Kemping Upoh dan Susur Curug Cipeuteuy (Part 2)

Hammock camp Cipeuteuy
Doc and taken by Jessa

Tidur yang kepagian, bangun yang kesiangan. What a wonderfull day in a hammock, then? Bangun tidur, cerita, sarapan, leyeh-leyeh, hahaa-hihi. Lalu? Yuk sih main air kita biar segaaarr…. huaaaa

Upoh Fams
Doc by kamera hape Pitray

 

Cipeutey Camp

Curug-curug di Bogor cukup banyak. Dan hampir searah-sejalan. Mungkin dalam sehari bisa mendatangi 2 atau 3 curug, bila tidak menginap (kemping). Tergantung juga di curug tersebut ada wisata lainnya atau tidak. Ya kalau di satu tempat saja sudah terdapat curug dan wisata lainnya, ngga bisa explore curug-curug dalam sehari deh.

Searah dengan Curug Cipeuteuy ini, kita bisa menikmati kesegaran air di Curug Nangka, Curug Ciputri, Curug Luhur, atau Curug Cipangaleuhan (yang terakhir ini lupa penulisannya πŸ˜€ ).

Kalau kata Amad, touring leader kami, dari Curug Luhur hanya perlu 15 menit berkendara motor? Ngga salah nih?

Untuk rute jalur, bisa baca tulisan sebelumnya:Β https://ejiebelula.wordpress.com/2017/05/26/touring-tamasya-cibalay-keluarga-upoh-part-1/

Berlokasi di wilayah Situs Arca Domas, Desa Cibalay, Bogor, Curug Cipeuteuy ini merupakan bagian dari situs yang ada disana. Pada persimpangan gerbang Situs Cibalay, dimana di depannya terdapat susunan Situs Bale Kembang yang rapi dan bersih, ambillah jalur jembatan bambu di sebelah kiri. Ikuti terus jalurnya dan akan menemui pintu loket bertuliskan Curug Cipeuteuy.

Di Curug Cipeuteuy ini, lokasinya sangat cocok bagi Anda yang senang kemping. Bisa tendaan atau hammock-an. Suasana pohon pinusnya, cocok untuk hammock camp. Seperti Keluarga Upohnya Hammockers DKI Jakarta yang kemping disana (25/05) saat hari libur nasional yang kejepit hari kerja.

Hammock camp at Cipeuteuy Camp, Cibalay, Bogor.
Doc Wahyu

Area kemping di Cipeutey cukup luas. Dari pintu loket, sebenarnya kita sudah bisa kemping. Banyak pepohonan bagi para penggantung yang ingin memasang hammock. Tapi kurang asik, karena datarannya yang sedikit. Untuk bisa ngariung bareng, ngga afdol.

Kami mengambil posisi kemping setelah melewati saung pertama. Posisinya agak menurun. Pohon pinusnya banyak, ada saung, bangku besar terbuat dari kayu, 2 toilet alakadar dengan 1 pancuran yang terus mengalir tanpa henti. Tampaknya, air mengalir dari sumber mata air curug yang bening. Segar banget!

Beberapa dataran disana bisa dijadikan pusat berkumpul. Tempatnya pun bersih dan terawat. Soalnya ada yang memotong rumput disana ketika kami tengah memasak makan siang.

Rekomen untuk kemping? Pastinya. Selama kita sebagai orang yang menikmati tempat wisata, bertanggungjawab atas sampah yang kita bawa, tentunya tempat itu akan terus terawat, bukan? πŸ™‚

***

Curug Cipeuteuy 10 Menit

Apalagi hal paling mengasikkan ketika sedang berkumpul bersama teman-teman seirama? Selain hal-hal yang sudah disebutkan tadi? Huummm… nyanyi suka-suka, masak seseruan, taking a moments in cam, ketawa-ketawi? Iya, itu kan?

Kelar semua itu, keseruan hammocking camp berpindah ke medan air. Iyeap, namanya kan Curug Cipeuteuy, jadi bermain airlah kami. Dari tempat kemping hammock, hanya sekitar 10 menit jalan kaki mengikuti jalur setapak yang jelas. Turun tangga buatan bertanah liat merah, batuan curug, dan… gemericik air terdengar sudah!

Terdiri dari tingkatan curug dengan tingkat kebeningan yang bisa bikin kamu melongoklah. Pasti pada ngga tahan mau nyebur kalau sudah lihat airnya πŸ˜€

Sumpah ya, kalau saya tidak memaksakan diri ikut arahan Ioh dan Roni membawa kamera untuk memotret aksi main air mereka. Kalau saja saya tidak mengikuti langkah mereka segera ke bawah, mungkin saya akan menyesali gagal main air yang jalannya ngga seberapa. Huaaaa…. aiirr… aiiirrrr… air seujeuuuuukkk pisan!

Yaah asik banget main airnya. Sewaktu kami datang, air di curug pertama ini masih jernih. Kelihatan dasarnya yang berbatu bundar berwarna hijau, navy blue, putih susu, white warm, hitam, merah bata, dan lainnya. Airnya juga bening.

Satu air terjun yang besar, kita bisa memanjat bebatuan coklatnya. Di sisi kanan saya berdiri, terdapat jatuhan-jatuhan air merembes dari balik batu dindingnya, mengalir ke kolam kecil dibawahnya. Kedalaman kolamnya sekitar 50 cm-1 meter. Karena ketika teman-teman berdiri, rata-rata sepinggang mereka. Sedangkan tinggi air terjunnya sekitar 3 meter.

Bermain 30 menit, berfoto, akhirnya kami memutuskan untuk berpindah ke curug lainnya di bawah. Lagian sudah mulai ramai pengunjung di hari libur kejepit itu.

Gudin yang sudah lebih dulu tiba di lokasi di hari sebelumnya dan Ninoy yang mempunyai pengetahuan dasar rawa laut, sepertinya paham tentang alam sekitar curug. Kami berjalan menyusuri aliran air bening dari curug pertama sesuai arahan mereka.

Geli! Kaki saya sangat jarang berjalan tanpa alas kaki. Tidak terbiasa menapaki jalan sedemian rupa. Dan ngga pakai kaus kaki itu, rasanya semua mata tertuju pada kaki ini. Bhhahhahaa… norak biarin aja norak ishhhh….

Wahyu memang jiwa sweepernya kuat banget yah? Atau karena ia terbiasa paling ganteng di rumahnya disebabkan semua saudaranya perempuan? Ahahhha itu curhatannya yang saya baca di instagram. Ya ngga apa juga donk, kan baik kalau menjaga teman. Kalau ada Eka atau Irma, biasanya Wahyu akan menjaga mereka.

Sweeper seblay saya mana? Hmm kali ini mah, saya harus memakluminya. Soalnya, Ioh kalau sama air kalahan dia. Takut sama kedalaman air! Pantas saja Ioh sering kalahan kalau sudah mulai dekat perempuan. Ehh mundur, ehh ketikung, ehh gatot dehh.. Ukur dari kedalaman air dah Ioh. Ketakeeerr! πŸ˜›

***

Rappeling Curug Kedua

Kami melewati jalan berbatu, dan rerumputan. Masih mengikuti aliran air curug di kanan dengan dinding batu basah. Sedangkan di kiri kami, jurang dalam dimana di bawahnya terdapat aliran air berwarna biru. Kalau dilihat dari warna, tampaknya air tersebut cukup dalam. Wahyu menyuruh saya menyusuri aliran air dangkal semata kaki guna menghindari licinnya batu pijakan.

Tak lama, kami mengambil jalan ke kanan dan turunan.

Rappeling!
Doc by Jessa

Curug kedua ini, kami harus rappeling menuruni aliran air curug yang kecil, namun lumayan deras. Tersedia rappeling alami dari akar pohon yang menjuntai disana. Entah buatan atau memang sudah ada. Panjangnya pas hingga kebawah. Harus hati-hati juga kalau tidak mau tergelincir.

Oiya, kamera Jessa terpaksa kami oper dari orang ke orang agar tidak terkena percikan air. Untungnya bawa tas kamera. Sayangnya ya bukan yang waterproof, jadi setidaknya mengurangi kadar basah saja.

Bergantian kami turun. Dari rappeling, turun ke batu besar dan tiba di bebatuan kecil.

Di curug kedua, kami tidak berhenti untuk bermain disana. Padahal airnya biru bersih, terlihat dasar dengan bebatuannya. Namun di sudutnya biru gelap dengan air yang tenang, biasanya menyimpan bahaya.

β€œJangan, Jie… ngerinya kalau ada palung disana. Dekat dinding begitu, biasanya ada bolongan lubang. Kan takut tersedot. Pasti ada aliran ke tempat lain itu,” Roni melarang ketika saya mengajukan pertanyaan untuk main disitu.

Kami melewatinya. Batuan bundar di curug kedua ini lumayan banyak, sehingga pijakan kaki pun lebih luas.

Tempat Ioh takut buat nyebur, padahal masih tinggi doskih daripada dalamnya air πŸ˜€
Doc Gulbuddin Hekmatyamar.

Rintangan selanjutnya adalah melewati aliran air pendek namun deras. Aliran ini akibat air dari curug kedua. Diapit oleh batu besar di kanan-kiri, serta harus menyeberang dengan kedalaman air sekitar 1 meter, membuat kami harus turun satu-persatu kembali.

Hhahahah disini, Ioh kembali takut. Deeuuhhh seblaaayy… itu relaksasi yang diajarin kemana dah? Belum selesai itu terapi sudah keburu main fin sih, ngga sabar.

Anteng ya, anteng… ngga dalam juga. Mosok kalah sama Wahyu yang lebih buntet montok dari Ioh yang kutilang (kurus tinggi langsing, baca ceper) sihh???? Ya ampuun.. kok di tulisan ini kepengin ngegetok Ioh mulu elaaahhh… Sumpah dah, nulis sambil ngakak terus ini dinihari begini.

This slideshow requires JavaScript.

Usai melewati aliran tersebut, dataran luas terlihat. Disini banyak batu-batunya. Besar, kecil, pecahan batu juga ada. Adeuh apa ya namanya? Kalau ada Abbay, ya pasti ngerti ini urusan batu ya? Doyan batu mah Abbay…

***

Curug Ketiga yang Private

Curug ketiga ada di belakang saya.
Doc Jessa.

Ehh, karena hari sudah semakin siang, kami tidak berhenti, tetapi berjalan ke balik bukit batu yang ada di sebelah kiri.

Wuiihh… aliran air dari curug ketiga yang kami lihat ini, sedikit lumayan tinggi dari kedua curug sebelumnya. Mungkin sekitar 5 meter. Kedalamannya sekitar 2-3 meter. Dekat air yang lebih gelap, sepertinya agak dalam karena saya tidak bisa menjejakkan kaki atau menemukan batu sebagai pijakan disana.

Lokasinya sedikit diapit oleh bukit batu basah di sekelilingnya. Selain itu, tumbuhan hijau serta lumut di bebatuannya membuat curug menjadi terlihat lebih asri dan sejuk.

Untuk mencapai ke curug ketiga ini, kami melalui genangan air bening sebatas lutut. Ioh dan Jessa bergantian berfoto disana. Sementara teman-teman sudah berendam, menyelam dan bermain air, saya sedikit di shoot oleh Jessa untuk keperluan video perjalanan Upoh dan tulisan.

Kenapa private? Karena memang hanya kami saja yang bermain air di curug ketiga ini. Bebas nyemplung, sorak-sorai, salto kece, ketawa bahagia dan bebas main sepuasnya!

β€œEjay, sini nyelam. Jangan lama, Ejay…” suara-suara perusuh berkicau disana. Wkwkkkkww

Curug ketiga yang diapit.
Doc and taken by Jessa

Yuhuuu…. air sudah menanti penuh sabar untuk bermain. Kami para pengelana penggantung tak kenal lelah, sudah bersiap melompat dan berendam hingga lapar merebak.

Yuuukkk… siap-siap bergantian salto ke udara penuh semangat dan menceburkan diri ke bening dan segarnya air Curug Cipeuteuy yang terus memanggil. Jangan sampai ngga ikut nyebur. Sayang pisan atuuhh..
*air saja di sayang, apalagi kamu kan yak? pentung!

This slideshow requires JavaScript.

Jangan pernah bosan mengikuti petualangan kami di keluarga Upoh Hammockers DKI Jakarta selanjutnya yaaahh… Salam Gantung Salto di udara curug. Yosbraaayyy zayaaannngg.. (jie)

***

Tim susur curug:

  1. Gudin
  2. Ninoy
  3. Ioh
  4. Wahyu
  5. Jessa
  6. Aans
  7. Amad
  8. Putri
  9. Saya

 

 

Advertisements

Published by

ejiebelula

I'm just an ordinary person who is always looking for friends, adventures and life stories to complete. it all started from any footsteps, traveling and recording with a cheerful heart notes and a spirit that always accompany my steps toward the so-called ideals of the school also hopes to live through the experience. I will dedicate my heart only for two, red and pink. # Waiting for the right moment for a heart the gift of God

5 thoughts on “Kemping Upoh dan Susur Curug Cipeuteuy (Part 2)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s