Day 4: Pos Tidur dan Argumen Kue Cubit (Rinjani-Sembalun)

 

Mendaki itu bawaannya ya pasti keril. Terserah isinya mau seperti apa. Atau mau kulkas dua pintu yang tinggi kerilnya? Bebas. Asal jangan lupa, selipin senyum dan semangat dalam packingannya. Biar ngga terasa membosankan. Ya gitu deh biar senang, ya kan? πŸ™‚

Gunung Rinjani

***

Cek before:
https://ejiebelula.wordpress.com/2015/09/18/gunung-rinjani-sembalun-terbang-di-pos-3-pada-balong/

https://ejiebelula.wordpress.com/2017/03/16/day-3-manusia-kapal-ke-lombok-jarank-pulang-goes-to-rinjani/

***

Pos Lompat

HEI ~

Aku ceritanya lompat, boleh kan ya? Sesudah cerita kemarin di pintu rimba, ya jelas kami melakukan pendakian. Tapi sepertinya ingatan ini harus sedikit direparasi karena jujur, agak sedikit bergeser ingatannya. Maaf.. Ngga bisa mengumpulkan ingatan tentang itu.

Yang aku ingat, pos 1 ke 2 itu panjaaaanngg dehh… Sabana, panas, isinya rerumputan dan sedikit pohon. Sampai aku ketika panas, kudu nyelip numpang berteduh di balik rumput-rumputnya.

Dan oiya, sempat kebelet pipis juga rasanya. Tapi takut, mau pipis dimana coba? Sepanjang mata melihat, kalau ngga ditemanin ya bisa kelihatan orang, kan? Malu atuh…. mueheeeeheheehh

Saking panjangnya, sampai berasa kepengen lari. Apa daya ya, kaki lambat ya tetap begitu deh. Untungnya banyak yang bisa dilihat disana.

Umm, jangan heran kalau ceritanya mungkin seperti aku berjalan sendiri. Padahal ada bang Eko dan Ida yang ngebut di depan.

Ada Erore yang juga jalan ngga jauh atau ada… ahh siapa yak namanya? Lupa lagi kan ini…. gitu deh. Sedangkan lainnya jalan benar-benar santai. Ya maklum, kaki lambat ini karena lambat, pasti disuruh jalan duluan. Soalnya pasti bisa ke kejar sama dengkul racing mereka.

Terus, sampai di pos 1, ya istirahat. Ngopi-ngopi sedikit, cerita dan ngemil lah jangan lupa. Kita sepakat makan besar di pos 2 nanti. Disana ada sumber air, biar ngga susah kalau masak.

E di pos 1 ini ngobrol sama teman–teman dari China dan Jepang. Mereka ikut open trip gitu.

Hemm terus juga ngobrol sama Nina dan pasangannyan yang berasal dari Swedia kalau ngga salah. Mereka berencana tektok saja sesampainya dimana. Ngga target muncak karena mau jalan-jalan di sekitar Lombok.

Istirahat 15 menit, sudah kedinginan ini badan, kelamaan dah. Akhirnya ditemanin adeuuhhh… lupaaa…… Ya pokoknya sama tim, aku diizinin jalan duluan ke pos 2. Ihh maaf ya, lupa sumpah ihh namanya.

Berapa jam ya perjalanan ke pos 2? Ngga pernah mikirin juga sih. Kalau kepikiran, yang ada malah berasa lama.

Sesampai disana, langsung nyari pos. Ngga tahan euy, ngantuk berat mata karena semalam kan tidur ngga nyenyak, kedinginan diantara kaki-kaki kursi yang disusun. Lumayan, sembari nunggu tim, tidur dulu lah di shelter hijau itu. Sambil nunggu Ida dan Tika juga. Jagain mereka pipis. Ehh, jagain tapi ketiduran, gimana deh? πŸ˜€

Di pos tidur, pokoknya makan besaaaaaarrrrr….. e tetap ya, aku ngga bisa makan nasi!

***

Pos 3 Kue Cubit

Pagi yang cerah.Β MentariΒ terbit di langit Rinjani, memantulkan sinarnya hingga ke tenda terbangku. Haa? Tenda terbang?

Oww… kejadian malam itu kalau dingat, ya lucu juga sih. Ngga mau coba tanya juga sih sama teman-teman sependakian soal kejadian ini. Kalau terus berpikir positif, perjalanan akan semakin menyenangkan, bukan? Jadi, cerialah!

Ehh, ini masih cerita pendakian bareng teman-teman dari Jarank Pulang loohh… jadi tim tetap sama ini. Tim yang terdiri dari 9 orang (6 laki-laki, 3 perempuan) dan 4 orang teman Erore dan Qbo yang bertemu di dermaga kemudian berjalan bersama.

Kami melanjutkanΒ perjalanan kembali. Karena aku terbilang cukup lambat berjalan, sementara teman-teman lain sedang packing, aku yang sudah siap beberes, diharuskan berjalan terlebih dahulu agarΒ menjaga ritme langkah.

Huuu… walaupun sudah jauh berjalan dengan mereka, tetap saja sih mereka akan bisa mengejar langkah siput ini. Ditambah pula dengan kesukaanku yang memotret jalur treking dan hal menarik yang terlihat oleh mataku. Wajar saja bila mereka bisa dengan segera menghampiriku kembali.

Hari pertama, dari start pendakian di Rinjani Track Center dan pintu gerbang pendakian, tim memang sudah merencanakan untuk bermalam. Sesuai rencana, kami memang berniat bermalam jika hari menjelang senja. Tidak memaksakan perjalanan, karena pendakian ini terbilang santai.

Waktu menunjukkan pukul 15.00 ketika kami tiba di Pos 3. Tim memutuskan, kami bermalamΒ di Pos 3 (dekat shelter). Mendirikan tenda

Disini, ada sumber air yang bisa diambil untuk memasak. Erore, Pepy, dan ahh.. aku selalu ingat nama pena, Gebeksia. Hhahhaha… entah kenapa ingatnya nama Ryan terus seperti teman sepermainan yang doyan menggambar. Padahal jelas-jelas namanya bukan itu. Sudahlah πŸ˜€

Cerita Erore, untuk mengambil air, mereka harus menggali tanah hitam yang berpasir. Sialnya, ada galian yang ternyata jebakan betmen. Hiiiyyy… untung cepat ketahuan, jadi ngga lebih dalam menggalinya. Hhhahaa….. kasihan mereka. Mengambil air pun harus kena jebakan.

Terkadang, orang yang belum tahu bahwa disana ada sumber air, akan mengira bahwa tempat tersebut merupakan tempat BAB. Tempatnya memang tertutup bebatuan dan agak kebawah. Tidak banyak orang yang tahu letaknya kalau tidak dengan orang yang sudah pernah kesana. Erore sendiri saat itu sudah hitungan ke sembilan kalinya naik Rinjani, tentu saja ia hapal letak sumber air.

Ehem, malam itu, kami memasak persediaan logistik dan makan bersama. Nikmatnya kebersamaan kan?

Makanan paling saya ingat adalah kue cubitnya. Sampai kami membahas kue cubit makanan yang kerap menjadi jajanan depan Sekolah Dasar itu.

Sedikit berdebat dengan nama makanan yang buat kami berasal dari daerah berbeda. Seperti Irma yang dari Palembang, Tika yang dari Balikpapan, dan kami yang kebanyakan tinggal di Jawa dan Jakarta. Atau saya yang selalu ikut orangtua berpindah tempat? Waahahha … ya wajar saja kan bila satu kue bisa menjadi banyak nama dengan kami di dalamnya?

Kue cubit sedikitnya adonannya hampir mirip dengan kue pukis juga. Jadi perdebatan kami antar tenda itu itu seputar kue cubit. Mungkin kalau tidak sedang di gunung, perbincangan itu seperti tidak ada artinya. Tapi buat kami yang menghabiskan waktu mencari kantuk, perbincangan itu cukup seru.

Apapun nama kue itu, tetap saja menjadi makanan termahal bagi saya yang tidak bisa menelan nasi sedikit pun. Alhamdulillah, kenyang.

Tidurlah… tiduuuuuuurrrr..

 

***

Jalur Tegur Sapa

Treking awal dari pos 3 sudah mulai menunjukkan bahwa jalur yang dilalui akan semakin menanjak. Terlihat batu besar sebelum sampai ke pos 3 sebenarnya. Menyapa teman-teman baru yang juga bermalam di pos tersebut dan tersenyum, sudah merupakan salam persahabatan pendaki meski belum kenal satu sama lain. Yah, anggap saja etika tidak tertulis pendakian, bukan? πŸ™‚ Kemudian rumput menguning dengan ilalang tinggi dan pepohonan akan menjadi teman perjalanan kita selanjutnya.

Hei, aku bertemu teman baru juga di pendakian ini. Bule blasteran yang ternyata orangtuanya perpaduan Indonesia-Belanda. Namanya Owen. Ia cukup fasih berbahasa Indonesia dan cukup mengetahui mengenai kebudayaan dan alam Indonesia, khususnya Surabaya, Jawa Timur, tempat ibunya berasal.

Banyak teman baru yang aku temui ddalam perjalanan sejak di pos 1 sih. Rata-rata ya mereka yang luar Indonesia mau bertegur sapa. Bukan berarti yang domestik ngga mau ngobrol atau mengucap salam loohh… Sama kok porsi sapaannya. Malah kalau sesama Indonesia kan ngobrolnya lebih nyambung ya? Heehehhe

Ramah bukan hanya pada teman yang kita kenal, tetapi ramah jugalah pada orang yang kita temui dalam perjalanan. Dan jangan lupa selalu ramah pada lingkungan sekitar dan menjaga kebersihannya agar tidak menyampah di sembarang tempat.

Intinya, perjalanan mulai menanjak sesungguhnya ya di mulai dari pos 3 ini deh. Soalnya setelah tanjakan tegur sapa ini, kita akan berhadapan dengan tanjakan yang biasa disebut dengan 7 Bukit Penyesalan.

Heemmm… kenapa ya orang menyebutnya demikian? Aku karena ngga mau menyesal, dari awal naik kereta itu, sudah meniatkan nanjaknya jadi Bukit Kebahagiaan saja. Kenapa? Biar ngga berasa capek, tetap senang pas naik dan terus semangat!

Huaaaaa…. bisa, Jie?

Bisa doonnkk… Yakin, alhamdulillah. It just about your mind. Think positive, think of of the box for sure! πŸ˜‰

***

CATATAN:

Sesungguhnya menulis ini dalam keadaan kantuk yang sangat luar biasa. Harap maklum ya kalau ceritanya amburadul. Nanti diedit kalau sekiranya ada yang perlu ditambahkan. Mengalir seadanya saja dari jari-jari yang tak berhenti diatas keyboard ini. Sayonaraaaaaaaaaaa…..

Dan foto-foto juga belum dimasukkan banyak. Beberapa memori hilang di flasdisk lama. Tersisa foto juga lupa dimana. Sisanya sedang berburu foto di teman-teman yang nanjak bareng ke Rinjani waktu itu. Sabar yaaakkk…. maafkan tulisan yang garing foto ini.

Selamat pagi artinya selamat tidur buat saya. Pagiiii duniaaaa ❀ ❀ ❀ (jie)

***

Advertisements

Published by

ejiebelula

I'm just an ordinary person who is always looking for friends, adventures and life stories to complete. it all started from any footsteps, traveling and recording with a cheerful heart notes and a spirit that always accompany my steps toward the so-called ideals of the school also hopes to live through the experience. I will dedicate my heart only for two, red and pink. # Waiting for the right moment for a heart the gift of God

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s