Bogor: Trekking Santai di Puncak Roti (Part 1)

Bogor Kota Hujan, apa yang tersirat dalam pikiran Anda? Hujan, kuliner, curug, gunung, adem, bendungan? Hemm.. boleh juga. Banyak wisata yang bisa dikunjungi. Banyak kuliner yang bisa dicicipi. Bermain di sisi lain Bogor yang ketinggiannya sekitar 300 mdpl, sudahkah? Yuk, kesana!

Bareng tiger!
Doc pribadi

Rute Ke Cikampak

Sudah sejak pukul 07.00 Wib, saya siap dari rumah. Pukul 08.00 Wib rencana akan langsung jalan pun akhirnya diisi dengan kuliner ketoprak super enak yangΒ  berada tak jauh dari rumah Sita. Ketoprak? Biasa? Heeemm.. nanti yah ulasannya.

Saya naik 3 kali angkutan kota dari rumah Sita. Sendiri dan tidak takut nyasar. Soalnya Irfan yang akrab dipanggil Toeyoel sudah memberitahukan kendaraan apa saja yang harus saya naiki.

Kendaraan ke Gunung Roti, Cikampak, Ciampea;

  1. 08 (hijau) tujuan BTM, turun setelah lewat dari Tugu Kujang atau depan Stasiun Bogor (Rp 4.000)
  2. 03 (biru) tujuan Laladon, lewat depan Stasiun Bogor juga (Rp 5.000)
  3. 05 (biru) tujuan Cikampak, arah Leuwiliang (Rp 7.000 eheemm! Kemahalan huaaa -_- )

Turun angkot di pertigaan Cikampak, dekat fotokopi. Di seberang kanan, ada Indomaret. Biasanya orang akan segera tahu kalau kita pendatang. Mungkin dari pembawaan, bahasa maupun pertanyaan yang kita ajukan. Mereka segera akan menawarkan jasa mengantar dengan ojek pangkalan. Berkisar 10-20 ribu sekali jalan.

Karena sebelumnya sudah diberitahu untuk jalan kaki saja, saya tidak tertarik dengan tawaran para ojek-ojek tersebut. Ditambah, saya menegaskan rute dengan bertanya pada bapak di tempat fotokopi setelah para ojek bosan menawarkan jasanya pada saya.

“Jalan kaki saja, mbak. Tempatnya ngga jauh kok. Lewat lorong kecil di depan itu saja, nanti belok kanan, dan ketemu jalanan agak luas. Belok kiri, ada jembatan. lurus saja ikutin jalan kecilnya. Ada kuburan dan lurus lagi. Nanti ketemu gerbang masuknya,” si bapak menjelaskan secara detil.

Ia juga menjelaskan jika lewat dari arah Indomaret. Sama saja jalannya, sekitar 15-20 menit.

Saya mengikuti sarannya. Benar! Dan ngga ribet kok.

Ohh, ternyata, kalau tadi saya dari arah Indomaret setelah jajan, jalannya langsung ketemu jalan agak luas ke jembatan. Setelah jembatan, di kanan ada warung-warung, ambillah jalan sebelah kiri yang mengarah ke pekuburan. Nanti akan ketemu pintu masuk ke Gunung Roti. Kalau lorong kecil kan lewat gang rumah-rumah. Hhehhehe

Umph, dan saya melewati batu-batu nisan di kanan jalan. Sebuah jalan setapak berumput membentuk garis menuju gunung berketinggian 300 mdpl.

***

HUtan Jati dari warung bawah ke pos retribusi` Gambar diambil saat pulang.
Doc Toeyoel

Hutan Jati

Gerbang sederhana yang terbuat dari kayu dengan spanduk lusuh terpajang di atasnya, mengucapkan selamat datang pada pengunjung. Saya melangkahkan kaki ke sebuah warung beratap hijau. Hanya satu-satunya disana. Seorang ibu tidur menikmati istirahat siangnya di tengah angin sepoi-sepoi.

Langkah kaki ini membuatnya terjaga dan terduduk.

“Sini, neng. Istirahat mangga. Titip tasnya juga ngga apa kalau mau naik ngga kemping,” ujarnya. Saya tersenyum, permisi duduk di dekatnya, dan ia pun beranjak masuk ke warungnya.

Seperti biasa, saya tidak biasa untuk tidak bertanya banyak hal. Ibu menjawabnya dengan ramah.

Kata ibu, masuk ke wisata Gunung Roti, cukup membayar biaya retribusi sebesar Rp 5.000 dan Rp 10.000 jika kemping.

Ke pos retibusi
Doc Toeyoel

Sedikit rintik dengan dedaunan pohon jati yang jatuh seiring berhembusnya angin sepoi-sepoi, saya beristirahat sejenak. Mengeluarkan hammock dan botol minum dari keril, kemudian menitipkan bawaan saya pada ibu.

Di area hutan jati, kita bisa menggantung hammock sih kalau mau. Kata ibu, kalau yang turun, biasanya mereka akan leyeh-leyeh dulu main di wilayah jati itu sekadar beristirahat. Ada juga jaring yang bisa dipakai bersama disana.

Pukul 13.00 Wib, saya memutuskan naik sendiri karena teman saya tak kunjung datang.

***

Jalur Kemping dan Goa AC

os retibusi tampak dari tanjakan awal.
Doc pribadi

Melewati tangga yang lumayan, kita akan langsung bertemu pos retibusi. Ada Pak Awang, dan anaknya yang bergantian menjaga pos. Pak Musa pengelola sedang tidak berada di tempat, tapi ada Arif, anaknya yang juga sedang beristirahat.

Sebuah warung, musholla dan toilet tersedia di pelataran tersebut.

Menurut Pak Musa, ada dua jalur untuk mencapai puncaknya. Sebelah kiri adalah jalur terjal dengan waktu pendakian yang sebentar, langsung tiba di tempat kempingnya. Jalannya lebih kecil berupa jalan setapak dan tertutup.

Sedangkan sebelah kanan, jalan lebar, terbuka dan bisa melihat pemandangan Kota Bogor. Sekitar 15 menit kata mereka untuk sampai di puncaknya. Hhahaha… ya itu mah kakinya orang lokal yah? Berarti kalau saya teh hitungan 30 menit kali yah? πŸ˜€

Menimbang hanya seorang diri, saya memutuskan untuk treking mengambil jalan kanan. Sebelumnya juga ada sepasang anak sekolah yang melintasi jalan kanan. Jalan siang panas, ya sepi.

Alur trekingnya jelas dengan jalan berupa pecahan berbatu kecil bercampur batu kapur, dan tanah lempung kuning. Sekiranya hujan, jalan ini akan licin rasanya. Jadi, hati-hati yah. Jangan lupa pakai sepatu aman, biar ngga merosot.

Awal tanjakan saja, bikin saya ngos-ngosan. Maklum, jarang banget olahraga sekarang. Kebanyakan jalan-jalan santai city tour saja. Berenang sudah mulai jarang, apalagi mau latihan lari? Ngga kuat kakinya deuuhh -_-

Setelah tanjakan, di belokan kiri, kita akan menjumpai jalan sedikit landai berwarna putih karena didominasi oleh batuan kapur. Manjat sedikit dan terlihat batu besar di kanan yang bisa dijadikan tempat istirahat sejenak.

Selanjutnya ikuti saja jalan yang ada. tanah coklat dipenuhi rumput hijau di kanan kiri jalan. Dinding batu kapurnya menghampar di kanan jalan. Besar. Jangan jalan terlalu pinggir kiri, kalau tidak mau terperosok.

Batu kapur besar mengapit dinding kanan
Doc pribadi

Ada dua cabang jalan setelah kita menjumpai batu besar di depan. Kiri ke arah kemping, kanan ke Puncak Roti.

Saya celingak-celinguk, berusaha mencari jalan ke arah Puncak Roti. Hanya batuan. Di depannya tumbuhan dengan jurang besar. Tidak tampak apapun yang bisa memberi cara ke Batu Roti. Penasaran? Sangat!

Baru kali itu saya tidak ada tempat bertanya pada orang di sekitar. Hanya saya saja. Arrggh! Karena sendiri dan tidak menemukan jalan lain ke puncaknya, saya akhirnya mengambil jalan kiri.

Cabang jalan ke kemping dan Puncak Roti.
Doc pribadi

Diapit oleh batuan kapur besar seperti yang pernah saya lihat di Leang-leang, Makassar, kaki menelusuri jalanannya. Mengambil gambar di beberapa sudutnya yang mengarah ke Kota Bogor, pandangan mata saya memperhatian tiap sudut.

Ada saung yang sudah tidak ada atapnya, hanya pondasi kayunya saja yang terlihat putih. Sedikit rimbunan pohon untuk kemping.

Sepi, meskipun hari itu Sabtu. Kata Pak Awang, Β sore menjelang malam, banyak yang akan datang dan kemping disana. Kelihatannya, cukup untuk 5-7 tenda rapat. Ada sedikit pepohonan juga kalau ingin menggantung hammock. Tapi batang pohonnya kecil.

Saung rusak, saung utuh dan tempat kemping.
Doc pribadi

Pagi hari, pengunjung akan mengambil gambar sunrise dari atas sini, khususnya di Puncak Roti. Hhahhaha… masih kesal belum ketemu puncaknya euy πŸ˜€

Melewati rimbunan pohon, kita bisa menuju ke Goa AC. Entah kenapa disebut demikian. Mungkin goanya dingin seperti angin AC kali yah? Penasaran, saya menyusurinya sedikit, sedikit, dan sedikit, lalu terus jalan sesukanya kaki melangkah.

Pada pintu hutan yang benar-benar membentuk tumbuhan layaknya lorong, kaki saya berhenti. Kok jadi keingat langkah yang terhenti di jalur tersembunyi waktu kemping sama Paramonster DIY yah?

Langkah yang menyatakan untuk tidak melanjutkan penasaran. Langkah yang terhenti karena ingat kalimat Pak Awang tanpa embel-embel lainnya. Pelan namun tegas, “Jangan kesana sendirian, mbak.”

Putar badan dan kembali ke rerimbunan pohon, wilayah kemping.

***

Pucuk Pohon, Bukan Puncak Roti

Kalau saja Irfan Toeyoel ngga lama datangnya. Kalau saja ia tidak membuat saya menunggu sedemikiannya. Kalau saja… ahh sudahlah. Cukup menikmati batuan-batuan kapur yang bisa saya panjat saja. Melihat Kota Bogor di bawah sana. Bersandar pada pohon panjatan, dan menikmati semilir angin sejuk yang berhembus.

Meskipun saya tak sampai ke Puncak Rotinya, mungkin nanti saya bisa kembali kesana. Jakarta ke Bogor dekat, bisa ditempuh santai dengan kereta api nyaman kan?

Saran saja sih. Buat yang ngga doyan jalan sendirian, jangan mendaki di siang hari seperti yang saya lakukan, kalau ngga kepengin gerah yah? Panas ntaran. Kasihan euy…

Untungnya saya menikmati kesendirian disana kok. Jadinya ya anteng saja. Malah jadi puas plangak-plongok, cari ini itu, lihat sana-sini dan manjat-manjat karena bebas sendiri ngga orang. Waahahhhaa

Tidak semua kemauan mungkin bisa diperoleh sesuai keinginan, bukan? Sabar, Ejie, semua itu akan ada saatnya. Nanti…

Lah ini ceritanya si saya belum sampai di Puncak Rotinya yah??
Huaaaiyyaaah… πŸ˜‰ Β (jie)

***

Ngaso di batu besar
Doc pribadi

This slideshow requires JavaScript.

 

Advertisements

Published by

ejiebelula

I'm just an ordinary person who is always looking for friends, adventures and life stories to complete. it all started from any footsteps, traveling and recording with a cheerful heart notes and a spirit that always accompany my steps toward the so-called ideals of the school also hopes to live through the experience. I will dedicate my heart only for two, red and pink. # Waiting for the right moment for a heart the gift of God

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s