Irisan Senja

Tentang senja berseri. Tentang ruang bersekat putih. Tentang sedih yang tak usah dipertanyakan. Tentang ia dan endapan hati.

Senja Jawa Tengah
Credit to Abbay

Continue reading Irisan Senja

Advertisements

Wonderful Indonesia: Permadani Daratan Biru, Saonek Raja Ampat

Mungkin sengaja membuka album foto 2012 lalu.
Kangen Indonesia Timur, langit, udara yang penuh dengan aroma laut, pagi dan senja, serta kebisingan teman-teman Sail Morotai di KRI Surabaya 591.
Terbayang olehku ketika kami, berceloteh gembira dipantulkan oleh kapal cepat bermuatan 40 orang milik TNI AL itu melaju dengan kencangnya menuju salah satu pulau kecil yang berada di wilayah Raja Ampat.
Waks?!?? Raja Ampat?
Kesana tujuannya??
Yap yaaaappp….
*nyemplung sedap! πŸ˜€

***

Gugusan Kepulauan Raja Ampat, Waiyag yang dilalui KRI Surabaya 591 saat Sail Morotai 2012 lalu. (doc Atod, Kalbar)
Gugusan Kepulauan Raja Ampat, Waiyag yang dilalui KRI Surabaya 591 saat Sail Morotai 2012 lalu.
(doc Atod, Kalbar)

KRI Surabaya 591, Perairan Raja Ampat
September 2012

Pulau Saonek Indah

Ejie lupa sih, kapan tepatnya berada disana, salah satu kepulauan yang masih mengitari gugusan Kepulauan Raja Ampat. Meski tidak berada di jantung Raja Ampat, aroma laut yang terhampar dari sekitarannya saja, sudah cukup membuatku mengatakan bahwa, kaki lambatku ini sudah menginjak Raja Ampat.

Continue reading Wonderful Indonesia: Permadani Daratan Biru, Saonek Raja Ampat

Patahan Ingatanku

Kangen nulis?? Iya!
Sudah lama juga rasanya ngga menuangkan otak mumet ini.
Menulis buat Ejie itu seperti menyambungkan rasa kangen padanya, ehh….
Jujur, sangat membantu dan lumayan terobati juga sih.. πŸ™‚
Ejie ada cerita deh tentang patahan-patahan yang hilang.
Apa itu?
Ngga tahu juga, hanya angan yang berkeliling dan hinggap di beberapa tempat serta menentramkan rasa.
Apa sih?!??
Jawabnya, baca saja coretan hati ini..
***
Full of u there :) (taken by Erore doc pribadi)
Full of u there πŸ™‚
(taken by Erore doc pribadi)

Ingatanku tiba-tiba melayang pada beberapa perjalanan tahun lalu yang kujalani. Saat ia – mungkin masih sedikit peduli, menurutku mungkin pula sayang yang tak terucap πŸ˜› – ada untukku, ketika itu….

Patahan yang menari-nari di anganku. Mengingatkan dalam tiap kesabaran yang selalu ada pada jarak pandang hatiku. Tak pernah membuatku bosan – pun hingga kini – meski ia hampir tak selalu ada disampingku. Hanya bisa merasakan. Tak bersamanya saja bisa begitu, bagaimana bila bersama? Ahh… tutup mulut. Hhaaa

Dan satu per satu, ingatan itu membentuk bulatan awan di rongga anganku….

***

Bundaran HI, Kumpul Komunitas

26-05-2012, 08:27:33 AM

“Ok siap!! Kalau ada yang bareng, bilang saja sudah di tag yaaaa…..” salah satu penggalan SMS untukku.

Aaaaaakk!
Jelas, aku yang tak berteman setelah sekian tahun, merasa, “Are you angel of my life?”Β Pertanyaan yang kerap hadir dalam lelap tidurku di kemudian hari setelah bertemu dengannya.

Entah, entah, entah….

Aku hanya menikmati perjalanan hatiku selanjutnya yang penuh dengan senyuman akannya. Iya! Kesabarannya itu memenuhi ruang hati yang kosong, namun tak berani bermimpi karena sungguh terlalu banyak perbedaan yang dengan sadar teramat kupahami. Tak layak, tak pantas, tak sepadan? Namun tak bisa kuhindari…

Kenyataannya setelah sms itu kuterima, kami bertemu di titik yang ditentukan.

“Yuukk, pindah tongkrongan,” seorang teman mengajak, diikuti oleh lainnya. Beringsut dan bergerak. Demikian pun aku dan dia. Tempat kami akan pindah itu sebenarnya tidak terlalu jauh, tetap saja harus sekaligus memindahkan kendaraan yang mereka bawa.

“Aku ikut ya?” salah seorang temanku to the point mengatakan keinginannya ikut naik kendaraannya. Jleb! Diam, hanya itu yang bisa kulakukan. Menunduk dan mencari-cari pengalihan lain dengan ikut cerewet dengan teman lainnya. Tak berani berkata apapun, tak berani melihat padanya secara langsung, ehh… masih mencuri pandang juga walau ngga rela sih. Pengen mewek, tapi memang ngga seharusnya kali ya aku begitu? Hhhhhh… ngga tahu apa itu namanya.

Heiii… sepertinya aku tak salah lihat, ia pun melihatku. Benarkah? Aku tak bisa mengartikan pandangannya, tapi aku jelas merasakan ada gemuruh dalam bathinku. Ingin berontak?? Ngga mungkiiiiiiiiiiinnn….

Aku mengikuti saja tarikan tangan lembut temanku yang mengajaknya naik mobil di parkir seberang. Tertunduk, lesu dan kebiasaanku menendang yang kutemui di jalan sambil tetap menggenggam tangan temanku. Aku kehilangannya sesaat. Tetap saja kuakui, hate that moment.. 😦 HELP!

***

Sad Trekking, Somewhere He Know Where
16–6-2012, 06:10:52 AM

Patahan selanjutnya…

“Ngga dingin disana. Ini aku bawain SB (sleeping Bag) kemarin.” SMS lainnya untukku.

Peduli padaku? Iya, aku merasakannya meski ia tak pernah mengatakannya padaku. Samar, entah apa yang kuharapkan dari rasanya itu. Aman? Iya! Selalu bila ada dia.

Sepanjang ingatanku, ini adalah perjalanan sedihku tanpanya. Tujuan yang sama dengan tim berbeda. Bertemu, berpisah, bisa bersama tapi sedih. Ahh… memang ngga boleh bersama sih intinya.

Entah, entah, entah……..

Jadi ingin ia ada? Kembali kesabarannya menghantam jiwa terdalamku. Toloooooooooonngg…

Dan ketika timku bertemu dengan timnya, aku ingin disana. Rezeki? Sepertinya keberuntungan berpihak sekejab padaku. Tak tahu bagaimana awalnya, timku sudah bersilaturahim terlebih dahulu ke rumah yang dituju. Karena tempat di dalam tidak cukup, aku dapat giliran paling belakang yang akhirnya bisa membuatku bersamanya setelah kunjungan dan obrolan silaturahim tersebut.

***

  • Teras Penuh Bintang

Tanpa kusadar, mungkin itu adalah bintang dengan tatapan pertamaku di langit setelah keinginan tersembunyiku (nanti cerita tentang bintang di tulisan lain yah? hhe).

Mungkin buatnya, disana itu ngga dingin, tapi aku? Tak tahan hawa dingin, apalagi di luar rumah. Suasana yang sepi, malam gelap tanpa penerang dan listrik yang memang (sengaja) tak ada serta udara yang menurutku memang dingin malam itu.

“Kamu dingin?” ia menangkap radar badanku yang mulai menunjukkan tanda-tanda kedinginan. Sigap kan? He-ehh… Suka? Iya!! πŸ˜€Β Tanpa menunggu jawabanku, ia masuk ke dalam rumah tempat ia dan timnya bermalam, mengambil sesuatu.

“Pakai ini, biar hangat,” ujarnya.

πŸ˜₯ Untung ya gelap ngga ada penerangan, jadi ia atau siapapun yang melintas di depan teras itu tak bisa melihat air yang tiba-tiba mengalir hangat di pipiku tanpa sadar.

Tuhan… sampai kapan hal ini ada untuk hatiku? Bolehkah meminta?

Ia benar-benar membawa SB hangat itu! Menyelimuti tubuhku dengan SB yang dijanjikan dalam SMS lalu.

Masih seperti inikah sikapnya jika saja ia tahu aku yang sebenarnya, Tuhan? Pertanyaan yang tak berani kutahu jawabnya.

Perbincangan hangat di teras yang hingga kini masih tersimpan rapi dalam folder hati, ingatan dan bathinku. Takkan melupakan meski ia takkan mengingatnya karena tak penting dan sebaiknya mungkin tak semestinya ada aku dalam kehidupannya.

Mengingat tiap detilnya. Percakapan ringan lengkap dengan cerita dan tawa, sikapnya menjagaku, sesekali merapikan SB yang melorot dari tubuhku kala keasikan bertutur, HUAHHH!
*miss the moment and u!

Pertanyaanku padaMU, RABB:
Kebaikan ini, tidakkah ada untukku? Tak pantaskah? Mengingat kesabarannya…. Sabarkan dan kuatkan aku, Tuhan. AMIN YRA.

  • Genggaman Kali Dingin dan Rumah

Tempat yang sama. Genggaman tangan hangatnya yang menuntun langkah butaku dalam gelap bersama timnya menuju kali malam hari. Mau ngapain malam-malam? Ada yang mau mandi, buang air dan sekadar jalan saja cari angin. Intinya ya bersama. Melihatnya tertawa bersama teman-temannya membuat hatiku berkata, “Ini memang tempat seharusnya ia berada dan bukan aku.” Tawanya itu menunjukkan ia yang semestinya. Berbeda jika bersama timku. Apapun itu, aku suka tawa dan senyumnya.. πŸ™‚

Genggaman hangatnya itu pun mengantarku pulang ke rumah dimana aku bermalam bersama timku yang ramai. Sedikit kaget, soalnya dua orang temanku ternyata menunggu kepulanganku karena was-was aku hilang dari rombongan. Soalnya, aku keseringan nyasar kali ya, jadi ditungguin tuuuuuuhhh… kwkwwww……

Kita ngobrol sebentar di teras sebelum akhirnya ia pulang. AAaaaaaaaakkkk……… ngga mau pisah.. hiiiiikkss 😦

***

Next Traveling
13-07-2012, 19:53:12 PM

“Tinggal belok saja di UKI.. macet di terowongan,” another SMS.

Kami berempat sudah siap, hanya menunggu kedatangannya saja. Hmm… saat itu komunitasku berencana main ke laut. Karena dua hal, maka diambil keputusan dibagi dalam dua kloter keberangkatan, yakni sore dan malam. Kami kebagian kloter malam karena sebagian di kloter malam, rata-rata adalah pekerja yang bisa berangkat setelah aktifitas kantornya.

Di waktu yang dinanti, akhirnya ia muncul dengan senyum sabarnya yang aku suka! Senyum penyemangatku datang! Horeeeee….

Kembali entah, entah, entah………..

Bersamanya membuatku merasa kesabaran berpuluh kali lipat. Nyaman? Pastinya. Ahh, ahhhhh…. ngga tahu kenapa. Kekuatan itu selalu ada saat ia ada. Keceriaan juga bisa bertambah. Kebahagiaan pun tak terkira walau aku bakal menjadi bulan-bulanan ledekan teman-temanku, aku selalu saja bahagia karenanya.. πŸ˜€

***

KINI

Apa yang harus diceritakan????????????? Sepi!!!!!!??! It was a dream, trully in my head!

~Lembaran yang BURAM dan tertumpah NODA~ (jie)

***

#miss u, BINTANG

3S Tektok: Bukit Berlipat Sindoro? – Part 2

Panggilan-panggilan panjang menyerukan Ejie di gunung.
Tetap bapak-bapak tim yang panggil Ejie, siput gunung yang lambat jalan.
Ketemu siput gunung benaran.

Dikejutkan alarm hati dan menghentikan langkah sampai berdo’a di kesendirian.
Banyak banget yang mau Ejie ceritakan.
Bakal panjang ini tulisan… πŸ™‚

***

This slideshow requires JavaScript.

Before:

3s-tektok-siput-di-sindoro-part-1/

***

  • Hore Bebas Foto

Pukul 10.16 WIB

Ejie dan Erore melanjutkan perjalanan bersama Loli dan Yoko, teman baru yang bertemu di Pos 2. Bercerita ngalor-ngidul, suka-suka saja yang bikin perjalanan menjadi ringan. Tetapi begitu mulai sedikit nanjak, Loli pedas. Di tikungan berikutnya dimana ada batang yang bisa dipakai buat beristirahat, mereka memutuskan berhenti sejenak, sementara kami meneruskan perjalanan.

Pos 2 menuju 3 ini, jalurnya mulai mendaki. Kalau dilihat, agak mirip perpaduan antara Gunung Merbabu-Merapi, dimana banyak bebatuan yang harus dipanjat. Di Gunung Sindoro ini, masih banyak hijaunya. Tanaman, pepohonan, rumput, tumbuhan hutan, juga hewan pun ada.

Ejie banyak menjumpai hewan-hewan kecil yang bisa Ejie foto disini. Ada kumbang, serangga juga cacing lucu yang lagi jalan. Ejie kirain itu ranting kecil, ngga tahunya pas cacingnya jalan, badannya melengkung ke atas membentuk salah satu lambang yang pernah Ejie pelajari di pelajaan fisika. Lupa Ejie apa namanya itu. Seperti huruf β€œU” terbalik deh..

Cacing "U" (doc pribadi)
Cacing “U”
(doc pribadi)

Sepanjang perjalanan, Ejie juga ketemu lalat hutan yang besar seperti lalat hijau, tapi yang ini warnanya biru. Ejie agak kesulitan untuk mengambil gambarnya, soalnya begitu di dekatin, lalatnya terbang. Sensitif dengan gerakan sepertinya, cepat banget terbang waktu Ejie mengendap-ngendap mau potret. Hahaaaaa…

Ada pula lalat kecil hitam. Kalau yang satu ini, difoto malah diam, narsis diaaaaaa…

Ahhh… Ejie senang deh tim ngebut jalan duluan, jadi bisa puas perhatiin sekitar. Lega bernafas juga jadinya daaaaannn.. menikmati alam!

Oia, waktu manjat-manjat jalur yang berbatu ini, langitnya cerah deh. Biru dan putih yang cantik menemani kami dari atas. Suka Ejie lihatnya. Terus, pas ada jeda untuk berhenti, Ejie foto pohon sebentar deh bilang sama Erore sampai ngga ngeh kalau Erore sudah mau jauh di depan Ejie. Cepat-cepatlah Ejie susul, takut ketinggalan.. ^_^

Ehh, terkadang si kabut hilang timbul gitu deh. Alhamdulillah, banyak langit cerahnya sih jalan ke pos 3 ini.

Erore yang tadinya masih panggil untuk memastikan Ejie masih di dekatnya pun sudah menghilang. Tak apalah, mungkin dia kepengin jalan cepat karena mengingat jam makan siang yang sudah mulai dekat. Soalnya ingat perkataan Anja atau Ky Merah ya yang bilang mau makan siang di pos 3? Lupa Ejie. Mungkin Erore mengejar mereka.

***

Keluarga bawel yang hobi manggil :D *sayang kalian! (doc pribadi)
Keluarga bawel yang hobi manggil πŸ˜€
*sayang kalian!
(doc pribadi)
  • Makan Siang di Pos 3

Pukul 11.35 WIB

Entah Ejie sudah dekat dengan pos 3 atau ngga. Sedang asiknya memotret hewan kecil di sebuah tanjakan kosong, seseorang memanggil.

β€œEjieeeeeeeeee….” Tak asing dengan suara itu.

β€œIyaaaaa…. Ejie kesana, Kyyy..” sahutku.

Hap, hap, haaaaappp…. sampai juga di pos 3. Woooo…. mata Ejie menatap kedepan, dimana kabut menutupi perjalanan pos 3 ke pos 4.

β€œGelap Ky? Kenapa ngga lanjut jalan?” tanyaku.

β€œKabut begitu, gimana mau jalan, Jie? Sekalian nunggu kalian ini. Biar bisa makan siang bareng. Kalau mau lanjut mah, dari tadi juga sudah jalan,” terangnya. Iya, kabutnya abu-abu. Hmm… saatnya beristirahat kalau begitu, biar santai sedikit.

Di pos ini, lahannya luas. Cukup untuk banyak orang yang mau membuat tenda dan beristirahat disana. Ada palung di pojokan untuk tempat kayu bakar sepertinya. Erore, Ky Merah, Anja dan Rishad duduk di sebelahnya.

β€œMakan kita yoookk…” sambil membuka perbekalan.

Ejie yang tadinya sudah mengambil posisi mau duduk dekat mereka, otomatis kembali mengangkat badan dan berpindah tempat di rerumputan depan mereka, menghindari menu makan siang itu. Cari lokasi bagus buat foto.

β€œEjie makanlah. Ini ada sayur dan telur..” Ky menawarkan, Erore sibuk buka logistik, Anja sudah siap-siap nganga makan, Rishad mungkin yang bingung kenapa Ejie menjauh.

β€œNda ahh Ky, Ejie males makan. Mau istirahat saja, makan biskuit nih sambil foto,” ujarku mendapatkan sebuah objek kumbang di ilalang. Cekrek! Tiduran dan memotret sepanjang mata memandang.

7 menit kemudian, Erore atau Anja yang bersuara ya?

β€œEjie jalan duluan gihh…” Erore ituuu…

β€œIya Nyaaaakkk… sanaaa,” suara Anja selanjutnya. Lainnya sibuk ngunyah.

β€œIya deh, Ejie jalan duluan ya? Ntar kan juga kesusul,” membereskan perlengkapan yang tadi Ejie keluarkan dari dalam tas selempang coklat.

***

Kondisi jalan pos 3 ke pos 4 (doc pribadi)
Kondisi jalan pos 3 ke pos 4
(doc pribadi)
  • Kondisi Jalur Arah Pos 4

Pukul 11.43 WIB

Ejie memulai perjalanan sendirian. Langkah kaki terasa ringan ya kalau ngga terburu-buru? Hihiii… maaf ya Ky, Anja, Erore, Rishad…. adem banget rasanya Ejie melangkah ngga dicecarin sama bawelnya bapak-bapak itu. Padahal yang biasanya bawel mah emak-emak yak, ini malah si bapak-bapak yang rame (ramai). Wahaahahaah…. sekali-kali ihh Ejie ngakak sendiri.

Nah, memasuki ke pos 4, jalur disini juga jauh lebih mendaki lagi. Tanah hitam, berkerikil, lumayan bebatuan besar-kecil yang sesekali juga harus dipanjat. Hamparan rumput hijau dan ilalang yang menguning disisi kanan-kiri gunung menjadi suatu pemandangan tersendiri untuk menikmatinya. Jalurnya ngga menyempit, hanya di satu sisi, diperlukan stamina yang bagus untuk memanjat bebatuan yang ada.

Tanah kerikil yang banyak di tanjakan menuju pos 4 (doc pribadi)
Tanah kerikil yang banyak di tanjakan menuju pos 4
(doc pribadi)

Kalau turunan, di jalur ini mungkin perlu berhati-hati karena jalan yang pastinya akan licin oleh adanya tanah berkerikil dan kemungkinan terperosok.

Dari ketinggian tersebut, kita pun sudah bisa melihat pemandangan kota di bawah yang kadang tertutup awan dan kabut yang juga kadang datang. Gunung Sumbing jelas lebih terlihat dari sini. Di seberang dan juga tertutup awan. Terlihat dekat dan jelas warnanya.

Pukul 12.22 WIB

Berapa lama Ejie jalan sendirian? Setelah bertemu dengan pendaki yang sejak kemarin bermalam di puncak Gunung Sindoro, Ejie pun sepertinya mendengar suara orang bercakap-cakap dari bawah. Ngga salah deh Ejie. Itu Ky Merah, Anja dan Rishad yang ngebut mengejar Ejie. Dengkul racing kali lah mereka itu…
*thumbs up

β€œEjie jangan kebanyakan foto, nanti ngga bisa sampai puncak. Kesorean ntar turunnya, Jie…” Ky mulai mengingatkan.

β€œEjie tinggalin aja Ky. Kaki sakit, gabisa jalan cepat dari sebelumnya. Kalau ketinggalan ngga muncak, ngga apa kok. Tapi Ejie mau permen asemnya Erore, Nja dan tambah air minum, Ky…” pintaku. Anja memberikan permen padaku. Ky Merah merogoh tas, mengambil air minum memberikan beberapa bungkus permen padaku. Setelahnya mereka mendahuluiku dan kembali berjalan sendiri.

Mereka yang ngebut walau kabut (doc pribadi)
Mereka yang ngebut walau kabut
(doc pribadi)

Pukul 12.29 WIB

Kulihat Erore masih ada dibawah, β€œMasih ada Erore, aman…”

Perjalanan ke pos 4 ini rasanya panjang sekali. Kabut masih hilang timbul. Tadi rasanya melihat puncak sudah dekat. Tapi begitu patokan yang dicapai sudah sampai, ehhh…. masih ada bukit lagi dibaliknya. Wah, waaahhh….. menipuuuuuuu… Untung Ejie ngga bisa jalan cepat karena dengkul kiri sakit. Kembali jepretan kamera kuarahkan pada pandangan yang menarik perhatianku. Erore masih jalan santai juga mengikutiku dari kejauhan.

***

  • Erore si Penidur dan Bertemu Siput Gunung

Pukul 12.47 WIB

β€œErore, Ejie mau istirahat bentar ya? Kaki Ejie sakit.”

Erore yang bisa tertidur dimanapun :D (doc pribadi)
Erore yang bisa tertidur dimanapun πŸ˜€
(doc pribadi)

Erore juga istirahat. Langit yang tadinya cerah menampakkan puncak di kejauhan, tiba-tiba menggelap. Kabut penuh? Aku menoleh ke arah Erore. Bujug, sudah molor saja dia. Santai pula. Hahahaaaa….. Erore ini pelor (nempel langsung molor) banget. Ejie pengin tuh bisa tidur santai seperti Erore, tapi ngga pernah bisa tidur lelap, hhhhhhhhh….

10 menit kemudian….

β€œErore, yuk jalan. Ejie dingin nih.”

β€œAyok, Jie… lanjut,” katanya. Aku beringsut dan beranjak jalan tanpa melihat Erore. Mungkin 20 langkah dari tempat duduk tadi, aku melihat ke arah belakang, Erore masih tidur? Ejie panggil Erore tapi ngga bangun. Ejie teriakin, sama juga. Ya sudahlah, Ejie jalan pelan-pelan saja, nanti juga Erore pasti menyusul. Dia kan dengkul racing juga tuh πŸ˜›

Hewan-hewan beraneka ragam pun masih Ejie jumpai. Seperti ulat bulu cantik yang bersembunyi dibalik rerumputan dan di batu yang tadinya mau Ejie jadikan sebagai pijakan untuk memanjat.

Ulat bulu yang hampir terpijak kaki lambat Ejie, maaf yaaaa.. Untung Ejie lihat. (doc pribadi)
Ulat bulu yang hampir terpijak kaki lambat Ejie, maaf yaaaa.. Untung Ejie lihat.
(doc pribadi)

Heiii….. ada apa itu? Seperti siput kecil??? Haahhaaa…. temannya Ejie juga hadir disana!

Owh.. maaaaaaakkk! Adek gunuuuuuuuuunnnggg Anjaaa… ada nih, siput gunung. Kirain Ejie siput adanya di daratan yang tidak mendaki begini deh. Ternyata? Candaan adek gunung itu ada benarnya juga ya? Ejie balapan nanjak sama siput?? Anja sering banget ledekin Ejie begitu. Xixixiiii…. gapapa kok. Ejie punya teman sekarang siput gunung. Horeeeeeee πŸ˜€

Ketemu juga akhirnya dengan sahabat gunung, SIPUT GUNUNG! Ini ada Njaaaaa.... hahaha (doc pribadi)
Ketemu juga akhirnya dengan sahabat gunung, SIPUT GUNUNG!
Ini ada Njaaaaa…. hahaha
(doc pribadi)

***

  • Pos 4, 2850 Mdpl

Pukul 13.37 WIB

Masih di jalur yang sama, pada ketinggian yang berbeda, Ejie mellihat batu besar di kanan jalan, berada diantara ilalang yang menguning. Menjorok kebawah. Agak tertutup kabut, tapi bagus. Suka Ejie lihatnya.

Erore melewatiku ketika sedang asik memotret hewan kecil yang lucu itu. Saking asiknya, Ejie ngga sadar kalau Erore sudah semakin jauh.

β€œEjieeeeee….” ia memanggilku. Artinya ia berhenti di satu titik dan menunggu.

β€œIya, Erore,” kupercepat langkahku, tapi berteriak, β€œErore duluan saja, nanti keburu jam 16.00 lho? Kan itu jadwalnya turun. Ngga kekejar puncak nanti Erore. Ejie ngga apa kok, Erore..”

β€œEjieeeeeeeeee….” panggilan ulang ditujukan padaku.

β€œUiiii…. Iya, iyaa..” ngga bisa bilang ngga, nurut.

Aku mengejarnya, tapi kenapa ngga sampai-sampai ya di sumber suara Erore itu? Aneh… masih jauhkah? Sepertinya bukit dan bukit ini ngga ada habisnya. Selalu begitu yang terjadi. Padahal menurut Anja, Sindoro tingginya ngga seperti Gunung Sumbing, tapi kenapa ngga selesai-selesai ya? Heheheeee…. Untung banyak bertemu dengan para pendaki yang akan turun gunung, jadi ngga terlalu sepi. Sindoro tampaknya ramai hari itu.

Dalam perjalanan menuju pos 4 ini, Ejie seperti dikejutkan dengan sesuatu. Bukan, Ejie ngga pernah berpikir negatif kok kalau naik gunung. Tapi sebuah alarm yang kembali mengingatkan Ejie. Entah apa itu, hanya terasa dan ingat Bintang Ejie!

Ejie mengambil posisi duduk dan mengucapkan salam pada alam, mengucapkan asma Allah, serta berdo’a. Ehmmm… alam banyak memberikan tandanya sejak di Gunung Sumbing kemarin. Mungkin juga karena Ejie sedang bulanan ya? Kan kata orang, kalau sedang bulanan, ngga boleh naik gunung. Karena ngga punya niat apapun, Ejie tetap berpikir positif dan berdo’a. Allah, lindungi Ejie….

Dalam istirahat kesendirian menikmati udara cerah yang kembali menampakkan sinarnya, Ejie mendengar suara Erore kembali.

β€œSedikit lagi sampai tuh, Jie… ayooookk!” serunya. Aku bergegas.

Pukul 14.26 WIB

Tak lama, Ejie sampai di ujung tanjakan yang menunjukkan tanah lapang yang bisa dijadikan tempat ngecamp dengan sebuah batu besar sebagai tanda telah sampai di pos 4. Kulihat Erore tengah duduk santai menikmati alam di atasnya.

Erore yang nunggu Ejie mungkin hampir setengah jam ya? Maaf Erore... (doc pribadi)
Erore yang nunggu Ejie mungkin hampir setengah jam ya? Maaf Erore…
(doc pribadi)

Melihat kedatanganku, Erore beringsut turun.

β€œErore…. Ejie mau BAK (buang air kecil, pipis, hhe). Tungguin.” Mencari lokasi aman dan Erore menunggu di jalan lanjutan menuju puncak.

Setelah selesai, Ejie bilang agar Erore jalan duluan mengejar teman-teman. Ia pun melanjutkan perjalanan setelah sebelumnya menanyakan aku yang jalan sendiri. Ejie sudah bulat memutuskan ngga target ke puncak mengingat kondisi dan target jam turun yang sudah ditentukan teman-teman. Ngga mau jadi penghambat mereka.

Langit birunyaaaaa.... ingat BINTANG :) (doc pribadi)
Langit birunyaaaaa…. ingat BINTANG πŸ™‚
(doc pribadi)

Ejie… ikhlas kok ngga sampai ke puncak.. πŸ™‚

Ejie mau menikmati jalan-jalan santai Sindoro Ejie yang sudah terasa dan plong banget jiwa ini. Kuhirup dalam-dalam udara sore nan segar itu sembari memandang langit mencari Bintang diantaranya……. Kangen! (jie)

***

Pos 4 yang panjang (doc pribadi)
Pos 4 yang panjang
(doc pribadi)

Ruang Hatimu

Langit Sunset Gunung Sindoro yang cerah.. mau ada BINTANG :) (doc pribadi)
Langit Sunset Gunung Sindoro yang cerah..
mau ada BINTANG πŸ™‚
(doc pribadi)

Senja Gunung Sindoro
Oktober 13, 2013

Bongkahan langit kuas warna
Tercipta lara disana
Menggenggam sejumlah rasa
Pada hatimu

Semburat awan senja bersahabat
Memaksa menengadah menatapmu lekat
Penuh harap
Tetap pada hatimu

Garis halus lukisan sang pencipta
Mematrimu dalam memori
Berharap ada
Selalu pada hatimu

Ceria senja menemani langkah
Turut hadir menyertai raga
Menggamit lembut pada sebuah sentuhan
Setia pada hatimu

#mengingatmu disisian senja apik Sindoro

Terbangkan Hati, Tatap Paragliding

Before:

obrolan-dalam-hujan/
ratusan-hari-menyepi/
setahun-minus-rindu/

Masih edisi touring nih…
Kali ini mataku tak lepas memandang apa yang ada diatas sana.
Pandangan dari awal keberangkatan perjalanan sejuk ini.
Tulisan singkat tentang keinginanku menjelajah udara..

#tetap ingin bersamanya πŸ™‚
***
Ituuuu... disana! (doc pribadi)
Ituuuu… disana!
(doc pribadi)

Puncak-Jakarta
Next Day

Perjalanan pulang yang dinaungi sinar matahari yang bersahabat mungkin takkan sesejuk seperti di Puncak ini. langit cerah di atas kepala kami. Bintang tetap sabar melalui kemacetan yang sedikit menghambat perjalanan tersebut.

“Ini akan macet terus sampai ke bawah lho, Jie?” Bintang bersuara.

“Lama donk, mas?” balik bertanya.

Continue reading Terbangkan Hati, Tatap Paragliding