Senja yang Terlampaui

Hidup bukanlah melulu tentang warna. Terkadang hitam putih menjadi bagian darinya. Entah ada rasa terselip atau tidak, tergantung bagaimana kita saja menghadapinya. Termasuk rindu bersenja bersama.

 

Merindu senja bersama.
Doc by Abbay

Continue reading Senja yang Terlampaui

Advertisements

Hitchhiking to Sragen

Do it by my self (Doc pribadi)
Do it by my self
(Doc pribadi)

Tak mudah memang melakukan perjalanan seorang diri. Apalagi dengan hitchhike atau lebih akrab dengan kata MENUMPANG. Perempuan pula yang menumpang. Tentu banyak kendalanya, kan? Berikut adalah catatan perjalanan hitchhike ke Jawa Tengah yang belum rampung. Monggo dibaca πŸ˜‰

***

Continue reading Hitchhiking to Sragen

Gunung Slamet (Bambangan)

Gunung tertinggi kedua di Jawa Tengah (3.432 Mdpl). Pemandangan dari kaki gunungnya berlatar langit biru menambah kelengkapan pesona alam yang tersimpan di dalamnya. Pondok peristirahatan yang ada dengan kebun di sekitarnya, mempercantik lukisan alam yang tersedia.

Untuk mencapai #GunungSlamet, dapat melalui 3 jalur, yakni jalur barat Kaliwadas, jalur selatan Batu Raden dan jalur timur Bambangan. Pemandangan ini adalah kaki gunung melewati jalur timur Bambangan. Cantik, bukan?

#landscape #MountSlamet #CentralJava #travel #trekking #hiking #exploremountainINDONESIA #exploreJawaTengah #exploreINDONESIA #viewindonesia #parapejalan #jalan2terus #jalan2Man #WonderfulIndonesia #IndonesiaBagus #IndonesiaBanget #IndonesiaOnly #LoveTheBlue #lovetheSKY #loveINDONESIA

View on Path

Getuk: Aku Anak Singkong

Makanan sederhana yang selalu ada di jajanan pasar ini, memang khas di Indonesia.
Bahannya mudah didapat karena dapat tumbuh dengan mudahnya.
Mengolahnya menjadi camilan pun tak sulit.
Intip sedikit yuk cerita si getuk ini.
***
(doc pribadi)
(doc pribadi)

GETUK TRADISIONAL

Makanan khas daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur ini sepertinya telah membumi. Tidak hanya di Jawa saja, tetapi getuk yang murah meriah ini sudah menempati (mungkin) hampir keseluruhan nusantara tercinta, Indonesia. Hanya nama saja yang agak berbeda meski pembuatannya sama.

Continue reading Getuk: Aku Anak Singkong

3S Tektok: Siput di Sindoro – Part 1

Batas kemampuan tubuh mengingatkanku untuk tak melanjutkan S ke-3.
Setelah sehari sebelumnya tektok gunung bersama Ky Merah, Erore dan Anja di Gunung Sumbing yang cukup mengurasku, terutama perhatian pada kakiku.
Jalan yang lebih lambat dari biasanya, seperti memberikan alarm bahwa aku harus beristirahat setelah S ke-2, Gunung Sindoro.
Mau cerita ahhhh…
Ini juga tentang keluarga gunung Ejie yang 2 bawel dan 1 kalem, plus tambahan anggota keluarga, Rishad yang juga nunjukin jalan pas turunan, gelap.
Ayooookkk…. bacaa πŸ˜€
***
Sindoro tampak dari basecamp Sumbing (doc pribadi)
Sindoro tampak dari basecamp Sumbing
(doc pribadi)

Gunung Sindoro, Pendakian Hari ke-2
Oktober 12, 2013

Pukul 07.15 WIB

Pagi yang cerah, berharap langit bersama kami hari ini dalam niat mendaki Gunung Sindoro. Sarapan di warung Pink yang menyediakan nasi dan lauk-pauknya, soto dan pecel depan jalan basecamp Gunung Sumbing bersama teman-teman pun sudah. Untuk mencapai basecamp Gunung Sindoro, kami berjalan kaki, ngga jauh kok, hanya beberapa meter saja.

Plang basecamp Sindoro (doc pribadi)
Plang basecamp Sindoro
(doc pribadi)

Persiapan mendaki sudah beres, kami packing sebelum meninggalkan basecamp Gunung Sumbing tadi. Karena hanya berniat tektok (naik turun gunung tanpa camping), jadilah kami berempat yaitu Ky Merah, Erore, Anja dan aku serta serang teman baru Rishad yang bergabung bersama setelah bertemu di Gunung Sumbing, berangkat bersama.

(doc pribadi)
(doc pribadi)
(doc pribadi)
(doc pribadi)

Seperti biasa, registrasi dilakukan. Ky mengurus segala sesuatunya. Kami juga mencatat nomor mas Radi (0821.3563.8511), yang bertanggungjawab di basecamp Gunung Sindoro. Sementara Anja-Erore mencari ojek, Ejie duduk saja, fotoin mereka.. haahaaa

***

  • 5 Menit Ke Pos I, Pangkalan Ojek

Pukul 09.04 WIB

Naik ojek, turun sebelum pos I (doc pribadi)
Naik ojek, turun sebelum pos I
(doc pribadi)

Menuju ke Pos I ini cukup jauh juga lho?! Kalau jalan kaki, lumayan deh sekitar 1 jam ada kali ya? Melewati rumah penduduk, jalan setapak yang telah diberi batu rapi dengan perkebunan penduduk disisi kanan-kiri jalan. Banyak petani yang akan dijumpai di pagi hari.

Kami menyewa 3 motor. 2 motor diisi bertiga dengan pengendaranya dan 1 motor lagi, khusus Ejie bareng 2 daypack dan pengendara. Dengan motor, perjalanan yang ditempuh sekitar 15-20 menit.

Oia, jangan lupa ya menyimpan nomor si bapak ojeknya. Perlu banget untuk jemput waktu turun dari Gunung Sindoro nantinya. Karena kalau sampai di bawah kemalaman, agak susah mencari kendaraan. Jangan berharap ada kendaraan yang bisa ditumpangin deh…… bakal gigit jari mah.. πŸ˜€

Dari turun ojek, kami memulai perjalanan dengan do’a keselamatan tim. Menginginkan keselamatan dan lancar pendakian naik dan turun bersama dan kami berjalan. Hoplah… tak sampai 5 menit, sampai di Pos I Pangkalan Ojek. Xixxiixiiiii…. cuma perlu sedikit nanjak di jalur bebatuan rapi kok.

Asiiikkk… si kaki lambat ala siput masih tertolong, Alhamdulillah…
*bweee… anjaaaa.. biar siput, yang penting happy akakakakaa

Pos I yang hanya 5 menit dari turun ojek :P (doc pribadi)
Pos I yang hanya 5 menit dari turun ojek πŸ˜›
(doc pribadi)

***

  • Pos 2, 2120 Mdpl

Pukul 10.00 WIB

“Ejieeeeeeee….. buruaaaaann,” Ejie hafal suara siapa itu yang paling doyan manggilin Ejie hampir di tiap gunung mengingatkan Ejie biar ngga lambat.

“Iya, Kyyyyyyy…..” gantian teriak. Horeeeee…. PUAS! πŸ˜‰

Ketiga temanku, Ky Merah, Anja dan Rishad, sudah jalan terlebih dahulu. Sesekali mereka menunggu di satu titik seperti biasa. Sesekali mereka hilang entah kemana. Sudah biasa Ejie. Lagian, masih ada Erore yang juga menemani jalan di belakang. Kok di belakang?

(doc pribadi)
(doc pribadi)

Iya, hari itu Gunung Sindoro rasanya penuh dengan para pendaki. Aku berpapasan dengan beberapa diantara. Baik dalam tim kecil yang hanya 2-3 orang, maupun dengan tim besar sebanyak 16-20 orang dari UGM kalau ngga salah. Tiap sebentar di belokan, mereka berhenti, karena ada teman-teman barunya.

Ejie yang tak bisa jalan ngebut dan sudah jatuh juga seminggu sebelum keberangkatan 3S ini di Gunung Tampomas (05/10) dan mencium batu di kepala kanan, pundak kanan serta lutut kanan-kiri, terus jatuh di Gunung Sumbing (11/10) pendakian tektok pertama dan terkena lutut kiri, keceklik, mulai memasang hati untuk naik Sindoro dengan santai. Iya, aku mulai menikmati pendakian Sindoro.

Si kupu-kupu cantik yang motonya nahan nafas karena capek ngejerin! Bhahaaaa... (doc pribadi)
Si kupu-kupu cantik yang motonya nahan nafas karena capek ngejerin! Bhahaaaa…
(doc pribadi)

Erore di belakangku pun sering berhenti karena ketika bersisian dan ditanya oleh para pendaki lainnya, ia menjawab dan menerangkan. Silaturahim boleh donk… heheehe

Ini penanda menuju pos 2. Jalanan landai yang akan ditemui. Turun, naik, turun, landai dan banyak bonusnya! Ayok lariiiiii.... :D (doc pribadi)
Ini penanda menuju pos 2. Jalanan landai yang akan ditemui. Turun, naik, turun, landai dan banyak bonusnya! Ayok lariiiiii…. πŸ˜€
(doc pribadi)

Aman ada Erore, tapi Ejie ngga mau jadi penghambat kalau memang Erore mau jalan duluan. Ejie soalnya sudah kadung mau jalan santai dan ngga target harus mencapai puncak juga sih mengingat lutut yang jatuh dan kepala yang agak berdenyut. Sedangkan teman-teman punya target, pukul 16.00 WIB sudah harus turun. Jadi Ejie benar-benar ngga ngikutin kekuatan kaki mereka itu.

Jalur menuju pos 2 ini, tanahnya lebih coklat dan agak basah? Mungkin juga karena telah diguyur hujan semalam, jadi agak terkesan lembab. Vegetasi sangat rapat. Penuh dengan pepohonan dan batang kayu yang kadang menghampar di jalan. Tanaman bunga putih kecil banyak terdapat disana seperti tanjakan ke arah Bapa Tere di Gunung Ciremai.

Dari pos 1 ke pos 2, kita akan mendapati jalur yang landai. Naik standar, turun dan naik lagi. Kemudian landai. Bonus plus kali ini. Suka lari? Silahkan saja, jalurnya benar-benar santai kok. Ngga banyak batu disini.

“Erore, mau duduk bentar yak?!” lumayan… mumpung ngga ada Onyon yang bawel dan Ky yang demen manggilin Ejie nih. Kepengin leha-leha menikmati nafas lega dan kaki goyang-goyang nangkring di batang pohon itu loooohh…. hhaaha

Erore yang baik mah oke saja temanin Ejie sebentar beristirahat. Makasi yah Erore πŸ™‚

Di pos 2, Ejie dan Erore beristirahat selama 15 menit. Ejie naikin kaki dulu (kebiasaan Ejie supaya kaki ngga bengkak) di kayu panjang yang tersedia untuk dudukan dekat api unggun. Disini ada shelter berupa pos dengan peneduh.

Ejie bertemu teman pendaki asal Yogya, Lolika dan Yoko. Ehh, ternyata sama kayak Ejie. Kata Yoko, Loli ini jalannya keong. Kalau Ejie kan selalu dibilangin siput. Hohoooo….. asiiiikkk Ejie ketemu teman lambat juga deh πŸ˜€

Catatan waktu tempuh Ejie dari pos 1 ke pos 2 dengan berjalan santai 1 jam. Berarti, mereka yang ngebut, bisa lebih cepat ya? Ckckkkk…..

***

Catatan Pengeluaran Per Orang Sindoro (khusus Ejie):

  1. Sarapan Pagi Rp 7.000
    (cuma sayur, lauk, kerupuk 2 dan teh manis hangat.Β  NO NASI)
  2. Registrasi Tiket per orang Rp 3.000,- (belum termasuk peta)
  3. Retribusi fasilitas air bersih dll Rp 1.000,-
  4. Ojek PP Rp 30.000,-

Kebutuhan lainnya, nanti di tulisan selanjutnya ya….. πŸ™‚

***

UNEG-UNEG

Sudah hari ke-3 tertulis dari Minggu (20/10), Ejie tetap diam di tempat pada tulisan ini. Entah kenapa… Ejie ngga tahu. Mau melanjutkan menulis, sudah tersimpan di otak, tapi ngga bisa tertuang dengan luwes seperti biasa. Sudah bolak-balik juga lihat foto supaya bisa nyambungin tulisan, sama saja. MANDEG (nyangkut)Β !!Β Arrggghh… Not good for me!

Adeuuuuhh, bagaimana ini???????? Pusing Ejieeeeeeeeee….. (jie)

***

Jalur ke pos 2 yang landai dan hanya sedikit naik (doc pribadi)
Jalur ke pos 2 yang landai dan hanya sedikit naik
(doc pribadi)

Merapi-Selo: Tanjakan Pedas bagi Kartono Batu [Part 1]

Before:
remind-me-mie-sarung-tangan-merapi-tim-nanjak-lenong/

Lil bit to the Merapi... *kejar :P (doc pribadi photo by Erore)
Lil bit to the Merapi…
*kejar πŸ˜›
(doc pribadi photo by Erore)
Kami mengambil jalur pendakian umum melalui Selo, Boyolali, Jawa Tengah
untuk naik ke Gunung Merapi setelah mendaki Gunung Merbabu.
Ada 3 jalur lainnya menuju Merapi,
yaitu Kaliurang, Sawangan dan Kemalang (Klaten).
Kabarnya mendaki melalui jalur Selo bisa dengan waktu 5 jam.
Haa??? 5 jam? Apakabar kakiku ini?
Baiklah, kita lihat saja nanti… πŸ™‚
***
Search by om google
Search by om google

Foto-foto tulisan lengkap bisa lihat disini ya… πŸ˜€

25-26 January 2013

  • Basecamp Merapi

Udara di basecamp malam itu dingin banget. Aku meringkuk dalam sleeping bagku. Tak kuat sama hawa dinginnya ditambah hujan yang menitik terdengar di telingaku.

Continue reading Merapi-Selo: Tanjakan Pedas bagi Kartono Batu [Part 1]

Es Kuwut Bali [Pekalongan, Jawa Tengah]

 

Es Kuwut Bali ada di Pekalongan, Jawa Tengah(doc pribadi)
Es Kuwut Bali ada di Pekalongan, Jawa Tengah
(doc pribadi)

 

Etdah… kenapa Ejie kulinerannya es semua yah? Hehehee… Ejie penasaran sama nama-nama yang aneh sih. Soalnya ngga pernah. Jadi kalau ketemu makanan atau minuman aneh, pasti Ejie langsung cepat berdiri disamping tekape-nya. πŸ™‚
*orang kampung, maklum saja yah?

Berikut es simple lainnya yang Ejie temukan saat Lomba Backpacking Race #Solorazing to Borobudur di 22 Oktober 2012 lalu. Bukan karena namanya ada tertulis Bali, jadi berasal dari Bali juga. Ya ngga tokh?!?? πŸ˜€ Ejie nemuinnya di Pekalongan, Jawa Tengah malah es ini, saat berjalan kaki menuju Terminal Pekalongan.

Es kuwut bali ini lebih simple lagi deh.

Bahannya hanya:

  • Kelapa muda
  • Melon
  • Jeruk nipis
  • Es batu/es serut

Wuaaahhh… cukup sederhana yah dan mudah kan bahan-bahannya?

Harganya? Ngga sampai nyekek leher kok, Cuma Rp 2.000,-

Gimana? Asik kan? Pastinya es ini paling sedap diminum saat hari terik, berjalan kaki menikmati alam dan sekelilingmu yang jauh dari polusi. Ahhh… segar tenan πŸ˜€ (jie)

***

Daftar harga Es Kuwut Bali terpampang jelas(doc pribadi)
Daftar harga Es Kuwut Bali terpampang jelas
(doc Tides)