hal yang asing. Beruntung tim tidaklah egois mendahulukan ego. Gunakan penduduk sekitar, satu cara menemukan akses dimaksud.

***

Curug Nangka, Bogor
January 30th, 2016

Warung Merah

Seperti biasa, keberisikan akan datang setelah turun gunung. Entah mengapa saya kebiasaan tak terlalu bersuara di grup ketika nama telah dimasukkan dalam daftar perjalanan.

Ngeri kalau terlalu bersemangat, malahΒ ngga jadi berangkat, kan males ya? Soalnya sayaΒ tipe pejalan yang spontan sebenarnya. Jarang merencanakan, tiba-tiba menghilang saja kemana. Jadi, ya diam lebih baik.

Meeting point di salah satu tempat makan depan Stasiun KA Bogor.Β Kami menaiki 2 kali angkot dari stasiun dengan tujuan:

  • Stasiun-BTM
  • BTM-Curug Nangka

Kami memasuki 2 kali pos yang ada disana. Pos depan katanya sih pos warga, sedangkan pos kedua milik Gunung Salak 2. Jalanan gelap karena memang dinihari kami tiba di lokasi, dimana sudah waktunya orang beristirahat.

Kami menuju sebuah warung bercat merah. Kata Doni (TL) yang sebelumnya sudah pernah kesana, ia dulu menumpang bermalam di warung itu juga. Jadilah dinihari itu kami beristirahat disana.

***

1 Jam Berputar

Kalau mengikuti itinerary yang ada, jam 6 sudah mulai trekking. Ya maklum saja, kami tiba di warung merah pun baru dinihari dan tidur sekitar pukul 02.00 WIB. Jadi terlambat 1 jam dari sesungguhnya wajar sih.

Menuruni dan melalui Curug Nangka, jajaran kece pohon pinus layaknya kaki Gunung Salak yang akrab dengan pemandangan pinus tertata rapi. Kalau jalan di tempat begini, aku selalu saja ingat pada keluarga Upoh Hammockers Indonesia Regional DKI Jakarta yang berisik. Kali ini hanya Ioh sweeper seblay saja yang bareng ikut Tektok Team menyusuri gunung.

Kami berjalan mengikuti langkah kaki Doni di depan. Iringan berbaju biru menyisiri punggungan gunung bervegetasi lebat. Saranku jika ke Gunung Salak 2, gunakan:

  • Pakaian lengan panjang
  • Celana panjang
  • Gaiter agar aman

Kenapa? Ya supaya aman tidak perlu berulang kali menggaruk bagian kulit terbuka yang digigiti nyamuk atau terkena dedaunan disana. Dan sudah siap jika tanah basah dilalui. Vegetasi yang rapat memang membuat gunung ini terlihat lembab dan basah. Masih begitu alami suasana hutannya jika ditelusuri lebih dalam.

Kami menemui jalan buntu dimana tidak tampak jalur yang dilalui oleh pendaki maupun orang lokal yang sebelumnya kami temui di jalan. Tiga orang tim mencoba menelusuri, tetapi jalur semakin menyempit dan sudah banyak tumbuhan yang menutupi jalan.

Doni sebelumnya sudah pernah ke Gunung Salak 2 bersama tim Tektok di pendakian part 1. Ya namanya juga sudah lumayan lama, dan tidak satupun tim part 1 yang ikut dalam pendakian kali ini, wajar saja jika ia tidak terlalu ingat jalurnya. Kami balik badan dan menyusuri jalan pertama.

Tak lama, kami bertemu seorang bapak berkemeja putih lusuh yang tengah bertanam dan memeriksa sadapan karet di sekitar sana. Diantara rindangnya pohon pinus bertanah lumayan lapang.

“Kalau kami lewat jalan tadi, gimana ya pak?” salah seorang bertanya.

“Jangan, mas. Putar balik saja. Karena sudah sangat jarang orang lewat jalur tersebut dan ngga kelihatan lagi. Bisa saja kalau penduduk disini lewat sana. Tapi mas-mas dan mbak-mbak kan belum hapal jalan disana. Kalau terjadi sesuatu, nanti repot,” nada suara pelan yang tegas.

Ia memberikan arah jalan agar kami tidak meneruskan niat menuju jalan awal yang dinilainya rawan. 15 menit bercerita dengannya, cukup membuat kami akhirnya sepakat memutuskan memutar arah sesuai petunjuk bapak berusia kisaran 65 tahun, yang dulu juga bekerja di TNG Halimun Salak.

***

Menurunkan ego demi kebersamaan, tanpa mendahulukan “kebisaan” yang juga tak diragukan oleh tim, tentu lebih mempunyai nilai lebih di mata teman dalam tim. Mendahulukan kebersamaan akan jauh lebih baik, dibanding mengedepankan ego.

Bersama dalam pendakian akan mempunyai banyak kisah untuk diceritakan kembali.

Tunggu lanjutannya yaaaa…. Saatnya saya beristirahat ini πŸ˜‰ …Β (jie)

***

Sedikit curhatan:
Sesungguhnya, tulisan ini sudah lama mengendap. Saya hanya menyelesaikannya sedikit waktu itu dan melanjutkan kalimat lainnya dinihari ini. Entah kenapa saya tetap belum bisa menyelesaikannya.

Seperti sekarang… saya menghidupkan suara handphone lumayan besar dan ..

Tidur ahhhhhΒ 
*masuk kamar

***

Advertisements

Published by

ejiebelula

I'm just an ordinary person who is always looking for friends, adventures and life stories to complete. it all started from any footsteps, traveling and recording with a cheerful heart notes and a spirit that always accompany my steps toward the so-called ideals of the school also hopes to live through the experience. I will dedicate my heart only for two, red and pink. # Waiting for the right moment for a heart the gift of God

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s