Hitchhike Goa Cerme Walisongo

Jalan-jalan santai dari Jakarta ke Yogyakarta. Tujuannya hanya karena penasaran dengan jalur yang (seharusnya) menurut saya, bisa dilakukan dengan cara hitchhiking (menumpang). Dan bukan hanya karena itu, singgah ke tempat wisata yang belum begitu terekspose pun, tanpa sengaja berada dalam daftar perjalanan. Goa Cerme adalah satu diantaranya.

Hitchhike wisata
Doc pribadi

Hitchhiking ke Yogya

Hitchhiking by myself pertama di 2012 itu benar-benar petualangan solo yang saya lakukan seorang diri. Dimulai dari Jakarta menuju Yogyakarta. 5 hari setelah saya pulang dari acara Backpacking Raceย Greenpeaceย (cek tulisan di blog ejiebelula.wordpress.com ya). Petualangan santai namun target 2 minggu saya tetapkan. Harus bisa PP (pergi dan pulang) dengan cara hitchhike (HH).

Waktu itu, niat saya selain penasaran sama jalur pantura yanฤฃ meyakinkan bahwa saya bisa hitchhike ke Yogya, ya mau main. Saya juga kepengin berkunjung ke beberapa teman dan menikmati tempat yang tidak terlalu terekspose publik. Selain itu, janji nanjak pada teman tanpa mereka tahu saya ke lokasi dengan menumpang kendaraan. Soalnya pasti ngga boleh sama mereka, hhehhehe

Nah, di foto itu adalah posisi saya setelah berhasil tiba di Yogyakarta dengan hitchhike. Saya main ke rumah teman di Bantul, Atun, nama panggilannya. Sudah jadi Bu Guru SMP, teman saya itu.

Ehh, sempat nyasar juga kesana. Jalannya belum bagus, masih batuan dan tanah. Berkelok-kelok dan lumayan bikin keder David, saudara Bu Guru Atun yang sebenarnya adalah warga lokal, tapi tidak terlalu sering explore karena ia harus bekerja. Untung ketika itu ia tengah libur, jadi bisa mengantarkanku berjalan-jalan menyusuri jalan lengang.

***

Dari tangga menuju Goa Cerme`
Doc pribadi

Cari Jalan

Jalan yang berkelok dan berbatu, tidak membuat saya dan David mundur dari petualangan mencari Goa Cerme yang disebutkan David dalam perbincangan kami di rumah Bu Guru.

Beberapa kali kami sempat nyasar. Setengah jam lebih sampai menemukan jalan sebenarnya. Iya, daerahnya masih belum terlalu ramai ketika itu. Menjumpai penduduk sekitar pun sangat jarang. Sepertinya siang hari digunakan penduduk untuk bercocok tanam di sawah mereka.

Tak pantang menyerah, saya yang memang tidak terlalu tahu jalan, tapi doyan bertanya, selalu giat bertanya jika bertemu warga. Nanti, Davidlah yang akan mentranslatenya ke dalam Bahasa Jawa totok ๐Ÿ™‚ .

Sekitar 1,5 jam kemudian, kami akhirnya tiba di lokasi dimaksud. Goa Cerme. Huwaaaahhh.. senangnya!

***

Plang nama Cerme
Doc pribadi

Goa Cerme

Berada di satu gua peninggalan sejarah dengan keindahan stalagtit dan stalagmit ini tentu mempunyai cerita tersendiri. Saya memang tidak langsung memasuki kawasan goa di dalamnya karena perjalanan mendadak yang saya lakukan tanpa persiapan. Tapi mendengarkan cerita dari penjaga gua (guide) berpakaian santai itu, membuat saya tertarik.

Terletak di Dusun Srunggo, Selopamioro, Imogiri, Bantul, saya bersama David, menyusuri anak tangga yang lumayan banyak hingga ke titik pintu masuk gua. Kata pak guide, tangganya setinggi 759 meter.

Cerme berasal dari kata ceramah yang berarti pembicaraan yang dilakukan Walisongo. Gua ini bagian dari penyebaran agama Islam di Jawa. Salah satunya adalah tentang pendirian Masjid Agung Demak.

Tidak salah memang Walisongo membuat tempat ini sebagai tempat berdiskusi karena memang tenangnya suasana di sekitar juga jatuhan air yang terdengar di dalamnya, membuat kita merasa nyaman.

Pada pintu luar terdapat batu yang tampaknya sudah dibuat lama. Seperti prasasti kah? Sedikit berlumut di sisi lainnya.

Seperti prasati
Doc pribadi

Gua Cereme dengan bebatuan alaminya, memiliki panjang 1,5 km. Gua ini bisa tembus hingga ke Sendang wilayah Panggang, Desa Ploso, Giritirto, Gunungkidul.

Menurut bapak guide, tingkat kedalaman air 1 hingga 1,5 meter. Jika debit air cukup tinggi di musim penghujan, gua ini tidak disarankan untuk dimasuki. Selain itu, ada beberapa cabang yang membingungkan jika masuk tanpa arahan dari pemandu.

“Wajib memakai pemandu wisata, mbak kalau mau menyusuri Gua Cerme ini,” ujar bapak berkumis sembari memberikan headlamp.

Untuk masuk ke Goa Cerme, dikenakan retribusi sebesar 2 ribu rupiah dan 250 rupiah termasuk asuransi (tahun 2012). Penyewaan senter atau lampu penerangan dikenakan biaya masing-masing 5 ribu di luar jasa pemandu gua wisata.

Dalam goa kita bisa melihat beberapa ruangan, seperti panggung pertemuan, air zamzam dan batu mustoko yang berbentuk mahkota raja.

Ada pula air suci, watu kaji (batu yang diibaratkan seperti hajar aswat), pelungguhan/paseban (tempat berdo’a), kahyangan, grojogan sewu, air penguripan, gamelan, batu gilang, lumbung padi, gedung sekakap, kraton, panggung, goa lawa dan watu gantung.

Di samping Goa Cerme, disekitarnya ada juga goa lain yang lebih kecil seperti Goa Dalang, Goa Ledek, Goa Badut dan Goa Kaum yang sering digunakan untuk bersemedi.

Goa Cerme
Doc pribadi

Tiap petualangan pasti punya cerita tersendiri ya? Beruntunglah bagi kita yang selalu penasaran akan suatu tempat. Karena tiap petualangan akan selalu mengajarkan sesuatu pada kita.

Apapun tujuannya, apapun alasannya, jangan lupa untuk selalu menjaga kelestariannya. Terlebih, selalu ingat untuk tidak membuang sampah sembarangan. Biar generasi selanjutnya tetap bisa melihat indah yang kita lihat. Ya kan? (jie)

***

Advertisements

Published by

ejiebelula

I'm just an ordinary person who is always looking for friends, adventures and life stories to complete. it all started from any footsteps, traveling and recording with a cheerful heart notes and a spirit that always accompany my steps toward the so-called ideals of the school also hopes to live through the experience. I will dedicate my heart only for two, red and pink. # Waiting for the right moment for a heart the gift of God

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s