Touring Tamasya Cibalay Keluarga Upoh (Part 1)

Liburan yang selalu mendadak. Entah kenapa jadwal seperti ini selalu ada dalam catatan perjalanan saya. Situs Arca Domas di Bogor adalah catatan spontan tamasya keluarga Upoh, Hammockers DKI Jakarta. Upoh seperti tahu bulat yang mendadak touring?
Bagaimana ceritanya? 

Curug Cipeuteuy, Situs Arca Domas, Bogor.
Doc by Gulbuddin Hekmatyamar

 

Wacana Clan Kusuma

Jalan-jalan tanpa rencana selalu saja seru bagi saya. Ngga perlu banyak wacana. Ikut yang sudah diobrolin atau terkadang pun, tidak ada obrolan spesifik tentang tempat yang akan dikunjungi itu sudah biasa.

Entahlah, saya lebih suka mengikuti alur yang ada. Mendapati banyak kejutan-kejutan yang terjadi dalam sebuah perjalanan, lebih mengena di jiwa saya. Hanya karena berkeinginan kumpul, hammock-an bareng, ngariung, tamasya dan sekedar melepaskan rasa ingin bersama.

Perjalanan dadakan yang diinisiasi oleh sahabat seblay, Rio C. Kusuma (Ioh) si biang rusuh HI DKI dan Irma Kusuma ini, tadinya anteng-anteng saja. Hingga list yang dibuat pun, diisi semaunya oleh keluarga Upoh. Omongan Ioh yang terkadang banyak kocaknya dan sering bikin orang yang belum kenal ia secara dalam, pasti akan malas. Keseringan php-in orang sih Ioh maahh…. waahhahaha

Untungnya ada Irma, adik kedua Kusuma yang dengan ikhlas membantu mencari pasangan berkendara. Jadi di woro-woro soal kemping hammock, diselipkan kalimat, “Untuk perempuan, silahkan mencari tumpangan motor.”

Nah, kalau kita ikut berisik di list itu, maka Irma akan melobi teman yang punya kendaraan. Selanjutnya ya kita tinggal ikutin petunjuk Irma untuk japri (jalur pribadi) si empunya motor biar bisa numpang.

Ya, keluarga kecil Hammockers DKI Jakarta dalam Upohnya, kembali mengadakan jalan-jalan dadakan ini di libur kejepit Kamis (25/05). Tujuannya sudah pasti kemping ceria ke Situs Arca Domas, Cibalay, Bogor.

***

Otat Rewel dan Jatuh

Foto diambil saat pulang dari Cibalay.
Doc pribadi.

Waktu telah ditentukan. Rabu pukul 21.00 Wib, dua meeting point diberlakukan. Pertama di Kedai Tilil bagi beberapa yang belum tahu meeting point kedua, pukul 23. Wib di rumah Pitray, Cilangkap, Cibinong.

Saya dan Prasetya adalah basis terakhir yang tiba di Kedai Tilil. Pukul 22.00 Wib, kami bergerak ke rumah Pitray. Ternyata disana masih sepi. Tim lengkap akhirnya berangkat pukul 00.30 Wib menuju Jalan Raya Bogor. Untung ada Amad, yang sebelumnya sudah pernah kesana, jadi setidaknya kami aman dan punya touring leader.

Kalau saja tidak ada kejadian Ioh yang membonceng Pitray terjatuh dari motornya karena menghindari kendaraan lain, mungkin kami (masih) akan berkendara sesukanya dengan urutan sekenanya.

Saat itu, barisan depan diisi oleh Amad dan Eka, Prasetya dan saya. Kami sudah melewati lintasan lampu merah dan berhenti di pom bensin terdekat. Motor-motor lain rasanya tidak berada jauh dari barisan kami, tadinya.

15 menit, 20 menit, rombongan belakang tak kunjung datang. Eka mencoba menelpon tetapi tak bisa. Hp saya yang super lemot pun tak bisa diandalkan. Hingga akhirnya pinjam hp Amad untuk menghubungi tim di grup WA.

Lalu dering di hp Eka berbunyi. Suara Wahyu dikejauhan, di loud speaker, “Ini Otat (sebutan bagi motor Ioh) kecelakaan. Ioh dan Pitray jatuh. Kami ada di belakang sebelum lampu merah ya… blaa blaaa bla..”

Mau putar arah, menyusul rombongan belakang, tiba-tiba hpnya berdering kembali. Kali ini suara Irma, “Ngga usah putar balik. Tunggu disana saja biar ngga repot, Ejay…”

Ya sudah, ikut saran. Kalau begitu, artinya masalah bisa ditangani oleh tim belakang yang lebih ramai.

Tak lama mereka datang. Menanyakan kondisi Ioh dan Pitray, saya pun kembali mengulang kalimat dalam grup untuk mengganti posisi boncengan.

Posisi diatur menurut kondisi motor otat yang seringkali mati mendadak. Belum sehat benar sepertinya motor itu. Lalu membuat posisi motor yang melead, posisi tengah dan sweeper. Selain itu juga tetap harus beriringan dan saling menunggu jika jarak sudah terlalu jauh.

Posisi touring:

  1. Amad-Eka (lead)
  2. Wahyu-Irma
  3. Ioh-Nenay
  4. Roni-Pitray
  5. Uxzup-Rurih
  6. Prasetya-saya
  7. Ninoy-Putri (sweeper)

Usai mengganti posisi Pitray dengan Roni supaya ia bisa duduk santai karena kaki yang sakit akibat terjatuh tadi, Nenay pun dipindahkan naik ke otat.

“Ioh hati-hati ya. Selalu dalam barisan. Ngga usah buru-buru.”

“Ngga ngantuk gua, Ejay. Masih segar,” jawab Ioh.

Badung yak? Kepengin pentung ni anak. Bukan masalah Ioh belum ngantuknya. Tapi kita kan memang kurang istirahat. Dan saya hapal hari itu Ioh melakukan dan berkegiatan apa saja di chat-chat dimana saya dan ia berada dalam satu grup.

Mungkin mata masih tahan, tapi kan badan kita ngga bisa bohong. Jatuhnya Otat itu sudah perintah badan dan otak bawah sadar kita yang sudah mengingatkan bahwa ada batas maksimalnya beraktifitas dalam sehari. 8 jam. Ingat heiii… tidur normal tuh sebaiknya 8 jam dalam sehari.

Bukan menggurui, hanya mengingatkan bahwa kita berada dalam satu tim. Dimana satu sama lain, saya yakin, akan memberikan perlindungan dan saling menjaga selama di perjalanan, kemanapun. Makanya begitu terjadi peristiwa jatuh itu, teman-teman ada disana menemani, kan?

Ugkhh… Upoh walaupun bertambah keluarganya, sedikit berubah kalau kata beberapa orang. Saya yakin kedekatan dan keterikatan yang terjalin didalamnya sudah teruji jauh dan akan semakin lekat nantinya.

Jadi Ioh, jangan percaya Upoh, tapi, percaya sama Allah, yak? Ehh, tapi ya sayang donk sama Upoh kan, kan, kaaannn..
*kan ngawur bodo amataaaaannnnn…. ngantruuuukkk  o_o

***

Jalur Cibalay

Untuk tiba di Cibalay tujuan kami, ada dua jalur yang bisa ditempuh dari Jakarta atau Cibinong. Lewat jalur Gunung Bunder, Bogor atau lewat jalur Bogor, BTM. Kami mengambil arah dari Cibinong ke Jalan Raya Bogor ke Bogor Trade Mall (BTM). Lalu ke arah Curug Nangka.

Nah dari arah Curug Nangka, ikuti jalur kanan ke arah Curug Luhur dan Curug Ciputri.

Ihh, jujur ya, saya selalu saja gagal paham soal jalan-jalan seperti itu. Tanya Ioh, pertanyaan saya ngga kelar dijawab. Tanya Wahyu, ehh dia juga ikutan keder memberitahu ke arah mana jalannya. Bhhahaha kan kepengin ketawa saya? 😀 Para lelaki mendadak pada kacau kan? Nanti tanya Prasetya, Irma atau Eka saja deh, biar lebih aman.

Yang saya ingat, kami sampai di daerah bertuliskan Curug Cipangeuleuhan. Lalu masih lurus lagi karena di WA, Gudin dan Penlay yang sudah di lokasi terlebih dahulu bilang, agar mencari Curug Cipeuteuy. Sedangkan menurut Ioh yang mendapat informasi dari Fuad dan Akbarulloh, Desa Cibalay itu juga masih termasuk kaki Gunung Salak. Ada Situs Megalitikhum Arca Domas disana.

Dari hasil blogwalking, saya menemukan jalan ke Cibalay jika kita menggunakan kendaraan umum:

  • Naik kereta Jakarta-Bogor
  • Naik angkot no 05 jurusan Ciomas, turun di pertigaan, dan menyambung angkot no 14 dan turun di Pancasan.
  • Ganti angkot no 03 jurusan Ciapus. Karena angkot tersebut tidak berhenti di terminal Faten dan hanya sampai Pertigaan Ciapus.
  • Carter angkot hingga ke Cibalay.
  • Jika Anda naik kendaraan umum, dua rute yang bisa ditempuh adalah naik 03 jurusan Ciapus-Terminal Faten dari Bogor Trademall. Atau naik 02 dan 03 dari Jembatan Merah ke Terminal Bubulak Dermaga, lalu berganti angkot yang menuju ke Terminal Faten. Tapi rute ini agak jarang angkot dan kalau Anda mengambil rute ini, angkot kembali dari Terminal Faten ke Bubulak hanya sampai jam 2 siang. Dari terminal Faten, bisa sambung dengan naik ojek untuk mencapai kawasan. Patokannya adalah 1 kilometer sebelum (dari Tenjolaya) /sesudah (dari Bogor) Curug Luhur.Selengkapnya cek : http://www.kompasiana.com/diella/arca-domas-dan-kompleks-situs-cibalay-gunung-salak_58c000346ea834a4188b4569

***

2 Kilometer ke Tujuan

Pukul 03.00 Wib dinihari, kami akhirnya tiba di Situs Arca Domas setelah sebelumnya kembali terlewat. Plang di kiri jalan itu bertuliskan Situs Arca Domas, Pasir Manggis, Situs Batu Bergores, Punden Endong Kasang, dan Punden Jami Piciing. Menurut info di plang, perjalanan ke dalam sekitar 2 km.

Masih melewati jalan aspal yang berbelok dan menanjak, yang kanan-kirinya beberapa menghampar sawah (hal ini saya ketahui ketika kami pulang sore dari situs). Lalu tim kami pun sampai di Desa Cibalay. Begitu sampai, cukup lumayan lahan tersedia tempat parkir kendaraan yang ada disana. Ehh, Jessa yang dari Bandung pun sudah disana menunggu kedatangan kami.

Seingat saya, lumayan lama mereka memarkirkan kendaraannya, karena rasanya saya sempat tertidur lelap  di lantai keramik bersih tempat Jessa menunggu. Mungkin tak akan bangun kalau saja saya tidak mendengar kalimat kencang Eka tentang saya.

“Heh, tunggu! Ejay tidur ini… Ejaaaayyy gimana?” teriaknya.

Haaahahah… jelas saya terbangun. Wong teriakannya persis di telinga kiri saya loh?!? Kepengin ketawa saya, tapi sumpah, kantuk mengalahkan segalanya. Biar deh sekali-sekali diteriakin mak jago dandan si pengkoleksi pisau itu.

Satu persatu para pejalan dinihari itu pun mulai melangkahkan kakinya ke arah Gudin dan Penlay berada. Kami pun berjalan beriringan menyusuri jalan setapak yang jelas.

Barisan yang kuingat, kembali ketika mendengar suara kencang Eka yang video call-an, mengarahkan jalan pada Aan yang akan menyusul kami. Iya, dia orang terakhir dalam tim yang sangat terlambat datang. Huaaaa tulang lunak organik nyasar ke pura -_-

Ya kan saya mau ketawa lagi. Tapi ngga punya daya karena selain ngantuk, saya juga harus fokus pada jalan becek dan gelap karena (kembali) saya lupa bawa baterai. Padahal tadi sudah niat beli di mini market tempat Upoh jajan logistik ala emak-emak rumpi ke pasar. Ramai pisaaaannn…. ampun dah!

Barisan belakang di jalan setapak yang saya ingat adalah Eka, Wahyu, Irma, Roni, saya dan Ioh seblay. Diantara mereka berdua, saya disenteri jalan depan belakang.

Jalan gelap, dinihari dan ngga punya senter. Ehh, kok ingat perjalanan mencari pantai yang salah ya? Pantai kangen yang bikin gemas selama perjalanan, bete disana dan mendadak jadi nyamuk ~
*kasihan huaaaaaa……

***

Mencari Gudin

Menempuh jarak sekitar 20-30 menit, kami tiba di sebuah situs. Ada batu-batu dalam lingkaran disana. Tim berhenti pada sebuah gapura bertuliskan Selamat Datang di Situs Cibalay.

Irma memastikan jalan dengan menelpon Gudin.

“Ohh, jadi kami ambil jalur kiri yang ada jembatan bambunya? Ikutin jalan sampai ketemu gapura bertuliskan Curug Cipeuteuy, begitu?” ulang Irma.

Kaki-kaki dinihari melanjutkan perjalanan. Jembatan bambu, jalan setapak, parkiran motor di kiri jalan, gapura curug Cipeuteuy lalu tangga buatan dan tiba di sebuah saung. Kembali Irma atau siapa ya yang menelpon Gudin, suaranya terdengar jelas, tapi saya mengantuk dan tidak terlalu memperhatikan.

Kemudian mereka sibuk memanggil Gudin secara bersahutan, dan suara Prasetya yang bilang, “Matikan lampu deh, itu seperti ada sinar di bawah sana.” Dan teriakan-teriakan memanngil Gudin kembali berkumandang.

“Kiri, kiri bawah. Gudin ada di kiri bawah,” teriak saya diantara kantuk.

“Nah tuh, benar kan? Ada di bawah. Itu lihat, lampunya tuh, lampu Gudin,” entah suara siapa itu.

Kami bergegas turun dan saya ingat, Eka yang bersama saya di belakang, karena kami paling akhir berdiri dari saung, sudah berganti dengan Roni dan ahh… saya lupa siapa yang ada di belakang menyenteri saya.
*maaf, ngantuk parah euy 😀

Kami menuruni anak tangga yang lumayan banyak. Pantas saja Gudin ngga mau naik karena kalau ngantuk dan gelap seperti itu, PR banget kan naik tangga bertanah merah seperti itu. Hhheheheh….

Set up hammock by my self and miss u miss u…
Doc pribadi

Hutan pinus dan aromanya. Dua buah saung yang sengaja dibuat bagi pengunjung. Penerangan di sudut bawah lainnya yang terlihat. Ada orang juga yang kemping disana. Sebuah bangku kayu besar tempat berleyeh-leyeh menjadi pusat kami. Dekat hammock Gudin yang sudah terlebih dahulu dipasang sejak kedatangannya dan survey lokasi.

Wajah-wajah kantuk segera sibuk memasang hammock dengan pilihan pohonnya. Ada yang memasang flysheet lengkap, beberapa malah hanya memasang hammock karena berpikir sebentar lagi pagi menjelang.

Buat yang tahan dingin ya okelah, tapi buat saya? Adeuuhh… sudah pasang lengkap dan pakai matras serta SB, kaus kaki dan jaket saja, saya masih semeriwing sehabis shalat Shubuh. Kedinginan bingung mau tidur!

Hahhhaha… saya bolak-balik hadap kanan-kiri. Dan diantara kantuk kedinginan, sempat menjawab beberapa pertanyaan entah dari hammock siapa yang saya dengar tengah bercakap-cakap.

Ahh sudahlah. Jangan berpikir aneh supaya liburan tamasya nya jadi indah. Tiduuuuurrr…. sahuurr yuk sahuurr… sudah jam nya ini.

Sudah pada tidur, saya masih melek dan sepi.
Doc pribadi.

Selamat menunaikan ibadah puasa hari pertama yaaaaaaa… Maafkan segala salah dan khilaf dari kata dan perbuatan selama ini. Lanjutannya nanti ditunggu lagi part 2 kisah Upoh ini, oke ya kan? 😉 (jie)

***

 

 

 

 

Advertisements

Published by

ejiebelula

I'm just an ordinary person who is always looking for friends, adventures and life stories to complete. it all started from any footsteps, traveling and recording with a cheerful heart notes and a spirit that always accompany my steps toward the so-called ideals of the school also hopes to live through the experience. I will dedicate my heart only for two, red and pink. # Waiting for the right moment for a heart the gift of God

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s