Day 3: Manusia Kapal Ke Lombok (Jarank Pulang Goes to Rinjani)

Jika sebelumnya kami adalah manusia kereta yang selama 2 hari selalu nomaden dari satu kereta ke kereta lainnya, kali ini manusia kapal sedikit menempel. Perjalanan berlanjut dari dermaga satu ke dermaga lainnya. Well, Bali dan Lombok menjadi alasan persinggahan kami selanjutnya.
Dan Rinjani, pasti!

***

Check Before:

https://ejiebelula.wordpress.com/2014/08/01/day-2-kita-ke-semeru-jarank-pulang/

***

 

Cerita Kereta

Banyuwangi-Bali-Lombok
01-02 Agustus 20142014801223724

Melangkah tanpa lelah, memantapkan pilihan hati pada kesepakatan awal yang sudah terucapkan.

Keberangkatan kereta Tawang Alun dari Stasiun Kota Malang Besar pukul 14.55 WIB mengantarkan kami hingga ke Stasiun Banyuwangi Baru. Selama 7,5 jam manusia kereta mengisi aktifitas dengan cerita, baca buku, dan menulis.

Aktifitas terbesar selama dalam kereta adalah tidur, zZzzZzzz…

Hhhaha ya itu kerjaan paling asik kalau ngga pegal sih. Jalan-jalan deh dari gerbong satu ke gerbong lain.

Nah, kalau di kereta jangan lupa bawa camilan. Biar ngga bete dan ngedumel kalau jajan di kereta. Psstt… pada ngerti harga camilan di mini market kan? Naahhh…. gitu deh 😀

2014801224009

Yeaap, tidur ini seperti menjadi suatu candu yang berkelanjutan tampaknya. Bagaimana tidak, aku yang bukan pelor (nempel langsung molor), bisa dengan tiba-tiba saja sepanjang perjalanan ini menjadi sangat mudah mengantuk.

Mungkin karena angin yang selalu menghembuskan udara segarnya, atau karena pemandangan yang berganti-ganti ya? Atau karena mata saya yang telah lelah menulis blog dan membaca buku Karen Rose kesukaan yang saya bawa dari rumah sebagai pengisi waktu luang?

Ya, saya sudah memperkirakan akan demikian sih dengan rentang waktu perjalanan yang panjang, berhari-hari dan hanya dari kereta, kapal dan kendaraan darat saja. Hmm… siap tempur maah sayaaaa ;P

Perjalanan ini begitu berarti bagi saya yang melakukan backpacking sejauh ini. Kalau hitchhiking, mungkin akan beda ceritanya. Ada rasa yang dapat diberikan jalur tersendiri pada masing-masing hobi itu. Haahahh… Ngga tahu deh penjabarannya, tapi bisa merasakan!

***

Cerita Kapal

Uwaiyoo!!

Kereta ini merupakan kunci kami untuk kemudian menjadi manusia kapal. Aduuhh! Apapula itu?

Jadi, begitu kami keluar dari perhentian jalur kereta terakhir, jalan kaki sekitar 5 menit akan langsung menjumpai Pelabuhan Ketapang yang merupakan jalur kapal penyeberangan dari Banyuwangi ke Pelabuhan Gilimanuk. Tiket per orang dikenakan Rp 8.000,- dengan lama penyeberangan selama 1,5 jam.

Huwaaaww… backpacking yang mengasikkan dengan teman-teman yang sudah saya kenal sebelumnya. Ya, beberapa diantara mereka adalah teman-teman lama yang selalu bersama ketika traveling. Dominan ya ngegunung, selebihnya laut dan jalan-jalan.

Kata Qbo, ada teman baru juga yang nantinya akan bergabung bersama kami di perjalanan. Mereka adalah Irma (Palembang) dan Tika (Balikpapan). Dua teman perempuan yang akan setenda, terbang bersama. Hhahahahh

Wiih, angin di kapal sungguh membuatku brrrr… Duingin dan kencang! Untung saja sudah mempersiapkan syal, masker, sarung tangan dan kupluk biar ngga masuk angin. Dan lagi, kami memang mengambil tempat duduk di lantai 2 yang terbuka. Jadi wajar saja jika angin dengan leluasa menampar wajah dan badan kami, hheheeehe.

Lewat tengah malam (02/08) pukul 00.05 WIB, turun dari kapal yang mengantarkan kami hingga ke Kabupaten Jembrana. Tim mampir ke rest area dan bertemu dengan 4 teman Erore dan Qbo.

Mereka adalah Eko, Ida, Dedes dan Romi yang juga berasal dari Jakarta. Berangkat beda beberapa jam saja di awal dari kami dan ternyata, mereka lebih dari manusia kereta lagi!

Terhitung di Yogya, keempat teman tersebut 12 jam menunggu kereta selanjutnya. Lalu di Surabaya, harus menunggu kereta kembali selama 10 jam.

Wuaahh! Mantap ya langkah-langkah para backpacker ini?! Tapi ya ngga hanya bengong begitu saja. Sama seperti kami, mereka pun memanfaatkan waktu dengan berwisata di sela-sela waktu menunggu.

Pelabuhan Gilimanuk menjadi penentu pertemuan kami dan bersama hingga perjalanan berlanjut.

Selepas kapal, tim mencari kendaraan menuju Padang Bai. Kendaraan bus 3/4 dengan bangku 2-2 dan tambahan bangku di tengah ini, banyak tersedia di luar dermaga. Tidak jauh kok, hanya 10 menit berjalan kaki.

Harus sabar mah kalau sudah keluar dari pelabuhan. Bagaimana tidak, para pemburu wisatawan (entah calo atau memang kondektur bus), mereka dengan gesit menghampiri dan berceloteh menawarkan sejumlah angka untuk bus mereka. Ihh, untung saja Erore dan Qbo sudah sering bolak-balik Jakarta-Lombok via darat. Mereka biasa backpackeran juga. Jadi kami hanya mengikuti alur saja. Amaaaaannn….

Biaya dari Pelabuhan Gilimanuk ke Padang Bai ini, dikenakan Rp 50.000,- per orang. Bukan cuma kami saja, tetapi pendaki luar daerah dengan tujuan sama pun berada dalam 1 bus dengan kami. Bus penuh, kami pun berangkat.

Masih malam. Tidur heiii, tiduuuuuurrrrr lagii .. hhahhaha

***

Tiba di Padang Bai, Erore segera membeli tiket kapal penyeberangan menuju Pelabuhan Lembar, Lombok seharga Rp 40.000,- per orang.

***

Maret 2017

Cerita Lombok yang Tertinggal

Sampai disini, hhahhaa… Ejie lupa euy. Ngga ada sama sekali yang bisa diingat kelanjutan perjalanannya.

Waktu itu, tulisan ini saya menulisnya di kereta dan kapal. Dicicil sesuai mood, kondisi, dan waktu yang pas buat menulis. Kan terkadang, saya juga ingin cerita dan hahhhaa hihi sama mereka. Kalau menyendiri menulis atau membaca terus ya ngga seru kan?

Bisa melakukan hal seperti menulis dan membaca buku kesayangan itu, soalnya perjalanan masih bisa dikatakan anteng. Santai bisa mengerjakan banyak hal. Sekelarnya, setelah turun kapal, ya ngga sempat melanjutkan tulisan ini.

Bagaimana mungkin melewatkan pemandangan Lombok yang aduhai? Waktu itu, langit cerah berwarna biru. Cakep! Hmmm… belum lagi ditambahi dengan panas mengundang, membuat saya ngga sempat memikirkan tulisan yang seharusnya dilanjutkan.

Nah, jadi wajar kan kalau saya sedikit banyak lupa?

Eiiitt… tenang donk. Ada tambahan cerita dari Qbo nih yang saya tanyakan di whatsapp.

“Qboooo… mau nanya waktu ke Rinjani. Waktu dari Padang Bai kan nyeberang ke Pelabuhan Lembar. Dari sana kemana?”

“Dari Lembar, langsung ke Mataram, rumah singgah Backpacker Lombok,” jawabnya.

Hemm.. saya mulai ingat. Kami menyewa kendaraan (carry) dari Lembar. Cukup untuk 11 orang yang sudah bergabung. Mampir makan siang sebelum menuju rumah mamak bapak di BTN. Lupa itu berapa sewa carry nya 😀

Setiba di rumah singgah, kami mempersiapkan logistik dan mulai packing untuk keberangkatan malam hari bersama tim.

Ehh iya, disini pertama kalinya saya bertemu dengan Omdut. Waktu itu sudah menikah atau belum yaaak? Wah, karena saya tahu kisah melautnya yang naudzubillah…. cerita ya mengalir begitu saja tanpa bisa di rem.

Huaaaaa… iya, iya ini kebablasan cerita banyak amat ya kan, Omdut? Maafkan obrolan yang tak bisa di rem ini yaaak? Hhhhahaa

Dan, tadaaaa…..

Kami malam itu berangkat ke ke basecamp Rinjani. Sewa elf dari rumah singgah ke Sembalun, sekitar 850 ribu rupiah (info Qbo, kalau ngga salah sih gitu 🙂 ). Bermalam diantara dinginnya pucuk pohon terlihat dan syahdunya langit diatas Rinjani yang cerah dengan gemerlap bintang kala itu.

Yeap, kami bermalam di RTC (Rinjani Tracking Center). Bermalam? Tepatnya ya di bawah kolong meja dan berhimpit-himpitan mencari kehangatan. Oww mak!

Bikin bivak dadakan dari selimutlah, kain sarunglah, masuk merapat dalam sleeping bag lah, sampai kursi yang dijajar agar sedikit mengurangi dingin yang berlomba-lomba menyerbu daging dan tulang tubuh saya. Sumpah, saya ngga kuat dingiiiiiiiiiinnn haiyaaaaaaahhh -_-

Ya maklum saja. Kami kan berniat mendaki ketika usai libur lebaran Idul Fitri waktu itu. Dimana sejumlah pendaki kantoran, tentu saja akan memenuhi isi gunung manapun melepaskan kerinduannya pada ketinggian. Dan RTC dengan kamar-kamarnya, ternyata hampir semua penuh dan sudah di booking jauh-jauh hari. Err~

Keesokan pagi, tim mengurus registrasi, mencari sewa pick up untuk naik ke gerbang pendakian dan kami mulai treking.

Haiii Rinjaniiiiiiii….. bagaimana kabarnya? Sudah kangen, iya! (jie)

Gunung Rinjani

***

Alamat Rumah Singgah Backpacker Lombok:

Jl. Bangil V No. 6 BTN
Taman Baru – Mataram

***

Advertisements

Published by

ejiebelula

I'm just an ordinary person who is always looking for friends, adventures and life stories to complete. it all started from any footsteps, traveling and recording with a cheerful heart notes and a spirit that always accompany my steps toward the so-called ideals of the school also hopes to live through the experience. I will dedicate my heart only for two, red and pink. # Waiting for the right moment for a heart the gift of God

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s