Gunung Pancar: Bat Hammock and The Glamping’s Couple

 

Ajakan jalan lima tawaran menarik di hari yang sama membuat aku kelimpungan. Pilah-pilih yang ngga sekadar wacana, pilihan jatuh pada ajakan Ken, teman lautku. Kemping hore, jadikeun atuh..
Oke, packing dadakan!

Happy smiling face Doc Niken, taken by me
Happy smiling face
Doc Niken, taken by me

***

Pisah Tim

Hasil pulang lewat tengah malam, memaksaku tak dapat mempersiapkan packingan dengan baik. Pagi pun karena ada keperluan, aku keluar rumah dan baru menjawab japrian Ken di WA.

Ahhh.. semakin lama aku kesulitan dengan hp satu itu yang selalu saja ngedrop di saat aku membutuhkannya. Terpaksa jalur komunikasi yang kupakai untuk mengabari Ken melalui chatting di FB.

Bukan Ken saja yang menunggu, Ryo temannya yang juga akan ikut kemping ceria ini pun menghubungiku. Wiiihh.. puyeng kan?

Singkat cerita, isi tas sebagian adalah barang yang belum kukeluarkan dari tas. Seperti hammock dan kelengkapannya, 1 baju ganti berikut pernik kebutuhan mandi. Tinggal melengkapi sisanya saja. Untung begitu sampai rumah, aku segera mandi, shalat dan mengabari Ken dan Ryo.

Teeett.. waktu menunjukkan pukul 14.10 wib, mencari kendaraan menuju Kampung Rambutan. Ahh, perjalanan ini terasa lama sekali. Mobil yang ngetem membuatku harus berganti 2 kali kendaraan. Ken sudah bertanya posisiku. Demikian pun Ryo. Kuberitahukan alasannya.

Ken dan Brew, suaminya, jalan santai ke arah Sentul. Sementara Ryo menunggu di Kampung Rambutan. Dalam hitungan yang tak bisa dihitung, aku akhirnya sampai juga di titik kumpul.

Meski baru tahu Ryo saat bertemu itu, mungkin karena Ken adalah penghubung kami dan harus segera menyusul mereka, kami pun segera melajukan kendaraan roda dua menuju titik kumpul kedua. Yeap, dimana Ken dan Brew menunggu.

Kami melalui jalan-jalan yang sebenarnya tak asing bagiku, tapi selalu saja tak bisa menghapalnya. Melewati daerah Sentul, lalu sebuah wahana renang luas bertema Jungle Land, dan akhirnya bertemu Ken disana, pada sebuah persimpangan.

1,5 km lagi sudah tiba di lokasi yang kami inginkan, Gunung Pancar.

***

Hunting Lokasi Kemping

Read it. Doc pribadi
Read it.
Doc pribadi

Tiket masuk Taman Wisata Alam Gunung Pancar di pintu awal Gunung Pancar, masing-masing dikenakan 5 ribu rupiah, dan 5 ribu rupiah untuk motor. Mulanya petugas mengharuskan kami membayar 30 ribu untuk biaya masuk, tetapi karena tidak diberi lembar tiket, akhirnya kami pun diarahkan ke kantor pengelola.

Emm.. rezeki baik dan bagus mulai bermunculan dari sini. Kami yang semula seharusnya (dan sudah membayar) 50 ribu per masing-masing orang, akhirnya dikembalikan karena cerita tentang biaya tanpa lembaran tiket tadi. Hhhahha entah apa yang menyebabkan uang tersebut dikembalikan. Mungkin karena kami tiba sudah larut malam disana kali ya? 🙂

Nah, dari rasa was-was diarahkan pada camping ground yang sepi, terlalu bertanah (debu) dan hampir tidak terlihat seorang pun di lokasi pertama, kami pun memutuskan mencari lokasi lain. Saya khususnya merasa khawatir sih kalau terjadi apa-apa disana. Ya walaupun kami berempat, tetap saja kan… Ngeri!

Setelah melihat-lihat, kami sempat juga berkeliling ke tempat yang lebih ke atas hingga dekat sumber air panas. Untuk ke air panas itu, kita harus membayar lagi karena beda pengelolaan. Kemudian kami sempat ke jalur lain yang kami kira tempat kemping, ternyata mengarah ke kampung lain. Kami putar balik mencari tempat lain.

Rezeki bagus, kami bertemu seorang petugas Wana Wisata yang dengan sukarela menunjukkan tempat kemping yang baru saja digunakan pada sebuah acara. Tempatnya luas, sayang agak kotor setelah acara. Begitu juga ke satu tempat lagi yang agak menjorok ke dalam, tapi karena lumayan jauh dan hari semakin malam, kami putuskan untuk tidak melanjutkan ke lokasi yang ditawarkan bapak tersebut.

Satu tempat yang menjadi persinggahan kami adalah Glamping Ground (Glamour Camping). Hanya dari hasil obrolan sedikit dengan bapak penjaganya, serta arahan dari petugas tadi, kami berempat pun memulai kemping hore di sepertiga hari menjelang esok.

Yes, tenda untuk pasangan Ken dan Bre, sementara hammock bagi saya dan Ryo. Kami mempersiapkan untuk beristirahat, terpasang berdekatan.

Time to sleep…. ZZZzzZz

***

Sinar kece, yeap :) Doc Niken
Sinar kece, yeap 🙂
Doc Niken

Kemping Asik Glamping Ground

Hooaaaaaammm..

Sunrisenyaaa... Doc pribadi
Sunrisenyaaa…
Doc pribadi

Pagi yang cerah, saya mendengar celoteh Ken dan Bre yang tengah sibuk dengan bongkar logistik. Melakukan rutinitas pagi dan kembali pada riuhnya mereka.

Sinar mentari pagi yang semarak waktu itu. Cakep. Matahari pagi yang muncul kemerahjambuan, kuning hingga putih menyambut.

Tidak terlalu sempurna memang, karena masih diselimuti kabut. Namun demikian, hari bersahabat dengan sinar mataharinya, membuat senyum penuh hari itu. Empat personil yang berbeda, tertawa dalam satu sarapan manis bersama. Indah.

Kami pindah tempat untuk sarapan. Mencari tempat yang agak tinggi, membawa perbekalan logistik, kompor, nesting, dan sarapan sembari sibuk melihat tupai-tupai yang berloncatan dari ranting ke ranting.

Tupai di atas! Doc Niken
Tupai di atas!
Doc Niken

Glamping Ground ini, tempat yang asik buat kemping. Suasana bersahabat, tidak terlalu ramai (karena memang harus ada izin dari pengelola), dan sepertinya biasa di gunakan untuk sesi pemotretan.

Di beberapa spot, kami melihat beberapa tim yang tengah memotret pre wedding, juga shooting untuk project semacam video klip.

Ya ngga mau kalah dong sama tim-tim lain yang bertebaran disana. Kita juga bikin tim foto piknik yang seru. Foto-foto versi saya dan Ken, beda dan lihat momennya. Hhahhahahaa

Kelelawar Hammock Doc by Niken
Kelelawar Hammock
Doc by Niken

Saya ya tertarik sama pasangan Ken dan Bre yang kalau difoto, suka ekspresinya. Ken natural kalau tertawa. Bre? Dia mah kocak mukanya. Lah kalau Roy, enakan motoin sarapan buatan dia. Bhhahahhhaa piiiisss yaak?!?? 😀

Cacth them! Doc Niken, taken by me
Cautch them!
Doc Niken, taken by me

Glamping Ground juga ada fasilitas toilet dan musholla. Lumayan buat yang kepengin mandi, airnya juga cukup kok, segar.

Sepertinya, pengelola juga menyewakan tenda-tenda besar untuk dipakai. Di sisi lain juga tampak deretan tenda dome hijau krem lengkap dengan sound system. Mungkin bisa ditanyakan pada pihak pengelola untuk hal tersebut.

Hmm, malam hari yang menarik dari Glamping Ground ini, ada tenda putih bentuk rumah juga disana. Lampu hiasnya berwarna-warni diantara tenda.

Depan tenda, tersedia meja makan untuk beberapa orang yang menginap di tenda, berhiaskan lampu juga. Di sebelahnya terlihat panggangan untuk sekadar barbeque-an bersama keluarga.

Kelihatannya sih bisa disetting untuk suasana romansa disana. Lampu, tenda, dinner, aroma hutan, dan kabut. Wuaaaaahh… romantiiiiissss ❤ ❤ ❤

Glamping Ground Doc pribadi
Glamping Ground
Doc pribadi

Kalau masih penasaran dengan Gunung Pancar, camping ground lain atau ingin rezeki bagus seperti kami waktu itu, mbok ya main-mainlah kesana. Nginap, nge-camp, bobok lucu, piknik cantik, terserah saja bagaimana pilihannya.

Ehh, teman kemping juga berpengaruh sih soal piknik. Yang penting mah, ceria. Yuk, kemping lah kita weekend ini  😉 (jie)

***

Advertisements

Published by

ejiebelula

I'm just an ordinary person who is always looking for friends, adventures and life stories to complete. it all started from any footsteps, traveling and recording with a cheerful heart notes and a spirit that always accompany my steps toward the so-called ideals of the school also hopes to live through the experience. I will dedicate my heart only for two, red and pink. # Waiting for the right moment for a heart the gift of God

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s