Lembayung Senja di Rumah Apung Cirata

Doc Faiz Izoot

Senja selalu saja melarutkan rasa didalamnya. Entah pada yang benar tertuju padanya, atau memang pesona lembayung senja begitu melekatkan jiwa. Kembalikan saja pada sebuah tanya di dasar jiwa. Cerita senja di rumah apung, Cianjur menjadi pilihan bermain bersama Hammockers Bekasi kala itu. Mau ikut?

***

 

Melarungkan senja di batas cakrawala
Tak hanya pada garisnya 
Tapi padamu disana
Pada pandangan terbatas

Kamu

Doc Faiz Izoot

Berlokasi diantara 3 Kabupaten/Kota yakni Purwakarta, Cianjur dan Bandung. Sebagian besar, Cianjurlah yang mempunyai bagian terbesarnya.

Waduk ini merupakan bagian dari Pembangkit Listrik Tenaga Air. Waduk Cirata ini adalah PLTA terbesar di Asia Tenggara.

Waktu itu, saya bersama teman-teman Hammockers Bekasi (HB), main disana. Sepertinya pengaruh rumah apung Anggit adalah satu dari sekian pengikat yang membuat kami beberapa kali bertandang ke rumahnya.

Kalau saya, sudah dua kali kesana. Pertama kali, kami menginap hammock camp di hutan sebelum rumah apung, masih daratannya. Kedua kali, kami hanya bermain seharian, puas di rumah apungnya.

Kalau main begini, tidak ada paksaan khusus sih harus ikut. Ya namanya juga jalan-jalan, jadi siapapun yang ingin ikut, ya silahkan saja.

Perjalanan kedua, saya merasa lebih santai, karena memang kebetulan tidak ada janji temu atau harus mengerjakan hal-hal lain di luar kebersamaan di Cirata. Santai…

Asiknya lagi, kali itu kami juga sekalian main dan temanin Anggit yang harus mengambil foto prewed temannya. Ya sekalian kami ikut main, kan seru ya? (cerita main hutannya nanti ya?)

***

Doc Faiz Izoot

Menuju ke rumah apung, kita bisa menggunakan perahu yang banyak terdapat disana. Perahu-perahu tersebut, digunakan penduduk yang menetap disana untuk mobile dari rumah apung mereka ke daratan.

Kata Anggit, hampir rata-rata, mereka yang tinggal di waduk adalah peternak ikan dan mempunyai tambak ikan disana. Dan yang mengejutkan, peternak ini justru didatangi para pembeli (pemasok) ikan langsung.

Disana terdapat banyak kerambah, tempat ternak ikan dan rumah-rumah apung diatasnya. Sebagian besar peternak ikan, justru menetap disana.

Boleh berenang, boleh mancing dan boleh makan hasil ternak ikannya, kalau punya teman yang tinggal disana. Seperti kami yang bermain ke rumah apung Anggit. Keluarganya juga menerima teman-teman HB yang rusuh karena lihat air. Berasa pulang ke rumah sendiri. Hhhahha 😛

Untungnya, Anggit punya perahu sendiri juga. Jadi kami ngga menyewa perahu lain. Karena rombongan kami banyak, waktu itu 2 kali bolak-balik Anggit menjemput kami disana.

Di sekitar perjalanan ke rumah Anggit, banyak tanaman eceng gondok. Tampak beberapa rumah apung tanpa penghuni maupun beberapa perahu yang sepertinya entah sudah kemana pemiliknya.

Sayangnya, kondisi ini membuat Waduk Cirata tampak kurang terawat, khususnya kebersihan yang terlihat di pinggirnya. Banyak sampah yang mengapung di atasnya. Persoalan sampah ini ngga ada habisnya ya? Ya menurut saya sih, harus memulai dari diri sendiri terlebih dahulu. Keluarga adalah lingkup paling kecil yang akan menentukan masa depan kita. Iya kan? 🙂

Rumah kosong dan tak ada penghuni, mungkin salah satu yang menjadi pertimbangan beberapa kepala keluarga yang tadinya tinggal di sekitar waduk. Ya kehidupan perairan seperti itu mungkin membuat mereka juga memikirkan bagaimana harus menyekolahkan anak-anaknya tanpa harus menyeberang ke daratan.

Cerita seperti itu, kadang membuat seseorang akan berpikir, betapa beruntungnya kita yang bisa ke sekolah tanpa bersusah payah menempuh jarak jauh dan melewati wilayah air, ngga sih? Heemm… seorang teman HB pun ada yang curhat nih soal ini.

Apapun itu, bersyukurlah..

***

Doc Faiz Izoot

Senja Bergembira

Naruto sedang seru-serunya. Saya dan teman HB yang tidak ikut sibuk membantu di dapur (karena sempit), bermuka serius menonton televisi. Hal yang sangat jarang saya lakukan! ^_^

Kalau biasanya rumah memiliki sofa-sofa keren, di rumah Anggit ini sangat sederhana. Ada tersedia hammock jaring yang tergantung tepat di depan televisinya dan kalau mau duduk, ya cukup lesehan saja. Itu wilayah nyaman saya donk. Aahahhhah…

Tiba-tiba ada yang sibuk mencari kamera.

“Kak Ejie, kamera dimana?”

“Itu dekat pintu yang banyak tas-tas,” tak menoleh.

Masih belum ngeh kenapa kaki-kaki itu sibuk bergerak menderakkan kayu dan bambu penopang rumah apung ini.  Eeettdaahhh… pada kenapa ya?

“Kak Ejieeee… itu katanya kangen senja? Sudah mau turun loh mataharinya. Bagus banget, kak. Sini keluar. Jangan Naruto terus,” setengah mengalihkan pandangan dari televisi, saya mendengarkan suara Mut-mut atau Mput ya itu?

Senja?

Sudah lama kan ngga lihat senja. Pun ketika beberapa kali mencarinya saat di Yogyakarta. Selalu tertutup kabut. Senja yang belum sempurna karena tengah musim hujan berkepanjangan.

Sontak saya mengerakkan badan dari posisi nyaman tempat bermalas-malasan. Mata saya sibuk mencari Faiz, teman Aciw yang hasil fotonya tadi kece sewaktu di hutan pinus.

“Faiz, mau donk ikut di foto. Dua kali jepret juga ngga apa,” pintaku.

“Sudah habis, kak, senjanya. Langit sudah mulai gelap tuh,” jawab Faiz.

Saya memandang langit, mengedarkannya sepanjang lintasan yang terllihat. Duduk diantara setapak bambu tempat kami berpijak di atas rumah apung. Berjalan ke arah matahari terbenam. Mengamati.

Menunjuk langit di kanan rumah, dan berkata, “Iz, Faiz, itu masih ada. Pink kemerahan, Iz… mau, boleh?”

Faiz mendekat, mengarahkan dan sudah ngga terpikirkan ia memotret atau tidak. Hanya menikmati senja di ujung sana. Kan jadi ingat musik-musik syahdu ya? Terdengar begitu saja mengalun di telinga dalam petikan gitarnya yang menyelusup jauh ke kalbu. Hhhhhh… jauh -_-

“Kak, masuk yuk. Sudah maghrib ini,” Faiz dan Bate mengajak saya pulang ke rumah. Segera beranjak, agar mereka tak harus menunggu. Kalau ikutin kemauan mah, ngga bakal beranjak sampai matahari benar-benar hanya meninggalkan kerlipan lampu saja disana. Tapi kan maghrib ya? 🙂

Mengayun langkah diantara derak
Cermin merah jambu memantul di permukaan
Pandangan lekat berkelebat
Teringat senja merah jambu lainnya diantara sawah 

Kamu, di seberang..

Doc Faiz Izoot

Bonus menjelang peralihan musim hujan ke musim panas, sunset cantik yang bersemi diantara waktu. Terima kasih, senja ❤ ❤ ❤ (jie)

***

 

This slideshow requires JavaScript.

 

Advertisements

Published by

ejiebelula

I'm just an ordinary person who is always looking for friends, adventures and life stories to complete. it all started from any footsteps, traveling and recording with a cheerful heart notes and a spirit that always accompany my steps toward the so-called ideals of the school also hopes to live through the experience. I will dedicate my heart only for two, red and pink. # Waiting for the right moment for a heart the gift of God

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s