Day 3: Manusia Kapal Ke Lombok (Jarank Pulang Goes to Rinjani)

Jika sebelumnya kami adalah manusia kereta yang selama 2 hari selalu nomaden dari satu kereta ke kereta lainnya, kali ini manusia kapal sedikit menempel. Perjalanan berlanjut dari dermaga satu ke dermaga lainnya. Well, Bali dan Lombok menjadi alasan persinggahan kami selanjutnya.
Dan Rinjani, pasti!

***

Continue reading Day 3: Manusia Kapal Ke Lombok (Jarank Pulang Goes to Rinjani)

Advertisements

Diving di Gunung

Tulisan ini Ejie buat demi rasa penasaran Ejie
pada sebuah kata yang kerap dilontarkan Ricky Merah dan cengiran Anja saat ejie terjatuh di gunung.
Diving!
Apa itu arti diving kalau di gunung?
Yuuuukkk… ikuti penasaran Ejie dan baca deh…
Seru! Ahahahha 😉

***

Ini foto yang sempat diambil sesaat sebelum jatuh (doc pribadi)
Ini foto yang sempat diambil sesaat sebelum jatuh
(doc pribadi)
  • Diving Menurut Saya

Sudah tahu diving yah? Hmmm… buat para pecinta laut dan keindahan dasar laut pasti tahu banget nih artinya. Menyelam. Benar yah?

Ejie juga tahu kok. Malah sudah ikut latihannya di Cilangkap, Mabesal TNI AL yang letaknya tak jauh dari rumah Ejie. Sudah latihan sama teman-teman dari GM. Insan Bahari Indonesia waktu itu.

Diving dengan alat-alatnya, perkenalan dengan tabung udara, regulator, masker, dll sudah juga kok Ejie meski belajar kilat. Hhehee…

Lalu Ejie juga sudah kok menyelam di lautnya meski baru sekali yang pakai tabung dan 2 regulator bersama Kak Ajiz Kopaska saat di Posal Padak Guar, Mataram, Lombok Timur. Menyelamnya juga ngga dalam-dalam banget karena Ejie masih baru dan ngga pakai pemberat saat itu. Hanya di kedalaman 3-5 meter yah seingat Ejie.

Okeeeee……. Lalu?

***

  • Freediving Tanpa Tabung Udara

Freediving.

Yihaaaa… Ejie baru belajar ini di Bandung.

Beda lagi dengan diving lho. Ini seni menyelam bebas menurut Ejie, tapi juga dengan aturan yang ada. Hampir sama dengan diving tapi tidak menggunakan tabung udara.

Ejie belajar freediving dengan teman-teman Bandung Freediving di Kolam UPI. Memang baru sekali, langsung nancep di hati saya. Mblesek banget dah ahhh…
*lope-lope

***

Naaaaaaahh….
Sekarang diving di gunung. Adakah?? Ini dia yang mau Ejie bahas di tulisan ini.
Baca saja terus yaaaaaa… 😛 Hahahahaa….

***

Gunung Slamet via Guci. Istirahat POS I bersama tim. Ricky Merah dan Anja yang hobi menyebutkan diving di gunung :D (doc sapa ya? Lupa!)
Gunung Slamet via Guci. Istirahat POS I bersama tim.
Ricky Merah dan Anja yang hobi menyebutkan diving di gunung 😀
(doc sapa ya? Lupa!)
  • Diving di Slamet

Jujur saja. Ini gara-gara teman-teman nanjakku. Khususnya 2 orang dalam Tim Nanjak Lenong yang kerap mengajakku ke gunung. Mereka adalah Ricky Merah dan Anja.

Dan diving ini aku dengar dari awal kami mendaki gunung mana ya? Ejie lupa deh. Tapi yang paling Ejie dengar banget itu waktu di Gunung Slamet via Guci. Dan mereka itu menyebut diving saat Ejie tergelincir jatuh. Biasalah…. Ejie diketawain tuh sama Ky dan Anja.
*beeeuuhhh… jatuh malah diketawain deh T_T

Kemudian, saat turunan dari Gunung Slamet dan hari hujan menemani jalan pulang kami yang saat itu Wongso leader di depan dengan mereka berdua di belakangku.

Eheheeee…. Malu ah Ejie. Soalnya, Ejie tiba-tiba berhenti dan sekali lagi beruntung karena hujan membantu Ejie menghilangkan jejak air mata karena kaki yang keram. Entahlah, ini akibat sepatu tentara (sepatu gunung, red) kepunyaan Ricky yang dipinjamkan kepadaku yang beratnya ampuuuuuuuuuuuuuuuuuunnnn…… buatku. Atau memang kaki yang sudah terasa sakit sejak turunan Gunung Slamet dari puncak Guci itu.

“Kaki…… kaki kanan Ejieeeeeeeeeee…. Huhuuuuuhu…. Sakit euy!”

“Anjaaaaaa…….. Nyak lo itu, diviiiiiiiiiiiiiiiiiiiinnngg,” hafal banget Ejie sama suara Ricky Merah. Mau nyengir dengar diving tapi kaki keram Ejie mengalahkannya.

“Kenapa, Nyaaaakk?” Anja sudah di depanku yang terduduk di jalan turunan itu. Tetap dengan senyum-senyum ngga jelasnya tuh Anja. Huh! Getak Anja!!

“Keram, Njaaaaaaaaaaa….. mau sandal aja Ejieee…” ting! Alasan tepat untuk mengganti sepatu. Ahahahaahha…… sedikit licik bolehlaahh 😛

Meski usil, Anja tolong benarin kaki keram Ejie juga. Dibukainnya tali sepatu Ejie karena sebenarnya juga sudah ngga tahan sama kaki yang sakit. Jempol dan telunjuk kaki sudah meraung-raung minta ampun sakitnya.

“Bang Mat, pinjamlah sandalnya,” Anja meminta pada Mat Erore.

Ejie ngga tahu, ngga liat lagi bagaimana ini posisi teman-teman yang ngantri di jalan karena keram kaki Ejie. Sepertinya semua barisan berhenti yah? Padahal jalanan lebar lho? Bisa saja mereka memotong jalan kami. Tapi ngga. Semua menungguku. Ahh…. Kangen kedelapan teman-teman di Gunung Slamet yang semuanya laki-laki itu dan hanya Ejie seorang yang perempuan. Semua baik pada Ejie. Hhe….. 😀

Done!

Kaki sudah oke, sepatu tentara berganti sandal Erore, dan kakiku terasa legaaaaaaaaaa sekali. Ohoohhho…. Selamat kakiku di Gunung Slamet.

Elalu, mana arti diving di gunung??

Sabar atuh… Ejie belum selesai nulisnya. Ini lagi merefresh otak dan ingatan Ejie tentang diving. Jadi kudu merunut satu-satu kejadian dulu, baru Ejie bisa ambil kesimpulan cerita. Okehh?!???

Mari lanjut bacanya yaa…. 🙂

***

  • Diving di Pangrango via Cibodas

Yuhuuuu….
Jalur ajib untuk mata Ejie. Berhenti sejenak dan memperhatikan jalur-jalur di depan Ejie. Yeayyy! Ejie sukaaaaaa….. Yuuk, mulai trekking gembira dengan mata belok! Ahaaayyy….

Ini setelah Ejie dengar Ricky merah atau Prime bilang Ejie seperti musang nemplok di pohon (baca: lupa. besok yah ejie cari linknya). Ketemu ni linknya, KLIK SAJA 🙂 … Yapp, kami akhirnya berlima menyusuri akar dan pepohonan tumbang menuju ke puncak Pangrango.

Prime di depan ku dan aku asik memanjat mengikuti ritme nafasku yang mulai teratur di jalur penuh kejutan ini.

Upps, tiba-tiba saja aku terduduk!

Haiyaaaaaaaaaahhh….. keramku!

Arrrrrrrrrgghh….. tak suka di posisi itu, tak suka di kala itu, tak suka dengan keram yang selalu hadir disaat-saat senyumku sedang merekah. Mau yang bisa ngga keram gimana yah? Biar aman kalau lagi seru-seruan, ngga tiba-tiba nongol atuh si keram. Ejie kan pengen bisa anteng di perjalanan.
*nunduk lesuuuu 😦

“Anjaaaaaaa……….. Nyak lo niiiihhhh….. diviiiiiiiiiiiiiiiiiiinnnggg!” suara khas Ricky Merah yang saat itu posisinya memang berada tak jauh dariku langsung memanggil Anja. Ternyata Prime lebih sigap karena Anja agak jauh di belakang.

Segera Prime membenarkan kaki keramku.

Wooo hooooooooo…..

Tak lama dan kakiku sudah lumayan. Terima kasih yah Prime sudah mau tolongin Ejie.

Anja datang, Ricky Merah gantian nyengir. Ejie pun ikutan nyengir melihat mereka. Dasar, dua orang iseng yang selalu meneriakkan kata-kata “diving” yang sampai sekarang aku belum bisa mengartikannya.

***

  • Arti Diving Gunung

Baiklah, hingga tulisan ini diturunkan, dan dari Ejie mendengarkan diving dari Ricky Merah dan Anja, siap tarik kesimpulan. Ini mengarang indah kan Ky, Anja? Jadi apapun Ejie bebas berekspressi untuk mengartikan sebuah kata yang Ky dan Anja lontarkan untuk Ejie.

Kata Chintya yang ikut di belakang Ricky Merah, katanya diving kalau di olahraga sepak bola itu berusaha menggolkan bola ke gawang lawan. Tapi belum berhasil (bener nda nih Chin? lupa Ejie 😛 ).

Lhaaaaaa? Kalau Ejie gimana yah?

Seingat Ejie, bukannya ngegolin deh. Karena Ejieeeeee… Ooooo… sepertinya Ejie mengerti.

Saat itu, posisi Ejie keram selalu kaki kanan berada di depan dengan posisi kaki kiri entah menekuk, entah di belakang badan seperti posisi saat berlari ingin menggolkan bola ke gawang lawan, tapi lalu terjatuh.

Posisi ini terbentuk karena karena kaki Ejie yang keram  dan kenapa selalu kaki kanan yah? Baru sadar Ejie.  Mungkin karena posisi tersebut yah makanya Ricky Merah dan Anja selalu bilang, “Ejie diving.”

Haaaaaaa…. Ejie sekarang mengerti deh Ky, Nja artinya diving di gunung. Benar ngga seperti itu?

Salahnya ngga pernah ada yang foto Ejie sedang diving di gunung yah?

Hahhhh!
Dasar kalian abang adik pecinta bola. Istilah laut untuk diving, dan kebiasaan kalian menonton bola, juga hobi kalian ke gunung pun tetap saja ada.

Jadi sekarang, diving di gunung itu kan ya artinya??? Hhohoooo…..

Yippiiiiiee…..
Ejie berhasil memecahkan 1 kata yang kalian berikan pada Ejie. Asiiiiiiiikkkk……. Hayoooo… mau bilang apalagi sekarang pada Ejie, bweeee….. 😀

*makasiy yah Ky, Anja yang memberikan Ejie ide untuk tetap menulis…  😉 (jie)

Plecing Kangkung Lombok Wajib Coba

Before:
KRI Surabaya 591 in My Mind [Prolog]
Catper Hitchhiker: Pelantara II Temu Saka se-Indonesia
Catper Hitchhiker: Rasaku pada KRI Surabaya 591
Catper Hitchhiker: Pramuka, Mangrove, dan Donor Darah [Tegal]
Jurnal Hitchhiker: Keluarga Kecil Kucing Laut Berisik
Catper Hitchhiker: Yuk, Masuk Dapur KRI Surabaya 591
Jurnal Hitchhiker: Tepar di Hari Pertama Sandar Bali
Journal Hitchhiker: Ajie atau Ejie??
Journal Hitchhiker: Adegan Si Empuk Penyangga Perut Pasangan Jiwa yang Hilang
Jurnal Hitchhiker: Foto Untuk Komandan Joni [KRI Surabaya 591]
Catper Hitchhiker: Jempol Hitching Perdana di Benoa Bali
Jurnal Hitchhiker: Rupa Adik Angkat di G 29 dan G 31
Catper Hitchhiker: Krisna, Pusat Oleh-oleh Khas Bali [Jilid 1]
Catper Hitchhiker: Erlangga 2, Pusat Oleh-oleh Khas Bali [Jilid 2-Edisi Kapten Bambang]
Catper Hitchhiker: Yuk, Kebut Motor Kejar Bali
Mie Kluntung Cak Pi’i [Surabaya]
Catper Hitchhiker: Hitching 2 Bali [Edisi Kadeplog]

Ini dia plecing kangkung Labuan Haji yng bikin ences tak selesai T_T(doc pribadi)
Ini dia plecing kangkung Labuan Haji yng bikin ences tak selesai T_T
(doc pribadi)

Labuan Haji, Lombok Timur 18 Februari 2013

  • Plecing Labuan Haji, Ngiler

Kangkung? Sayuran yang biasa kita konsumsi kan? Boleh disayur bening, boleh juga dibuat cah kangkung atau biasanya disambelin. Diapain aja pasti enak kan kangkungnya.

Kalau plecing kangkung, apa yah? Mendengar aja baru. Kan menginjakkan kaki di Lombok Timur juga baru. Plecing kangkung ini kutemukan di bazaar Pramuka, Pelantara II (Temu Saka), dimana terselip seorang ibu penjual plecing kangkung.

Mulanya ku kira si ibu menjual rujak. Hari panas, makan rujak tentunya segar. Heheeee.. tapi aku salah, bukan rujak melainkan kangkung.

Ini catatanku mengenai bahan-bahannya:

  1. Sambal ulek
  2. Cabai rawit
  3. Terasi
  4. Garam

Pelengkapnya adalah:

  1. Kacang panjang
  2. Tauge
  3. Ketupat
  4. Kangkung

Cara membuat:

  • Ulek cabai
  • Parut tomat, tambahkan kedondong, parut. Campurkan pada sambal ulek, aduk.
  • Parut kelapa, campurkan kacang panjang dan tauge.

Cara menyajikan:

  • Ketupat paling dasar
  • Beri parutan sayuran yang sudah dicampur kelapa
  • Tambahkan kangkung rebus
  • Beri toping sambal ulek campuran tomat dan kedondong
Ibu plecing kangkung di bazaar Pramuka, Labuan Haji(doc Pribadi)
Ibu plecing kangkung di bazaar Pramuka, Labuan Haji
(doc Pribadi)

Kalau melihat cara membuatnya, aku ngences. Mau pesan, tetapi sudah keburu dipanggil untuk berangkat ke Mataram. Padahal Tor Andi yang nantinya juga berangkat bersama kami, ada di tempat si ibu plecing juga lho, ngobrol sama tor nya. Euleuhh…..

Ya sudahlah…… mungkin tiap tempat yang kudatangi, memang harus ada yang kedua kalinya yah? Cek saja kuliner yang kudatangi, selalu dua kali. 😛

Harga per porsi Rp 5.000,-

***

  • Plecing Kangkung Mataram, Mantap

Plecing kangkung lagi? Yaap! Pedas yang mantap, kita semua balapan pedas. 😀 Tapi sepertinya ngga pakai kedondong deh. Soalnya ngga ada asam dari rasa kedondongnya. *saat menulis ini, ada yang turun di kerongkongan, pengen plecing! Wakkakaaka…

Plecing dimanapun di Lombok ini, aku rasa akan sama, mungkin beda dari cara membuatnya saja. Semua mantap! *beri JEMPOL untuk plecing kangkung Lombok 🙂

Harganya?

Untuk plecing kangkung Mataram yang aku makan ini, jujuuuuuurr banget, aku tak tahu berapa harganya per porsi. Karena ini adalah Rp 0,- ku untuk sayuran tersebut. Hehee…. Maaf ya teman-teman, ngga tahu info harga nih. Dan ngga nanya juga gara-gara sibuk ngecas hape laporan posisi 😛 .

Foto plecing Mataramnya masih di sun Arga yah? Ejie foto pakai tab Arga.

***

PESAN:

Kalau ke Lombok, kudu WAJIB cobain PLECING KANGKUNG yak?!? Wuenak’e pol!!

***

Terima kasih untuk:

  1. Komandan Joni, KRI Surabaya 591, yang sudah memberikan kesempatan pada kami (Hikmah, Arga, Ejie) untuk jalan-jalan di Mataram.
  2. Kadepnop Karully dan Tor Andi, yang mengasuh kami selama di Mataram.
  3. Teman Karully dan Tor Andi yang meminjamkan kendaraannya pada kami, keliling Lombok —-> Rp 0,- YEAY!
  4. Mobil Jimny TNI AL yang juga membawa kami jalan-jalan hingga bonus nyasar saat pulang ke Pelabuhan Labuan Haji —-> Rp 0,- SALTO!
  5. Karully dan Tor Andi untuk plecing kangkung Mataram —-> Rp 0,- HORE!
  6. Ibu penjual plecing kangkung di Pelabuhan Labuan Haji, OK TETAP NGENCES! 😀

***

Tor Andi di tenda tempat aku melihat ibu plecing(doc pribadi)
Tor Andi di tenda tempat aku melihat ibu plecing
(doc pribadi)

Jurnal Hitchhiker: Foto Untuk Komandan Joni [KRI Surabaya 591]

Before:
KRI Surabaya 591 in My Mind [Prolog]
Catper Hitchhiker: Pelantara II Temu Saka se-Indonesia
Catper Hitchhiker: Rasaku pada KRI Surabaya 591
Catper Hitchhiker: Pramuka, Mangrove, dan Donor Darah [Tegal]
Jurnal Hitchhiker: Keluarga Kecil Kucing Laut Berisik
Catper Hitchhiker: Yuk, Masuk Dapur KRI Surabaya 591
Jurnal Hitchhiker: Tepar di Hari Pertama Sandar Bali
Jurnal Hitchhiker: Jengukan Tak Terduga
Journal Hitchhiker: Adegan Si Empuk Penyangga Perut
Pasangan Jiwa yang Hilang
Jurnal Hitchhiker: Another Story Bout Sugar of the Sea That I’ve Found #fill me in the blank

Perjalanan dan petualangan akan berakhir.
Tak sangka kalau Komandan tanya tentang foto-foto.
Copy seadanya karena para kamera/kameri sudah menghilang kemana mereka mau.
Ditemani Arga, Ejie terakhir meninggalkan KRI Surabaya 591 demi beberapa foto yang dapat dicopy.
Lain kesempatan berjumpa kembali akan Ejie copy ulang, Komandan 🙂
***
(doc Kadeplog photo by me)
(doc Kadeplog photo by me)


Private Room Pondok Gede
28 Februari 2013
Before Sleepy

Aku yang tengah sibuk di hari terakhir itu. Jalan sana, jalan sini. Puncak yang gagal, sementara semua awak sudah berjalan menuju lokasi seingatku, antar Rika ke Bandara, semua serba tak pasti dan membingungkan. Alhasil kejar foto adalah target akhirku. Tugas dari Komandan KRI Surabaya 591 agar mengumpulkan foto-foto yang ternyata berserakan dimana-mana. Hha…

Catatan kamera/kameri:

  1. Hikmah
  2. Arga
  3. Zela
  4. Kadepnop
  5. Kadeplog
  6. Ejie

Semua itu masih harus disortir lagi karena ketersediaan memori yang kurang. Tak semuanya bias dimasukkan dalam flashdisk Komandan. Makanya apa adanya saja. Menggunakan kabin Palaksa, meminjam netbook Palaksa, meminta tolong Palaksa untuk share foto dari Zela dan melakukan beberapa hal lainnya. Aku dan Arga berlama-lama berkutat di kabin Palaksa. Bolak-balik ke kabinku hanya untuk mengambil flashdiskku yang tertinggal sambil menunggu loading copyannya. Ihhh… ribet deh. Tapi senang ngerjainnya.

Andai waktu berlebih banyak, mungkin aku dapat mengerjakannya dengan santai. Memilih gambar yang diinginkan Komandan dan  banyak kejadian lucu sepanjang pelayaran yang tertangkap kamera dan mataku. Banyak hal yang bisa disharing untuk Komandan. Karena foto banyak menceritakan sesuatu, mengingatkan dan membuat kita tersenyum mengingat kejadian yang terjadi saat itu.
*hahhh… jadi kangen suasana bersama di kapal 😀

Our ship commander(doc Kadeplog photo by me)
Our ship commander
(doc Kadeplog photo by me)

Catatan foto-foto untuk Komandan :

  1. Diving di Selat Alas, POSAL
  2. Dinner di Jimbaran
  3. Foto seru di Gili Bagik
  4. Anjungan KRI saat sandar Priok
  5. Anjungan Peran Pemanduan
  6. Karaoke lucu di Longe Room Perwira
  7. Makan siang bareng di Surabaya

Seharusnya itu adalah foto-foto untuk Komandan. Ekarena terdesak waktu, serta si pemilik memori kamera/kameri sudah hilang satu persatu, aku hanya mengambil seperlunya saja dibantu Palaksa yang mengkopi dari Zela.

Komandan Joni,
Maaf yah Ejie tak bisa masukin foto yang diinginkan dan kesempatan bertemu lagi entah kapan itu. Jika masih ada waktu dan keberuntungan lagi untuk berjumpa dan ikut dalam kapal serta perjalanan dengan petualangan yang sama, Ejie akan copy ulang fotonya buat Komandan. Semoga tidak kekurangan waktu lagi untuk mindahin foto-fotonya. Hehheeee… (jie)

Snorkling, diving dan berenang cantik di Selat Alas, POSAL, Lombok
Snorkling, diving dan berenang cantik di Selat Alas, POSAL, Lombok
Foto keluarga @Kampoeng Seafood Jimbaran, Bali
Foto keluarga @Kampoeng Seafood Jimbaran, Bali
Gili Bagik, Lombok
Gili Bagik, Lombok
Gili Bagik, Lombok
Gili Bagik, Lombok
Istirahat ngemil di saung POSAL
Istirahat ngemil di saung POSAL
Haissshh... Koandan udah keburu turun ni loncatnya pas Ejie jepret.. :D
Haissshh… Koandan udah keburu turun ni loncatnya pas Ejie jepret.. 😀
Makan siang bersama di Surabaya
Makan siang bersama di Surabaya
Komandan dan ulangtahun Cia :)
Komandan dan ulangtahun Cia 🙂

Jurnal Hitchhiker: Another Story Bout Sugar of the Sea That I’ve Found #fill me in the blank

Before:
KRI Surabaya 591 in My Mind [Prolog]
Catper Hitchhiker: Pelantara II Temu Saka se-Indonesia
Catper Hitchhiker: Rasaku pada KRI Surabaya 591
Catper Hitchhiker: Pramuka, Mangrove, dan Donor Darah [Tegal]
Jurnal Hitchhiker: Keluarga Kecil Kucing Laut Berisik
Catper Hitchhiker: Yuk, Masuk Dapur KRI Surabaya 591
Jurnal Hitchhiker: Tepar di Hari Pertama Sandar Bali
Jurnal Hitchhiker: Jengukan Tak Terduga
Journal Hitchhiker: Ajie atau Ejie??
Journal Hitchhiker: Adegan Si Empuk Penyangga Perut
Pasangan Jiwa yang Hilang

 

Anjungan, mataku tertuju(doc pribadi)
Anjungan, mataku tertuju
(doc pribadi)

Ahhh… pelayaran yang berbahaya!
Tanpa sengaja kuucapkan kalimat mengenai “terjebak dan terperangkap di kapal”.
Tak hanya tubuh, alarm hati memancarkan radarnya. Ini harus dicegah, tapi entah daya yang tak kuat, tak mampu menepikan. Mengikuti alur.
Dan aku takut! 😦
***

  • Salah Kapal?

Tak minta 1 hari itu. Tak ingin pun ada dalam catatanku. Entah bagaimana mulanya, akupun bingung. Dari ketika sakit itukah? Dimana kepanikanku saat tak ada siapapun yang bisa kusampaikan bahwa aku tak ingin sendiri karena semua teman yang bermain ke darat bersama Dayu. Sementara aku tak ingin mengganggu serunya mereka menikmati perjalanan setelah melewati lautan.

Bali, tempat yang dituju, tentunya menjadi alasan bagi teman-temanku untuk berjalan-jalan disana. Hikmah, hanya dia yang kukabari mengenai kepalaku yang tak bersahabat di hari pertama di Bali itu.

Atau semuanya sudah diatur saat sapaan pertamanya dalam wasapkku?

Hahh! Salah tempat ini…

Kuajukan pertanyaan itu dan ia balik bertanya, “Kenapa salah kapal?”

Jiaaahh… apa perlu diperjelaskah jawabannya? Ckkkckccc  –__–“

***

Gula was there, too(doc Kadepnop taken by Tor Andi)
Gula was there, too
(doc Kadepnop taken by Tor Andi)
  • Kebetulan, Benarkah Ada?

Adakah gula di perairan laut lepas? Pernahkah ada yang menemukannya dalam suatu perjalanan? Pen nangis ngga yah? Kenapa semuanya  serba tiba-tiba? Adakah yang  bisa memprediksi atau merencanakan apa yang kita inginkan dalam hidup? Bolehkah memintanya?

Begitu banyak pertanyaan yang tak bisa kujawab untuk hatiku yang penuh ini. Semua hanya berjalan mengikuti arus yang ada. Layaknya kapal yang berlayar mengikuti arus, ombak dan gelombang di lautan lepas ini.

Etapi, kapal ini bisa merencanakan jalur loh?? Kenapa Ejie tak bisa? Tapi malah mendapatkan kejutan-kejutan dalam perjalanan kali ini. Huaaaaahh… Dan hati saya merasa plong untuk satu hal.

Allah, Engkau memberikan setiap detil dalam langkah perjalananku ini. Dan kali ini, entah apa sebabnya, hatiku merasa lega. 1 cerita dalam kehidupan beratku, bisa sedikit terbagikan meski tak mengerti kenapa bisa lega setelah bercerita. Terima kasih Allah…

***

  • Ketika Bertemu Gula

Hidup yang tak pernah bisa kuprediksi apa yang kan terjadi di dalamnya. Semua mengalir begitu saja dalam perjalanan hidup ini. Bertemu orang banyak dalam hidup, mengetahui, mengenal dan berteman dengan mereka. Menambah wawasan persahabatan, membuka cakrawala hidup, merubah pandangan akan dunia. Hmmm… bukan merubah, tapi memperbaikinya. Introspeksi diri dalam setiap perjalanan hidup.

Kali ini, perjalanan berlayar yang kujalani, entah darimana datangnya gula ini. Aktif komunikasi? Rasanya juga tidak karena masing-masing berkutat dengan kesibukannya. Tak ada rencana sepertinya. Aku pun tak ingat bermula darimana hingga pada akhirnya bisa berkomunikasi.

Gula di laut….
1 pertanyaan besar dalam hati, apakah ada yang salah dengan diri? Kenapa harus bertemu di saat ini? Saat yang kutak ingin seorangpun ada. Saat kuingin hanya menikmati sejumlah perjalanan yang telah terekam dalam otakku. Menghubungi setiap teman-teman di tiap persinggahan dan sandaran kapal. Ceria, tertawa, bercerita dengan teman-teman. Melakukan hal-hal menyenangkan lainnya selama berlayar.

Aku senang kok menjalani keceriaan ini bersama keluarga kucing tentunya dan keluarga di kapal, setiap personel KRI Surabaya 591 yang baik padaku. Aku merasa mereka adalah keluargaku. Hohooo 🙂

But something different in here..

Gula di laut, apa ya? Aku juga bingung sebenarnya menjelaskan harus seperti apa. Di laut bukannya asin kan yah? Tapi kenyataannya aku menemukan yang  berbeda. Hhhhh…. susaaaaaahh.. @_@

Gula yang manis, gula yang baik, gula yang menjagaku, gula yang selalu ada memberikan tawa hanya untuk melihat senyuman? Anehkah?? Aku tak paham.

Gula yang harusnya merupakan pelengkap minum teh. Memberikan rasa manis diantara pahit teh yang terasa saat meneguknya.

Gula dan teh adalah satu paduan pas. Mungkin menurutku. Tapi menurutnya, gula itu bagus untuk di dodol. Hahahaaa…. Jujur, aku tertawa. Semua ini kebetulan sematakah? Ahh… jalani saja.

Gula ini hadir begitu saja dalam hari belakangan. Menerobos sang waktu yang dingin entah dengan caranya yang tak kupahami. Meski sempat kaget karena segala tebakannya tepat mengenaiku, aku tak ingin mengiyakan. Tak juga ingin menyalahkan. Karena tak berani berkhayal lebih.

Gula yang usil selalu saja mengusik apa yang kulakukan. Tak tahu mengapa. Padahal aku tengah mendapati beberapa langit cantik yang terjadi perubahan disana. Biru, pink, orange, dan golden. Sungguh, Allah menciptakan alam yang indah dengan langit warnanya. Aku suka.. dan keberadaan gula yang tiba-tiba, ehh….

Langit cantik ini, Lombok Timur, tertangkap oleh mataku yang mencari(doc pribadi)
Langit cantik ini, Lombok Timur, tertangkap oleh mataku yang mencari
(doc pribadi)

1 hari yang tak kuminta. Entah apa akhirnya yang membuat aku duduk di satu sisi saat menikmati langit cerah di Lombok Timur, karena terjebak dalam kapal, sementara lainnya turun ke darat karena kepentingan mereka.
1 hari dimana aku tengah melihat lampu-lampu perkemahan yang berwarna, dan suara-suara ramai di darat sana hanya dari anjungan ini.
1 hari dimana aku menidengar deburan ombak di bawah kapal ini bernyanyi menawarkan laguya padaku.
1 hari dimana aku menikmati langit yang cerah dan dinginnya angin di anjungan ini.
Eitss… bukan 1 hari, tapi malam itu, saat aku hanya sendiri dan tetiba gula menghampiri.

Arga, Hikmah dan Ejie adalah yang tersisa dari 700 orang yang hadir dalam KRI Surabaya ini. That’s why i called, trap in the ship. Omigosh…. help us!

Bukan cuma kami saja sih, ada awak kapal lainnya teman-teman kami di kapal ini. Banyak dan senasib, terperangkap! 😀

***

  • Gula Bercerita
Melihat lampu perkemahan dari anjungan KRI Surabaya 591 dan gula bercerita(doc pribadi)
Melihat lampu perkemahan dari anjungan KRI Surabaya 591 dan gula bercerita
(doc pribadi)

Bercerita, itulah yang dilakukannya. Dari sekadar obrolan ringan hingga mebuatku sedikit cengok dengan infonyanya yang pada akhirnya membuatku berpikir, “Kok bisa tahu ya?”

Iya, beberapa info mengenaiku yang jarang aku utarakan kecuali orang yang sudah mengenalku, mungkin aku maklum. Tapi untuk waktu yang lama tidak bertemu, dan tiba-tiba mengalir pembicaraan yang membuat aku mengangkat sedikit alis mataku karena kaget, oow…… aku terkejut!

Bertanya padanya, ternyata untuk mereka, mencari info mengenai seseorang tidaklah rumit untuk mereka. Okelah aku mengerti dan tak tak bertanya lanjut, paham. Tak masalah untukku. Baiklah, dengarkan saja.. 🙂

***

Yapp…
Berbicara tentang apa saja yang terlintas. Kebanyakan aku hanya mendengarkan apa yang diutarakan dan diceritakannya saja. Mengenai hidup, pertemanan, pendidikan. Banyak deh sampai lupa. Pengen nanya tapi Ejie bingung ngomongnya. Kadang ngga suka sama lupa ingatan yang sering muncul tanpa diminta. Apalagi saat Ejie sedang menyukai suatu hal, ingin ingat tapi lupa. Arrrrrrrrgghh….

Ada 3 hal yang kugarisbawahi dari beberapa yang disampaikannya mengenai hidup, tapi jujur, aku lupa saat menuangkan dalam bentuk tulisan ini. Sudah coba mengingat, tetap saja, tak bisa mengingat.

Aaaaahhh…… AMNESIA!
Bisakah minggir sejenak? Ingin mengingat sekejab saja mengenai apa yang kudengar dan kuingat. Hayooo memoriiiiiii…. kembali sejenak pliiiiisss….. bantu sayah. Err~

Gula di laut yang bersahabat, waaaa…… stop! Don’t even thinking of the sugar, pleaseee…

Adalagi yang kusuka mengingatnya, selalu membuatku tertawa dengan banyolannya, bahasanya yang banyak tak kupahami, pengistilahan yang selalu membuatku penasaran dengan bahasa-bahasa lucunya. Kadang sakit perut juga pengen ngakak tapi ngga bisa. Haaah… menyenangkan.

Mendengar sekilas percakapannya saat berinteraksi dengan lainnya, cukup untukku bahwa gula ada disana. Pun saat bertugas. Hahhaaaa…. tooooooooooott tet bahaya ini Ejieeeeeeee….
*setiap alarm yang kupunya mengingatkan nalarku

Otak beku gunung yang tak bisa nanjak, membaca setiap wasap rombongan lenong yang bercerita seru mengenai gunung, membuat iler gunungku semakin menumpuk. Mengetahui informasi rinjani yang juga tak bisa didaki, tutup dikarenakan badai. 4 bulan di awal tahun, rinjani tak baik didaki karena terhitung sedikit rawan cuaca. Saat yang baik adalah setelah bulan 4 hingga 10 (Oke, simpan dalam memori otak dan hatiku untuk rinjani, BRB).

Ketika hanya ada lappy dan aku, mengalirlah semua cerita ini dalam penjabaran panjang tentang gula. Hayooo…. bisa tahukah gula saya di lautan? Hehehee… hanya untuk memoriku saja.

***

1 foto yang diberikan padaku. Mungkin saat mengambil gambarnya, ia tak mengerti. api buatku, foto ini bermakna. Aku tahu dimana ini, kapan, dan apa yang dikerjakan disana. Semua ceria saat itu.(doc pribadi gula)
1 foto yang diberikan padaku. Mungkin saat mengambil gambarnya, ia tak mengerti. Tapi buatku, foto ini bermakna. Aku tahu dimana ini, kapan, dan apa yang dikerjakan disana. Semua ceria saat itu.
(doc pribadi gula)

Catatan ingatanku tentang gula ada beberapa yang membekas. Simak deh:

  1. Sapaan pelayaran
  2. Sakit yang tak ada dalam list
  3. Perbincangan kehidupan
  4. Garisbawahi yang terlupakan
  5. Menjadi gula dan dodol
  6. Berbalik bingung jika terlihat
  7. Meninggalkanku di tengah
  8. Meninggalkanku di Lombok
  9. Membuangku di lautan
  10. Ngga boleh naik saat di Bali

Behhh…. banyak aja catatannya. Okeee… kita lihat saja kelanjutannya. Gula yang ada di lautan. Adakah? Ckcckk… (jie)

Gula ada disini(doc Kadeplog taken by me)
Gula ada disini
(doc Kadeplog taken by me)

Journal Hitchhiker: Adegan Si Empuk Penyangga Perut

Oiiik~
Butuh rotiiii…. butuh rotiiiiii…
Mau roti darataaaaann…
Yuklah mengkhayal saja selama di lautan!
*ishh dahh.. kasihan kalii 😛
***
Roti semangat! Ingat PD laaaa....(doc Wawan Wirawan)
Roti semangat! Ingat PD laaaa….
(doc Wawan Wirawan)


Catatan Roti dalam Benakku

Hampir 3 minggu!
Yapp…. Berlayar, kapal, lautan, langit, anjungan, dapur, semua kutelusuri. Aku bisa mengingat tiap bagian di dalam KRI Surabaya 591 dengan baik.

Continue reading Journal Hitchhiker: Adegan Si Empuk Penyangga Perut