Bali: Uluwatu, Puncak Batu Diantara Laut dan Hutan

Pulau Dewata atau Bali memiliki banyak pura. Hampir kesemuanya bisa dikatakan beragama Hindu. Salah satu tempat wisata yang dapat melihat pemandangan indahnya dari ketinggian adalah Pura Luhur Uluwatu.

Uluwatu from the other side.
Doc pribadi.

Continue reading Bali: Uluwatu, Puncak Batu Diantara Laut dan Hutan

Melukat di Tirta Empul Bali

Wisata Bali selalu bernuansa keagamaan. Hampir di tiap tempat yang dikunjungi, tidak lepas dari kisah legenda atau sejarah jaman dahulu dari tempat wisatanya. Wisata Pura Hindu memang mendominasi hampir di semua tempat wisata. Selain itu, kita pun wajib menggunakan kain saat berkunjung.

Ratu di depan pintu masuk Tirta Empul. (doc Ratu, taken by me)
Ratu di depan pintu masuk Tirta Empul.
(doc Ratu, taken by me)

Continue reading Melukat di Tirta Empul Bali

Benak Senja di Tanah Lot, Bali

Entah sudah berapa kata senja yang saya ucapkan hari ini. Senja yang terlihat hanya sebatas layar handphone saja. Senja yang tampak dari file hasil jepretan dalam perjalanan beberapa bulan belakang di layar komputer. Senja yang saya baca di laman blog sahabat, atau senja yang berakhir dalam pelukan kerinduan?
Ahh senja…
Senja diantara bebatuan Pura Tanah Lot. Doc pribadi
Senja diantara bebatuan Pura Tanah Lot.
Doc pribadi

Continue reading Benak Senja di Tanah Lot, Bali

Udeng dan Ikat Kepala Dayu

Membuka album foto itu bikin kangen ya?
Iya, kalau orang yang ada di album tersebut adalah orang yang bersahabat.
Terlebih jika ia tidak memilih-milih dalam berteman. Terlebih jika ia menganggap kita sebagai saudaranya. Terlebih jika ia banyak mengajarkan hal baru pada kita. Terlebih jika ia adalah teman yang tidak hanya memberi, tetapi juga menerima.
Dia memang banyak kelebihannya.
Dia teman yang bersahabat.
Dia pun mengajarkan ikat kepala Bali padaku.
***
Aku, Dayu dan Rainy saat event Sail Morotai 2012 lalu. (doc Ka Agus)
Aku, Dayu dan Rainy saat event Sail Morotai 2012 lalu.
(doc Ka Agus)

Continue reading Udeng dan Ikat Kepala Dayu

Jurnal Hitchhiker: Perintah Hati?

Langitku (doc pribadi)
Langitku
(doc pribadi)

KRI Surabaya 591
Pelabuhan Benoa, Bali, Sandar
23 Februari 2013

“Helly deck ya, Jie… pagi ini,” sebuah pesan mampir dalam wasapku.

Hoo?? Ini perintah? Siapa ya?

***

Langit, laut, gunung = sukaaaaaa (doc Hikmah photo by me)
Langit, laut, gunung = sukaaaaaa
(doc Hikmah photo by me)

Aku yang sudah rapi sedari pagi. Sudah berjalan-jalan kemana pun tiap pagi di kapal itu karena memang setelah shubuh, mataku tak pernah bisa terkatup. Kalau tak menulis untuk PR blog ku, pasti aku selalu menelusuri lorong-lorong kapal. Jika tak juga, aku pasti sudah nangkring di anjungan atas untuk berburu langit pagi dan menunggu sapaan sunrise yang keluar dengan sinar cantiknya dan menghirup udara segar lautan yang aku suka. Hahh…. Sungguh pagi yang selalu kunanti 😀 .

Demikian pula saat ini. Aku sudah berjalan-jalan dari setiap sisi kapal yang kusuka. Mengambil gambar di anjungan, bermain di car deck, melirik dapur dan jangan coba masuk di kala ramai karena nasi akan tampak menggunung disana! Hahaaaahaha…..

Helly deck! Aku sudah disini juga untuk mengambil gambar persiapan peserta Pelantara II yang akan berkunjung ke Pemerintah Daerah, tepatnya bertemu dengan Gubernur. Sayang, aku tak bisa ikut serta disana untuk menulis. Tapi tak apa. Cukup senang dengan segala sudut apapun yang bisa kutulis atau sekadar memotret untuk blogku.

Ohh… aku ingat! Ini kejadian saat kapal bersandar di Pelabuhan Benoa, Bali untuk debarkasi peserta. Dan sebelumnya, seluruh peserta akan bertatapmuka dan mungkin mendapatkan sedikit wejangan dan nasihat dari Gubernur Bali.

Iya, iya…. Baju kaus putih, celana kurus dan sneakers hitamku serta kupluk hijau ala gunung adalah setelanku pagi itu. Yapp, ingat! Hha…

Duduk bercerita dengan Komandan Joni, KRI Surabaya 591 di lapangan basket helly deck yang tetap menanyakan teman-teman yang tak kelihatan batang hidungnya.

“Mana mereka, Jie? Masih pada busuk mata ya teman-temanmu, Ejie?”

“Iya, Komandan…. Seperti biasa.”

Kami tertawa dan mengalir cerita tentang kegiatan pagi hari itu.

Sedang asik bercerita, tiba-tiba ia datang tetap dengan gaya laporan tugasnya itu.

“Siap, ndan!”

Blaaaaa….. blaa.. blaaa…
Aku tak tahu arti laporannya yang menggunakan bahasa laut. Tertunduk, hanya itu yang kulakukan. Aku tak berani untuk mendengar lebih lanjut laporan-laporan itu, beringsut beranjak pergi untuk mengambil foto awan, langit yang sedang apik juga kegiatan di darat dimana para peserta tengah menunggu kendaraannya. Beragam pakaian daerah yang dikenakan. Mungkin untuk menampilkan kebudayaan pada saat hiburan di Pemda nanti. Sebagian tetap dengan pakaian lengkap Pramuka nya.

10 menit kemudian, aku mendengar sebuah suara diantara riuhnya kegiatan pagi itu.

“Ejieeee….. Ejieeeeeee…. Hadeuuhh, kamu itu kalau sudah ngambil foto dan nulis, susah manggilnya ya?”

Aku nyengir. Senyum saja tanpa tahu harus ngapain.

Ayok temenin ke anjungan!” perintah lagi???? Ckckkkk….

“Katanya disuruh ke helly deck. Ini kan sudah?” sahutku heran.

“Lha, kan sudah fotonya. Urusan saya disini juga sudah beres. Sekarang ke anjungan,” ajaknya.

“Baiklah….”

Okeeee…… skip lorong deck G yang ramai, ehh…. Lupa saya ramai ngga ya? Pastinya masih ramai dengan jam waktunya sarapan pagi itu saat kami melewati lounge room ABK.

***

Teman Pramuka di Pelantara II yang bersiap menuju ke acara di Gubernur-an (doc Hikmah photo by me)
Teman Pramuka di Pelantara II yang bersiap menuju ke acara di Gubernur-an
(doc Hikmah photo by me)

Anjungan!

Dia yang tengah sibuk dengan pekerjaannya mengecek segala sesuatunya, aku menyelinap keluar anjungan kembali mencari sudut-sudut cantik langit di Pelabuhan Benoa ini. Cekrek! Dapat beberapa gambar langit dan truk, kendaraan yang akan mengangkut peserta Pelantara II.

“Ejieeeeeeeee……… ampun deh ngilang terus kamu itu ya?” wajahnya bersungut-sungut lucu.

“Lha, kenapa? Salah lagi Ejie ya?!???” waaakakaaka…. harus gimana aku ini. Bingung 😛

“Bukan, kamu itu lho, bikin aku bingung. Nanti kamu sendirian, aku bingung,” ujarnya masih dengan wajah yang aku geli ngelihatnya.

Kasihan dia, sibuk tapi kenapa mesti bingung dengan aku ya? Aku pun bingung kalau harus menemani orang bekerja. Aku bisa mengisi kesendirianku dengan apapun. Buku ada, kamera ada, hape standby. Kalau bosan, tinggal pilih satu diantaranya saja kan? Atau aku tinggal balik ke lorong kabinku dan mencari teman-teman yang hobi busukin mata. Hahaaaa

O-ow…..
Dari anjungan, dia mengajakku turun. Kemana? Aku lupa….. 😀

Hmmm…. Skip lagi lah kalau begitu.

Terus terang ya…. Setelah ini aku lupa apa yang terjadi. Dia kemana, aku kemana. Yang aku ingat, aku sudah berada di bawah, di luar kapal dan kembali sibuk memotret sana-sini dan bercerita dengan awak kapal yang ngaso di darat. Hheheee…..

*maafkan saya ya? 🙂 (jie)

***

Pengen banget foto disini. Makasih kadores yang sudah fotoin saya :) (doc Hikmah)
Pengen banget foto disini. Makasih kadores yang sudah fotoin saya 🙂
(doc Hikmah)
Take picture of the places i like (doc Hikmah photo by me)
Take picture of the places i like
(doc Hikmah photo by me)

Catper Hitchhiker: Hitching 2 Bali [Edisi Kadeplog]

Before:

KRI Surabaya 591 in My Mind [Prolog]
Catper Hitchhiker: Pelantara II Temu Saka se-Indonesia
Catper Hitchhiker: Rasaku pada KRI Surabaya 591
Catper Hitchhiker: Pramuka, Mangrove, dan Donor Darah [Tegal]
Jurnal Hitchhiker: Keluarga Kecil Kucing Laut Berisik
Catper Hitchhiker: Yuk, Masuk Dapur KRI Surabaya 591
Jurnal Hitchhiker: Tepar di Hari Pertama Sandar Bali
Jurnal Hitchhiker: Jengukan Tak Terduga
Journal Hitchhiker: Ajie atau Ejie??
Journal Hitchhiker: Adegan Si Empuk Penyangga Perut
Pasangan Jiwa yang Hilang
Jurnal Hitchhiker: Another Story Bout Sugar of the Sea That I’ve Found #fill me in the blank
Jurnal Hitchhiker: Foto Untuk Komandan Joni [KRI Surabaya 591]
Jurnal Hitchhiker: Jalinan Dalam Kepangan Rambut
Catper Hitchhiker: Jempol Hitching Perdana di Benoa Bali
Jurnal Hitchhiker: Rupa Adik Angkat di G 29 dan G 31
Catper Hitchhiker: Krisna, Pusat Oleh-oleh Khas Bali [Jilid 1]
Catper Hitchhiker: Erlangga 2, Pusat Oleh-oleh Khas Bali [Jilid 2-Edisi Kapten Bambang]
Catper Hitchhiker: Yuk, Kebut Motor Kejar Bali
Mie Kluntung Cak Pi’i [Surabaya]

Selesai antar motor sewaan, dapat hitchingan(doc pribadi)
Selesai antar motor sewaan, dapat hitchingan
(doc pribadi)

Pelabuhan Benoa, Bali
23 Februari 2013

Kapal sudah akan berangkat, motor sewaan Kadepnop belum dikembalikan. Sun Arga yang menghilang, kunci motor yang tercecer terbawa Kadeplog, Kadepnop yang standby di kapal menunggu, membuat Hikmah mengajakku mencari Kadeplog dan mengantar motor ke langganan sewaan kami di Benoa, Bali.

Aku tak foto kedua motor sewaan yang terakhir diantar itu. Biasalah, lupanya aku ini susah minggir sejenak, pffth~

Haaa…. Itu Kadeplog!

Continue reading Catper Hitchhiker: Hitching 2 Bali [Edisi Kadeplog]

Catper Hitchhiker: Yuk, Kebut Motor Kejar Bali

Before:
KRI Surabaya 591 in My Mind [Prolog]
Catper Hitchhiker: Pelantara II Temu Saka se-Indonesia
Catper Hitchhiker: Rasaku pada KRI Surabaya 591
Catper Hitchhiker: Pramuka, Mangrove, dan Donor Darah [Tegal]
Jurnal Hitchhiker: Keluarga Kecil Kucing Laut Berisik
Catper Hitchhiker: Yuk, Masuk Dapur KRI Surabaya 591
Jurnal Hitchhiker: Tepar di Hari Pertama Sandar Bali
Jurnal Hitchhiker: Jengukan Tak Terduga
Journal Hitchhiker: Ajie atau Ejie??
Journal Hitchhiker: Adegan Si Empuk Penyangga Perut
Pasangan Jiwa yang Hilang
Jurnal Hitchhiker: Another Story Bout Sugar of the Sea That I’ve Found #fill me in the blank
Jurnal Hitchhiker: Foto Untuk Komandan Joni [KRI Surabaya 591]
Jurnal Hitchhiker: Jalinan Dalam Kepangan Rambut
Catper Hitchhiker: Jempol Hitching Perdana di Benoa Bali
Jurnal Hitchhiker: Rupa Adik Angkat di G 29 dan G 31
Catper Hitchhiker: Krisna, Pusat Oleh-oleh Khas Bali [Jilid 1]
Catper Hitchhiker: Erlangga 2, Pusat Oleh-oleh Khas Bali [Jilid 2-Edisi Kapten Bambang]

Sate lilit empuk pemberian Dayu untukku yang tak suka nasi :D(doc Hikmah)
Sate lilit empuk pemberian Dayu untukku yang tak suka nasi 😀
(doc Hikmah)

Foto lengkap klik disini saja yaaaa… 🙂

Pukul 10.00 WITA

  • Singkirkan Pusing dan Mari Kebut

Dayu has coming. Fun Morning n still headache.

Demi memenuhi keinginan jalan bersama keluarga kucing
Demi memenuhi penasaran akan Bali
Demi cerita yang akan tercipta kala jalan bersama
Demi semua kebersamaan yang tak ingin kulewatkan setelah tepar

Aku menesampingkan sakit itu
Kulupakan bahwa sakit itu berpindah bak bola [impong yang lincah melompat riang
Kututup ingatan pada sakit yang menghampiri
Kudiamkan rasa itu
Sejenak menghilangkan pesan Pak Sadikin, agar aku beristirahat

Heheehee……

Dayu kembali menjenguk dan memenuhi janji untuk membawa kami jalan-jalan hari itu dengan membawa bekal sarapan pagi yang pastinya ada nasi! hufthhh~

Hmm…. Tapi Dayu menyisihkan sate lilit untukku. Biarpun hanya 1 tusuk per orang, yang penting niatnya donk…..
Makasih ya Dayu 😀

 ***

d ship motorcycle bikers(doc Hikmah/Kadeplog)
d ship motorcycle bikers
(doc Hikmah/Kadeplog)

Pukul 10.30 WITA

  • Sewa 4 Motor

Selesai sarapan, kami berbondong turun ke bawah. Diantar Dayu, kami ke tempat penyewaan motor yang mereka sewa tadi malam. Siiiiiipp, 4 motor sewaan plus motor milik Dayu.

Ihhh… sudah seperti bikers saja kami pagi itu. Lihat saja gaya kami di foto-foto itu, lihat pula cara kami membawanya. Sudah seperti pembalap kawakan saja. Hahahh… padahal kami ngebut itu karena terbentur waktu yang mepet (sebentar=kejepit=sedikit) loh. Kok bisa? Kan waktunya panjang.

Nooo….
Jam keberangkatan KRI Surabaya 591 yang membawa peserta Pelantara II (Temu Saka) ditentukan pukul 16.00 WITA. Maka untuk mengejar acara jalan-jalan kami, diputuskanlah untuk berjalan-jalan puyeng ngebut ala keluarga kucing dengan didampingi Kajevan dan Davis setelah mengingat kejadian di malam saat aku tak ikut bersama mereka (ceritanya belum kubuat karena belum dapat versi lengkap dari Kadiar, sang mekanik motor dadakan, hhe).

Waktu jalan-jalan ngebut ini, Dayu adalah guide kami selama disana. Idiihh… mbok Dayu memang pembalap sejati lho?? Gimana ngga? Setiap mulai naik motor dari satu tempat ke tempat lainnya, kami selalu terburu-buru mengejar Dayu kalau ngga mau ketinggalan. Doski ngebut pisan laaaahh ;p

Untung aku tak niat membawa motor mengingat kepala yang tak bersahabat. Alhasil kami berpartner dalam mengendarai kebut motor ini.

Gerbang Benoa Port(doc Zela, photo by me)
Gerbang Benoa Port
(doc Zela, photo by me)

 

Cek this one:

1.      Dayu the leader

2.      Kajevan-Zela

3.      Davis-Ejie

4.      Hikmah-Rika

5.      Arga-Cia

Jadilah pukul 10.50 WITA kami melewati gerbang “Wellcome To Bali” dan keluar dari Benoa Port. Langit terik Bali, sambut ceria kami yaaaaaaaaa……. (^_^)

***

(doc Zela photo by me0
(doc Zela photo by me0

Pukul 11.07 WITA

  • Central Budidaya Kepiting Bakau

Ini adalah tempat wisata pertama yang kami kunjungi. Tempat ini baru diresmikan lho. Dan kami adalah pengunjung pertama di lokasi tersebut. Tak bisa masuk, karena sedang ada upacara adat untuk meresmikannya.

(doc Zela photo by me)
(doc Zela photo by me)

Tak masalah kok tak bisa masuk. Kami cukup puas untuk memotretnya dari luar saja. Sebuah jembatan kayu yang panjang dengan perahu-perahu disisi kanan jembatan. Diujung sana ada sebuah bangunan diatas air yang digunakan sebagai tempat untuk berdoa saat upacara peresmian berlangsung.

Keceriaan kami di tengag terik matahari bali(doc Zela/Hikmah)
Keceriaan kami di tengag terik matahari bali
(doc Zela/Hikmah)

Kami sempat berfoto di jalan baru yang dibangun tepat di sebelah kanan Wisata Central Budidaya Kepiting Bakau. Mungkin akan dipergunakan sebagai tempat parkiran nantinya.

***

Di lokasi tersebut, banyak yang bisa dinikmati(doc Zela)
Di lokasi tersebut, banyak yang bisa dinikmati
(doc Zela)

Pukul 11.39 WITA

  • Nusa Dua Resorts
Foto cepat dadakan(doc Zela photo by Hikmah)
Foto cepat dadakan
(doc Zela photo by Hikmah)

Dari Wisata Central Budidaya Kepiting Bakau, kami lanjut jalan menuju Nusa Dua Resorts. Berkelliling mengitari kompleknya yang sangat luas dan bersih. Kami menuju Museum Pasifika. Kembali mengingat waktu yang sempit, kami hanya berfoto sebentar dan melanjutkan perjalanan ke Bali Nusa Dua Theater. Disini pun hanya sekadar berfoto tanpa bermaksud masuk ke dalamnya.

Sayang sebenarnya eksplore kami tidak benar-benar maksimal. Lain waktu mungkin kami bisa mengulangnya demi rasa penasaran yah? 🙂

Peta sebelum ke pantai di Nusa Dua, semapt Ejie foto(doc Zela)
Peta sebelum ke pantai di Nusa Dua, semapt Ejie foto
(doc Zela)

Di lokasi yang sama, kami menuju pantai di sana (lupa nih namanya apa yah? Plang nama ada di foto sun Arga deh. Belum copy, hhaha).

Ehh, sedikit ingat. Di pantai itu, agak ketengahnya, ada patung kodok deh. Tapi ya tetap saja, aku tak tahu nama pantainya. Huuhh… sebal ugkhh!

Selanjutnya menuju ke tugu patung Rama Shinta.

Ini adalah perjumpaan kami yang terakhir dengan Dayu. Sabtu, dimana mungkin untuk sebagian orang adalah weekend, namun tidak untuk Dayu. Ia harus masuk kerja meski lumayan telat karena harus bertemu kliennya di pukul 11. 00 WITA tadi. Dan sudah lewat 1 jam. Ckkcck… maafkan kami ya, Dayu…. >_<

***

Makan siang di Nusa Dua(doc pribadi)
Makan siang di Nusa Dua
(doc pribadi)

Pukul 12.15 WITA

  • Isi Perut

Letih bermain, kami mengisi perut di warung yang banyak terdapat disana. Mau minum, makan nasi, mie atau sekadar ngerujak dan minum air kelapa muda pun ada. Minuman dingin dan segar lainnya pun tersedia disana. Etapi jangan lupa bawa uang yang lebih ya? Karena lumayan mengorek isi dompetmu lho…

Coba deh liat cemilan ini:

  • 1 buah kelapa                                       : Rp 10.000,- (mamak!)
  • 1 mangkok mie rebus lengkap       : Rp 10.000,- (cengok, mie instan bo’!)
  • 1 piring rujak bali                               : Rp   6.000,- (standar)
  • 1 botol minuman                                : Rp 3.000,- sampai Rp 6.000,- (standar)

Nah, gimana tuh menurutmu? Ya sudahlah ya, itu semua kan terserah siapa yang mau saja.

***

  • Terpisah dan Mangrove yang Tutup

Waktu sudah menunjukkan pukul 14.15 WITA saat Zela, Cia, Hikmah dan aku menyadari terpisah dari rombongan. Sebelum berpisah dari Nusa Dua Resorts, kami sempat mengobrol akan ke tempat wisata selanjutnya di Kuta, Bali. Bertanya pada satpam yang menjaga di perempatan lampu merah jalan menuju Kuta. Setelah diperoleh rute, maka kami memutuskan untuk menyusul lainnya kesana.

Plang mangrove(doc Hikmah)
Plang mangrove
(doc Hikmah)

Sesaat kami sempat ragu jika gambling waktu dengan keberangkatan kapal yang sedikit lagi wajib lapor bagi yang berjalan-jalan. Melewati Wisata Hutan Mangrove, kami pun berbelok arah memasuki kawasan tersebut.

Sayang, begitu sampai di lokasi, ternyata wisata sedang ditutup. Mungkin sedang dibersihkan atau alas an apa tepatnya, tak sempat kutanyakan. Hueeeee… kami berputar arah jalan pulang dan mengambil foto di sekitarnya.

Yang menjadi catatanku:

1.      Banyaknya sampah yang ada di kawasan sekitar hutan mangrove. Sayang sekali jika ini merupakan Balai Pengelolaan Hutan Mangrove, tapi tidak dijaga kebersihannya. Hampir di sepanjang jalan, kulihat sampai yang menggenangi aliran air di hutan tersebut.

2.      Kurang terawatnya hutan mangrove tersebut, sehingga di tempat yang terlihat sekalipun tampak sampah yang berserakan.

Mangrove yang jauh dari khayalanku(doc Hikmah)
Mangrove yang jauh dari khayalanku
(doc Hikmah)

Aku pernah melihat foto tempat ini dan terus terang membuat penasaran karena hijau yang asri dan terawat saat melihat foto yang diposting oleh teman hitchhikerku. Tapi demi melihat keadaan yang sesungguhnya, jelas membuatku sedikit kecewa.

Kajevan dan Davis yang kembali bergabung bersama kami di mangrove(doc Hikmah)
Kajevan dan Davis yang kembali bergabung bersama kami di mangrove
(doc Hikmah)

 

Semoga saat kembali ke Bali, hutan mangrove yang membuatku penasaran, keadaan sudah berbalik bersih ya? Sayang kan kalau kondisinya kotor dan tidak terawat. 😀

Hei!

Saat kami mengira hanya tersisa kami berempat, ternyata Kajevan dan Davis menyusul kami ke hutan mangrove.

“Lho, kok tahu kalau kita ada disini?” tanyaku heran.

“Kan ingat tadi waktu baru keluar pelabuhan, tujuan pertama kesini dan bilang, pulangnya saja kita mampir,” jelas Kajevan.

Wuuiiihh…. Mantaplah ingatan Kajevan. Jempol buat ingatan kerennya. Hahaa….
*malu sama ingatanku yang sering tak tahu tempat. Selalu menghilang di saat diperlukan.

***

Pukul 15.13 WITA

  • Kejar Kapal

Sampai kembali di gerbang Benoa Port. Mengantarkan motor sewaan dan kami mendapatkan kendaraan hitching menuju ke sandar kapal.

Tetap ceria ya, padahal sdah keliling kemana-mana di Bali versi bikers ngebut dan pulang hitching. Ckckkc..(doc Hikmah)
Tetap ceria ya, padahal sdah keliling kemana-mana di Bali versi bikers ngebut dan pulang hitching. Ckckkc..
(doc Hikmah)

Yihaaaaa……

Target jalan-jalan yang tak terencana dan super ngebut tercapai. Foto-foto, makan, pantai, ceria, tertawa, semua dapat. Asiiiiiiikkk…..

Jalan-jalan seru dan pulang yang tak pegal kaki. Angkat JEMPOL ceria! 🙂

***

Terima kasih untuk:

  1. Dayu, our guide in Bali
  2. Kendaraan hitching yang mengantarkan 7 orang hingga ke pagar Pelabuhan Benoa, Bali —> Rp 0,- HOREEEEEE! 😉
  3. Makan siang —> Rp 0,- FREE… BAWA BEKAL ;P

 

***

Senang bersama :D(doc Zela/Hikmah)
Senang bersama 😀
(doc Zela/Hikmah)