Surat Untuk Keluarga Upoh, Bahagia atau Sedih

Tak pernah mengingatnya. Tak pernah pula memberikan perhatian khusus padanya. Melupakannya bahkan hampir di 8 tahun belakangan ini. Kecuali ya orang-orang terdekat saja yang mengingatkannya. Tapi aku lupa satu hal, kalau aku mempunyai keluarga lainnya, Keluarga Upoh, bagian dari Hammockers Indonesia Regional DKI Jakarta yang beberapa bulan belakangan ini selalu bersama.
Ahh kalian…
Requested by Fitri Ayu Anggraeni. Makasi ya sweeper sahabat seblay bambangan sayangku... (Created by Rio Candra Kusuma)
Avatar Requested by Fitri Ayu Anggraeni.
Makasi ya sweeper sahabat seblay bambangan sayangku…
(Created by Rio Candra Kusuma)
***

Continue reading Surat Untuk Keluarga Upoh, Bahagia atau Sedih

Pangrango-Cibodas: Jalur PR, Semangat serta Menanti Bintang

Before:
https://ejiebelula.wordpress.com/2013/04/08/kehilangan-memori-pangrango-di-jalur-cibodas-catatan-awal/
https://ejiebelula.wordpress.com/2013/04/10/pangrango-cibodas-dosen-yang-semangat-catatan-foto/
https://ejiebelula.wordpress.com/2013/04/10/menunggumu-di-jalur-penantian-pangrango/
https://ejiebelula.wordpress.com/2013/04/10/pangrango-cibodas-kesalahan-pada-bintang-catatan-untuknya/
https://ejiebelula.wordpress.com/2013/04/10/catatan-bintang-ketidakpastian-yang-kusuka/
https://ejiebelula.wordpress.com/2013/04/11/pangrango-cibodas-mandalawangi-puncak-kesepian/

DSC01499

Ini adalah pendakian kedua kalinya bagiku.
Sebelumnya melalui jalur Putri, aku bersama teman-teman mendaki Gunung Gede-Pangrango-Gede tahun 2012 lalu.
Tektok, ngecamp di Gunung Gede.
Kali ini Pangrango melalui jalur Cibodas, tujuan ngecamp adalah Lembah Kasih Mandalawangi.
Oiya, kami terbagi menjadi beberapa tim dan tetap kumpul di Mandalawangi.
Banyak edisi catatan nanjakku via Cibodas ini.
*hanya untuk hatiku saja 😛

***

Maaf, Edisi Lupa Kalender

Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) adalah kawasan hutan yang ditutupi oleh hutan hujan tropis. Saat kesana pun kami ditemani hujan ketika naik dan turunnya. Curah hujannya cukup sering dan membuatku kedinginan.

Tumbuhan di TNGPP cukup bervariasi. Tak hanya pepohonan saja, tapi tumbuhan, buah kecil-kecil tak tahu namanya, bunga-bungaan dan jamur pun ada disana. Yang aku temui bahkan ada jamur merah, entah apa namanya. Tak banyak yang aku foto karena curah hujan yang cukup besar membuatku tak bisa sering memotret.

Menurut informasi yang Ejie peroleh, musim penghujan di TNGGP ini antara Oktober hingga Mei memang cukup sering. Saranku, selalu persiapkan raincoat ya jika mendaki diantara bulan tersebut 🙂 .

***

pangrango molor

  • Molor Sekian Jam

Janji awal adalah pukul 21.00 WIB untuk kumpul di Terminal Kampung Rambutan, ternyata molor hingga 2 kemudian. Itu bagiku, entah buat yang lain. Sepertinya mereka sudah menunggu berjam-jam, karena kulihat kartu sudah dikeluarkan dan mereka asik bermain sejak aku datang ke tempat kami biasa kumpul. Sedangkan lainnya mengisi perut yang lapar dan memesan minuman.

Beberapa menit sebelum waktu menunjukkan pukul 00 WIB teng, kami sudah berada di bus ekonomi yang mengarah ke Cimacan. Cukup mengorek Rp 15.000,- saja, sampailah kami 2 jam (lebih) kemudian di daerah tersebut.

Kami turun di pertigaan Cibodas, pintu masuk utama menuju TNGGP.

***

Melengkapi persediaan logistik disini (doc pribadi)
Melengkapi persediaan logistik disini
(doc pribadi)

Pukul. 02.00 WIB
Mini market ini tentu saja menjadi serbuan kami yang baru tiba disana. Toilet adalah tujuan utamaku, sementara lainnya melengkapi logistic yang belum dibeli.

Teman-teman segera mencari kendaraan carteran (Rp 7.000,- per orang) ke IGR. Tempat lapor dan berkumpul dimana Ricky Merah sudah menunggu kami dari semalam (Jum’at) dan tetap sibuk mengurus simaksi yang ternyata juga tersendat karena sesuatu.

Selain Ricky Merah, Anja, Wendi, Kangmang dan Teguh dari Bandung juga telah tiba. Rombongan Jakarta yang terdiri dari Yuni, Berto, Rere, Erore, Chintya, Mpril, Pru, Prime, Wongso, Tata, Budi, Irwansyah, Rudi, Denz, Cacing dan rombongannya pun bergabung.

Karena sesuatu, rombongan kami akhirnya terpecah-pecah agar bisa nanjak dinihari.

Yuni dan kelima orang siap berangkat, Mpril ikut rombongan Hamidah, Cacing dan rombongannya sudah siap ditambah Wongso, Tata, Budi, dan Rudi. Sedangkan kedelapan orang sisanya ikut rombongan, woooo… ternyata ada Nicky, temen hitching BUNIAYU, senyum-ceria-nicky-berhitchhiking-buniayu-jakarta disana. Kami berdelapan mengikuti rombongan Nicky. Aku lupa tanya teman-teman Nicky darimana. Heheheee

Basecamp Pangrango via Cibodas tempat kami berkumpul (doc pribadi)
Basecamp Pangrango via Cibodas tempat kami berkumpul
(doc pribadi)

Pukul 04.00 WIB
Kami memulai persiapan dan berjalan hingga ke pos masuk Gunung Pangrango. Berhenti di musholla dan sebagian melaksanakan shalat shubuh.

Pukul 05.00 WIB
Setelah berdo’a, kaki-kaki pun melangkah menyambut Gunung Pangrango. Perjalanan dimulai. Headlamp dinyalakan karena hutan yang penuh pohon rindang dan hijau serta kelembaban yang terasa di sekitarnya, ditambah embun pagi yang sejuk mengiringi langkah kaki kami.

***

Jalur bersamanya :). Tak masalah sejauh apapun asal bersamanya. Makasih ya bintang sabar... (doc pribadi)
Jalur bersamanya :). Tak masalah sejauh apapun asal bersamanya.
Makasih ya bintang sabar…
(doc pribadi)
  • Jalur Tangga dan Telaga Biru

Buatku ini adalah jalur PR penuh pengorbanan. Kenapa? Panjang sekali jalur ini. Mungkin ini waktu terlama untuk kaki lambatku berjalan di jalur ini. Semua pada ngebut disini. Mengatur nafas, menjejakkan kaki di tangga ini sungguh lumayan buatku. Padahal aku berjalan bersama bintang yang anteng dan sabar. Tapi otakku berpikir, “Sampai kapan tangga ini?”

“Mas, tangganya seberapa panjang ya?”

“Lihat saja. Dulu waktu masih jalan lama, ngga begini, Jie. Sekarang mah sudah bagus ini jalannya,” sabar kali ia menerangkan tanpa berani melihat ke arahnya.

Tangganya itu terdiri dari bebatuan yang rapi. Beberapa malah berlumut, mungkin karena seringnya curah hujan yang turun membasahi wilayah Pangrango.

Dari tangga bebatuan, kita akan melalui beberapa tempat, diantaranya adalah Telaga Biru yang berada di ketinggian 1.575 Mdpl. Lumayan jauh buat kaki lambat sepertiku.

Berhenti menemaninya mengisi air minum. Kapan lagi bersama? (doc pribadi)
Berhenti menemaninya mengisi air minum. Kapan lagi bersama?
(doc pribadi)

Menurut cerita, telaga ini ditutupi oleh ganggang biru, dan akan berwarna biru saat disinari matahari, tapi aku tak sempat memperhatikannya. Cuaca saat itu pun tak terlalu ada matahari karena kami sampai disana, hutan masih terkesan lembab.

Di telaga biru ini ada aliran air jernih dimana kita bisa mengisi persediaan air minum jika ingin.

Selanjutnya kita akan melalui jembatan batu dan jembatan kayu. Dari sini akan tampak pemandangan Gunung Pangrango  yang apa ya? Aku ngga terlalu tahu juga karena ngga bertanya pada mas yang sibuk.

Pemandangan di jembatan ini bagus di pagi hari. Udara yang segar dengan rumput tinggi di kanan kirinya. Banyak yang aku lewatkan disini karena tak focus pada perjalanan. Pikiranku sibuk pada sesuatu yang tak bisa dicegah. Hahh…. Menyesal tiada guna. Mungkin harus mengulang kesana. T_T

Teman-teman yang sudah ngebut di depan, berfoto di jembatan. ciamik dah semua :D (doc Teguh Abi dan Irwansyah)
Teman-teman yang sudah ngebut di depan, berfoto di jembatan. Ciamik dah semua 😀
(doc Teguh Abi dan Irwansyah)

Setelah melalui jembatan batu dan jembatan kayu, akan berakhir pada tanjakan berupa tangga batu lagi. PR terus buatku….. waaaaaaaaaaa *_*

Hmm… Sebenarnya aku lupa ini urutannya. Jembatan lalu Telaga Biru atau sebaliknya?
*ketok ingatanku yang selalu lupa, errr~

Tak lama, 5 menit kemudian kita akan sampai pada pos Air Terjun Cibeureum. Di pos ini banyak yang beristirahat, khususnya para pendaki. Beberapa malah repacking bawaannya. Kami bertemu Mpril yang menunggu Hamidah dan rombongannya.

Pos 1 Cibeureum dan pos santai menikmati teh hangat (doc pribadi)
Pos 1 Cibeureum dan pos santai menikmati teh hangat
(doc pribadi)

Aku dan mas melanjutkan perjalanan hingga ke pos dimana teman-teman kami berkumpul. Beristirahat sejenak sembari menghangatkan tubuh dengan membuat teh serta sarapan.

Total perjalanan hingga bertemu teman-teman yang ngaso adalah 2,5 jam bagiku 😀 .

Hanya di trekking tersebut yang aku ingat dalam memoriku yang terbatas ini ada bintang dalam perjalananku. Lain kesempatan, ia ada lalu menghilang dan aku sendiri.
*mewek 😦

***

Sekali lagi, jalur kesendirian (doc pribadi)
Sekali lagi, jalur kesendirian
(doc pribadi)
  • Trekking Sendiri ke Air Panas

Dari pos ini menuju Air Panas, hampir kebanyakan aku trekking  sendiri. Posisi di tengah, lainnya trekking ngebut dan mas yang aku tunggu tak kunjung datang. Cocok sekali.

Sebelumnya Anja sudah memberitahu bahwa tak sebaiknya sendiri, karena uap air yang panas, jalur yang berbatu, sedikit curam dan licin. Cukup berbahaya dan sebaiknya berteman. Tapi kelihatannya tak seorangpun yang ingat padaku. Okeeee…. Tak apalah.

Sempat kehausan karena persediaan air dalam botol minumku yang habis dan dapat tambahan dari pendaki yang turun.

Menurut informasi, jalan dari Cibodas ke Wisata Air Panas, sekitar 2 jam. Tapi buatku ini lama sekali.

Jalur ke Air Panas itu juga berupa tatakan batu yang tersusun rapi. Di sepanjang jalan Air Panas ini, banyak bebatuan seperti batu kali. Untung ada pegangan tali yang bisa menyangga kita.

Aku terus berpegangan pada tali karena jalan sendirian. Sempat menunggu teman-teman di belakang, beberapa menit di plang Air Panas sebelum akhirnya memutuskan meneruskan perjalanan. Lagi-lagi karena alasan badan yang tak kuat dingin berlama-lama berhenti.

Berbatasan dengan tali dan palang batu adalah jurang dan jatuhan air panas yang entah mengalir kemana. Juga pemandangan gunung tampak dari jalan setapak Air Panas.

Diujung jalan Air Panas, ada pos tempat beristirahat. Kebanyakan yang turun dari TNGGP, beristirahat di sekitarnya untuk sekadar merendamkan kakinya.

Trekking sendiri menuju Air Panas, 1,5 jam.

***

Tetap menunggumu (doc pribadi)
Tetap menunggumu
(doc pribadi)
  • Kandang Batu dan Kandang Badak

Sepertinya hampir keseluruhan perjalanan tak ada seorangpun yang bersamaku. Entah mereka pada kemana. Aku melewatkannya dengan menikmati jalan yang berbatu, hujan, lembab dan sendiri. Beruntung banyak pendaki yang melintas naik dan turun di jalur ini.

Perjalanan ke Kandang Batu memakan waktu sekitar setengah jam. Disini aku bertemu Kang Oyik yang baik (baca: https://ejiebelula.wordpress.com/2013/04/11/pangrango-cibodas-mandalawangi-puncak-kesepian/) dan memberikan informasi ke Kandang Badak.

Kandang Batu juga bisa dijadikan tempat bermalam. Banyak pendaki yang menggelar tenda disini.

***

Kandang Badak hingga ke perempatan ini masih jalur tangga bebatuan. Selanjutnya jalur ke puncak Pangrango adalah jalur melek ;) (doc Teguh Abi)
Kandang Badak hingga ke perempatan ini masih jalur tangga bebatuan. Selanjutnya jalur ke puncak Pangrango adalah jalur melek 😉
(doc Teguh Abi)

Trekking sendiri lagi? Tak apalah. Sepanjang Kandang Batu menuju Kandang Badak, akan melewati jalur air panas di sisi kiri jalan.

Tak jauh dari Kandang Batu, aku bertemu kembali dengan teman-temanku yang kelaparan dan masak kembali. Saatnya mereka makaaaaaaaann… santap!

Dari Kandang Batu ke Kandang Badak menempuh jarak antara 1,5 jam. Aku lupa berapa lama trekking di jalur tersebut. 1 jam perjalanan di tengah hujan, aku bertemu dengan Pak dosen Aziz Luthfi (baca: https://ejiebelula.wordpress.com/2013/04/10/pangrango-cibodas-dosen-yang-semangat-catatan-foto/ )

Kandang Badak berada pada ketinggian 2.220 Mdpl. Ini adalah tempat dimana terbanyak tenda para pendaki yang bermalam disini. Pos pun ada di Kandang Badak dan beberapa teman-teman kami yang menghilang (Ricky Merah, Wendi, Erore, Kangmang, Teguh) ternyata sempat tidur disana.

Selain pos dan tempat untuk berkemah, disana juga ada sumber air untuk mengisi persediaan air minum. Sayang, aku tak mengambil fotonya. Padahal disarankan kesana oleh beberapa pendaki saat jalan turun dari puncak lho…..
*melewatkan moment lagi -_-“

Medan trekking adalah tanjakan dengan sedikit jalur berbatu juga kebanyakan tanah merah dan becek, karena saat itu hujan. Disisi kanan kiri tetap pepohonan memayungi perjalananku. Sepertinya sedikit sekali jalan landai yang berbonus yang kutemui di Cibodas ini. Namun mencapai Kandang Badak, akan mendapati jalanan landai tertata rapi.

***

Menunggumu disana (doc pribadi)
Menunggumu disana
(doc pribadi)
  • Jalur Favorit Menuju Puncak Pangrango

Tangga Kandang Badak hingga ke perempatan antara plang Kandang Badak, Gunung Gede, lurus dan Gunung Pangrango, kanan (1 lagi entah jalur kemana dibelakang arah ke gunung pangrango atau kiri dari Kandang Badak) mungkin hanya 10 menit.

Aku sempat istirahat di perempatan itu. Bertemu dengan rombongan teman baru kembali. Jujur, aku ngobrol karena ingin menunggu mas nya yang beristirahat di Kandang Badak.
*hayoooo….. jalur penantian juga favorit, tetap melatih hati.. 🙂

Selama ngobrol jalur, aku lupa tak menanyakan nama teman baruku. Tapi aku sangat ingat 2 teman perempuan mereka yang akhirnya terus-menerus bertemu selama perjalanan nanjak dan turunan, Dewi dan Fitria.

Kalau sedari tadi adalah jalur PR buatku, kali ini Kandang Badak menuju plang puncak Pangrango adalah jalur yang membuat melek mataku. Senangnya meloncat-loncat diantara akar dan batang yang tumbang dari pohon-pohon yang ada.

Teringat pada jalur di Gunung Cikuray yang penuh akar, serta Merbabu dengan jalur panjangnya tapi juga ada jalurnya yang membuatku memacu adrenalin.
*horeeee….. akhirnya mata melotot walau hati kesepian 😛

Hei, batang pohon yang tumbang itu mengingatkanku pada loncatan-loncatan di batu-batu Merapi. Ahhhh…. Suka sekaliiiiiiii 😀 . Sebelumnya juga sudah pernah ke Pangrango lewat jalur lain. Aku lupa itu jalur mana. Hehhee

Medan trekking akhir ini cukup lumayan buatku. Akar, batang dan pohon tumbang.  Serba tanah coklat, terkadang batu, dan tanah liat. Perpaduan diantaranya. Cukup banyak pilihan untuk tanjakannya. Bisa melipir melalui jalan yang lumayan datar, atau ingin bermain-main dengan akar dan memanjat? Boleh saja, tergantung kesukaanmu.

Wiii... jalur-jalur keren! *mata belok (doc Irwansyah)
Wiii… jalur-jalur keren!
*mata belok
(doc Irwansyah)

Tanda-tanda jalur seperti pita merah, tali rafia atau pita line merah putih pun sangat jelas, sangat lumayan buatku yang tak mengerti arah bisa membacanya. Terkadang aku memanggil Prime yang berada di depanku menanyakan arah.

Menuju ke puncak Pangrango ini, kita harus banyak meloncat, merunduk, memanjat bahkan sesekali juga sedikit tiarap ya? Tapi aku suka deh. Soalnya ngga bikin ngantuk. Malah bersemangat meskipun sempat beberapa kali tiduran di batang pohon yang besar.

“Ejie sudah seperti musang, nemplok di pohon,” Ricky Merah atau Prime ya yang bilang begitu. Lupa Ejie. Hahahaha

***

Wooo….
Tahu ngga berapa lama trekking dari Kandang Badak ke puncak Pangrango? Sampai di depan plangnya? Ho-ohh! 3 jam!! Waks?!?

Huaaaahh…. Sangat tak disangka. Pantas saja, berapa banyak aku kepedasan (artinya nafas yang tersengal, sesekali rehat, lumayan pegal tapi tetap semangat! Hha). Jalur yang mantap untuk 3 jam trekking menuju tempat yang di tuju.

***

Pemandangan dari plang puncak Pangrango. Kurangin 10 menit dari waktu sebenarnya ya? Heheheee.... (doc pribadi)
Pemandangan dari plang puncak Pangrango. Kurangin 10 menit dari waktu sebenarnya ya? Heheheee….
(doc pribadi)
  • Menangis yang Indah

Pukul 15.40 WIB
Jarum jam di tanganku menunjukkan pukul 15.50 WIB (jam ini selalu kucepatkan 10 menit diawal untuk keadaan terdesakku, lupa menggantinya ke posisi normal. Hhe..)

Prime dan aku yang sibuk meloncat-loncat akar dan batang juga saling memanggil dimana posisi satu sama lain (karena hanya berdua, khawatir sendiri lagi) akhirnya sampai di plang puncak Pangrango untuk kedua kalinya bagiku, dengan Kayun di depan kami.

“Primeeeee….. Ejieee… Ejiee…..” hoo? Suara Kayun? Nangis? Ehh, kenapa ini?

Olalaaaaa….. Kayun yang sudah menunggu 1 jam lebih di muka ternyata kelamaan nungguin kami yang belakangan. Doski nangis karena rombongan yang tak kunjung tiba. Sementara ia sudah bolak-balik dari puncak Pangrango ke Lembah Kasih Mandalawangi yang hanya perlu 5 menit saja ke bawah.

“Haiyaaaaa….. Kayun sih kecepatan jalannya. Ngegas teruuuuss…nanjaknya. Makanya sampai duluan,” serbuku memeluk Kayun yang masih bercucuran air mata. Cup-cup Kayun, we’re already here… 😀

Menyaksikan Kayun menangis yang indah, baru ini kulihat. Padahal di ingatanku, sudah berapa kali Kayun tercatat menangis meski tak banyak, tapi aku selalu mendapatkan momentnya.

Ahh… Kayun yang manis, jangan menangis. Hatimu terlalu sayang untuk dihiasi tangisan. Cukup isi dengan semangat langkahmu yang tak terhenti dan kuatlah untuk yang terbaik dalam hatimu. Aku hanya bisa menyarankan, bahwa gunung sahabat lainnmu, menunggu tangisan indah lainnya dari cerita hatimu yang suka. Tersenyumlah Kayun 🙂 seperti yang aku kenal.

Ia, akan tetap menjadi partner gunungmu, karena kusuka kalian berdua 1 dalam gunung. Sayangku untuk kumendan dan nyonya bos, kata Anjaku. Heheheeeee…

Menyaksikan Kayun yang dibalut jas hujan hijau, dengan payung putih ungunya sedang bercucuran air mata, sungguh pemandangan indah bagiku. Andai saja aku bisa sepertimu, Kayun... menumpahkan air mata begitu saja, pada pundaknya... sepertimu di pundakku yang penuh tulang :) *kangen lagi (doc pribadi)
Menyaksikan Kayun yang dibalut jas hujan hijau, dengan payung putih ungunya sedang bercucuran air mata, sungguh pemandangan indah bagiku. Andai saja aku bisa sepertimu, Kayun… menumpahkan air mata begitu saja, pada pundaknya… sepertimu di pundakku yang penuh tulang 🙂
*kangen lagi
(doc pribadi)

***

  • Untuk Bintang

Menunggu teman-teman tiba di Lembah Kasih Mandalawangi, meneguk aliran air segarnya yang membelah Mandalawangi, tidur disisi aliran air tersebut menunggu 2 botol air minum yang sudah tumpah sedari tadi karena kepenuhan.

Memegangi flysheet sambil mengintip diantara sela-sela flysheetnya, melihat celah diantara pepohonan di turunan Mandalawangi, aku berharap bintang itu muncul diantaranya tersenyum padaku.

Hingga matahari terbenam, memasak untuk makan malam diselingi hujan yang masih turun, ketiduran karena letih, dipaksa makan padahal tak lapar akhirnya makan juga ditemani Anja, aku tetap menantikannya.

Mencarinya dengan segenap nalar yang ada dihatiku. Menunggu dan rebutan dengan gemericik aliran air yang ada dan air hujan yang membasahi Mandalawangi, tapi bintang tak kunjung hadir.

Hhhh…. Mandalawangi, maafkan kesendirianku yang tak berpihak pada Lembah Kasihmu kali ini. Aku merindukannya 😥
*hanya padaku mungkin ia tak tak nyaman. Maafkan saya, mas bintang…

***

Untukmu aku ada disini (doc pribadi)
Untukmu aku ada disini
(doc pribadi)
Cooking time (doc pribadi)
Cooking time
(doc pribadi)
Hoplah... ada tempe yang dimasakin Kayun dan Anja. Masakan lengkap lainnya di kamera Mpril tak diupload *garuk Mpril! (doc Teguh Abi)
Hoplah… ada tempe yang dimasakin Kayun dan Anja. Masakan lengkap lainnya di kamera Mpril tak diupload
*garuk Mpril!
(doc Teguh Abi)
Keluarga tenda minus Berto yang lagi gambar ular tangga dan Wendi yang ketiduran di hammock yaah? Wakakakaak (doc Teguh Abi photo by Kangmang)
Keluarga tenda minus Berto yang lagi gambar ular tangga dan Wendi yang ketiduran di hammock yaah? Wakakakaak
(doc Teguh Abi photo by Kangmang)
Terima kasih ya Irwansyah... saya tersenyum (doc Irwansyah)
Terima kasih ya Irwansyah… saya tersenyum
(doc Irwansyah)
Foto keluarga di plang Pangrango tanpa saya, karena saya menyusuri turunan duluan. Maklum ke gas terus sama mereka. (doc Teguh Abi photo by Kangmang)
Foto keluarga di plang Pangrango tanpa saya, karena saya menyusuri turunan duluan. Maklum ke gas terus sama mereka.
(doc Teguh Abi photo by Kangmang)
Ketemu teman-teman tim hitching disini. Kajamie dan Kasalym. Ada Kapru dan Kanicky juga. (doc Dhey Charli)
Ketemu teman-teman tim hitching disini. Kajamie dan Kasalym. Ada Kapru dan Kanicky juga.
(doc Dhey Charli)
Saat turunan jalan pulang menunggu teman-teman (doc Teguh Abi photo by Kangmang)
Saat turunan jalan pulang menunggu teman-teman
(doc Teguh Abi photo by Kangmang)