Pintaku dalam Kaget

12 Oktober 2012, 18.10 WIB

Gramedia, Taman Anggrek, Jakarta

Nunggu Airien Belanja

 

Allah…..

Otakku dikejutkan dengan berjuta bintang di langit. Berbagai pertanyaan dan ide melintas di pikiranku. Entah apa yang meracuninya, hingga aku yang sedang berjalan menemani seorang teman mencari keperluan adventurenya pun sontak berhenti dan segera mengeluarkan buku tulisku dan mencatat beberapa hal yang terlintas.

Di otakku, serangkaian hal-hal baru berseliweran. Sungguh menggelitik batinku untuk menjalankannya. Jika saja aku bisa menitipkannya, jika saja aku bisa melakukan segala sesuatunya saat aku merasa, jika saja aku mampu menindaklanjutinya, jika saja aku bisa tak peduli pada hal lainnya, jika saja aku mempunyai kuasa atas diriku untuk bertindak, dan jika saja aku dapat tak mengindahkan hati yang tertinggal, pastilah tanpa banyak ca ci cu, aku langsung wuuuuusssshh….. pergi kemanapun yang ku mau. Takkan berpikir panjang!

Allah………..

Jika Engkau berkenan, berikanlah jalan yang adil bagiku.

Jika Engkau menghendaki atasku, akan kujalani tanpa membiarkan hati lainnya merasa ditinggalkan tanpa adanya diriku.

Jika Engkau mengizinkan, akan kuraih impian setinggi bintang di langit demi kebahagiaannya.

Jika Engkau memberikannya, takkan kubiarkan ia menangis seorang diri.

Jika Engkau menghadiahkan, kan ku cari jalan demi mereka yang menginginkanku.

Jika Engkau berkata bahwa aku pantas menerima, Subhanallah….kubersujud padaMu

Dan jika Engkau mengucapkan inilah saatnya bagi diriku,Alhamdulillah.. aku takkan banyak berkata, hanya bersyukur, bersyukur dan bersyukur atas karunia yang Kau limpahkan. Amin YRA….

Haruskah kupendam semua asa ini?

Bisakah aku membagi dengannya?

Hanya padaMu aku meminta jalan dan hanya padaMu aku memohon petunjuk…

Berprasangka baiklah padaNYA, maka IA akan menjadi seperti sangkaanmu

#edisi kaget di tengah jalan

Menantimu

26 September 2012

02 AM, rewind

Dan Kutermenung!

 

Jika boleh sedikit berkeinginan

Kuingin sepi menanti

Berharap bintang datang menyapa bulan

Menawarkan senyum di hati

Saat letih menghampiri

Saat hanya deru kendaraan lalu-lalang menghembuskan asapnya

Disana asa itu ada disisi

Berharap bintang kan menemaninya

Tak sendiri, tanpa senyum

Tak berdiri, tanpa teman

Hanya diam dan tanpa kata

Maafkan untuk keseharian yang selalu terusik

#edisi menunggu balasan whatsapp yang tak kunjung ada

Ketika Morella Terlewatkan

AWAL, PAGI YANG CERAH

  • Teriakan Morella

“Ejieeeeee….. hayuuu ikutan…. Nyelem kita!” suara Budi yang serak-serak basah bak penyanyi rocker memanggilku. Ada Manda, teman yang hobi snorkling juga di dekatnya.

Semburat Senja Morella, Ambon

Ejie ketawa, mendekat, “Kemana, Bud?”

“Morella, Jie…. Bagus. Yuukk! Bareng nih sama Navy Seal. Gratis, Jie,” promo Budi.

“Ejie mau Budi… tapi udah kadung janji sama teman-teman kelompok bakal pergi bareng. Mau kumpul kita. Nda bisa Ejie ikut. Padahal Ejie pengen euy snorkling,” misuh-misuh.

“Anak laut kok ya main di darat. Ikutan aja, Jie… sebelum nyesal ntar lhoh,” Manda nimbrung, ngelirik Budi.

“Hahaaha…. Ejie pas deh. Next ikutan,” sedikit miris, “Lagian alat snorkel kan masih di Kak Agus. Belum Ejie ambil, Budi…Manda…” lanjutku.

“Udahan, Jie… pake yang ada aja. Manda juga nda bawa kok. Ikut udah yuuukk!” kompor Manda.

“Au ni Ejie. Nyelem aja bingung. Hayulaaahh…brangkat kitaaa” sambung Budi lagi.

Di kejauhan, Gebe’s Team, kelompokku yang berjumlah 23 orang itu, ramai memanggil-mangil.
“Ejieeeeee….buruaaan! Udah ditunggu sama yang lain. Mau turun tuh. Ntar ketinggalan bus,” Dayu yang bertugas sebagai ketua kelompok sibuk memanggil anggotanya yang pada mencar.

“Iyaaaa…” teriakku, “Budi, Manda, Ejie jalan dulu yaaaa.. Maaf euy. Lain kali Ejie gabung deh snorklingnya. Daaaahh…”

Berlalu dari Budi dan Manda, aku tergesa-gesa mengejar rombongan kelompokku yang sudah lebih dulu menuju cardeck, lantai 2 dari kapal KRI Surabaya 591 yang kami naiki.

  • Wisata Kota Ambon

Menikmati hari bersama Gebe’s Team sangat menyenangkan. Tak ada kesedihan. Hanya tawa kegembiraan. Potret sana sini juga cerita. Semua dilakukan dengan ceria. Tak satu sisi pun tersisakan dari jepretan kami. Kemanapun kaki melangkah, selalu ada saja yang diabadikan.

Tempat pertama yang kami datangi di Ambon untuk waktu plesir adalah Museum Siwalima (bacaMuseum Siwalima Ambonred). Kami diterima siang hari oleh pihak museum. Karena beberapa alasan perbaikan dan perapian lokasi dan rehabilitasi gedung, jadi tidak semua koleksi museum yang bisa kami lihat.

Setelah dari Museum Siwa Lima, bus yang kami tumpangi sebanyak 20 bus berjalan menuju lokasi bernama Gong Perdamaian, tepat di tengah Kota Ambon. Gong Perdamaian ini disyahkan pada tahun 2010 oleh Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono.

Terletak di kawasan Lapangan Merdeka, pusat Kota Ambon. Gong Perdamaian adalah destinasi yang ramai dikunjungi sebagai tempat wisata, ajang photo bagi para wisatawan yang berkunjung ke Ambon.
Photo diambil siang hari, pukul 13.00 waktu setempat.

Makan siang dan juga photo-photo dilakukan di sini, tentunya terkendali dengan tetap menjaga kebersihan. Sayang, aku yang tak bisa makan nasi, hanya duduk termenung saja di pojokan depan pintu masuk dekat dengan bus yang berjejer.

Dari Gong Perdamaian, kami diberi waktu untuk jalan kemanapun yang kami mau. Beberapa tempat yang berhasil dibidik dengan kamera antara lain adalah Monumen Christina Martha Tiahahu dan  Mesjid Raya Al-Fatah.

Bangunan masjid terletak diantara perempatan jalan dan dekat dengan pusat jajanan serta oleh-oleh Kota Ambon. Letaknya hanya beberapa kilometer dari Gong Perdamaian.

Kami berpisah untuk beberapa keperluan yang ingin dibeli guna stok di kapal. Ada yang jalan dengan satu daerahnya, ada yang gabung dengan kelompok lain, ada yang mau beli keperluan kacamata karena pecah, sampai ada yang perlu membeli keperluan perut untuk persediaan. Hehehhe…

  • Belanja Kalap ala si Mabok Roti

Kami berjalan mengitari sebagian pusat Kota Ambon dan sempat mampir di beberapa toko pusat oleh-oleh. Terpikir olehku untuk membeli madu, mengingat kondisi kesehatan yang mulai menurun disebabkan kurangnya pasokan air mineral yang dikonsumsi selama di kapal, sehingga tenggorokan pun sudah mulai menunjukkan tanda-tanda radangnya. Tapi begitu melihat botol madu yang bertuliskan “teh botol s***o” aku pun mengurungkan niatku. Haa??? Madu dalam botol itu?!?? Ohh nooo……..  😦

Alhasil, mampirlah kami ke sebuah supermarket dan grauuuuukk….. belanja!!

Horeeee…..

Akhirnya setelah 6 hari perjalanan mengarungi lautan Jakarta-Ambon, ketemu juga supermarket di Ambon. Sungguh, rasanya sudah berbulan-bulan aku tidak menemukan tempat seperti ini. Otakku langsung teringat oleh stok makananku yang ludes diserbu teman-teman sekamarku. Dan…ciaaaattttt…. Rajin tanganku mengambil berbagai keperluan perut yang aku inginkan.

“Rotiii….rotiiiii……” otakku terus bekerja memanggil roti. Hahaaahhha…. Kangennyaaaa .. 😀

Tak kusadari bahwa seorang temanku memperhatikan keasyikanku mengambil ini itu hingga akhirnya ia  mengatakan, “Ejieeeeee…… kamu kalap yah belanjanya?? Segala macam susu, roti, minuman kacang hijau, biskuit dibeli. Emang mau jualan di kapal apa??!?”

“Heheheeee…ya mangaaap atuuhhh…. Ejie kan nda makan nasiiii…. Jadi ya belanjaannya begini ini deh,” jawabku sambil nyengir.

“Ejie di kamar makannya roti dan biskuit doank…. Jadi makluminlah,” Riya si Bude, teman sekamarku membela.

“Ok….. ayo bantu Ejie hunting cemilan kalau gitu,” Jarwo yang sedari tadi cuma mlongo akhirnya ikut bantu sana-sini.

“Ejie, disana ada minuman kacang hijau yang kamu cari itu. Tapi nda ada botol kecilnya lho?” Ferdi Aceh menginfokan minuman yang kucari dari tadi.

“Siippp…..makasih, Fer,” aku berlari ke lorong yang ditunjuknya.

Ahhh…teman-teman yang baik. Tak dimanapun, Allah selalu memberiku teman yang pengertian dengan kondisi makanku yang menurut mereka aneh. Terima kasih Allah untuk semua kebaikan yang telah aku terima dimanapun aku melangkah dengan hadirnya teman-teman disekelilingku…  🙂

Tuhan, karunia-Mu sangat besar. Berkah-Mu yang tak terhingga untuk kunikmati setiap langkah pejalanan Rp 0,- Mu terasa menyejukkan.

Setiap rasa yang kutinggalkan di titik kota ini, ku mengingatMu. Setiap tempat yang kusinggahi disini, Subhanallah, aku bersyukur. Satu rasa yang tercipta bahwa syukurku padaMu akan semua kesempatan yang Kau berikan kan selalu terkenang. Perjuangan keterkungkungan dari segala pengekangan hati, dari ketidakberdayaan rasa, dari pekik kesakitan yang pernah ada, adalah nilai yang kuperoleh saat ini.

Tuhan, untuk semuanya, aku berterimakasih. “Sempatkan aku untuk tetap menatap indahnya dunia lain bersama sahabatku, ceria dan semangat, Ya Allah…” do’a ku dalam hati.

“Ejieee!!” Seseorang mengagetkanku kembali dari perbincanganku dengan hati. “Ditunggu teman-teman…yuk! Lanjut jalan kitaaaa.” Aku tersenyum , berlari untuk bergabung dengan lainnya.

AKHIR HARI,  CARDECK MENUJU RUANG 03 H

Sampai di kapal, KRI Surabaya 591, seorang pendamping, Guntur, bertanya padaku mengenai keberadaan Budi dan Manda.

“Ejie nda bareng mereka?” tanyanya.

“Hooo? Mereka belum ada disini? Bukannya kita udah mau jalan?” aku malah balik bertanya.

“Iya, makanya tanya Ejie. Soalnya tadi lihat kalian ngobrol pagi di hellydeck. Kirain Ejie bareng mereka nyelem.” sambungnya.

“Ejie tadi emang diajakin. Tapi karena janji sama teman kelompok, jadi nda ikutan Budi dan Manda. Coba dihubungin ke teleponnya aja. Mungkin masih dalam perjalanan kesini, “ sahutku.

“Ok, thank’s Ejie… aku coba telpon mereka deh,” Guntur berlalu dariku.

R 011 G, BUDI’S ROOM

  • Budi’s Notes

“Pantai Morella, asik, penduduknya yang ramah, makan ikan bakar, pulang gratis naik pick up, dianterin pula. Blaaa….blaaa..blllaaaaaa…..”

“Budiiiii….aaaaaaaaa….. You make me jealous with Morella!” tanpa kuhindari cemprenganku keluar setelah membaca hariannya.

Budi nyengir. “Diajakin nda mau sih Ejie. Asik tau, Jie…. Rumahnya ala pantai dan kita makan seru disana. Masih seger, panas daaaann kenyang banget!!” ledeknya.

Huaahhh…… segala macam cerita Morella pun keluar dari mulut dan suara rockernya itu.

Beautifull Morella

Huahhhhh lagi!!

Ejie, pelajaran….. bahwa kesempatan itu tidak akan datang dua kali. Ingat, perjalanan Rp 0,- seharusnya dinikmati, bukan dihindari. Jika pilihanmu adalah darat, nikmati. Namun jika laut adalah hatimu, sadari. Semua adalah pilihanmu, Ejie…

So, don’t be jealous with everthing that might be happened.

Remember that someone told you, enjoyed your life, Ejie…. Happyness is around you. So keep in happy and smile everywhere.

Ya, yaaa, yaaaaaaa…. Akan kuingat hal ini. Ingatanku akan seseorang yang memberikan kalimat bagus  membuatku tetap tersenyum. Selalu!

Terima kasih Allah, untukMu yang selalu ada menemaniku.

Terima kasih Allah, untuknya yang selalu memberikan support atas diriku.

Terima kasih Allah, untuk mereka yang juga ada dalam hatiku dan mengerti aku.

Dan terima kasih Allah, untuk semua berkah dan rezeki yang Engkau limpahkan untukku dalam beberapa tahun belakangan ini. Amin YRA….

#edisi senyum yang berkelanjutan untuknya 🙂

Untuk Sahabatku, Kesendirian

09 Oktober 2012
Temani aku, jangan bingung!

Awalnya juga sendiri, jadi harus bisa kuat untuk tidak merasa adanya disini. Terbiasa sendiri akan membuat dirimu kuat, tegar dan tak tergantung pada apapun atau siapapun.

Tak perlu mengharap kebersamaan, jika memang kesendirian adalah milikmu.
Tak perlu menunggu kebersamaan, jika memang kesendirian lebih berpihak padamu.
Tak perlu merasa risih, jika kesendirian selalu menemanimu.
Tak perlu bimbang, jika kesendirian adalah sahabatmu saat ini.
Dan tak perlu berkecil hati, jika kesendirian akrab dan menjadi bagian dalam perjalanan hidup sekarang atau nanti.

Banyak yang bisa dinikmati dalam kesendirian.
Kenali atas dirimu, apa yang ada padamu.
Bersahabatlah dengan kesendirian.
Tegurlah ia, karena ia lah yang akan setia padamu.

Jangan mengucilkan kesendirian, karena ia hadir bukan karena ketersengajaan.
Ia akan hadir disaat engkau merasa bingung akan kemana.
Ia akan hadir disaat engkau tak tahu arah mana yang dituju.
Ia akan datang begitu tak ada lagi sapaan akrab dari orang-orang di sekitarmu.
Muncul begitu saja di hadapanmu.
Tengadahlah.. terimalah ulurannya padamu…

Tapi, itulah kesetiaan sejati.
Teman yang takkan meninggalkanmu dalam kesepian. Justru peran nyatanya hadir setelah engkau merasa sepi.
Disitulah terlihat, bahwa kesendirian adalah sahabat yang takkan meninggalkanmu pada situasi apapun.
Kesendirian akan menyapa, menemani dan menjagamu dalam senyumannya.
Mengelusmu dalam kedukaan.
Menghadirkan rasa tersendiri dalam sudut hatimu.
Rasa yang hanya aku dan ia yang tahu.
Rasa yang tertinggal di 1 sudut ruang dalam bagian jiwaku, entah dimana…

Kesendirian, engkaulah sahabatku saat ini.
Kesendirian yang takkan letih menemani, bersamaku.
Ajarkan aku agar tetap ceria dan semangat dalam kesendirianku ini, agar aku tetap menatap hari dengan senyuman ikhlas… ^^

#edisi bersyukur pada kesendirian

Rasa, Bintang dan Kesendirian

temani aku

08 Okt 2012
Menatap Bintang dari Jendela Kamar, dan Sepi..

Akui saja jika memang ruang itu tak tersedia untukku.
Akui saja jika sudah tak tersisa rasa itu untukku.
Akui saja jika benar bahwa tak ada lagi aku di dirimu.

Aku takkan pernah marah.
Aku takkan pernah menyesal.
Aku takkan pernah membenci
Dan aku takkan pernah mendendam.

Sebaliknya,
Aku berterimakasih pada-NYA yang telah mempertemuukan pribadimu padaku.
Aku belajar banyak darimu.
Aku belajar untuk mengenal, mengetahui dan memahami banyak hal… darimu!

Engkau yang mengajarkan kesabaran…
Engkau yang mengenalkan pada dunia…
Engkau yang membuka mata hatiku….
Engkau yang membuatku selalu mengerjapkan mataku dengan semburat “kepiting rebus” di pipi dan telingaku…
Engkau yang membuatku selalu tertunduk tak mampu menatap pribadimu yang sederhana..
Engkau yang membuat aku selalu tersentak dalam setiap langkah yang kau lakukan….
Engkau yang membuatku merasa dalam 1 irama nafas di setiap perjalananku….

Namun ini hanya SEMENTARA.
Mungkin bukan untukku, ku kan belajar untuk menerima.
Mungkin ini hanyalah 1 bagian dalam kisah hidupku untuk bisa menghadirkan rasa.
Mungkin ini adalah langkah awal untuk belajar membuka kembali.

Sebuah rasa, berbentuk cerita.
Tertuang dalam jiwa yang kering.

Teriring sayang yang tak berkesudahan untuk 1 bintang yang selalu ada di sudut langit tertinggi.
Tersenyum menatapku, dimanapun aku, menemani…..

Untuknya, bintang nan jauh disana, terima kasih telah menemani hari-hariku..

Tetap semangaaaaaaattt…. 😀

#edisi sendiri, menepi

Lubang Harapan

28 Agustus 2012
KRI Surabaya, Hellydeck

Sekilas terlihat garisan awan di langit. Membentuk sebuah garis lurus, membentuk sebuah tabung, menciptakan sebuah lubang dan kusebut “lubang harapan”.

Biru, putih, awan, berarak dan bergaris…
Perpaduan yang pas di sore hari pada perjalanan lepas jangkar KRI Surabaya 591 menuju kepulauan timur di pukul 16.00 WIB setelah bersandar sehari sebelumnya di pelabuhan JITC, Jakarta.

Sebuah lubang harapan yang hadir begitu saja, timbul di kedalaman warna langit, dalam pandangan mataku.

Tertuju, terpaku, terpana….
Kumelihat dalam anganku, saat itu, ada dan terasa. Satu saat, hanya itu…
Mungkin hanya keinginan terdalam di dasar hati yang tercipta akanmu.

Terbersit, teringat, terkenang…
Sekelebat bayangmu memintas dalam hatiku, namun berarti dan kuat.

Tertanam, terpartri…….
Satu setelah sekian lama, tak menyangka, tak mengira!
Sungguh, suatu hal yang tak bisa dipungkiri.

Allah Yang Maha Penyayang,
Jagalah selalu hatiku….
Engkau Yang Maha Mengetahui isi dari lubuk hati yang paling dalam..
Hanya pada-Mu, Ya Allah…amin yra..

#edisi bersyukur pada-NYA