Day 3: Manusia Kapal Ke Lombok (Jarank Pulang Goes to Rinjani)

Jika sebelumnya kami adalah manusia kereta yang selama 2 hari selalu nomaden dari satu kereta ke kereta lainnya, kali ini manusia kapal sedikit menempel. Perjalanan berlanjut dari dermaga satu ke dermaga lainnya. Well, Bali dan Lombok menjadi alasan persinggahan kami selanjutnya.
Dan Rinjani, pasti!

***

Continue reading Day 3: Manusia Kapal Ke Lombok (Jarank Pulang Goes to Rinjani)

Catper Hitchhiker: Warna-warni Taman Sangkareang [Mataram]

Before:
kri-surabaya-591-in-my-mind-prolog/
catper-hitchhiker-pelantara-ii-temu-pramuka-se-indonesia/
catper-hitchhiker-rasaku-pada-kri-surabaya-591/
catper-hitchhiker-pramuka-mangrove-dan-donor-darah-tegal/
jurnal-hitchhiker-keluarga-kecil-kucing-laut-berisik/
catper-hitchhiker-yuk-masuk-dapur-kri-surabaya-591/
jurnal-hitchhiker-tepar-di-hari-pertama-sandar-bali/
jurnal-hitchhiker-jengukan-tak-terduga/
journal-hitchhiker-ajie-atau-ejie/
journal-hitchhiker-adegan-si-empuk-penyangga-perut/
pasangan-jiwa-yang-hilang/
jurnal-hitchhiker-another-story-bout-sugar-of-the-sea-that-ive-found-fill-me-in-the-blank/
jurnal-hitchhiker-foto-untuk-komandan-joni-kri-surabaya-591/
jurnal-hitchhiker-jalinan-dalam-kepangan-rambut/
catper-hitchhiker-jempol-hitching-perdana-di-benoa-bali/
jurnal-hitchhiker-rupa-adik-angkat-di-g-29-dan-g-31/
krisna-pusat-oleh-oleh-khas-bali-jilid-1/
catper-hitchhiker-erlangga-2-pusat-oleh-oleh-khas-bali-jilid-2/
catper-hitchhiker-yuk-kebut-motor-kejar-bali/
mie-kluntung-cak-pii-surabaya/
catper-hitchhiker-hitching-2-bali-edisi-kadeplog/
plecing-kangkung-lombok-wajib-coba/
catper-hitchhiker-senja-diujung-bukit-senggigi-mataram/
Ini adalah hari kedua kami berada di Mataram dan meninggalkan kapal nyaman kami.
Sesuai rencana, kami akan bermain air di Gili.
Tunggu punya tunggu, ternyata….. errrr~
Selamat membaca.
***
Plang wisma, tetp narsis.. wkkwk (doc pribadi)
Plang wisma, tetap narsis.. wkkwk
(doc pribadi)

Mataram
Tuesday, Feb 19th, 2013

Pukul 06.30 WITA

Wisma pagi ini tetap hanya kami bertiga ya yang kelihatan. Pada kemana sebenarnya orang yang istirahat disini? Sepi saja kulihat. Paling juga si ibu yang menjaga wisma dan mas yang kemarin aku lihat ada di belakang membantu ibu. Etapi lumayan ada musiknya dan suara televisi pagi ini…. 🙂

Sesuai janji tadi malam, kami komit bangun pagi, mandi dan bersiap-siap. Eitsss…. Sebenarnya yang mandi hanya aku karena aku lupa kalau kami akan bermain air. Ahh sudahlah, tak apa. Mandi yang banyak biar haruuuuummm 😀 .

Kemana selanjutnya? Gili?? Gili yang mana? Tunggu sajalah kedua tor kami yang masih meringkuk di kamarnya….. hadeeeeehhh T_T

Selanjutnya kami menunggu sembari mendengarkan musik dan bercerita untuk menghilangkan waktu yang rasanya berjalan lambat. Kenapa lama ya?

***

Continue reading Catper Hitchhiker: Warna-warni Taman Sangkareang [Mataram]

Catper Hitchhiker: Senja diujung Bukit Senggigi [Mataram]

 

LCVP yang mengantarkan ke Labuan Haji (doc Hikmah)
LCVP yang mengantarkan ke Labuan Haji
(doc Hikmah)

Labuan Haji, Lombok Timur
Monday, Feb 18th, 2013

  • Menyapa Labuan Haji

Pukul 10.00 WITA

Akhirnya kami menyapa daratan setelah terjebak dalam kapal. Menemui Kitten Fams yang telah terlebih dahulu ngecamp di Labuan Haji, Lombok Timur. Kami turun ke darat bersama Komandan Joni dan Perwira KRI Surabaya 591 yang menghadiri upacara pembukaan Pelantara II.

Continue reading Catper Hitchhiker: Senja diujung Bukit Senggigi [Mataram]

Diving di Gunung

Tulisan ini Ejie buat demi rasa penasaran Ejie
pada sebuah kata yang kerap dilontarkan Ricky Merah dan cengiran Anja saat ejie terjatuh di gunung.
Diving!
Apa itu arti diving kalau di gunung?
Yuuuukkk… ikuti penasaran Ejie dan baca deh…
Seru! Ahahahha 😉

***

Ini foto yang sempat diambil sesaat sebelum jatuh (doc pribadi)
Ini foto yang sempat diambil sesaat sebelum jatuh
(doc pribadi)
  • Diving Menurut Saya

Sudah tahu diving yah? Hmmm… buat para pecinta laut dan keindahan dasar laut pasti tahu banget nih artinya. Menyelam. Benar yah?

Ejie juga tahu kok. Malah sudah ikut latihannya di Cilangkap, Mabesal TNI AL yang letaknya tak jauh dari rumah Ejie. Sudah latihan sama teman-teman dari GM. Insan Bahari Indonesia waktu itu.

Diving dengan alat-alatnya, perkenalan dengan tabung udara, regulator, masker, dll sudah juga kok Ejie meski belajar kilat. Hhehee…

Lalu Ejie juga sudah kok menyelam di lautnya meski baru sekali yang pakai tabung dan 2 regulator bersama Kak Ajiz Kopaska saat di Posal Padak Guar, Mataram, Lombok Timur. Menyelamnya juga ngga dalam-dalam banget karena Ejie masih baru dan ngga pakai pemberat saat itu. Hanya di kedalaman 3-5 meter yah seingat Ejie.

Okeeeee……. Lalu?

***

  • Freediving Tanpa Tabung Udara

Freediving.

Yihaaaa… Ejie baru belajar ini di Bandung.

Beda lagi dengan diving lho. Ini seni menyelam bebas menurut Ejie, tapi juga dengan aturan yang ada. Hampir sama dengan diving tapi tidak menggunakan tabung udara.

Ejie belajar freediving dengan teman-teman Bandung Freediving di Kolam UPI. Memang baru sekali, langsung nancep di hati saya. Mblesek banget dah ahhh…
*lope-lope

***

Naaaaaaahh….
Sekarang diving di gunung. Adakah?? Ini dia yang mau Ejie bahas di tulisan ini.
Baca saja terus yaaaaaa… 😛 Hahahahaa….

***

Gunung Slamet via Guci. Istirahat POS I bersama tim. Ricky Merah dan Anja yang hobi menyebutkan diving di gunung :D (doc sapa ya? Lupa!)
Gunung Slamet via Guci. Istirahat POS I bersama tim.
Ricky Merah dan Anja yang hobi menyebutkan diving di gunung 😀
(doc sapa ya? Lupa!)
  • Diving di Slamet

Jujur saja. Ini gara-gara teman-teman nanjakku. Khususnya 2 orang dalam Tim Nanjak Lenong yang kerap mengajakku ke gunung. Mereka adalah Ricky Merah dan Anja.

Dan diving ini aku dengar dari awal kami mendaki gunung mana ya? Ejie lupa deh. Tapi yang paling Ejie dengar banget itu waktu di Gunung Slamet via Guci. Dan mereka itu menyebut diving saat Ejie tergelincir jatuh. Biasalah…. Ejie diketawain tuh sama Ky dan Anja.
*beeeuuhhh… jatuh malah diketawain deh T_T

Kemudian, saat turunan dari Gunung Slamet dan hari hujan menemani jalan pulang kami yang saat itu Wongso leader di depan dengan mereka berdua di belakangku.

Eheheeee…. Malu ah Ejie. Soalnya, Ejie tiba-tiba berhenti dan sekali lagi beruntung karena hujan membantu Ejie menghilangkan jejak air mata karena kaki yang keram. Entahlah, ini akibat sepatu tentara (sepatu gunung, red) kepunyaan Ricky yang dipinjamkan kepadaku yang beratnya ampuuuuuuuuuuuuuuuuuunnnn…… buatku. Atau memang kaki yang sudah terasa sakit sejak turunan Gunung Slamet dari puncak Guci itu.

“Kaki…… kaki kanan Ejieeeeeeeeeee…. Huhuuuuuhu…. Sakit euy!”

“Anjaaaaaa…….. Nyak lo itu, diviiiiiiiiiiiiiiiiiiiinnngg,” hafal banget Ejie sama suara Ricky Merah. Mau nyengir dengar diving tapi kaki keram Ejie mengalahkannya.

“Kenapa, Nyaaaakk?” Anja sudah di depanku yang terduduk di jalan turunan itu. Tetap dengan senyum-senyum ngga jelasnya tuh Anja. Huh! Getak Anja!!

“Keram, Njaaaaaaaaaaa….. mau sandal aja Ejieee…” ting! Alasan tepat untuk mengganti sepatu. Ahahahaahha…… sedikit licik bolehlaahh 😛

Meski usil, Anja tolong benarin kaki keram Ejie juga. Dibukainnya tali sepatu Ejie karena sebenarnya juga sudah ngga tahan sama kaki yang sakit. Jempol dan telunjuk kaki sudah meraung-raung minta ampun sakitnya.

“Bang Mat, pinjamlah sandalnya,” Anja meminta pada Mat Erore.

Ejie ngga tahu, ngga liat lagi bagaimana ini posisi teman-teman yang ngantri di jalan karena keram kaki Ejie. Sepertinya semua barisan berhenti yah? Padahal jalanan lebar lho? Bisa saja mereka memotong jalan kami. Tapi ngga. Semua menungguku. Ahh…. Kangen kedelapan teman-teman di Gunung Slamet yang semuanya laki-laki itu dan hanya Ejie seorang yang perempuan. Semua baik pada Ejie. Hhe….. 😀

Done!

Kaki sudah oke, sepatu tentara berganti sandal Erore, dan kakiku terasa legaaaaaaaaaa sekali. Ohoohhho…. Selamat kakiku di Gunung Slamet.

Elalu, mana arti diving di gunung??

Sabar atuh… Ejie belum selesai nulisnya. Ini lagi merefresh otak dan ingatan Ejie tentang diving. Jadi kudu merunut satu-satu kejadian dulu, baru Ejie bisa ambil kesimpulan cerita. Okehh?!???

Mari lanjut bacanya yaa…. 🙂

***

  • Diving di Pangrango via Cibodas

Yuhuuuu….
Jalur ajib untuk mata Ejie. Berhenti sejenak dan memperhatikan jalur-jalur di depan Ejie. Yeayyy! Ejie sukaaaaaa….. Yuuk, mulai trekking gembira dengan mata belok! Ahaaayyy….

Ini setelah Ejie dengar Ricky merah atau Prime bilang Ejie seperti musang nemplok di pohon (baca: lupa. besok yah ejie cari linknya). Ketemu ni linknya, KLIK SAJA 🙂 … Yapp, kami akhirnya berlima menyusuri akar dan pepohonan tumbang menuju ke puncak Pangrango.

Prime di depan ku dan aku asik memanjat mengikuti ritme nafasku yang mulai teratur di jalur penuh kejutan ini.

Upps, tiba-tiba saja aku terduduk!

Haiyaaaaaaaaaahhh….. keramku!

Arrrrrrrrrgghh….. tak suka di posisi itu, tak suka di kala itu, tak suka dengan keram yang selalu hadir disaat-saat senyumku sedang merekah. Mau yang bisa ngga keram gimana yah? Biar aman kalau lagi seru-seruan, ngga tiba-tiba nongol atuh si keram. Ejie kan pengen bisa anteng di perjalanan.
*nunduk lesuuuu 😦

“Anjaaaaaaa……….. Nyak lo niiiihhhh….. diviiiiiiiiiiiiiiiiiiinnnggg!” suara khas Ricky Merah yang saat itu posisinya memang berada tak jauh dariku langsung memanggil Anja. Ternyata Prime lebih sigap karena Anja agak jauh di belakang.

Segera Prime membenarkan kaki keramku.

Wooo hooooooooo…..

Tak lama dan kakiku sudah lumayan. Terima kasih yah Prime sudah mau tolongin Ejie.

Anja datang, Ricky Merah gantian nyengir. Ejie pun ikutan nyengir melihat mereka. Dasar, dua orang iseng yang selalu meneriakkan kata-kata “diving” yang sampai sekarang aku belum bisa mengartikannya.

***

  • Arti Diving Gunung

Baiklah, hingga tulisan ini diturunkan, dan dari Ejie mendengarkan diving dari Ricky Merah dan Anja, siap tarik kesimpulan. Ini mengarang indah kan Ky, Anja? Jadi apapun Ejie bebas berekspressi untuk mengartikan sebuah kata yang Ky dan Anja lontarkan untuk Ejie.

Kata Chintya yang ikut di belakang Ricky Merah, katanya diving kalau di olahraga sepak bola itu berusaha menggolkan bola ke gawang lawan. Tapi belum berhasil (bener nda nih Chin? lupa Ejie 😛 ).

Lhaaaaaa? Kalau Ejie gimana yah?

Seingat Ejie, bukannya ngegolin deh. Karena Ejieeeeee… Ooooo… sepertinya Ejie mengerti.

Saat itu, posisi Ejie keram selalu kaki kanan berada di depan dengan posisi kaki kiri entah menekuk, entah di belakang badan seperti posisi saat berlari ingin menggolkan bola ke gawang lawan, tapi lalu terjatuh.

Posisi ini terbentuk karena karena kaki Ejie yang keram  dan kenapa selalu kaki kanan yah? Baru sadar Ejie.  Mungkin karena posisi tersebut yah makanya Ricky Merah dan Anja selalu bilang, “Ejie diving.”

Haaaaaaa…. Ejie sekarang mengerti deh Ky, Nja artinya diving di gunung. Benar ngga seperti itu?

Salahnya ngga pernah ada yang foto Ejie sedang diving di gunung yah?

Hahhhh!
Dasar kalian abang adik pecinta bola. Istilah laut untuk diving, dan kebiasaan kalian menonton bola, juga hobi kalian ke gunung pun tetap saja ada.

Jadi sekarang, diving di gunung itu kan ya artinya??? Hhohoooo…..

Yippiiiiiee…..
Ejie berhasil memecahkan 1 kata yang kalian berikan pada Ejie. Asiiiiiiiikkkk……. Hayoooo… mau bilang apalagi sekarang pada Ejie, bweeee….. 😀

*makasiy yah Ky, Anja yang memberikan Ejie ide untuk tetap menulis…  😉 (jie)

Plecing Kangkung Lombok Wajib Coba

Before:
KRI Surabaya 591 in My Mind [Prolog]
Catper Hitchhiker: Pelantara II Temu Saka se-Indonesia
Catper Hitchhiker: Rasaku pada KRI Surabaya 591
Catper Hitchhiker: Pramuka, Mangrove, dan Donor Darah [Tegal]
Jurnal Hitchhiker: Keluarga Kecil Kucing Laut Berisik
Catper Hitchhiker: Yuk, Masuk Dapur KRI Surabaya 591
Jurnal Hitchhiker: Tepar di Hari Pertama Sandar Bali
Journal Hitchhiker: Ajie atau Ejie??
Journal Hitchhiker: Adegan Si Empuk Penyangga Perut Pasangan Jiwa yang Hilang
Jurnal Hitchhiker: Foto Untuk Komandan Joni [KRI Surabaya 591]
Catper Hitchhiker: Jempol Hitching Perdana di Benoa Bali
Jurnal Hitchhiker: Rupa Adik Angkat di G 29 dan G 31
Catper Hitchhiker: Krisna, Pusat Oleh-oleh Khas Bali [Jilid 1]
Catper Hitchhiker: Erlangga 2, Pusat Oleh-oleh Khas Bali [Jilid 2-Edisi Kapten Bambang]
Catper Hitchhiker: Yuk, Kebut Motor Kejar Bali
Mie Kluntung Cak Pi’i [Surabaya]
Catper Hitchhiker: Hitching 2 Bali [Edisi Kadeplog]

Ini dia plecing kangkung Labuan Haji yng bikin ences tak selesai T_T(doc pribadi)
Ini dia plecing kangkung Labuan Haji yng bikin ences tak selesai T_T
(doc pribadi)

Labuan Haji, Lombok Timur 18 Februari 2013

  • Plecing Labuan Haji, Ngiler

Kangkung? Sayuran yang biasa kita konsumsi kan? Boleh disayur bening, boleh juga dibuat cah kangkung atau biasanya disambelin. Diapain aja pasti enak kan kangkungnya.

Kalau plecing kangkung, apa yah? Mendengar aja baru. Kan menginjakkan kaki di Lombok Timur juga baru. Plecing kangkung ini kutemukan di bazaar Pramuka, Pelantara II (Temu Saka), dimana terselip seorang ibu penjual plecing kangkung.

Mulanya ku kira si ibu menjual rujak. Hari panas, makan rujak tentunya segar. Heheeee.. tapi aku salah, bukan rujak melainkan kangkung.

Ini catatanku mengenai bahan-bahannya:

  1. Sambal ulek
  2. Cabai rawit
  3. Terasi
  4. Garam

Pelengkapnya adalah:

  1. Kacang panjang
  2. Tauge
  3. Ketupat
  4. Kangkung

Cara membuat:

  • Ulek cabai
  • Parut tomat, tambahkan kedondong, parut. Campurkan pada sambal ulek, aduk.
  • Parut kelapa, campurkan kacang panjang dan tauge.

Cara menyajikan:

  • Ketupat paling dasar
  • Beri parutan sayuran yang sudah dicampur kelapa
  • Tambahkan kangkung rebus
  • Beri toping sambal ulek campuran tomat dan kedondong
Ibu plecing kangkung di bazaar Pramuka, Labuan Haji(doc Pribadi)
Ibu plecing kangkung di bazaar Pramuka, Labuan Haji
(doc Pribadi)

Kalau melihat cara membuatnya, aku ngences. Mau pesan, tetapi sudah keburu dipanggil untuk berangkat ke Mataram. Padahal Tor Andi yang nantinya juga berangkat bersama kami, ada di tempat si ibu plecing juga lho, ngobrol sama tor nya. Euleuhh…..

Ya sudahlah…… mungkin tiap tempat yang kudatangi, memang harus ada yang kedua kalinya yah? Cek saja kuliner yang kudatangi, selalu dua kali. 😛

Harga per porsi Rp 5.000,-

***

  • Plecing Kangkung Mataram, Mantap

Plecing kangkung lagi? Yaap! Pedas yang mantap, kita semua balapan pedas. 😀 Tapi sepertinya ngga pakai kedondong deh. Soalnya ngga ada asam dari rasa kedondongnya. *saat menulis ini, ada yang turun di kerongkongan, pengen plecing! Wakkakaaka…

Plecing dimanapun di Lombok ini, aku rasa akan sama, mungkin beda dari cara membuatnya saja. Semua mantap! *beri JEMPOL untuk plecing kangkung Lombok 🙂

Harganya?

Untuk plecing kangkung Mataram yang aku makan ini, jujuuuuuurr banget, aku tak tahu berapa harganya per porsi. Karena ini adalah Rp 0,- ku untuk sayuran tersebut. Hehee…. Maaf ya teman-teman, ngga tahu info harga nih. Dan ngga nanya juga gara-gara sibuk ngecas hape laporan posisi 😛 .

Foto plecing Mataramnya masih di sun Arga yah? Ejie foto pakai tab Arga.

***

PESAN:

Kalau ke Lombok, kudu WAJIB cobain PLECING KANGKUNG yak?!? Wuenak’e pol!!

***

Terima kasih untuk:

  1. Komandan Joni, KRI Surabaya 591, yang sudah memberikan kesempatan pada kami (Hikmah, Arga, Ejie) untuk jalan-jalan di Mataram.
  2. Kadepnop Karully dan Tor Andi, yang mengasuh kami selama di Mataram.
  3. Teman Karully dan Tor Andi yang meminjamkan kendaraannya pada kami, keliling Lombok —-> Rp 0,- YEAY!
  4. Mobil Jimny TNI AL yang juga membawa kami jalan-jalan hingga bonus nyasar saat pulang ke Pelabuhan Labuan Haji —-> Rp 0,- SALTO!
  5. Karully dan Tor Andi untuk plecing kangkung Mataram —-> Rp 0,- HORE!
  6. Ibu penjual plecing kangkung di Pelabuhan Labuan Haji, OK TETAP NGENCES! 😀

***

Tor Andi di tenda tempat aku melihat ibu plecing(doc pribadi)
Tor Andi di tenda tempat aku melihat ibu plecing
(doc pribadi)